Pada 2015, Mas Reza masih menganggur dan sering menghabiskan waktu di sekitar alun-alun Tegal, Jawa Tengah. Suatu hari ia bertemu seorang teman bernama samaran Denggol yang sedang berkeliling menjual bakso. Karena sedang sangat membutuhkan pekerjaan, Reza meminta bantuan mencarikan lowongan. Denggol kemudian mengatakan bahwa tempatnya bekerja sedang membutuhkan karyawan dan persyaratannya cukup sederhana, sehingga Reza langsung menerima kesempatan tersebut.
Reza mulai bekerja sebagai pedagang bakso keliling milik seseorang yang disamarkan dengan nama Bos Joko. Sistem pendapatannya menggunakan persentase sekitar 25 persen dari hasil penjualan. Pada hari pertama, Reza mengaku memperoleh omzet sekitar Rp350 ribu sehingga membawa pulang bagian kurang lebih Rp85 ribu. Bakso buatan Bos Joko memang terkenal enak dan ketika itu belum mempunyai banyak pesaing. Bersama Denggol dan seorang pekerja lain bernama Arif, tiga gerobak mereka hampir selalu habis lebih cepat setiap harinya.
Keadaan tersebut berlangsung sekitar enam bulan sebelum tiba-tiba berubah. Produksi yang sebelumnya dapat mencapai puluhan kilogram mulai dikurangi karena penjualan merosot tajam. Bahkan ketika hanya membuat sekitar 10 kilogram, bakso tetap sulit habis meskipun para pedagang sudah berkeliling sampai malam. Karena modal terus terkikis, Bos Joko akhirnya meminta Reza, Denggol, dan Arif berhenti sementara meskipun ketiganya sebenarnya masih ingin bekerja.
Sekitar satu bulan kemudian, Bos Joko datang ke rumah Reza pada malam hari dan meminta ditemani pergi ke sebuah tempat. Sebelumnya permintaan serupa sudah diberikan kepada Denggol tetapi ditolak. Reza bersedia karena mengira dirinya hanya diminta mengantar bosnya mencari modal. Anehnya, sebelum berangkat Bos Joko justru meminta Reza membawa beberapa stel pakaian. Setelah perjalanan menggunakan kendaraan umum selama sekitar dua setengah jam dan dilanjutkan ojek hampir satu setengah jam, mereka akhirnya tiba di sebuah rumah terpencil di tengah kawasan perkebunan dan perbukitan.
Di rumah tersebut mereka bertemu seorang lelaki tua yang disamarkan sebagai Mbah Rinto. Barulah Reza mengetahui alasan sebenarnya dirinya dibawa. Ketika tas Bos Joko dibuka, isinya bukan pakaian atau perlengkapan perjalanan, melainkan berbagai bunga, minyak, dupa, dan perlengkapan sesajen. Bos Joko akhirnya mengaku bahwa ia datang untuk melakukan ritual demi mengembalikan keadaan ekonominya. Reza merasa ditipu, tetapi saat itu ia sudah berada sangat jauh dari kota dan kesulitan untuk pulang sendirian.
Salah satu syarat yang belum terpenuhi adalah seekor ayam yang disebut sebagai ayam cemani berbulu putih. Reza awalnya heran karena selama ini ia mengetahui ayam cemani identik dengan warna hitam. Bos Joko mengatakan dirinya tidak berhasil menemukan ayam tersebut. Mbah Rinto lalu menawarkan untuk menyediakannya dengan biaya sekitar Rp2 juta. Tidak lama kemudian ia membawa seekor ayam dengan tubuh dan kulit gelap tetapi bulunya tampak putih, sesuatu yang menurut Reza baru pertama kali dilihatnya.
Menjelang malam, mereka berjalan lebih dari satu jam melewati kebun, rumpun bambu, sungai, dan kawasan yang gelap hingga tiba di lokasi ritual. Tempat tersebut berupa bangunan terbuka yang sudah dipenuhi lumut dengan sebuah batu hitam menyerupai orang duduk bersila dan dililit kain putih. Sesajen disusun di sekeliling batu, minyak dioleskan, lalu Mbah Rinto membaca rapalan dalam bahasa Jawa. Tidak lama kemudian Reza mengaku angin bertiup sangat kencang hingga pepohonan di sekitarnya bergerak keras.
Bos Joko kemudian diminta tinggal seorang diri dan terus membaca rapalan yang telah diberikan. Ada beberapa larangan, terutama tidak boleh tertidur, tidak boleh kabur, dan tidak boleh berhenti membaca sebelum proses selesai. Reza memilih pulang bersama Mbah Rinto karena ketakutan. Namun ketika mereka kembali untuk memeriksa Joko, lelaki itu justru ditemukan tertidur dan sulit dibangunkan. Mbah Rinto kemudian melakukan proses yang menurut Reza seperti menarik atau memulihkan kesadaran Joko hingga akhirnya ia kembali sadar.
