Pada 2003, Mas Doni kembali bertemu sahabat masa kecilnya yang disamarkan dengan nama Ajat dalam sebuah acara kampung. Keduanya sudah berteman sejak kecil hingga lulus SMA, sebelum akhirnya berpisah karena memilih jalan hidup masing-masing. Doni merantau ke Jawa Timur, sedangkan Ajat mencoba peruntungan di Jakarta sebagai pedagang. Saat bertemu kembali, Doni langsung menyadari kondisi Ajat sudah jauh berbeda karena tubuhnya terlihat lebih kurus dan wajahnya menyimpan tekanan berat.
Ajat merupakan anak tunggal dari seorang ibu yang disamarkan dengan nama Inak. Ibunya hidup sederhana sebagai petani dan mengurus beberapa sawah serta tanah peninggalan keluarga. Setelah lulus sekolah, Ajat menjual sebagian tanah warisan untuk dijadikan modal merantau ke Jakarta. Dari modal tersebut ia memulai usaha dengan mendorong gerobak dan menjual pisang sedikit demi sedikit, mulai dari hitungan kilogram hingga akhirnya berkembang menjadi perdagangan dalam jumlah kuintal bahkan ton.
Kerja keras Ajat sempat membawanya menuju kesuksesan besar. Ia mengaku mampu membeli rumah di kawasan yang dianggap elit, membuka beberapa kios, mempekerjakan sejumlah orang, serta mempunyai berbagai kendaraan roda dua dan roda empat. Mobil seperti Daihatsu Rocky hingga beberapa BMW disebut pernah dimilikinya. Dari seorang pemuda kampung yang merintis usaha dari bawah, Ajat berubah menjadi juragan pisang dengan kehidupan yang serba berkecukupan.
Kesuksesan itu mulai goyah setelah Ajat menikah dengan seorang perempuan yang dikenalnya melalui relasi sesama pedagang. Menurut cerita Ajat kepada Doni, istrinya terbiasa dengan gaya hidup mewah, membeli barang bermerek, menikmati kehidupan malam, dan mengeluarkan biaya besar. Karena sangat mencintai istrinya, Ajat berusaha memenuhi berbagai keinginan tersebut sampai akhirnya berutang ke banyak pihak dengan jumlah yang menurut pengakuannya mencapai lebih dari Rp2 miliar. Modal usaha habis untuk menutup utang, rumah dan kendaraan dijual, kios-kios ikut terlepas, hingga pernikahannya akhirnya berakhir dengan perceraian.
Setelah kehilangan hampir seluruh kekayaannya, Ajat pulang ke kampung dalam kondisi terpuruk. Kepada Doni, ia mengaku tidak sanggup kembali hidup miskin dan sangat ingin mengulang masa kejayaannya, bahkan menjadi lebih kaya dari sebelumnya. Seorang teman sesama pedagang di Jakarta kemudian memberinya informasi mengenai cara mendapatkan kekayaan melalui pesugihan. Doni berkali-kali memperingatkan Ajat mengenai risiko jalan tersebut, tetapi sahabatnya terus memohon agar ditemani. Karena kedekatan mereka sejak kecil, Doni akhirnya menyerah dan ikut mengantar.
Dengan menggunakan sisa uang dari penjualan kendaraan, keduanya berangkat menuju sebuah daerah di pinggiran Kuningan, Jawa Barat. Lokasinya berada jauh di dalam kawasan hutan dan ketika itu bahkan belum mempunyai akses listrik yang memadai. Kendaraan tidak dapat masuk hingga lokasi sehingga mereka harus berjalan kaki sekitar 30 sampai 40 menit. Sejak memasuki kawasan tersebut, Doni mengaku merasakan napasnya berat, tubuh berkeringat, dan suasana hutan membuatnya sangat tidak nyaman.
Di tengah kawasan tersebut mereka menemukan rumah panggung kecil dari papan dengan ukiran di bagian depan. Penghuninya adalah lelaki tua berambut dan berjenggot putih panjang yang dipanggil Abah. Setelah mengetahui Ajat datang berdasarkan rekomendasi seorang pedagang bernama samaran Robert, Abah menanyakan tujuannya. Ajat tanpa ragu mengatakan ingin cepat kaya. Abah lalu menjelaskan bahwa keinginan tersebut membutuhkan sejumlah syarat seperti ayam hitam berbulu terbalik, menyan tertentu, perlengkapan yang disebut “apel jin”, dan berbagai sarana lain dengan biaya sekitar Rp5 juta hingga Rp7 juta.
