Pada 2023, Mak Eli mengalami kehilangan yang sampai sekarang masih sulit ia terima. Anak keduanya, Amanda Rizki Saputri yang akrab dipanggil Putri atau Uti, meninggal dunia pada usia sekitar 20 tahun setelah mengalami sakit dan pendarahan hebat. Putri meninggalkan seorang anak laki-laki bernama Raman. Bagi Mak Eli, kesedihan tidak berhenti setelah pemakaman karena sejak saat itu sejumlah anggota keluarga, tetangga, dan sahabat mengaku masih melihat atau merasakan kehadiran Putri di berbagai tempat.
Sebelum meninggal, Putri memang sudah mempunyai riwayat keluhan lambung sejak sekolah. Menurut Mak Eli, dokter beberapa kali mengingatkan agar Putri menjaga pola makan karena ia sangat menyukai makanan pedas seperti seblak dan keripik. Setelah lulus sekolah, Putri bekerja sebagai kasir di sebuah toko roti milik kerabat keluarga. Karena jarak tempat kerja dari rumah cukup jauh, sekitar satu setengah jam perjalanan, ia meminta izin untuk tinggal di kos bersama teman-temannya.
Pada beberapa bulan pertama Putri masih rutin pulang menemui keluarganya. Namun sekitar bulan kelima, ia mulai jarang pulang dengan alasan pekerjaan sedang banyak. Ketika suatu hari akhirnya kembali, Mak Eli melihat putrinya mengenakan sweater besar dan mengeluh tubuhnya panas dingin. Sang ibu meminta Putri beristirahat di rumah, tetapi ia memilih kembali karena takut terlambat bekerja dan kehilangan pekerjaan. Setelah pertemuan itu, Mak Eli semakin sulit menghubungi anaknya.
Kekhawatiran semakin besar ketika Mak Eli mengetahui dari kerabat bahwa Putri sebenarnya sudah berhenti bekerja sejak beberapa bulan sebelumnya. Ia mendatangi kos yang diketahui sebelumnya, tetapi Putri ternyata juga sudah tidak tinggal di sana. Mak Eli mencari informasi dari teman-teman serta mantan pacar Putri, namun belum mendapat jawaban. Sampai akhirnya seorang teman mengatakan Putri sudah mempunyai seorang bayi dan mengirimkan percakapan serta lokasi tempat tinggalnya.
Sekitar tengah malam, Mak Eli bersama suaminya mencari alamat tersebut. Di sebuah kontrakan ia mendengar tangisan bayi dan kemudian menemukan Putri dalam keadaan sakit bersama seorang laki-laki serta bayi kecil. Putri langsung memeluk ibunya dan meminta maaf. Ia mengaku selama ini menyembunyikan kehamilan karena takut dimarahi dan juga tidak ingin menambah beban Mak Eli yang ketika itu sedang merawat anak lain yang mengalami sakit paru-paru dan jantung.
Mak Eli kemudian meminta keluarga laki-laki bertanggung jawab. Menurut kesaksiannya, pihak keluarga laki-laki ternyata juga tidak mengetahui seluruh keadaan Putri sebelumnya. Kedua keluarga kemudian bersepakat menikahkan Putri secara agama karena proses administrasi resmi saat itu belum dapat diselesaikan. Setelah itu Putri sempat tinggal bersama keluarga suaminya, tetapi kondisi kesehatannya semakin sering menurun dan ia berulang kali menghubungi ibunya untuk meminta dibuatkan makanan.
Ketika keadaan Putri memburuk, Mak Eli membawanya kembali ke rumah bersama Raman. Di sinilah penyesalan terbesar Mak Eli bermula. Karena mengira sakit yang dirasakan Putri tidak terlalu serius, Mak Eli sering memarahinya ketika ia tidak kuat menggendong anak, membuat susu, atau mengganti popok Raman. Putri berkali-kali mengatakan perutnya benar-benar sakit, tetapi Mak Eli saat itu menganggap putrinya terlalu manja karena sebelumnya memang beberapa kali menggunakan alasan sakit untuk menghindari kegiatan tertentu.