Meski ritual pertama gagal, Joko tidak mau menyerah. Ia merasa sudah mengeluarkan banyak biaya dan menempuh perjalanan jauh sehingga meminta satu kesempatan lagi. Pada malam berikutnya ayam yang dibawa digunakan dalam ritual dan darahnya diteteskan di sekitar batu. Mbah Rinto membaca rapalan yang menurut Reza terdengar jauh lebih berat daripada sebelumnya. Kali ini Reza justru diperintahkan tetap berada bersama Joko karena Mbah Rinto mengatakan sesuatu yang lebih kuat akan datang dan Joko harus diawasi agar tidak kembali tidur atau melarikan diri.
Ketika menjaga Joko, Reza mengaku melihat berbagai hal yang membuatnya sangat ketakutan. Mulanya ia melihat kaki perempuan dengan pakaian merah di sekitar pepohonan, kemudian sesuatu yang disangkanya buah nangka ternyata berubah menjadi kepala dengan wajah menyeramkan, lidah panjang, mata merah, dan telinga panjang. Seekor ular juga disebut melintas di pangkuannya. Meski sudah berusaha bertahan, Reza akhirnya lari setelah mendengar suara yang menyuruhnya pergi dari tempat tersebut.
Dalam pelariannya, Reza mengaku penglihatannya seperti terbuka sehingga ia melihat berbagai sosok yang sebelumnya tidak pernah terlihat, mulai dari makhluk kecil berwarna merah, kuntilanak, pocong, hingga sosok tinggi besar yang ia gambarkan menyerupai genderuwo. Setelah tersandung, Reza merasa dadanya sangat sesak dan kemudian pingsan. Dalam keadaan tersebut ia mengaku bertemu sosok lelaki berpakaian putih yang memberinya sesuatu seperti buah bercahaya dan menunjukkan jalan keluar. Setelah sadar, Reza ditemukan Mbah Rinto dan dibawa kembali ke rumah untuk menjalani proses yang menurutnya menutup kembali penglihatan ghaib tersebut.
Pagi harinya Reza terbangun dan melihat Bos Joko sudah kembali bersama Mbah Rinto. Di samping Joko terdapat sebuah karung goni besar yang awalnya disangka Reza berisi buah. Ketika dibuka, menurut kesaksiannya karung itu dipenuhi uang pecahan Rp100 ribu. Reza langsung menganggap ritual bosnya berhasil. Namun Mbah Rinto mengatakan uang tersebut belum boleh langsung dibawa pulang karena ada syarat dari sosok yang dipercaya sebagai pemilik uang tersebut.
Syarat itu membuat Reza terkejut. Menurut penuturan Mbah Rinto, imbalan yang diminta adalah anak semata wayang Bos Joko. Joko sempat terdiam dan terlihat bingung, tetapi akhirnya menyatakan setuju. Ia kemudian diberi aturan lanjutan berupa ritual rutin setiap malam Selasa dan malam Jumat dengan perlengkapan tertentu seperti bunga kantil, minyak wewangian, dupa, serta sebuah ruangan khusus bernuansa hijau. Reza tidak mengetahui seluruh detail pembicaraan karena kemudian diminta keluar dari ruangan.
Dalam perjalanan pulang, ponsel Bos Joko kembali mendapatkan sinyal dan terdapat banyak panggilan tidak terjawab dari istrinya. Ketika telepon diangkat, sang istri menangis dan mengatakan anak mereka mengalami kecelakaan setelah tertabrak mobil. Sesampainya di rumah sakit, Reza baru mengetahui bahwa anak tersebut telah meninggal dunia. Joko terlihat marah dan terpukul di hadapan keluarga, tetapi Reza merasa ngeri karena ia mengetahui bahwa beberapa jam sebelumnya bosnya telah menyetujui syarat yang menyebut anak tersebut. Hubungan antara ritual dan kecelakaan itu merupakan penafsiran Reza berdasarkan rangkaian kejadian yang dialaminya dan tidak dapat dibuktikan secara objektif.
Dua hari setelah pemakaman, Bos Joko kembali menemui Reza dan mengajaknya mencari lokasi baru untuk berjualan. Mereka akhirnya mendapatkan tempat bekas bengkel resmi di sebuah kawasan perempatan dan mengontraknya selama sekitar tiga tahun. Lokasinya kemudian direnovasi menjadi warung bakso besar dengan area makan yang luas dan beberapa gerobak pelayanan. Denggol dan Arif kembali dipanggil untuk bekerja bersama Reza.
