Pada 2005, Pak Rusdin sedang aktif bekerja di sebuah perusahaan dan sering mendapat tugas ke berbagai daerah. Ia sempat dikirim ke Papua, Kalimantan, hingga Bengkulu untuk urusan pekerjaan, termasuk melihat langsung lokasi tambang pasir besi. Kehidupannya saat itu sebenarnya cukup mapan dari sisi pekerjaan. Namun sebuah telepon mendadak ketika sedang berada di Bengkulu menjadi awal perubahan besar dalam kehidupan rumah tangganya.
Pak Rusdin diminta segera pulang ke Bogor tanpa diberi penjelasan rinci. Setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, ia sudah dijemput beberapa tetangga yang kebetulan merupakan anggota kepolisian. Sepanjang perjalanan Rusdin merasa gelisah karena semua orang hanya memintanya bersabar. Ketika sampai di rumah, barulah ia mengetahui istrinya baru saja digerebek warga dalam kondisi berduaan dengan seorang laki-laki yang selama ini tinggal di rumah mereka dan sudah dianggap seperti anak sendiri.
Malam itu tokoh masyarakat, pengurus lingkungan, penghulu, hingga pihak kepolisian berkumpul untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Rusdin merasa sangat terpukul karena perselingkuhan itu bukan sekadar rumor, melainkan kejadian yang menurutnya disaksikan langsung warga. Ia akhirnya memilih menjatuhkan talak dan mengakhiri pernikahan. Setelah semua orang pulang, Rusdin mengaku terus memikirkan bagaimana rumah tangganya bisa berakhir dengan cara seperti itu.
Sekitar dua hingga tiga minggu setelah perceraian, Rusdin bertemu seorang teman yang disamarkan dengan nama Bang Amin. Setelah mendengar cerita tentang pengkhianatan sang istri, Amin justru menyarankan Rusdin menikah dengan jin. Menurut cerita Amin, istri dari kalangan jin dianggap jauh lebih setia dan juga dapat membantu kehidupan ekonomi. Amin sendiri mengaku sudah menjalani praktik tersebut dan menunjukkan kehidupan yang menurut Rusdin terlihat sangat mewah meskipun pangkat serta pekerjaannya tidak terlalu tinggi.
Pada awalnya Rusdin tidak langsung percaya. Namun karena masih terluka akibat perceraian, ia mulai memikirkan tawaran tersebut. Bang Amin bahkan mengatakan iklan jasa nikah dengan jin dapat ditemukan di surat kabar. Saat sedang cuti dari pekerjaan, Rusdin membeli koran dan benar-benar menemukan sebuah iklan yang menawarkan ritual nikah dengan jin di Cianjur dengan mahar sekitar Rp4 juta. Nomor telepon yang tercantum kemudian ia simpan.
Setelah beberapa kali berkonsultasi lagi dengan Bang Amin, Rusdin akhirnya menghubungi orang yang memasang iklan tersebut. Seorang lelaki yang dipanggil Abah menjawab telepon dan meminta Rusdin datang ke Cianjur. Ketika tiba, Rusdin melihat banyak orang lain sedang menunggu sehingga ia harus mengantre hampir dua jam. Abah kemudian memberikan dua pilihan ritual, yakni tujuh Jumat atau 40 Jumat. Rusdin memilih tujuh Jumat karena merasa waktunya lebih singkat.
Saat ditanya wajah seperti apa yang diinginkan, Rusdin menyebut nama seorang artis perempuan yang menurutnya cantik. Abah mengatakan calon istri jin tersebut nantinya dapat menampilkan wajah yang menyerupai permintaan tersebut. Rusdin kemudian diminta menyiapkan kain hitam, berbagai minuman, alat rias perempuan, serta benda yang disebut “apel jin”. Seluruh proses berikutnya dilakukan di sebuah vila di kawasan Puncak yang jendelanya ditutup papan dan dipaku agar tidak terlihat dari luar.