Pada malam pertama, Ajat dan Doni tidak diperbolehkan mengikuti ritual. Abah pergi sendirian sekitar pukul sebelas malam menuju lokasi di belakang rumah untuk melakukan proses yang ia sebut seperti “mengetuk pintu”. Ketika menunggu, Doni mengaku mengalami mimpi atau kondisi antara tidur dan sadar. Ia melihat makhluk bertubuh manusia tetapi seluruh tubuhnya dipenuhi bulu dengan wajah menyerupai binatang buas. Abah baru kembali sekitar pukul dua dini hari dan mengatakan Ajat belum mendapat izin untuk “bertamu”, sehingga ritual harus diulang pada malam berikutnya.
Malam kedua, Doni dan Ajat diizinkan ikut menuju lokasi. Mereka berjalan menuju sebuah balong atau kolam besar yang berada di dekat bukit kecil dengan lubang menyerupai gua. Setelah membaca mantra, Abah meminta Ajat melepas pakaian hingga hanya mengenakan celana pendek lalu berendam di kolam sampai sekitar dada. Ajat diminta duduk di dekat sebuah batu, mengangkat tangan, dan terus membaca rapalan yang sudah diajarkan sementara Doni bersama Abah kembali meninggalkan tempat tersebut.
Karena mengkhawatirkan sahabatnya, Doni diam-diam kembali dan mengintip dari jarak sekitar sepuluh meter. Dengan bantuan cahaya bulan, ia mengaku melihat sosok berbulu yang sebelumnya muncul dalam mimpinya datang mendekati Ajat. Tidak lama kemudian muncul makhluk lain dengan bagian atas menyerupai lelaki tua berjenggot tetapi bagian bawah tubuhnya seperti ular besar. Setelah terdengar suara seperti kereta atau langkah kuda, muncul aroma sangat harum dan Doni mengaku melihat perempuan cantik berpakaian seperti putri kerajaan dengan selendang hijau, mahkota, dan hiasan bunga. Hal yang paling membuatnya takut adalah mata perempuan itu menurut penglihatannya tampak seluruhnya hitam.
Menjelang dini hari Ajat kembali ke rumah Abah dan menceritakan apa yang dialaminya. Menurut Ajat, sosok yang ia panggil Putri bertanya apa tujuan kedatangannya. Ketika Ajat mengatakan ingin kaya, Putri memberikan satu syarat utama: ia harus menyediakan “kerbau belang”. Ajat langsung menyanggupi meskipun tidak memahami secara jelas apa yang dimaksud dengan syarat tersebut. Setelah itu Abah memberikan sebuah buntalan kain hitam untuk dibawa pulang.
Sesampainya di rumah Ajat, Doni dibuat semakin terkejut. Di dalam kamar terdapat tiga wadah nasi besar dari anyaman bambu yang menurut kesaksiannya tiba-tiba dipenuhi uang pecahan Rp50 ribu. Beberapa lembar bahkan berceceran di sekitarnya dan mengeluarkan aroma seperti uang yang baru dicetak. Ajat mencoba memberikan sebagian uang tersebut sebagai ucapan terima kasih, tetapi Doni menolaknya karena sejak awal dirinya sudah merasa takut dengan ritual yang dijalani sahabatnya.
Dengan uang tersebut, Ajat kembali membangun usaha pisangnya. Dalam beberapa bulan bisnisnya berkembang dan kembali melayani penjualan dalam jumlah besar. Kios, rumah, kendaraan, dan berbagai barang mewah perlahan kembali dimiliki. Doni yang kembali merantau ke Jawa Timur hanya mengetahui perkembangan itu melalui telepon. Setahun kemudian Ajat bahkan menikah lagi dan menikmati kehidupan mewah seperti sebelumnya.
Namun kekayaan tidak membuat kehidupan pribadinya membaik. Menurut cerita Doni, Ajat menikah beberapa kali tetapi seluruh rumah tangganya kembali berakhir. Ia disebut memiliki dua istri dalam satu periode dan memperlakukan pasangan-pasangannya dengan buruk karena masih menyimpan sakit hati terhadap kegagalan pernikahan pertamanya. Setelah berpisah ia memang memberikan rumah atau modal kepada mantan istrinya, tetapi tidak satu pun dari pernikahan tersebut memberinya keturunan. Di sisi lain, gaya hidup bebas dan kebiasaan berfoya-foya kembali menghabiskan hartanya sedikit demi sedikit.
