Pada 2002, Mas Amin yang saat itu baru lulus SMA tinggal di sebuah kampung yang kemudian mengalami rangkaian kejadian tidak biasa. Dalam radius yang berdekatan, ia mengingat ada sekitar 15 warga yang mengalami gangguan kejiwaan, meninggal, atau menghilang dengan pola yang menurut masyarakat terasa mirip. Semua bermula dari keluarganya sendiri ketika kakak laki-lakinya yang disamarkan dengan nama Dedy tiba-tiba mengalami perubahan perilaku.
Suatu sore sepulang bermain sepak bola, Amin melihat rumahnya dipenuhi warga. Ia kemudian mengetahui Dedy baru saja mencoba menceburkan diri ke dalam sumur dan berhasil dicegah orang-orang di sekitar. Setelah dibaringkan di rumah, Dedy hanya menatap kosong. Tidak lama kemudian ia tertawa, bernyanyi, dan menyebut berbagai nama tokoh pewayangan seperti seorang dalang, padahal menurut Amin kakaknya tidak memiliki pengetahuan khusus mengenai dunia wayang.
Keluarga sempat meminta bantuan seorang kerabat yang dipanggil Ua dan dianggap memahami masalah spiritual. Awalnya kondisi Dedy ditafsirkan hanya sebagai kesurupan biasa. Keluarga diminta menyiapkan beberapa perlengkapan dan Dedy sempat terlihat lebih tenang. Namun ketenangan tersebut tidak berlangsung lama. Ia kembali tertawa tanpa sebab, menyanyikan lagu-lagu Jawa, marah, dan akhirnya menjadi semakin sulit dikendalikan.
Karena Amin saat itu tidak terlalu mempercayai penjelasan ghaib, ia menyarankan kakaknya dibawa mendapatkan pemeriksaan medis. Dedy kemudian dirujuk ke rumah sakit di Bandung. Menurut penuturan Amin, keluarga diberi tahu bahwa pemeriksaan saat itu tidak menemukan gangguan yang dianggap menjelaskan seluruh perilakunya sehingga ia dipulangkan dengan obat penenang. Selama obat diminum, Dedy relatif tenang, tetapi setelah obat habis kondisinya kembali memburuk bahkan pernah keluar rumah tanpa mengenakan pakaian.
Keluarga kemudian membawa Dedy mencari pertolongan alternatif dari satu tempat ke tempat lain. Berbagai orang memberikan penafsiran berbeda, mulai dari guna-guna hingga santet, tetapi tidak ada yang mampu membuat kondisinya pulih. Biaya pencarian pengobatan tersebut menurut Amin sampai menghabiskan sebagian besar sawah milik orang tuanya. Mereka bahkan menempuh perjalanan hingga ke pedalaman Jawa Timur setelah mendapat informasi mengenai seseorang yang dianggap mampu membantu.
Di Jawa Timur, seorang sesepuh melakukan penerawangan dan kemudian mengatakan kepada ayah Amin bahwa jiwa Dedy seolah sudah “diikat” pada sebuah pohon besar. Kondisinya dianggap terlalu berat dan sulit ditolong. Setelah perjalanan panjang tersebut kembali tidak memberikan hasil, keluarga mulai pasrah. Dedy tetap hidup bersama gangguannya, sering mengamuk, merusak barang, melempari rumah tetangga, hingga suatu hari membakar kitab-kitab yang terdapat di rumah.
Amin pernah sangat marah melihat perilaku kakaknya tersebut. Namun dalam salah satu kejadian, ia mengaku melihat wajah Dedy seakan berubah-ubah menjadi wajah orang lain. Pengalaman itu membuat Amin mulai mempertanyakan keyakinannya sendiri mengenai penyebab kondisi sang kakak. Keluarga tetap menolak saran warga yang meminta Dedy dikurung atau dibuang karena bagaimanapun ia tetap merupakan anggota keluarga mereka.
Beberapa bulan kemudian, kejadian serupa mulai muncul pada warga lain yang tinggal tidak jauh dari rumah Amin. Ada orang di samping rumahnya yang lebih dahulu mengalami gangguan, lalu korban lain muncul di belakang dan di beberapa rumah berikutnya. Menurut Amin, pola perilaku mereka hampir sama: menjadi agresif, kehilangan kendali, mengalami gangguan kejiwaan, kemudian sebagian meninggal atau menghilang. Karena semuanya berada dalam satu lingkungan kecil, warga mulai mempertanyakan mengapa kasus-kasus tersebut seperti menyebar.
