Mas Eno nggak pernah menyangka, niatnya cuma silaturahmi ke guru lamanya justru membuka pintu ke cerita paling kelam yang pernah ia saksikan sendiri. Awalnya sederhana: setelah Lebaran, ia kepikiran untuk menghubungi Abah Makmun—guru spiritual yang sudah hampir sepuluh tahun tak ia temui. Telepon tersambung, suara Abah masih sama hangatnya, dan Mas Eno pun berangkat naik kereta malam menuju Jawa Timur.
Sampai di rumah Abah dini hari, suasananya seperti reuni keluarga. Mas Eno disambut baik, diajak makan, diberi kamar tamu. Ia pikir, kunjungan ini hanya akan berisi obrolan panjang soal kabar dan hidup, lalu pulang dengan hati lega.
Tapi pagi berikutnya, ada tamu datang. Mas Eno mengenali sosok itu—Mas Anto, teman lamanya. Wajah Mas Anto kusut, matanya sembab. Begitu bertemu Mas Eno, ia seperti orang yang menemukan tempat untuk jatuh: curhatnya pecah di ruang tamu Abah.
Mas Anto dulunya punya usaha rental dan travel yang besar, cabangnya banyak. Tapi semuanya runtuh setelah ia ditinggal istrinya—bukan sekadar cerai, melainkan seperti “ditendang” habis-habisan. Mas Anto merasa harga dirinya diinjak. Harta dibawa pergi, ia tersisa utang dan rasa dendam yang tumbuh tiap hari.
Dalam kondisi itu, Mas Anto mengaku sering mendapat mimpi berulang: ia harus mencari “merah delima”. Katanya, kejayaan yang pernah ia pegang akan kembali kalau ia menemukan batu itu. Bagi Mas Eno, itu terdengar seperti jebakan, apalagi ia tahu—di luar sana, banyak batu delima palsu dan banyak orang yang memanfaatkan orang putus asa.
Abah Makmun mendengarkan tanpa menghakimi. Lalu Abah bilang pelan, seolah menimbang sesuatu yang berat: kalau memang itu “wangsit”, Mas Anto harus bawa merah delima yang benar. Tapi Abah juga memberi garis tegas: setiap jalan pintas selalu punya konsekuensi. Dan keputusan ada di Mas Anto sendiri.
Mas Anto memilih lanjut. Ia memelas pada Mas Eno untuk menemani. Mas Eno menolak berkali-kali, tapi akhirnya luluh karena kasihan—“aku cuma nemenin, nggak ikut apa-apa,” begitu niat Mas Eno waktu itu. Ia izin pada istrinya, lalu bertahan beberapa hari di rumah Abah.
Mereka mulai bergerak mencari informasi. Sampai akhirnya ada kabar dari seorang bernama Pak Toni di Malang: “barang”-nya ada. Mas Anto berangkat bersama Mas Eno, menyewa mobil untuk perjalanan. Di hotel, terjadi “tes” yang aneh—bukan tes barang, tapi tes Mas Anto sendiri. Mas Eno melihat Mas Anto seperti diuji keseriusannya, seolah harus membuktikan tekadnya dulu sebelum diterima.
Akhirnya Mas Anto membayar mahar tiga juta rupiah untuk membawa pulang batu yang diklaim asli. Mereka kembali ke Abah. Dites ulang. Abah mengakui itu memang “ada isi”-nya, tapi belum tentu mau bekerja. Mas Anto kembali limbung—ia merasa sudah mengorbankan uang terakhir, tapi pintu belum juga benar-benar terbuka.
Di titik itulah Abah memberi opsi lain—lebih gelap dan lebih berisiko: bukan mencari merah delima dari orang, tapi “meminjam” dari alam gaib. Medianya harus seorang janda, orang yang disebut Abah sebagai “RT” atau rondo. Mas Anto ternyata punya kenalan: Bu Noni.
Bu Noni datang—perempuan yang juga punya ambisi. Ia bukan orang polos; ia paham ritual-ritual semacam itu dan tidak terlihat gentar. Bagi Mas Eno, di situlah suasana berubah: ini bukan lagi sekadar cerita, ini sudah menyeberang ke sesuatu yang berbahaya.
Malam itu mereka menyiapkan media sesuai arahan Abah: degan hijau, telur, kembang setaman, dupa, dan perlengkapan lain. Mereka berangkat ke pantai di wilayah Lumajang. Pantainya tidak tampak seperti tempat keramat, tapi justru itu yang membuat Mas Eno semakin tidak nyaman—tempat biasa, namun niat mereka tidak biasa.
Ritual dimulai menjelang tengah malam. Mas Eno di belakang, hanya menyaksikan. Bu Noni memegang telur, Abah memimpin bacaan, Mas Anto mengikuti. Tiba-tiba suasana berubah: kabut turun, hawa seperti jatuh, dan Mas Eno mendengar suara rintihan yang membuat dada sesak. Bu Noni dan Mas Anto tampak gelagapan, seolah melihat sesuatu yang Mas Eno tidak bisa lihat.
Puncaknya, telur itu diminta dipecahkan. Di dalamnya—menurut kesaksian Mas Eno—muncul merah delima yang “nyala”, seperti menyimpan kilap aneh yang tidak terasa normal. Abah langsung melarang keras: jangan difoto, jangan pamer, jangan memperlakukan ini seperti barang tontonan. Ini bukan hadiah, ini “utang” yang baru saja dimulai.
Mereka pulang. Dan di rumah Abah, ritual dilanjutkan malam itu juga. Mas Anto dan Bu Noni duduk di depan dua kardus yang dilakban rapat. Abah memberi instruksi agar keduanya diam dan siap mental. Mas Eno menyaksikan kardus itu dibuka—dan di dalamnya uang tunai pecahan dua ratus ribuan, bertumpuk rapi.