Memasuki tahun ketiga setelah ritual, Ajat mulai gelisah karena teringat kewajiban menyediakan kerbau belang. Ia meminta bantuan Doni mencari hewan tersebut. Keduanya menghubungi berbagai relasi hingga ke Sumatera dan Sulawesi, tetapi berkali-kali justru tertipu. Ada orang yang meminta uang muka lalu menghilang, nomor telepon tidak aktif, dan barang yang dijanjikan tidak pernah ada. Pencarian tersebut menghabiskan banyak uang hingga rumah kembali dijual dan kendaraan mewah Ajat satu per satu dilepas.
Tekanan semakin berat ketika Ajat mengaku selama tiga malam berturut-turut bermimpi didatangi sosok berbulu yang sama. Dalam mimpinya, tubuh Ajat terlihat kurus, berpakaian compang-camping, tangan dan kaki dirantai, lalu hendak dibawa oleh beberapa makhluk. Ketakutan tersebut membuatnya meminta Doni kembali mengantar menemui Abah. Meski trauma dengan pengalaman sebelumnya, Doni sekali lagi tidak tega meninggalkan sahabatnya dan akhirnya ikut kembali menuju lokasi ritual di Kuningan.
Setelah mendengar bahwa kerbau belang tidak berhasil ditemukan, Abah akhirnya mengungkapkan arti syarat yang selama tiga tahun tidak dipahami Ajat. Menurut penjelasan Abah, “kerbau belang” yang dimaksud bukanlah seekor hewan, melainkan ibu kandung Ajat sendiri. Mendengar hal tersebut, Ajat langsung menangis histeris. Ibunya merupakan satu-satunya keluarga dekat yang ia miliki dan ia sama sekali tidak menyangka perjanjian yang dahulu disetujuinya akan ditafsirkan sebagai permintaan mengorbankan sang ibu.
Ajat memohon agar ada jalan lain. Abah mengatakan dirinya akan mencoba meminta keringanan kepada sosok Putri. Malam itu Abah kembali melakukan ritual di lokasi yang sama sementara Ajat dan Doni menunggu di rumah. Ketika kembali sekitar pukul dua dini hari, Abah mengatakan permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi. Karena Ajat tidak mampu menyediakan syarat yang sebelumnya telah disetujui, menurut penafsiran Abah ia harus menanggung sendiri konsekuensi perjanjian tersebut.
Setelah pulang ke kampung, Ajat mengurung diri di kamar selama tiga hari. Ia terus menghubungi Doni melalui telepon dan SMS untuk menceritakan mimpi yang sama tentang tubuhnya dirantai dan hendak dibawa pergi. Di tengah kondisi tersebut, ibu Ajat tiba-tiba mengalami stroke sebagian hingga kesulitan berbicara dan berjalan. Ketika Doni datang bersama warga untuk memeriksa Ajat, pintu kamarnya terkunci dan teleponnya tidak lagi aktif.
Warga akhirnya mendobrak pintu kamar. Di dalam, Doni mengaku menemukan Ajat sudah tergeletak di lantai dalam keadaan meninggal dengan tubuh yang tampak seperti mengalami luka bakar dan kondisi mata yang sangat mengerikan baginya. Tidak ada penjelasan medis dalam kesaksian yang dapat memastikan penyebab kematian Ajat maupun menghubungkannya dengan ritual yang dilakukan tiga tahun sebelumnya. Warga kemudian membantu mengurus jenazah dan memakamkannya, sementara ibu Ajat yang mengalami stroke dibawa Doni ke rumahnya dan dirawat bersama istrinya hingga kemudian meninggal karena usia lanjut.
Kematian sahabatnya meninggalkan penyesalan panjang bagi Mas Doni. Ia merasa bersalah karena meskipun sudah memperingatkan Ajat, dirinya tetap beberapa kali membantu dan menemani perjalanan pesugihan tersebut. Untuk waktu yang lama, Doni rutin mendatangi makam Ajat, terutama pada Jumat Kliwon, sambil menyampaikan penyesalannya. Dari kisah tersebut ia berpesan agar orang tidak mencari kekayaan secara instan karena setiap jalan pintas dapat membawa risiko yang tidak dipahami sejak awal. Baginya, hidup sederhana dengan rezeki yang diperoleh melalui usaha jauh lebih baik daripada mengejar kemewahan dengan cara yang akhirnya justru menghilangkan ketenangan, keluarga, dan nyawa.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