Selepas berbuka puasa, salat Magrib, dan Tarawih karena saat itu bertepatan dengan bulan Ramadan, prosesi dimulai sekitar pukul sembilan malam. Rusdin menunggu di luar ruangan sampai Abah memberikan tanda. Ketika dipanggil masuk, ia duduk berhadapan dengan Abah, memegang apel jin sebagai mahar, lalu diminta memejamkan mata. Beberapa saat kemudian ia mendengar suara nyaring sebelum Abah menyuruhnya membuka mata.
Menurut kesaksian Rusdin, di hadapannya sudah muncul seorang perempuan yang wajah dan posturnya sangat mirip dengan sosok yang sebelumnya ia minta. Perempuan itu disebut bernama Siti Maryam. Ia mengenakan kain hitam dan jilbab, kemudian mengikuti prosesi akad yang dipimpin Abah. Rusdin mengucapkan penerimaan nikah dengan mahar satu botol apel jin. Seluruh pengalaman ini merupakan kesaksian pribadi Rusdin dan tidak dapat dibuktikan secara objektif.
Setelah akad selesai, Abah meninggalkan mereka berdua. Rusdin mengaku awalnya sangat takut, tetapi suara Siti Maryam terdengar lembut dan menenangkan. Mereka kemudian duduk saling berhadapan hingga lutut bersentuhan. Rusdin menyerahkan apel jin sebagai mahar, lalu menurut ceritanya Siti Maryam memeluk dan mencium dahinya. Pengalaman itu begitu membekas sehingga bertahun-tahun kemudian Rusdin masih mengatakan dirinya sulit melupakan sensasi yang dirasakan malam tersebut.
Dalam pertemuan itu Rusdin mengutarakan keinginannya menjadi kaya. Ia membawa contoh uang pecahan Rp100 ribu dan Rp50 ribu yang kemudian diberikan kepada Siti Maryam. Menurut Rusdin, sosok tersebut kembali memeluk dan menciumnya sebelum akhirnya pertemuan pertama berakhir. Ia kemudian pulang ke Bogor dengan keyakinan akan bertemu lagi pada malam Jumat berikutnya, sebagaimana arahan Abah.
Untuk ritual lanjutan, Rusdin menyewa kamar hotel yang tenang dan menyiapkan dua lembar kain hitam, minuman, perlengkapan perempuan, apel jin, serta benda lain sesuai petunjuk. Ia diminta menyebut nama Siti Maryam sebanyak 111 kali lalu tidur agar sosok tersebut datang. Namun hingga azan Subuh tidak ada kemunculan. Setelah diperiksa Abah, diketahui botol apel jin yang digunakan belum pecah sempurna sehingga ritual dianggap gagal.
Ritual kedua juga tidak menghasilkan pertemuan langsung. Pada suatu hari ketika pergi ke bank untuk membayar utang kartu kredit, Rusdin melihat seorang perempuan yang menurut perasaannya sangat mirip Siti Maryam. Ia tidak berani menyapa karena perhiasan yang dikenakan berbeda dari yang diingatnya saat akad. Atas arahan Abah, Rusdin kemudian menulis dua pertanyaan di kertas mengenai identitas perempuan tersebut dan uang yang dibawanya, lalu menyimpan surat itu di bawah sajadah setelah salat Magrib.
Ketika kertas kembali dibuka, Rusdin mengaku mendapati tulisan seperti cakar ayam yang masih dapat dibacanya. Isinya menyatakan bahwa perempuan di bank memang Siti Maryam dan uang yang disetorkan berjumlah sekitar Rp68 juta yang sebenarnya hendak diberikan kepadanya. Karena Rusdin tidak menyapa, uang tersebut dianggap belum menjadi rezekinya. Kisah mengenai surat dan jumlah uang tersebut sepenuhnya berasal dari pengalaman yang diceritakan Rusdin.
Ketika keuangannya semakin menipis, Rusdin kemudian meminta pinjaman sekitar Rp900 ribu kepada Abah. Namun alih-alih memberikan uang secara langsung, Abah meminta Rusdin naik ke lantai dua, meletakkan sebuah kotak dekat tembok dan menutupnya dengan kain merah. Rusdin diminta berniat menyebut jumlah uang yang dibutuhkan. Setelah beberapa saat dan kotak dibuka, menurut kesaksiannya terdapat uang tepat Rp900 ribu di dalamnya. Abah mengatakan uang itu berasal dari Siti Maryam.