Adik-adik Putri justru sering membelanya. Mereka melihat Putri berjalan membungkuk sambil menahan sakit dan diam-diam membantu membuatkan susu untuk Raman agar sang kakak tidak kembali dimarahi. Tetangga pun sempat mengatakan kepada Mak Eli bahwa sakit Putri terlihat sungguhan. Kini bagian tersebut menjadi kenangan yang paling menyiksa bagi Mak Eli karena setelah anaknya meninggal, ia merasa seharusnya sejak awal lebih percaya terhadap keluhan yang disampaikan Putri.
Pada Lebaran 2023, kondisi Putri terlihat semakin berat sehingga seorang kerabat membawanya ke rumah sakit. Dalam perjalanan ia sempat pingsan. Menurut cerita Putri kepada ibunya, ketika berada di perjalanan ia merasa melihat dua sosok seperti malaikat yang berada di sekitarnya. Setelah pemeriksaan, dokter mengatakan ada kondisi serius dan fasilitas rumah sakit tersebut tidak cukup sehingga Putri dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Mak Eli mengatakan putrinya kemudian menjalani operasi dan mendapat perawatan yang menurutnya dilakukan dengan baik.
Setelah kondisinya dianggap cukup stabil, Putri diperbolehkan pulang dengan rencana melakukan kontrol berikutnya. Namun sekitar dua hari setelah kembali ke rumah, kondisinya kembali memburuk. Pada malam sebelum pendarahan, Putri memilih berbaring di teras karena merasa bisa bernapas lebih lega sambil melihat langit. Ia masih sempat bercanda dan mengobrol bersama adiknya sampai sekitar tengah malam.
Tidak lama kemudian Mak Eli menemukan lantai teras terasa lengket. Setelah disorot menggunakan lampu ponsel, ia baru menyadari telapak kakinya menginjak darah. Pampers Putri sudah dipenuhi darah dan pendarahan terus berlangsung ketika tubuhnya dibersihkan. Putri mulai mengatakan dirinya merasa dingin dan lemas. Mak Eli berusaha menampung darah menggunakan kain karena persediaan pampers habis sambil terus mencari bantuan dari warga sekitar.
Pagi harinya Bu RW datang dan langsung melihat kondisi Putri yang sangat pucat serta kekuningan. Warga mendesak agar ia segera dibawa ke rumah sakit. Putri sempat menolak karena ingin terlebih dahulu mengadakan selamatan untuk Raman dan mengatakan takut tidak sempat melakukannya. Mak Eli terus meyakinkan bahwa kesehatan Putri harus menjadi prioritas. Ambulans akhirnya datang dan membawanya kembali untuk mendapatkan pertolongan medis.
Di rumah sakit, kondisi Putri disebut sangat kekurangan darah dan membutuhkan transfusi. Mak Eli bahkan menawarkan darahnya sendiri karena merasa mempunyai golongan darah yang sama, tetapi dijelaskan bahwa proses transfusi tetap harus mengikuti prosedur medis. Di tengah kondisi lemah, Putri terus menanyakan Raman. Ia meminta ibunya berjanji menjaga anaknya apabila dirinya tidak mempunyai umur panjang serta meminta Raman kelak diselamati dan diakikahkan jika keluarga mempunyai rezeki.
Ucapan Putri kemudian semakin emosional. Berkali-kali ia meminta maaf kepada ibunya dan mengatakan sudah tidak kuat. Mak Eli terus menenangkan putrinya dan mengatakan bahwa ia pasti sembuh. Namun tidak lama kemudian Putri mulai sulit berbicara dan hanya mampu membuka mata. Dokter segera membawanya ke ruang ICU. Di sana Putri sempat mengatakan kepada ibunya bahwa dirinya merasa ditemani nenek dan kakek yang sebenarnya sudah meninggal dunia.
Putri menjalani perawatan sekitar empat hari. Ketika kondisinya semakin kritis, dokter memberi tahu keluarga mengenai tindakan medis yang dapat dilakukan serta berbagai risikonya. Mak Eli meminta apa pun dilakukan selama putrinya masih mempunyai peluang hidup. Namun akhirnya keluarga diminta mempersiapkan diri. Setelah didampingi warga dan seorang ustaz, Mak Eli berdoa agar diberikan yang terbaik. Tidak lama kemudian ia mendapat kabar bahwa Putri telah meninggal dunia.