Kecurigaan semakin besar ketika salah seorang bibi Amin meninggal secara tiba-tiba tanpa riwayat sakit yang diketahui keluarga. Amin mengaku melihat kondisi wajah bibinya saat meninggal tampak sangat tidak biasa, dengan mata yang terlihat menonjol dan lidah menjulur. Dalam kepercayaan warga saat itu bahkan muncul istilah bahwa korban seperti “diambil” makhluk tertentu. Namun penafsiran tersebut berasal dari cerita masyarakat dan tidak menjadi penjelasan medis atas kematiannya.
Setelah beberapa malam tahlilan, ayah Amin bersama adik almarhumah mendatangi makam sang bibi karena merasa kematiannya janggal. Mereka mengambil sedikit tanah dari bagian pusaran makam. Menurut kesaksian Amin, ayahnya merasa tanah tersebut seperti bergerak atau “hidup”. Sang ayah kemudian mengusulkan kepada keluarga agar makam dibongkar karena khawatir jasad yang berada di dalam bukan benar-benar sang bibi dan masih ada kemungkinan untuk menolongnya. Namun keluarga almarhumah menolak dan memilih menerima kematiannya tanpa membuka makam.
Di tengah banyaknya kejadian, perhatian warga mulai tertuju pada sebuah keluarga yang mempunyai usaha sayuran kecil di depan rumah. Pedagang tersebut hanya memiliki lapak sederhana, tetapi menurut pengamatan warga kehidupannya berubah sangat makmur: mempunyai rumah besar, membeli sawah, memiliki mobil, bahkan membelikan kendaraan untuk anaknya. Perbedaan antara ukuran usaha dan kekayaan keluarga membuat mereka menjadi bahan gunjingan. Amin menegaskan saat itu semua masih sebatas kecurigaan masyarakat dan tidak ada bukti bahwa kekayaan tersebut berasal dari pesugihan.
Suasana kampung kemudian semakin mencekam. Setelah Isya, warga mulai enggan keluar rumah karena beredar cerita tentang perempuan berkebaya yang membawa payung hitam dan memanggil orang-orang pada malam hari. Amin bersama tiga temannya pernah sengaja begadang untuk membuktikan cerita tersebut. Mereka awalnya melihat sesuatu yang disangka entok di dekat parit, tetapi ketika hendak ditangkap, Amin mengaku sosok itu terbang sambil tertawa dengan tubuh putih dan rambut panjang. Seorang kerabat kemudian menafsirkan sosok tersebut sebagai bagian dari praktik yang di daerah mereka disebut “nyupang” atau pesugihan.
Beberapa bulan kemudian, sepupu Amin yang disamarkan dengan nama Iwan meninggal setelah sebelumnya mempunyai riwayat sakit. Sebelum jenazah tiba dari rumah sakit, terdengar suara ledakan keras dari kamar Iwan. Setelah diperiksa, lantai keramik di bawah tempat tidurnya terlihat menonjol dan retak menyerupai bentuk makam atau peti. Ketika bagian tersebut dibongkar, keluarga menemukan kapas di bawah keramik. Seorang kerabat yang dianggap memahami spiritual kemudian menafsirkan benda tersebut sebagai pertanda bahwa Iwan telah menjadi sasaran tertentu.
Ketika jenazah Iwan dimakamkan, Amin kembali mengaku melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain. Tubuh sepupunya yang sebelumnya ia bantu angkat dan terasa berat tiba-tiba dalam penglihatannya tampak kurus menyerupai batang pisang ketika dimasukkan ke liang lahat. Malam-malam tahlilan setelah pemakaman juga diwarnai teror berupa batu dan pecahan genteng yang tiba-tiba berjatuhan tanpa terlihat siapa yang melempar. Menurut Amin, petugas kepolisian setempat bahkan sempat datang dan ikut menyaksikan kejadian tersebut, tetapi tidak menemukan orang yang menjadi sumber lemparan.
Teror batu berhenti setelah rangkaian tujuh harian selesai, tetapi lampu di teras rumah warga masih sering pecah atau meledak secara tiba-tiba hingga mendekati hari ke-40. Pada periode itulah Amin mengalami mimpi yang terasa sangat nyata. Ia mengaku melihat Iwan, bibinya, dan banyak orang lain memakai pakaian putih compang-camping dalam keadaan dirantai. Mereka dijaga makhluk bertubuh besar dan dipaksa membangun sebuah istana megah. Amin terbangun dengan perasaan takut dan tidak mengetahui apa arti pengalaman tersebut.
