Mas Karto mengenal cerita Pulung Gantung sejak masih duduk di bangku sekolah dasar pada awal 1990-an di Gunung Kidul. Saat itu kampungnya masih jauh dari keramaian, air bersih belum masuk seperti sekarang, dan anak-anak biasa mandi di telaga sebelum pulang menjelang senja. Dalam salah satu perjalanan pulang bersama teman-temannya, Karto melihat cahaya merah berekor melintas perlahan di langit. Bentuknya menyerupai bola api yang bagian belakangnya memanjang dan meliuk-liuk.
Ketika bertanya kepada simbahnya, Karto hanya diminta segera pulang dan tidak berkeliaran sampai malam. Baru setelah berada di rumah, sang simbah menjelaskan bahwa cahaya tersebut dalam kepercayaan masyarakat setempat disebut pulung. Pulung berwarna merah berekor dipercaya sebagai Pulung Gantung atau pulung pembawa petaka, sedangkan cahaya berwarna hijau dalam cerita orang-orang tua disebut Pulung Wahyu, Pulung Derajat, atau Pulung Pangkat yang dikaitkan dengan seseorang yang akan memperoleh kedudukan.
Sang simbah juga berpesan bahwa apabila melihat Pulung Gantung, anak-anak sebaiknya segera pulang dan tidak berusaha mendekatinya. Menurut kepercayaan yang diwariskan di kampung Karto, jika cahaya merah itu berhenti atau hinggap di suatu tempat, dalam beberapa waktu kemudian akan muncul kabar duka. Karto sendiri saat itu belum memahami mengapa cerita tersebut begitu ditakuti dan hanya menyimpannya sebagai bagian dari kisah para sesepuh.
Pengalaman yang membuat cerita itu terasa lebih nyata bagi Karto terjadi pada 2008. Warga kampung sebelah mengabarkan bahwa sebelumnya ada cahaya yang dianggap sebagai Pulung Gantung melintas, lalu tidak lama kemudian seorang warga ditemukan meninggal dunia dalam keadaan tidak wajar. Karto datang bertakziah dan menyaksikan proses pemeriksaan oleh petugas medis serta kepolisian. Menurut penuturannya, setelah tidak ditemukan tanda yang dianggap mencurigakan, jenazah diserahkan kembali kepada keluarga untuk dimakamkan.
Karto mengatakan proses pemulasaraan saat itu berbeda dari pemakaman yang biasa ia lihat. Berdasarkan tradisi setempat yang ia ceritakan, jenazah yang meninggal dengan cara tersebut tidak dimandikan dan dikafani seperti biasanya, melainkan segera dimasukkan ke kantong jenazah, ditempatkan di peti, lalu dibawa ke makam. Praktik tersebut merupakan cerita Karto mengenai kebiasaan di lingkungan tertentu dan tidak dapat dianggap sebagai aturan umum keagamaan atau prosedur resmi.
Selepas pemakaman, suasana kampung berubah mencekam. Menjelang malam, warga mengikuti kebiasaan lama dengan membunyikan kentongan, lesung, pecut sapi, bambu, kaleng, dan benda apa pun yang dapat menghasilkan suara. Menurut kepercayaan orang-orang tua, bunyi-bunyian itu dilakukan untuk mengusir sesuatu yang dianggap membawa petaka. Karto sendiri mengatakan ada kemungkinan tradisi tersebut juga berfungsi memecah suasana sunyi dan menenangkan warga yang sedang ketakutan.
Tradisi membunyikan kentongan dan berbagai benda itu berlangsung sampai sekitar tujuh hari, bertepatan dengan rangkaian tahlilan. Dalam periode tersebut beberapa warga masih berjaga di pos ronda untuk melihat apakah cahaya merah itu muncul lagi. Karto mengatakan mereka sempat melihat cahaya berekor melintas cukup tinggi, tetapi tidak mengetahui ke mana arahnya setelah terhalang perbukitan. Pada masa itu muncul pula berbagai cerita yang semakin menguatkan ketakutan warga terhadap Pulung Gantung.
Bertahun-tahun kemudian, pada 2024, kejadian serupa kembali menjadi pembicaraan di kampung sekitar tempat tinggal Karto. Seorang perempuan lanjut usia ditemukan meninggal dunia di dalam rumah. Karto datang dan, setelah mendapat izin dari sesepuh, ikut melihat lokasi sebelum petugas tiba. Ia menggambarkan suasana kamar sangat mencekam hingga akhirnya jendela dan pintu ditutup agar warga lain, terutama anak-anak, tidak melihat kondisi jenazah.
Setelah petugas medis dan kepolisian melakukan pemeriksaan, jenazah kembali diserahkan kepada keluarga. Karto kemudian membantu proses penurunan jenazah bersama keluarga dan petugas. Di titik inilah salah seorang sesepuh mengatakan bahwa di bawah lokasi kaki korban biasanya terdapat sesuatu yang disebut gelu, yakni gumpalan tanah yang dalam kepercayaan mereka dianggap berkaitan dengan Pulung Gantung.
Warga kemudian menggali tanah di bawah lokasi tersebut. Menurut kesaksian Karto, pada kedalaman sekitar setengah meter ditemukan tiga gumpalan tanah berwarna gelap dengan bentuk menyerupai telur besar. Sesepuh yang berada di sana menyebut benda itu sebagai gelu dan meminta agar ikut dibawa bersama jenazah. Tidak ada penjelasan ilmiah dalam cerita mengenai asal-usul gumpalan tersebut, sehingga maknanya sebagai bagian dari Pulung Gantung tetap berada dalam ranah kepercayaan lokal.