Meski sudah mendapat uang, Rusdin tetap lebih berharap dapat bertemu langsung dengan istri jinnya. Ritual ketiga hingga keenam dilakukan, tetapi yang ia dengar hanya suara tanpa kemunculan fisik. Kekecewaan semakin besar ketika memasuki ritual ketujuh. Rusdin diminta menyiapkan beras merah, tetapi ia salah memahami dan justru membeli makanan burung yang dianggapnya sebagai beras merah. Kesalahan tersebut menurutnya memicu kejadian yang sangat menakutkan.
Pada malam ketujuh, Siti Maryam menurut kesaksian Rusdin akhirnya muncul, tetapi tidak lagi dengan wajah cantik seperti saat akad. Sosok itu terlihat menyeramkan dan langsung mencekik lehernya sambil marah karena diberikan makanan burung. Rusdin berteriak meminta tolong hingga tetangga berdatangan. Kepada tetangga ia hanya mengatakan baru mengalami mimpi buruk karena malu menceritakan ritual yang sebenarnya sedang dijalani.
Setelah kejadian tersebut, Rusdin memutuskan berhenti dan meminta Abah mengurus perceraian dengan Siti Maryam. Dalam proses itu, sosok tersebut tidak lagi terlihat secara fisik tetapi menurut Rusdin masih terdengar suara yang menerima perceraian. Setelahnya Abah memberikan sebuah dompet berwarna hitam dan emas berisi uang Rp100 ribu yang disebut sebagai titipan terakhir Siti Maryam. Rusdin diberi pesan agar uang tersebut boleh digunakan tetapi tidak dihabiskan seluruhnya, serta harus mengingat nomor serinya.
Rusdin mengaku setelah membawa dompet itu berbagai peluang penghasilan justru datang tanpa dicari. Salah satunya ketika sebuah perusahaan memberinya surat kuasa untuk membantu menjual beberapa alat berat. Tidak lama kemudian datang pembeli yang akhirnya menyepakati transaksi sekitar Rp800 juta. Dari kedua pihak Rusdin memperoleh komisi yang menurut ceritanya berjumlah total sekitar Rp100 juta. Ia juga mengatakan uang dari berbagai peluang tersebut sempat digunakan untuk membeli ponsel, sepeda motor, hingga mobil.
Pada 2009, seorang teman menyarankan Rusdin menjalani rukiah karena mengetahui riwayat nikah dengan jin tersebut. Rusdin kemudian mengikuti rukiah selama sekitar tujuh kali. Ustaz yang menanganinya mengatakan menurut penafsiran spiritualnya Siti Maryam masih mengikuti Rusdin tetapi tidak berniat merusaknya. Jimat dan dompet yang sebelumnya selalu dibawa akhirnya hilang dengan sendirinya sekitar dua tahun setelah ritual, dan Abah menafsirkan hal itu sebagai tanda kontrak mereka telah selesai.
Kini Pak Rusdin sudah kembali menjalani kehidupan biasa, menikah dengan manusia, mempunyai anak, dan tetap aktif bekerja sebagai konsultan proyek pemerintahan. Ia masih merasa sesekali seperti ada suara atau bayangan yang menahannya ketika emosinya mulai naik, tetapi tidak dapat memastikan apakah hal itu benar berkaitan dengan Siti Maryam. Dari pengalaman tersebut Rusdin justru menyarankan orang lain tidak meniru keputusannya. Menurutnya, luka karena dikhianati pasangan dan keinginan memperoleh kekayaan tidak seharusnya mendorong seseorang mencari jalan lewat pernikahan ghaib. Ia memilih percaya bahwa rezeki sebaiknya dicari melalui cara yang halal dan kehidupan dijalani apa adanya tanpa bersekutu dengan sesuatu yang tidak benar-benar dipahami.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