Amin kemudian sempat bekerja di luar kota selama beberapa bulan. Selama dirinya pergi, kabar mengenai warga yang mengalami gangguan kejiwaan disebut terus bertambah, sementara Dedy menghilang dari rumah tanpa diketahui keberadaannya. Beberapa bulan kemudian Dedy tiba-tiba kembali pada malam hari dalam kondisi rambut panjang dan kusut. Hal yang membuat Amin terkejut, meskipun kondisi kejiwaan kakaknya masih terganggu, Dedy ternyata masih mengenal dan memanggil namanya.
Tidak lama setelah itu, gangguan justru dialami Amin sendiri. Sepulang dari Brebes setelah membahas pekerjaan bersama seorang teman, ia merasa tidak enak badan lalu tidur di ruang televisi. Ketika terbangun, Amin mengaku setengah sadar dan merasa tubuhnya seperti dikendalikan sesuatu. Lidahnya menjulur seperti ular, dirinya beberapa kali melotot dan marah kepada keluarga, sementara telinganya dipenuhi suara ramai menyerupai suasana pasar. Di tengah kondisi itu Amin masih berusaha beristigfar dan meminta keluarganya memanggil Ua.
Karena gangguan belum sepenuhnya berhenti, Amin menghubungi seorang kenalan bernama samaran Om Bambang. Setelah dibantu dari jarak jauh dan kemudian didatangi langsung, Om Bambang mengatakan menurut penerawangannya Amin telah “diikuti” selama sekitar 100 hari dan malam itu merupakan waktu ketika dirinya hendak diambil. Pernyataan tersebut membuat Amin teringat kakak perempuannya, Wati, yang sebelumnya pernah menangis ketika berzikir karena merasa mendapat dorongan untuk mencelakai anaknya sendiri. Amin mulai melihat adanya pola yang menurutnya serupa dengan gangguan Dedy dan warga lain.
Menurut penafsiran Om Bambang, tumbal dalam praktik yang dicurigai keluarga tidak selalu berarti korban meninggal dunia. Seseorang disebut bisa kehilangan “jiwanya” dan tetap hidup dalam kondisi gangguan kejiwaan. Ia juga menilai perjanjian yang diyakini pernah dibuat oleh orang yang dicurigai sebagai pelaku dapat terus mencari korban meskipun orang tersebut sudah meninggal. Om Bambang kemudian melakukan sebuah proses yang menurutnya bertujuan memutus mata rantai tersebut, sembari mengatakan kemungkinan masih akan ada satu korban terakhir.
Beberapa waktu setelah proses tersebut, seorang menantu dari keluarga yang selama ini dicurigai warga meninggal ketika merantau di Jakarta. Keluarga menyebut ia memiliki penyakit paru-paru, sementara Amin mendengar bahwa saat meninggal terdapat banyak darah. Karena waktunya dianggap berdekatan dengan prediksi Om Bambang, Amin menafsirkannya sebagai korban terakhir dari rangkaian tersebut, tetapi tidak ada bukti medis maupun penyelidikan resmi yang menghubungkan kematian itu dengan pesugihan. Setelah sosok yang disamarkan sebagai Roni meninggal, kekayaan keluarganya juga disebut berangsur habis dan sejumlah aset dijual.
Jika dihitung berdasarkan ingatan Amin, kurang lebih 15 orang di lingkungan kecil tersebut pernah mengalami gangguan kejiwaan, meninggal, atau menghilang dalam rangkaian yang oleh warga dikaitkan dengan dugaan pesugihan. Sekitar delapan orang yang mengalami gangguan kejiwaan disebut masih hidup ketika kisah ini diceritakan, termasuk Dedy. Amin sendiri tidak dapat membuktikan bahwa pedagang sayur yang dicurigai benar-benar menjadi penyebab seluruh kejadian, tetapi pengalaman keluarganya membuatnya sangat berhati-hati terhadap jalan pintas mencari kekayaan. Pesannya adalah agar orang tidak gelap mata ketika mengalami kesulitan ekonomi, karena keputusan yang merugikan orang lain pada akhirnya dapat menghancurkan bukan hanya orang di sekitar, tetapi juga keluarga sendiri.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