Setelah pemakaman, warga kembali melakukan tradisi bunyi-bunyian selama beberapa malam. Pada malam pertama Karto mendapat kabar bahwa cahaya merah terlihat melintas rendah lalu berhenti di sebuah pohon. Ketika warga mendekat, cahaya itu disebut sudah tidak terlihat. Malam berikutnya Karto sengaja datang bersama teman-temannya karena ingin mengetahui secara langsung apa yang sebenarnya mereka lihat.
Pada malam ketiga, Karto dan beberapa orang mengaku menyaksikan cahaya merah melintas cukup rendah dan kembali berhenti di pohon. Mereka memberanikan diri mendekat, tetapi setelah itu tidak ada apa-apa yang ditemukan. Rasa penasaran membuat Karto datang lagi pada malam berikutnya. Ia menunggu hingga larut malam bersama empat teman yang berani mendekati lokasi, sementara warga lain berjaga di pos ronda.
Sekitar tengah malam Karto sempat tertidur. Ia terbangun setelah temannya memanggil dan ketika membuka mata melihat cahaya sangat terang berada di atasnya lalu bergerak menuju pohon. Karto mengaku tubuhnya langsung gemetar dan ketakutannya begitu kuat hingga ia tidak mampu bersikap setenang yang dibayangkan sebelumnya. Teman-temannya kemudian menggoda Karto karena selama ini ia terlihat paling berani membicarakan Pulung Gantung.
Setelah kejadian itu, warga mengatakan cahaya tersebut masih terlihat berulang kali hingga sekitar sebelas malam berbeda. Waktu kemunculannya tidak tetap: terkadang menjelang Isya, tengah malam, bahkan mendekati pagi. Kampung menjadi sangat sepi karena banyak warga memilih masuk rumah lebih awal. Situasi itu akhirnya mendorong tokoh masyarakat untuk mencari sesepuh atau dalang yang dipercaya mampu melakukan ruwatan guna membersihkan sukerto atau energi negatif dari lingkungan mereka.
Karto bersama tokoh masyarakat kemudian mendatangi seorang dalang ruwatan di Playen, Gunung Kidul. Setelah mendengar cerita mengenai kematian dan kemunculan cahaya yang terus berulang, dalang tersebut menyebut keadaan itu dalam istilah pewayangan sebagai sukerto. Warga sepakat mengadakan ruwatan dengan pagelaran wayang kulit pada siang hari dan menyiapkan berbagai perlengkapan tradisi yang diminta sang dalang.
Menurut Karto, perlengkapan ruwatan sangat banyak, mulai dari tebu hitam, padi, beberapa jenis kain batik, pasangan unggas, tempat tidur sederhana, aneka tumpeng, bunga tujuh rupa, air dari tujuh sumber atau wadah, bubur berbagai warna, nasi uduk, ingkung, hingga perlengkapan kecantikan perempuan. Biaya keseluruhannya disebut dapat mencapai puluhan juta rupiah, belum termasuk kebutuhan pagelaran dan rombongan dalang. Seluruh detail tersebut merupakan bagian dari tradisi ruwatan yang diceritakan Karto, bukan kewajiban agama.
Ruwatan akhirnya dilaksanakan pada akhir 2024 dengan lakon Murwakala. Dalam cerita wayang itu, Batara Kala digambarkan sebagai sosok yang ingin memangsa orang-orang yang dianggap memiliki sukerto, lalu dikalahkan melalui rangkaian mantra dan simbol yang dibawakan dalang. Pada bagian akhir, Batara Kala diperintahkan pergi bersama berbagai unsur negatif yang disimbolkan dalam pertunjukan, sementara warga berharap kampung kembali aman dan tenteram.
Setelah pagelaran selesai, sebagian sesajen ditempatkan di beberapa titik seperti pekarangan dan persimpangan, sementara bagian lainnya menurut tradisi dibawa pergi dari kampung. Dalang juga mendatangi lokasi kejadian sebelumnya dan membersihkannya menggunakan sapu lidi. Pesan terakhirnya, menurut Karto, bukan hanya berharap Pulung Gantung tidak kembali, tetapi juga meminta warga tetap berpegang pada agama dan kepercayaan masing-masing serta mendekatkan diri kepada Tuhan.
Karto mengatakan sejak ruwatan tersebut kampung yang sebelumnya mengalami teror tidak lagi mengalami kejadian serupa hingga waktu wawancara. Namun ia juga menyebut bahwa sampai September 2026 masih terdapat banyak kasus kematian serupa di wilayah lain di Gunung Kidul, dengan korban mayoritas berusia sekitar 50 tahun ke atas. Karto tidak menyimpulkan seluruh kasus tersebut disebabkan Pulung Gantung karena sebagian kejadian juga dapat memiliki penjelasan berbeda, termasuk persoalan kriminal maupun kondisi psikologis.
Hingga kini Mas Karto mengaku belum mempunyai jawaban pasti mengenai apa sebenarnya Pulung Gantung. Ia telah bertanya kepada sesepuh, orang yang dianggap memiliki kemampuan spiritual, hingga pemuka agama, tetapi mendapatkan penjelasan yang berbeda-beda. Ada yang menganggapnya sebagai banaspati atau kiriman santet, ada yang melihatnya sebagai mitos lokal, sementara dari sisi psikologis kasus kematian dapat berkaitan dengan tekanan jiwa dan depresi. Bagi Karto, pengalaman melihat cahaya merah berekor dan tradisi warga melawannya tetap menjadi bagian kuat dari ingatan masyarakat Gunung Kidul, tetapi penyebab setiap tragedi tidak seharusnya langsung dipastikan sebagai sesuatu yang ghaib tanpa bukti.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
