Pertemuan Clift Sangra dengan Suzzanna seperti berawal dari sebuah ucapan iseng ketika ia masih duduk di kelas 3 SMP. Saat itu ibunya mengajak Clift menonton film Sundel Bolong di sebuah bioskop di Bandung. Begitu melihat Suzzanna muncul di layar, Clift terpukau dan dalam hati sempat berharap suatu hari perempuan yang menjadi istrinya bisa seperti sang legenda horor tersebut. Ia bahkan mengatakan kepada temannya bahwa dirinya menginginkan istri berambut panjang dan berparas seperti Suzzanna, tanpa pernah membayangkan keinginan masa remaja itu beberapa tahun kemudian benar-benar mengubah hidupnya.
Ketika naik ke kelas 2 SMA, Clift yang tidak pernah mempunyai cita-cita menjadi aktor justru dikejar sebuah tim produksi yang sedang mencari wajah baru. Ia akhirnya dibawa ke Jakarta dan menjalani berbagai tes di sebuah perusahaan film. Setelah dinyatakan lolos hampir seluruh tahapan, masih ada satu syarat terakhir: Suzzanna harus bersedia bermain bersamanya. Ketika sang aktris datang dan melihat Clift untuk pertama kalinya, Suzzanna bahkan sempat penasaran dengan alis tebalnya dan memastikan sendiri apakah alis tersebut asli.
Suzzanna akhirnya menyetujui Clift sebagai lawan main dalam film Sangkuriang. Syuting dimulai pada 10 November 1982. Clift yang ketika itu sama sekali belum berpengalaman sempat takut karena mendengar banyak cerita mengenai ketegasan Suzzanna di lokasi. Namun kenyataan yang ia alami justru berbeda. Suzzanna memanggil Clift, menyuruhnya duduk di pangkuannya, memeluknya, dan mengatakan agar ia tidak perlu takut serta boleh mengadu kepadanya jika menghadapi masalah selama proses produksi.
Kedekatan mereka semakin berkembang setelah sebuah adegan ciuman dalam film tersebut. Clift mengaku sampai tiga malam sulit tidur karena terus memikirkan adegan itu, lalu memberanikan diri menelepon Suzzanna untuk meminta maaf sekaligus mengungkapkan perasaannya. Jawaban Suzzanna mengejutkannya karena ternyata ia juga memikirkan Clift. Sejak saat itulah hubungan yang awalnya sebatas senior dan pendatang baru perlahan berubah menjadi hubungan pribadi.
Di tengah syuting, Clift mulai mengalami sendiri hal-hal yang selama ini hanya ia dengar dari cerita orang. Saat berada di sebuah hotel ketika menjalani pengambilan gambar di Jawa Timur, ia mengaku melihat sosok perempuan turun dari arah langit-langit kamar dan membuat tubuhnya tidak dapat bergerak. Clift menafsirkan perempuan yang sangat cantik tersebut sebagai Ratu Pantai Selatan atau Nyi Roro Kidul. Menurut pengalaman pribadinya, sosok itu mendekat dan mencium dirinya sebelum kemudian menghilang ketika Clift mencoba memeluknya.
Pengalaman itu membuat Clift semakin memahami kedekatan Suzzanna dengan berbagai tradisi spiritual Jawa. Selama hidup bersama, ia mengaku beberapa kali mendampingi Suzzanna mendatangi tempat-tempat seperti kamar 308 di Pelabuhan Ratu, Parangtritis, dan Parangkusumo. Menurut Clift, Suzzanna melakukan meditasi, puasa, serta berbagai laku batin sebelum memerankan karakter tertentu. Ketika ditanya apakah benar pernah bertemu Ratu Pantai Selatan, Suzzanna disebut tidak pernah memberikan jawaban terbuka kepada publik.
Clift mengatakan setiap film bisa mempunyai persiapan spiritual yang berbeda. Ketika memerankan tokoh yang berkaitan dengan Ratu Pantai Selatan, misalnya, Suzzanna menjalani meditasi dan berbagai pantangan agar dapat benar-benar menjiwai karakter. Untuk film lainnya, bentuk tirakatnya juga berbeda. Clift menilai kekuatan akting Suzzanna muncul dari keseriusan luar biasa dalam mendalami peran, meski ia sendiri menafsirkan sebagian proses tersebut sebagai pengalaman spiritual yang melampaui latihan akting biasa.
