Tahun 2018 adalah tahun ketika Teh Tania merasa hidupnya seperti dipaksa berlari tanpa napas. Ayahnya sudah meninggal, utang keluarga menumpuk, adik-adiknya masih kecil dan butuh biaya sekolah. Ia bekerja sebagai SPG event, keliling dari pagi sampai pagi lagi, mengambil tiga job dalam sehari—tapi setiap kali uangnya dikirim ke rumah, yang ia terima bukan pelukan, melainkan makian.
Kalimat ibunya menekan dari hari ke hari: uang segitu tidak cukup, kebutuhan rumah terus berjalan, yang nagih utang datang silih berganti. Teh Tania mulai merasa tidak dihargai sebagai anak yang berusaha. Ia sendirian menanggung beban yang seharusnya dipikul bersama, sampai rasa capek berubah jadi putus asa.
Suatu kesempatan membawanya ke Batam untuk event rokok: ada mes, akomodasi, dan bayaran lebih baik. Tapi bahkan ketika ia sudah merantau jauh, tekanan itu tidak berkurang. Ia mengirim hampir semua penghasilannya, sementara dirinya hanya menyisakan uang receh untuk bertahan hidup. Setiap telepon dari rumah seperti alarm bahaya—bukan kabar, melainkan tuntutan.
Di tengah kelelahan itu, Teh Tania bertemu teman lamanya, Tiwi. Dari obrolan santai, Teh Tania mendengar satu tawaran yang awalnya ia tolak mentah-mentah: kerja di dunia LC karaoke. Tiwi bilang, di sana uang deras, kebutuhan keluarga bisa ditutup, mimpi-mimpi yang tidak pernah tersentuh bisa jadi kenyataan.
Teh Tania menolak karena takut dan karena ia masih ingin berjalan “benar”. Tapi tekanan di rumah memukulnya sampai titik paling rapuh. Dalam satu telepon yang panas dan menyakitkan, ibunya melontarkan kalimat yang membuat kepala Teh Tania kosong—kalimat yang mendorongnya melakukan keputusan yang bahkan ia sendiri tidak percaya bisa ia ambil.
Ia akhirnya ikut Tiwi ke sebuah karaoke. Malam pertama, semuanya terasa asing: lampu, musik, ruangan-ruangan tertutup, perempuan-perempuan yang tampil cantik dengan persaingan yang tidak terlihat tapi terasa tajam. Teh Tania mencoba bertahan, berharap setidaknya ia bisa dapat uang lebih.
Nyatanya, satu bulan berlalu dan hasilnya tidak seperti yang dibayangkan. Karyawan lain bisa membawa pulang belasan juta, sementara Teh Tania mentok di angka kecil. Ia mulai frustrasi. Ia sudah menyeberang ke dunia yang tidak ia kenal, tapi tetap gagal memenuhi tuntutan rumah.
Di situlah Rara—rekan di tempat kerja—mendekat dan membisikkan jalan lain. Mereka terbang ke Jawa Timur, menuju sebuah rumah tua yang letaknya plosok, seperti sengaja disembunyikan dari keramaian. Tidak ada sopir, tidak ada orang lain yang ikut, seolah rahasia harus dijaga rapat-rapat.
Di rumah itu, seorang nenek tua menyambut dengan tatapan yang membuat Teh Tania merinding. Tanpa banyak basa-basi, nenek itu “membaca” Teh Tania dan menyebut satu nama yang terdengar aneh di telinga: susuk jalatunda—katanya bekas milik seorang sinden. Susuk itu bukan sekadar untuk cantik, tapi untuk “membuat orang menoleh” dan membuat rezeki seperti dibukakan pintunya.
Teh Tania sempat menolak karena biaya besar. Tapi Rara menalangi dengan alasan nanti bisa diganti dari potongan gaji. Dan di malam Jumat Kliwon itu, Teh Tania menjalani rangkaian ritual: dimandikan air bunga, dipakaikan kain tertentu, lalu dibawa ke kamar yang penuh aroma menyan. Ada nyanyian sinden yang terus dilantunkan, mengalun seperti bukan dari mulut manusia.
Di tengah kondisi tubuhnya menggigil dan kesemutan sampai sulit bergerak, Teh Tania melihat sosok sinden: cantik, anggun, tapi tatapannya tajam—seolah menilai, seolah memastikan perjanjian benar-benar terjadi. Lalu susuk dipasang di beberapa titik: di wajah, dan satu lagi di area yang paling sensitif. Teh Tania kaget—bukan karena sakit, tapi karena rasa takut yang seperti ditelan hidup-hidup.
Selesai pemasangan, nenek itu memberi pantangan yang harus ditaati: ada hal-hal tertentu yang tidak boleh dilanggar, termasuk beberapa makanan dan larangan melewati tempat tertentu. Teh Tania mengangguk, meski di dalam hati ia tidak yakin sanggup menjaga semuanya, terutama saat hidupnya masih dikejar-kejar kebutuhan.