Jenazah Putri dibawa pulang pada Kamis malam menjelang Jumat dan proses pemakamannya menurut Mak Eli berlangsung normal. Namun sebelum dimakamkan, ia mengaku sempat mengalami pengalaman seperti tertindih ketika mencoba tidur karena kelelahan. Dalam kondisi setengah sadar, Mak Eli merasa mendengar suara Putri berbisik di telinganya, menanyakan apakah sang ibu sedang lelah. Ayah Putri juga mengaku mendengar anaknya meminta dipeluk sehingga ia sempat memeluk jenazah putrinya.
Setelah pemakaman, cerita mengenai kemunculan Putri mulai datang dari berbagai orang. Seorang sahabat keluarga bernama Mas Anggi mengaku melihat Putri berdiri di depan pagar pada malam hari dan meminta pertolongan. Beberapa warga mengatakan didatangi sosok Putri yang hanya mengucapkan terima kasih karena mereka pernah membantu ketika dirinya sakit. Seorang kerabat bahkan mengaku melihat Putri mengetuk rumah, sementara tamu seorang tetangga mengatakan melihat perempuan cantik berpakaian putih berdiri di belakangnya ketika Raman sedang tidur.
Cerita serupa terus bermunculan. Ada warga yang mengaku melihat sosok seperti Putri sedang menyapu rumah, sementara seorang ustaz yang sedang berkeliling malam melihat perempuan berdiri di depan pintu dan mengaku mengenalinya sebagai Putri. Dalam kejadian lain, Mak Eli memberikan pakaian bayi bekas milik Raman kepada tetangga yang sedang kesulitan mempersiapkan kelahiran anak. Malam setelah pakaian itu dicuci, istri tetangganya mengaku didatangi perempuan yang meminta agar pakaian anaknya dikembalikan. Seluruh pengalaman tersebut merupakan kesaksian orang-orang di sekitar keluarga dan tidak dapat diverifikasi sebagai kemunculan ghaib Putri.
Mak Eli kemudian memenuhi beberapa keinginan Putri untuk Raman, termasuk mengadakan selamatan, memotong rambut, hingga akhirnya melaksanakan akikah ketika mempunyai rezeki. Pengasuhan Raman dibagi bersama ayah kandungnya karena Mak Eli tidak ingin memisahkan seorang ayah dari anaknya. Ayah Raman kemudian menikah lagi, dan Mak Eli mengatakan hubungan mereka tetap baik. Menurutnya, istri baru ayah Raman juga menyayangi cucunya dengan tulus. Meski begitu, ketika Raman berada di rumah Mak Eli, anak tersebut beberapa kali menunjuk kamar dan mengatakan melihat “Mama Putih” sedang duduk di dalam.
Hingga menjelang wawancara, Mak Eli masih mengaku mendengar hal-hal yang membuatnya teringat kepada Putri. Pada malam sebelum datang ke Malam Mencekam, ia mendengar suara perempuan menangis dari arah rumah padahal anak-anaknya sedang tertidur. Setelah Mak Eli mengatakan akan segera menjemput dan mengajak Raman jalan-jalan, suara tersebut menurutnya berhenti. Beberapa saat setelah ia salat dan mengaji, rumah juga disebut dipenuhi aroma sangat harum. Mak Eli menafsirkan pengalaman itu sebagai kegelisahan Putri terhadap anaknya, tetapi ia tetap berharap putrinya dapat tenang dan berada di tempat terbaik di sisi Tuhan.
Kini yang paling kuat tersisa dalam diri Mak Eli bukan rasa takut, melainkan penyesalan dan kerinduan. Ia mengenang Putri sebagai anak yang sangat perhatian, sering membawakan makanan untuk adik-adiknya, membuatkan kopi ketika ibunya marah, hingga pernah mengumpulkan uang bersama teman-temannya hanya untuk membelikan kue ulang tahun bagi sang ibu. Kisah keluarga ini kemudian diangkat menjadi film Putri Jangan Gentayangan Lagi sebagai pengingat bagi anak muda agar terbuka kepada orang tua dan bagi orang tua agar tetap memperhatikan kondisi anak meskipun sibuk bekerja. Jika waktu bisa diputar kembali, Mak Eli mengatakan dirinya hanya ingin percaya ketika Putri mengatakan sakit, berhenti memarahinya, lebih sering memeluk dan menciumnya, lalu berkata: “Maafin Mama, Put.”
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