Sebelum mulai berjualan, Reza melihat ada perlakuan khusus terhadap tempat memasak. Sebuah kain diikatkan pada pegangan dandang dan diberi wewangian serta bunga kantil. Setelah warung dibuka, sesuatu yang menurut Reza terasa tidak normal langsung terjadi: pembeli berdatangan tanpa henti. Berbeda dari usaha baru yang biasanya membutuhkan waktu membangun pelanggan, warung tersebut langsung penuh sejak awal. Reza mengatakan mereka nyaris tidak mempunyai waktu duduk dari pagi hingga sore, bahkan makan, mandi, dan pergi ke kamar mandi harus dilakukan bergantian.
Keuntungan Bos Joko meningkat sangat cepat. Dalam hitungan beberapa bulan ia disebut mulai membeli rumah dan kendaraan, kemudian menambah aset lain seperti rumah kedua, mobil, pick-up, dan berbagai harta. Warung tidak dibuka menjadi banyak cabang, tetapi lokasi utama diperbesar dengan beberapa titik pelayanan agar dapat menampung pelanggan. Reza mengatakan keramaiannya begitu ekstrem hingga dirinya merasa penjualan tersebut jauh berbeda dari usaha makanan biasa.
Di tengah kesuksesan itu, Reza mulai sering mengalami tindihan ketika tidur. Ia bertanya kepada Denggol dan Arif, tetapi keduanya mengaku tidur normal. Menjelang hampir setahun bekerja di lapak baru, Reza kemudian teringat bahwa Joko pernah menjanjikan sesuatu sebagai balas jasa karena ia telah menemani perjalanan ritual. Ketika janji itu ditagih, Joko datang malam hari membawa sejumlah besar uang. Namun Reza mencium aroma amis dari uang tersebut dan langsung teringat bagaimana anak Joko meninggal setelah ritual pertama. Ia akhirnya menolak menerima uang di luar gajinya sendiri.
Setelah penolakan tersebut, pengalaman Reza di warung berubah. Ketika sedang mengantarkan mangkuk bakso, ia mengaku tanpa sengaja memperhatikan kaki seorang pelanggan dan tidak melihat bagian kakinya menyentuh lantai. Setelah mulai memperhatikan pelanggan lain, Reza merasa sebagian pembeli tampak seperti manusia biasa sementara sebagian lainnya tidak. Dari situlah muncul keyakinan dalam dirinya bahwa selama ini warung tersebut bukan hanya didatangi manusia, melainkan juga makhluk ghaib. Ketakutan itu membuat Reza mencari alasan untuk keluar dan akhirnya mengatakan kepada Bos Joko bahwa dirinya hendak menikah, sambil berjanji palsu akan kembali setelah urusan pernikahan selesai.
Bos Joko akhirnya mengizinkan Reza pulang. Dalam perjalanan, Reza mengaku melihat perempuan cantik di sekitar jalan layang dan sempat memperhatikannya. Ketika sosok tersebut tiba-tiba melintas, Reza menghindar hingga terjatuh dan kepalanya membentur trotoar. Ia baru sadar di rumah sakit dan mendapati ponsel serta tas berisi tabungan hasil bekerja selama sekitar setahun hilang. Menurut Reza, tabungan tersebut bernilai sekitar Rp45 juta. Tidak lama setelah pulih, ia juga mendapat kabar bahwa Denggol meninggal dunia. Reza sangat menyesal karena kecelakaannya membuat dirinya tidak sempat memperingatkan sahabatnya agar tidak menerima sesuatu di luar haknya, meskipun ia tidak mengetahui secara pasti penyebab kematian Denggol.
Reza kemudian meninggalkan dunia bakso dan menerima pekerjaan sebagai kolektor koperasi. Beberapa tahun setelahnya ia mendengar kabar bahwa Bos Joko sudah tidak ada, istrinya jatuh sakit dan kemudian meninggal, sedangkan berbagai aset keluarga mulai dijual untuk biaya pengobatan dan kebutuhan usaha sampai kekayaan yang sebelumnya terkumpul habis. Reza mengaitkan kehancuran tersebut dengan berhentinya ritual malam Selasa dan malam Jumat setelah Joko tidak lagi menjalankannya, tetapi hal itu tetap merupakan penafsirannya berdasarkan pengalaman pribadi. Dari semua yang dialaminya—mulai dari ritual terpencil, karung uang, kematian anak Joko, warung bakso yang tidak pernah sepi, hingga pelanggan yang menurut penglihatannya tidak memiliki kaki—Reza memilih satu pelajaran: pekerjaan yang sulit tetapi halal jauh lebih aman daripada kekayaan instan yang menurut keyakinannya menuntut harga terlalu mahal.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
