Kisah ini dialami Teh Sarah pada akhir 2021 hingga awal 2022, ketika kondisinya sendiri sedang terpuruk setelah melewati berbagai pengalaman berat dalam hidup. Di sebuah pekerjaan event, Sarah tidak sengaja bertemu kembali dengan teman lamanya yang disamarkan sebagai Andi bersama istrinya, Citra. Sarah mengenal Andi sejak mereka sama-sama merintis pekerjaan di dunia hiburan dan event dari nol. Namun pertemuan kali itu terasa berbeda karena pasangan yang dahulu dikenal hidup berkecukupan justru terlihat penuh masalah.
Citra tiba-tiba menangis dan menceritakan bahwa keluarga mereka sedang dikejar debt collector serta mempunyai banyak utang. Karena tidak nyaman membicarakannya di tengah keramaian, Andi mengajak Sarah ke tempat tinggal mereka. Sarah terkejut karena pasangan yang selama ini dikenal mempunyai gaya hidup mewah ternyata hanya tinggal di sebuah kos sederhana. Di sanalah Andi dan Citra mulai membuka cerita mengenai masalah ekonomi sekaligus kehilangan anak yang masih mereka rasakan.
Andi dan Citra telah berpacaran sejak sekolah hingga akhirnya menikah. Citra berasal dari keluarga juragan beras di Indramayu dan menerima warisan cukup besar setelah ayahnya meninggal sekitar setahun setelah pernikahan. Namun menurut cerita yang diterima Sarah, dalam waktu sekitar empat tahun sebagian besar harta tersebut habis karena tidak ada usaha dengan pemasukan stabil, sementara gaya hidup pasangan itu tetap tinggi. Andi sendiri disebut lebih banyak bekerja serabutan sebagai kru berbagai acara.
Di tengah kejatuhan ekonomi itulah Andi mengaku pernah menempuh jalan pesugihan setelah diajak salah seorang kerabatnya. Pengakuan tersebut mengejutkan Sarah karena selama mengenal mereka, terutama Citra yang saat itu bercadar, pasangan tersebut terlihat sangat religius. Menurut cerita Andi kepada Sarah, perjanjian yang dijalaninya mempunyai syarat bahwa Citra harus hamil setiap tahun dan kandungannya kemudian “diserahkan” sebagai tumbal. Sarah mengatakan dirinya memang beberapa kali mendengar kabar Citra hamil lalu mengalami keguguran, tetapi sebelumnya tidak mengetahui cerita yang ada di baliknya.
Pada salah satu tahun, ritual yang biasa mereka lakukan disebut terlewat karena pasangan tersebut sudah terlena dengan kekayaan yang diperoleh. Kehamilan Citra akhirnya bertahan hingga melahirkan seorang bayi laki-laki. Menurut penuturan pasangan itu, kondisi sang bayi sejak lahir tidak berkembang sebagaimana yang mereka harapkan. Hingga usia sekitar delapan sampai sepuluh bulan, bayi tersebut disebut masih sangat lemah, hanya bisa menerima sedikit susu dan tidak menunjukkan perkembangan seperti bayi seusianya. Sang anak akhirnya meninggal dunia sekitar delapan bulan sebelum Sarah kembali bertemu mereka.
Kehilangan itu membuat kondisi psikologis Citra terlihat sangat terpukul menurut pengamatan Sarah. Di tengah percakapan, ia beberapa kali menangis, memanggil anaknya, lalu tiba-tiba terdiam dan melamun. Andi juga bercerita bahwa pada malam hari mereka terkadang mendengar suara seperti bayi menangis atau memanggil. Pernah pula ditemukan bekas menyerupai cakaran pada jendela setelah malam sebelumnya mereka mendengar suara bayi. Sarah tidak mengetahui sumber kejadian tersebut dan hanya mendengarkan cerita keduanya.
Masalah keluarga semakin berat karena harta hasil usaha mereka mulai runtuh. Mobil yang digunakan untuk bisnis rental banyak dibeli secara kredit dan cicilannya macet. Sejumlah uang juga disebut hilang dalam investasi yang ternyata bermasalah, sedangkan utang kepada rentenir terus mengejar. Dalam keadaan tersebut, Andi mendapat telepon dari pamannya yang memberi kabar mengenai cara lain untuk kembali mencari kekayaan. Tidak lama kemudian Andi menjual mobil pick-up miliknya sekitar Rp50 juta.