Salah satu kebiasaan yang ia ingat adalah puasa berdasarkan hari kelahiran serta pola makan yang sangat ketat menjelang produksi tertentu. Clift juga menceritakan adegan dengan puluhan ular berbisa asli yang ditempatkan di kepala Suzzanna pada sebuah film bertema Nyi Blorong. Menurut pengamatannya, tidak ada ular yang menggigitnya selama pengambilan gambar. Clift menegaskan bahwa menurut pemahamannya, tirakat Suzzanna bukan ditujukan untuk meminta kepada jin atau makhluk ghaib, melainkan merupakan laku Kejawen yang tetap disertai doa kepada Tuhan.
Kedekatan Suzzanna dengan budaya Jawa menurut Clift tidak terlepas dari masa kecilnya. Berdasarkan cerita keluarga yang ia ketahui, Suzzanna lahir prematur setelah ibunya mendapat kabar bahwa sang suami meninggal dalam peperangan. Setelah keluar dari perawatan, Suzzanna kemudian dibesarkan oleh neneknya di Magelang. Nenek tersebut disebut kuat memegang tradisi Kejawen sehingga sejak kecil Suzzanna tumbuh dengan berbagai ajaran mengenai puasa, tirakat, penghormatan terhadap alam, dan laku spiritual Jawa.
Clift kemudian menikahi Suzzanna pada Mei 1983 ketika usianya masih sangat muda. Selisih usia keduanya sekitar 23 tahun dan hubungan tersebut sempat mendapatkan berbagai komentar serta surat yang berusaha menggagalkan pernikahan mereka. Namun Clift tetap bertahan dan mengatakan niatnya bukan bermain-main. Ia ingin membuktikan bahwa keputusannya menikahi Suzzanna didasarkan pada kesungguhan, bukan karena ketenaran sang aktris.
Selama pernikahan mereka tidak mempunyai anak kandung bersama. Clift mengaitkan hal tersebut dengan kondisi kesehatan Suzzanna setelah mengalami periode depresi berat pada masa sebelum mereka menikah dan pernah mengonsumsi obat secara berlebihan. Ia kemudian menyampaikan penafsiran mengenai pengaruh kejadian tersebut terhadap kondisi reproduksi Suzzanna, tetapi hubungan medis tersebut merupakan pemahaman Clift dan tidak dapat dipastikan hanya dari kesaksiannya. Pasangan itu akhirnya memilih mengangkat anak.
Kehidupan di rumah bersama Suzzanna pun tidak pernah benar-benar lepas dari pengalaman aneh. Clift beberapa kali mengaku melihat sosok yang sangat mirip istrinya berjalan naik ke lantai atas, masuk kamar, atau menuju kamar mandi, tetapi ketika dikejar ternyata ruangan kosong. Seorang petugas keamanan juga pernah menghubunginya karena melihat Suzzanna duduk sendirian di luar rumah, padahal menurut Clift saat itu istrinya sedang berada di luar negeri. Suara siulan dan panggilan tanpa sumber juga menjadi pengalaman yang menurutnya cukup sering terjadi.
Ada pula kebiasaan Suzzanna terhadap bunga melati. Pada hari-hari tertentu, Clift diminta membeli banyak melati untuk disebarkan di rumah, kasur, dan lantai. Sebagian bunga dimasukkan ke dalam air bening, didinginkan, lalu diminum. Bahkan menjelang akhir hidupnya Suzzanna berpesan bahwa orang yang berziarah ke makamnya cukup membawa bunga melati. Karena itulah Clift kemudian meminta penjaga makam membersihkan bunga lain yang tidak sesuai dengan pesan tersebut.
Sekitar dua tahun sebelum meninggal, Suzzanna menurut Clift sudah mempersiapkan makamnya sendiri. Ia menggambar bentuk makam yang diinginkan, menyiapkan pakaian serba putih, hingga membuat surat wasiat mengenai siapa yang boleh mengurus jenazah. Dalam wasiat tersebut, Clift mengatakan dirinya diberi tanggung jawab untuk memandikan serta mempersiapkan jenazah Suzzanna. Ketika kondisi kesehatan sang istri semakin memburuk akibat diabetes yang telah lama dideritanya, Clift merawatnya sendiri di rumah, termasuk membantu pemberian insulin dan kebutuhan sehari-harinya.