Dua hari setelah kembali ke Batam, perubahan datang seperti dibalikkan saklar. Teh Tania baru turun dari mobil antar-jemput saja, tatapan orang sudah berbeda. Ia dipanggil tanpa showing, langsung diminta ke room. Saweran yang dulu nyaris tidak pernah ia dapat, sekarang jatuh seperti hujan. Dalam waktu singkat, ia punya tamu tetap bernama Joy—royal, gampang memberi, dan seperti selalu ingin berada dekat Teh Tania.
Uang yang dulu hanya lewat di tangannya sekarang betul-betul tinggal di dompetnya. Utang ibunya ditutup, kebutuhan adik-adik diselesaikan, dan hidup keluarga perlahan terlihat “aman”. Tapi justru ketika semuanya tampak membaik, iri mulai bergerak dari tempat yang paling dekat: lingkungan kerjanya sendiri.
Joy pernah terlihat bersama LC lain, dan dari situlah muncul bisik-bisik bahwa Teh Tania “memakai sesuatu”. Joy mulai mencari tahu ke orang-orang spiritual. Sementara Teh Tania tidak sadar bahwa pantangan bukan hanya ujian—ia bisa jadi senjata, kalau ada orang yang sengaja ingin menjatuhkan.
Suatu siang, Joy datang membawa bolu. Teh Tania memakannya tanpa curiga—sekadar menghargai. Setelah itu tubuhnya mulai aneh: meriang tanpa panas, lemas, sulit bergerak, sampai akhirnya ia tidak bisa berjalan dan bicaranya seperti terkunci. Ke dokter, hasilnya “tidak apa-apa”. Tapi di malam-malam berikutnya, Teh Tania didatangi lagi oleh sosok sinden yang dulu ia lihat saat ritual—kali ini matanya merah dan tatapannya marah, seperti menagih.
Rara datang menjenguk dan menemukan sumbernya: bolu itu berisi pisang kecil—jenis yang termasuk pantangan. Bukan sekadar “kecelakaan”, bagi Teh Tania rasanya seperti jebakan yang rapi. Dan sejak larangan itu dilanggar, tubuhnya seolah dihukum oleh sesuatu yang tidak terlihat.
Karena kondisi makin parah, Teh Tania dibawa kembali ke Jawa Timur untuk melepas susuk. Tapi nenek yang memasang susuk itu sudah meninggal. Yang tersisa hanya asistennya. Teh Tania hampir putus harapan—kalau yang “memasang” sudah tiada, bagaimana cara “membuka” ikatan itu?
Asisten itu akhirnya membantu. Proses pencabutan dilakukan dengan cara khusus, disertai bacaan dan ritual kecil. Teh Tania mencium lagi wangi yang sama seperti malam pemasangan, dan ia sempat merasa sosok sinden itu masih mengintai. Namun setelah susuk dicabut satu per satu, tubuhnya perlahan membaik: bicaranya kembali, kakinya mulai kuat, dan teror perlahan mereda.
Teh Tania pulang ke Batam dengan satu ketakutan yang baru: hidupnya akan kembali “normal” dan ia harus mulai dari nol. Benar saja, setelah lepas dari susuk, ia kesulitan mencari kerja. Lamaran berkali-kali ditolak. Tabungan dari masa “laris” terus menipis, sementara tekanan keluarga masih datang sesekali.
Tapi setidaknya satu hal berubah: Teh Tania memilih berhenti mengejar jalan pintas. Ia akhirnya mendapat kerja kantoran sebagai admin, pelan-pelan membangun ulang hidup yang sempat dipelintir oleh kebutuhan dan rasa terdesak. Ia tidak mau lagi menukar ketenangan dengan uang deras yang datang bersama pantangan, teror, dan rasa takut setiap malam.
Dari kisah ini, Teh Tania menarik kesimpulan pahit: susuk memang bisa membuat orang “dipilih”, tapi yang dipilih bukan cuma tubuh—melainkan hidupmu. Sekali masuk, mudah untuk tergoda mengulang. Dan ketika pantangan dilanggar—entah sengaja atau dijebak—yang runtuh bukan hanya rezeki, tapi kesehatan, kewarasan, dan rasa aman yang paling dasar.
Pada akhirnya, Teh Tania tidak sedang bercerita soal “kaya mendadak”. Ia sedang mengingatkan: di dunia yang keras, beban keluarga bisa mendorong orang baik melakukan hal yang tak pernah ia bayangkan. Dan ketika itu terjadi, musuh paling berbahaya sering kali bukan makhluk tak kasat mata—melainkan manusia di sekitar kita yang tersenyum, lalu diam-diam menyiapkan jebakan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.