Setelah mobil terjual, Andi mengajak Sarah dan Citra berangkat menuju Gunung Kawi. Awalnya Sarah hanya diberi alasan agar menemani Citra yang sedang mengalami tekanan berat. Namun selama perjalanan Sarah mendengar Andi melalui telepon meminta seseorang menyiapkan “dua paket”. Saat itu ia mengira keduanya diperuntukkan bagi Andi dan istrinya. Mereka berangkat siang hari dan baru tiba di kawasan Gunung Kawi selepas Magrib.
Sarah melihat kawasan Gunung Kawi sudah sangat berubah dibandingkan kunjungannya pada masa sebelumnya. Akses kendaraan kini jauh lebih mudah dan banyak orang langsung mendatangi mobil mereka untuk menawarkan jasa, perlengkapan sesajen, hingga mengantar ke lokasi tertentu. Karena Andi sudah mempunyai kontak sendiri, mereka menolak tawaran tersebut dan langsung menemui seorang kuncen yang sudah dihubungi sebelumnya.
Mereka kemudian dibawa ke sebuah tempat yang disebut keraton. Sarah diminta mengisi buku tamu berisi nama, alamat, nomor telepon, dan tujuan kedatangan. Karena merasa takut, ia menggunakan identitas palsu dan menuliskan tujuan “mencari berkah”. Setelah kuncen melakukan bacaan di depan altar, mereka dibawa ke ruangan lain yang terdapat gundukan tanah menyerupai makam. Dari tempat itulah masing-masing memperoleh segenggam tanah yang dimasukkan ke kantong merah.
Baru setelah proses tersebut Sarah mengetahui bahwa salah satu dari dua paket ritual yang disiapkan Andi ternyata ditujukan untuk dirinya. Kuncen menjelaskan mereka akan melakukan semedi tengah malam dan menunggu sesuatu datang untuk membuat perjanjian. Andi dan Citra sudah mempunyai permintaan yang jelas, yakni kembali memperoleh kekayaan dengan syarat yang menurut pengakuan mereka berkaitan dengan janin. Sementara Sarah belum mengetahui makhluk apa yang akan datang maupun syarat apa yang akan diminta kepadanya.
Sarah mulai ragu. Ia memang sedang tidak mempunyai pekerjaan tetap, mempunyai banyak kebutuhan keluarga, serta masih berada dalam kondisi ekonomi sulit. Namun pengalaman pesugihan sebelumnya membuat rasa takutnya lebih besar dibandingkan ambisi untuk menjadi kaya. Andi berusaha meyakinkannya dengan mengatakan seluruh biaya sudah dibayar. Menurut Sarah, sekitar Rp25 juta dikeluarkan untuk dua paket ritual, ditambah sekitar Rp10 juta lain yang disiapkan dalam amplop.
Sekitar pukul sebelas malam, Sarah, Andi, Citra, dan kuncen berjalan menuju bagian yang lebih tinggi di gunung. Di lokasi tersebut mereka dipisahkan. Sarah ditempatkan di sisi kanan dekat tempat yang menyerupai makam, sedangkan Andi dan Citra berada di sebelah kiri. Di masing-masing lokasi sudah terdapat sesajen berupa kelapa, kopi, bunga, buah-buahan, serta kepala kambing. Sesaat sebelum semedi dimulai, Sarah kembali ingin membatalkan niatnya, tetapi Andi mengingatkan bahwa biaya ritualnya sudah terlanjur dibayar.
Saat memejamkan mata, Sarah mulai mendengar suara cekikikan, geraman berat, dan angin yang semakin kencang. Dari lokasi Andi dan Citra, ia kemudian mendengar Citra berbicara keras bahwa dirinya tidak ingin kembali hidup miskin dan tidak ingin terus dikejar utang. Citra bahkan terdengar mengatakan dirinya rela melakukan apa saja. Sarah juga mendengar Andi beberapa kali menjawab dengan kata “baik” seolah sedang merespons sesuatu yang berada di hadapan mereka.
Dalam kondisi gelap tersebut Sarah mengaku melihat bayangan sosok sangat besar dan bertanduk berada di sekitar lokasi Andi dan Citra. Ia menduga sosok itulah yang sedang mendatangi pasangan tersebut. Sarah sendiri terus menunggu, tetapi tidak ada sosok yang datang kepadanya. Menjelang pukul tiga dini hari, kuncen menepuk tubuhnya sebagai tanda semedi telah selesai dan seluruh rombongan kembali turun.