Ketika Suzzanna meninggal, Clift menjalankan permintaan yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Ia memandikan jenazah dengan air teh sebagaimana pesan sang istri, mengenakan pakaian yang telah disiapkan, lalu merias wajahnya. Sejumlah pihak seperti perangkat lingkungan, dokter, polisi, dan pengacara juga dipanggil untuk menyaksikan kondisi tersebut. Menurut kesaksian Clift, pemeriksaan dokter menyatakan Suzzanna meninggal akibat kondisi medis berkaitan dengan diabetes. Ia juga menegaskan pemakaman dilakukan cepat karena Suzzanna tidak ingin tubuhnya dalam keadaan sakit dan meninggal menjadi tontonan publik.
Setelah pemakaman, Clift menjaga makam Suzzanna selama 40 malam. Keputusan itu diambil setelah beredar kabar bahwa ada orang yang berniat membongkar makam untuk mengambil bagian tubuh seperti rambut, kuku, atau gigi yang dipercaya mempunyai nilai tertentu. Clift tidak ingin sesuatu terjadi pada jenazah istrinya sehingga setiap malam ia datang setelah para wartawan meninggalkan area pemakaman dan berjaga hingga pagi.
Beberapa hari setelah kematian Suzzanna, Clift mengaku melihat sang istri berdiri di depan pintu kamar dengan wajah ceria dan mengatakan bahwa dirinya merindukan Clift. Pengalaman semacam itu menurutnya terjadi lebih dari sekali, bahkan bertahun-tahun kemudian ketika Clift sedang mempersiapkan buku mengenai perjalanan hidup Suzzanna. Ia menegaskan tidak meminta siapa pun mempercayai cerita tersebut, tetapi baginya sosok yang dilihat tetap terasa seperti perempuan yang hidup bersamanya hampir 25 tahun, bukan sesuatu yang menakutkan.
Suzzanna juga pernah mengatakan kepada Clift bahwa setelah meninggal ia ingin menjadi burung agar dapat mengikuti suaminya ke mana pun pergi. Setelah kematiannya, Clift mengaku selama beberapa tahun sering didatangi burung kutilang di berbagai tempat. Ketika ia memberi tahu almarhumah bahwa akan ada tamu datang ke rumah, menurut pengalamannya seekor kutilang sering muncul pada pagi hari dan berkicau beberapa menit sebelum pergi. Clift tidak dapat menjelaskan fenomena tersebut dan hanya menyebutnya sebagai pengalaman pribadi yang boleh dipercaya atau tidak.
Di luar kehidupannya bersama Suzzanna, sekitar dekade 1990-an Clift pernah mengantar seorang kerabat ke Gunung Kawi karena kerabat tersebut ingin mencari pesugihan. Clift mengaku sejak awal sudah memperingatkan agar rencana itu dibatalkan, tetapi kerabatnya tetap bersikeras. Menurut cerita Clift, mereka menjalani proses menunggu buah dewandaru, bertemu kuncen, serta melihat sosok besar yang ia gambarkan menyerupai genderuwo. Kerabat tersebut kemudian disebut menerima perjanjian yang menurut penafsiran Clift mensyaratkan tumbal setiap tahun. Dalam kurun sekitar sepuluh tahun, sejumlah anggota keluarga kerabatnya meninggal karena berbagai sebab sementara usahanya berkembang hingga mempunyai showroom dan kehidupan yang sangat makmur. Clift menghubungkan rangkaian tersebut dengan ritual yang pernah disaksikannya, meski hubungan sebab-akibat itu tidak dapat dibuktikan hanya berdasarkan kesaksian.
Clift sendiri pernah berada di titik ekonomi yang sangat rendah ketika industri film layar lebar mengalami kemunduran pada era 1990-an. Dalam keadaan terdesak, ia mengaku pernah mengikuti tirakat selama empat malam lima hari tanpa tidur di sebuah ruangan gelap sambil menatap kain kafan dengan harapan mendapatkan angka permainan undian. Ia mengaku akhirnya melihat empat angka dan memperoleh uang sekitar Rp50 juta, tetapi uang tersebut cepat habis untuk kebutuhan hidup dan kini disebutnya sebagai “uang panas”. Setelah melewati puluhan tahun bersama Suzzanna, pengalaman mistis, keterpurukan ekonomi, pesugihan yang disaksikan, hingga kehilangan sang istri, Clift memilih memegang pesan bahwa manusia tidak seharusnya menggantungkan hidup kepada makhluk ghaib. Baginya, pengalaman spiritual boleh menjadi bagian perjalanan seseorang, tetapi keyakinan kepada Tuhan dan keberanian menjalani kehidupan tetap harus berada di atas rasa takut maupun keinginan mencari jalan pintas.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
