Di pinggiran sebuah kota kecil tahun 2000-an, hidup seorang pemuda bernama Pak Sugeng. Usianya baru dua puluh empat tahun, bekerja sebagai kuli mebel dengan gaji pas-pasan. Hidupnya sederhana, namun hari-harinya tak pernah tenang. Bukan karena pekerjaan, tetapi karena perjalanan pulang kerja yang selalu membuatnya gemetar. Setiap sore, setiap ia melewati gang sempit menuju rumah, sekelompok preman kampung menghadangnya, menagih uang, memaki, bahkan memukulinya tanpa ampun.
Pak Sugeng sudah terbiasa menerima ludah, tinju, bahkan batako yang dilemparkan ke kepalanya. Kadang ia pulang dengan tubuh penuh memar. Kadang hidungnya berdarah. Namun ia tidak pernah melawan. Perasaan takut dan trauma membuatnya pasrah. Ia tak punya teman pulang, jalur lain terlalu jauh, dan keluarganya hanya mengira ia “capek bekerja”. Segala luka disimpan sendiri, segala sakit ditelan diam-diam.
Semakin lama, penderitaan itu membuatnya berpikir untuk berhenti bekerja. Namun berhenti berarti tak ada uang untuk makan. Ia menimbang antara menahan rasa sakit atau menahan lapar dan akhirnya memutuskan tetap bekerja meski setiap hari ia dihadang dan dipalak. Hingga suatu malam, ketika ia duduk sendirian di kamar, tubuh sakit, hati panas, ia menangis tanpa suara. Dalam keputusasaan, muncul dorongan aneh: ia ingin kuat, ingin berani, bahkan ingin sakti.
Dalam benaknya muncul nama seorang teman lama, Yudi, orang yang dikenal punya kemampuan membaca pikiran, mengobati penyakit, dan peka terhadap dunia gaib. Pak Sugeng mengumpulkan keberanian untuk menemui Yudi di hari liburnya. Perjalanan satu jam terasa sangat panjang karena ia membawa harapan terakhirnya. Sesampainya di rumah Yudi, ia disambut hangat, dan setelah bercakap ringan, Yudi bertanya apa maksud kedatangannya.
Pak Sugeng menceritakan semuanya: preman-preman yang memalaknya, rasa takut yang terus menghantui, dan keinginannya untuk punya “pegangan”. Yudi mendengarkan tanpa mengganggu, lalu mengajaknya ke kamar ritualnya. Di ruangan itu, aroma menyan begitu kuat, dan berbagai benda mistis tertata rapi di lantai. Yudi menenangkan Pak Sugeng, lalu mulai membacakan wirid Asmaul Husna sambil menjelaskan makna tiap sifat Allah — hidup, berdiri sendiri, cahaya, kekuatan, dan keselamatan.
Setelah itu, Yudi mengeluarkan sebuah keris kecil, sebesar korek gas, lalu mengikat gagangnya dengan benang. Ketika ia membakar menyan, asap tipis mulai berputar. Perlahan keris itu berputar sendiri ke kiri dan kanan, makin lama makin cepat, seakan diangkat oleh kekuatan tak terlihat. Pak Sugeng hanya duduk terpaku, tubuh berat seperti ditindih sesuatu. Keris kemudian ditempelkan ke dahinya dan rapalan kejawen dibacakan. Pak Sugeng menggigil, merasakan setrum kecil merambat ke tubuhnya, lalu tenang.
Yudi lalu memberikan keris itu kepada Pak Sugeng dan mengajarinya mantra khusus untuk menghadapi para preman. Malam itu juga, Pak Sugeng melakukan ritual. Setelah mengambil wudu, ia duduk bersila, membaca wirid pelan-pelan, lalu mengambil keris kecil itu dan merapal mantra. Tiba-tiba, hawa dingin merayap. Asap tipis muncul di depan wajahnya. Asap itu berubah menjadi sosok wanita cantik dengan pakaian kerajaan, mahkota kuning kecokelatan, dan mata yang bercahaya.