Ada dua kardus. Satu untuk Mas Anto, satu untuk Bu Noni. Hitungan perkiraannya membuat Mas Eno merinding: total sekitar lima miliar rupiah—sekitar dua setengah miliar per orang. Mas Eno bilang, uangnya bahkan ada cap tertentu yang tidak boleh ditunjukkan. Saat itulah ia paham kenapa judul kisah ini menyebut: “ada foto duitnya”, karena uangnya benar-benar terlihat nyata—bukan sekadar pengakuan.
Namun Abah tidak membiarkan mereka larut. Abah menyebut ini baru “DP”—pembuktian bahwa pintu memang dibuka. Kalau ingin “sempurna”, masih ada syarat lain. Mas Anto diminta mencari sepasang ayam walik hitam—bukan ayam cemani, tapi walik yang bulunya megar—dan harus satu jodoh.
Mencari ayam itu saja sudah terasa seperti ujian. Mereka keliling pasar, depot ayam, tanya sana-sini, sampai akhirnya harus pesan. Harganya pun tidak masuk akal buat ukuran ayam biasa. Tapi Mas Anto sudah terlanjur mabuk target—ia bayar juga.
Malam berikutnya mereka kembali ke pantai untuk satu tujuan: menukar ayam dan mengambil air sebagai penguat perjanjian. Di percobaan pertama, Bu Noni panik. Ia merasa melihat laut seperti mau tsunami, seperti ada sesuatu yang hendak menerkamnya. Ia lari sampai terkencing-kencing. Mas Eno yang menyaksikan dari belakang tidak melihat tsunami apa pun—ombak biasa saja—tapi justru itu yang menakutkan: yang “melihat” bukan semua orang, melainkan orang yang terlibat.
Di saat mereka mau pulang, mobil mendadak susah distarter. Berkali-kali gagal. Abah kemudian duduk di kemudi, seperti semedi sebentar, lalu mobil menyala. Mas Eno ingat kaca mobil terasa gelap karena kabut pantai, seolah mereka keluar dari wilayah yang menahan.
Percobaan kedua baru berhasil. Ayam “dilepaskan”, air berhasil diambil. Dan di rumah Abah, Abah menyampaikan inti perjanjian yang kemudian menghantui semuanya: dalam lima tahun ke depan, mereka “ikut” yang memberi. Sebagai gantinya, apa pun bisa diberikan.
Untuk mengikat uang itu agar “menempel” ke tangan dan hidup mereka, ada proses tambahan: minyak tertentu (yang disebut minyak bukhor), mandi dengan air perjanjian sebelum magrib, lalu ritual malamnya menggunakan kain putih seperti kain kafan. Uang harus terkena asap, harus kena tangan, seolah mereka sedang “menandatangani” sesuatu dengan tubuh sendiri—bukan dengan pena.
Setelah semuanya selesai, Abah menyuruh mereka menyiapkan kamar khusus di rumah masing-masing. Uang itu harus punya tempat. Mas Eno ikut mengantar—pertama ke rumah Bu Noni, lalu ke rumah Mas Anto. Kamar-kamar itu seperti “ruang simpan”, tapi bagi Mas Eno rasanya seperti “ruang tunggu” yang kelak menagih.
Beberapa hari pertama, Mas Anto terdengar bahagia lewat telepon. Ia mulai membangun usaha lagi, membeli ini itu, memulihkan gengsinya. Bu Noni pun memakai uangnya untuk membangun kos-kosan. Seolah hidup baru benar-benar dimulai.
Tapi seminggu kemudian, telepon Mas Anto berubah jadi tangis. Anak Mas Anto meninggal. Bukan Mas Anto yang jadi korban pertama—padahal ia yang menandatangani perjanjian. Mas Eno hanya bisa diam, karena ia sendiri tidak paham kenapa “tagihan” melompat ke anak.
Tak lama, kabar lain datang: anak Bu Noni juga meninggal, tertabrak mobil. Dua tumbal jatuh dalam waktu berdekatan. Dan yang paling membuat Mas Eno muak sekaligus takut—setelah kematian itu, Mas Anto bilang uangnya justru bertambah, rezekinya makin deras, seolah kematian anak-anak itu membuka “kran” lebih besar.
Mas Anto bahkan merasa dendamnya tercapai. Ia yang dulu jatuh jadi “gembel”, kembali tampil perlente. Ia menyamai bahkan melampaui kemewahan mantan istrinya. Dan bagi Mas Eno, kemenangan semacam itu terasa seperti menang di atas kuburan sendiri.
Akhir Desember 2024, Mas Eno mendapat kabar Mas Anto dan Bu Noni kembali melakukan ritual bersama lagi. Mas Eno memilih menjauh. Ia takut kalau terlalu dekat, ia ikut terseret—bukan karena ingin, tapi karena “lingkar” semacam ini sering menular lewat kedekatan.
Ketika Mas Eno bertanya pada Abah apakah Mas Anto masih berhubungan, Abah mengiyakan. Abah menyebut sisa kontrak tinggal kurang dari empat tahun lagi. Mas Eno cuma bisa membayangkan: kalau dua tumbal sudah jatuh di awal, lalu apa yang terjadi saat kontraknya mendekati jatuh tempo?
Di ujung ceritanya, Mas Eno menyampaikan pesan yang ia ucapkan dengan nada getir: pesugihan memang bisa membuat orang terlihat kaya mendadak, tapi yang dibeli bukan sekadar rumah atau mobil—yang dibeli adalah waktu hidup, ketenangan, dan darah keluarga sendiri. Dan ketika perjanjian itu berjalan, kadang yang paling cepat ditarik bukan pelakunya… tapi orang yang paling ia sayangi.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.