Di rumah kuncen, Sarah diberi tahu bahwa ritualnya gagal karena tidak ada makhluk yang bersedia membuat perjanjian dengannya. Jika ingin mencoba lagi, ia disebut harus kembali hingga sebelas kali dengan membawa sesajen setiap kedatangan. Mengingat satu paket saja menurut perhitungannya bernilai sekitar Rp12,5 juta, Sarah menyadari biaya yang harus dikeluarkan dapat mencapai lebih dari seratus juta rupiah. Ia merasa kegagalan itu mungkin terjadi karena hatinya memang tidak benar-benar bulat.
Sementara itu Andi dan Citra disebut berhasil mendapatkan perjanjian baru. Berdasarkan cerita yang Sarah dengar dari mereka dan kuncen, keduanya mempunyai kewajiban agar Citra hamil setiap tahun, lalu kehamilan tersebut akan berakhir sebelum memasuki usia sekitar tiga bulan sebagai bagian dari kontrak yang mereka yakini. Sarah tidak mempunyai bukti bahwa keguguran yang dialami Citra benar-benar disebabkan ritual tersebut. Seluruh hubungan antara kehamilan, keguguran, dan pesugihan merupakan pengakuan serta penafsiran pihak-pihak dalam cerita.
Setelah pulang dari Gunung Kawi, Sarah melihat perubahan pada Citra. Ada saat ketika perempuan itu terlihat sangat tertekan dan masih berduka karena kehilangan anak, tetapi pada waktu lain ia tampak jauh lebih percaya diri dan angkuh. Sarah sendiri justru merasakan campuran antara kecewa karena gagal dan lega karena tidak terikat perjanjian baru. Baginya, kegagalan tersebut kemudian terasa seperti kesempatan untuk benar-benar berhenti dari dunia yang selama ini berkali-kali menyeret kehidupannya.
Andi kemudian memberikan Rp5 juta dari sisa uang hasil menjual mobil untuk membantu Sarah membuka usaha. Sarah sempat menolak karena takut uang tersebut membuat dirinya ikut terseret sebagai tumbal, tetapi Andi meyakinkan bahwa perjanjian yang mereka buat hanya berkaitan dengan janin dan ritual mereka pun baru dianggap berjalan setelah syarat berikutnya terpenuhi. Sarah akhirnya menggunakan uang tersebut bersama keluarganya untuk membuka usaha kecil berupa nasi kuning, nasi uduk, gorengan, kopi, dan makanan ala angkringan.
Usaha Sarah berkembang cukup baik dan sempat ramai selama hampir satu tahun. Andi dan Citra bahkan rutin memesan 100 hingga 200 porsi setiap Jumat untuk dibagikan dalam kegiatan Jumat berkah. Dalam periode yang sama, kondisi ekonomi pasangan tersebut menurut Sarah juga meningkat kembali. Mereka keluar dari kos, mulai membayar utang, membeli kendaraan lagi, dan menghidupkan kembali bisnis penyewaan mobil untuk vendor serta perusahaan event. Namun ketika usaha Sarah sedang ramai, lapaknya yang berdiri di trotoar terkena penertiban dan gerobaknya dibawa petugas sehingga ia kembali kehilangan sumber penghasilan.
Kejadian itu sempat mengguncang keyakinan Sarah karena ia merasa sudah berusaha meninggalkan jalan lama tetapi justru kembali mengalami kesulitan, sementara Andi dan Citra terlihat semakin sukses. Meski demikian, Sarah memilih tidak kembali mengejar pesugihan. Ketika beberapa tahun kemudian bertemu lagi dalam sebuah pekerjaan event, ia melihat Andi sudah mempunyai banyak kendaraan dan kehidupan mereka kembali makmur. Menurut Sarah, pasangan tersebut bahkan bersikap seperti tidak mengenalnya. Hingga wawancara berlangsung, Sarah masih mendengar kabar Citra beberapa kali hamil dan mengalami keguguran, sementara orang di sekitar mereka hanya menganggap kondisi kandungannya lemah tanpa mengetahui cerita yang pernah disampaikan pasangan tersebut. Dari pengalaman itu Sarah berpesan agar orang tidak meniru kesalahannya, karena baginya mempertahankan jalan yang benar memang dapat terasa lebih berat, tetapi kembali kepada pesugihan hanya akan membuat kehidupan semakin jauh dari ketenangan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