Wanita itu memperkenalkan diri sebagai Nyimas Ratu Ayu, ratu siluman ular. Ia berkata bahwa Pak Sugeng telah memanggilnya melalui mantra Yudi, dan mulai saat itu ia adalah pendamping Pak Sugeng. Namun ketika Pak Sugeng menatap lebih teliti, wujud wanita itu berubah menyeramkan mata membesar, sorot berubah merah darah, tubuh membesar seakan memenuhi kamar. Pak Sugeng ingin lari, namun tubuhnya terkunci. Ia hanya bisa menunduk dalam ketakutan.
Ratu siluman itu lalu menunjukkan lorong seperti cermin berwarna-warni, seolah memperlihatkan dunia lain. Ketika cahaya dari lorong itu menghantam wajah Pak Sugeng, ia langsung pingsan. Ia terbangun saat azan subuh, tubuhnya terbaring di atas sajadah, dan keris di sampingnya terlepas dari gagangnya. Pak Sugeng tak tahu apa yang terjadi semalaman, tapi ia merasa berbeda tenang, mantap, dan berani.
Sore harinya, ia melewati gang itu lagi. Preman yang biasa memalaknya muncul dari balik tiang listrik dan meminta uang. Namun kali ini Pak Sugeng berani membentak. Teman-teman preman itu berdiri, siap menyerang. Ketika pukulan pertama diarahkan ke wajah Pak Sugeng, ia terhuyung, tetapi entah dari mana, tenaga besar muncul dari tubuhnya. Ia memukul balik dan preman itu terpental ke belakang. Preman-preman lain mencoba menyerang bersama-sama, menghujani Pak Sugeng dengan pukulan, namun pukulan mereka seperti terbentur tembok gaib.
Pada serangan berikutnya, empat preman sekaligus terpental ke tanah. Salah satu dari mereka menjerit ketakutan ketika melihat sosok ular besar berdiri di belakang Pak Sugeng. Mereka langsung kabur, ketakutan seperti melihat kematian. Pak Sugeng berdiri di situ dengan napas berat, baru menyadari bahwa ilmu yang ia dapat benar-benar bekerja. Setelah hari itu, tidak ada satu pun preman yang berani menyentuhnya lagi.
Beberapa bulan berlalu, Pak Sugeng merasa hidupnya berubah. Ia mampu menghadapi siapa saja, tidak lagi merasa takut, dan bahkan pernah membuat seorang preman terminal terpental jauh saat hendak merampas uangnya. Namun seiring waktu, kekuatan itu membawa perubahan buruk pada dirinya. Ia menjadi pemarah, mudah emosi, dan merasa ada hawa panas yang membuatnya ingin selalu bertarung. Sensitivitas spiritualnya meningkat; ia bisa merasakan kehadiran makhluk gaib di berbagai tempat dan sering melihat sosok-sosok yang tidak seharusnya terlihat.
Setelah hampir lima tahun, Pak Sugeng merasa hilang kendali atas hidupnya. Ia takut ilmunya membawa dosa, takut hubungannya dengan makhluk gaib semakin dalam. Akhirnya, ia memutuskan mengembalikan ilmu itu. Yudi membantu memutuskan ikatan dengan Nyimas Ratu Ayu. Pak Sugeng menjalani tirakat makan gula merah selama tiga hari, dan setelah itu, semua penampakan dan kekuatan aneh hilang dari tubuhnya. Ia kembali menjadi manusia biasa. Tidak kebal, tidak sakti, namun jauh lebih tenang.
Kini Pak Sugeng hidup sederhana. Ia bekerja apa saja yang penting halal, dan menghindari segala bentuk ilmu kedigdayaan. Menurutnya, hidup tanpa kekuatan gaib jauh lebih damai. Karena memiliki ilmu seperti itu berarti membuka pintu ke dunia yang tidak pernah benar-benar bisa kita kendalikan. Dunia tempat makhluk lain ikut campur dalam hidup, dan keberanian berubah menjadi kesombongan.
Dalam penutup kisahnya, Pak Sugeng berkata bahwa kekuatan yang ia cari dulu hanya menutupi rasa takut, bukan menghilangkannya. Keberanian sejati justru datang setelah ia meninggalkan semua ilmu kanuragan dan kembali mendekatkan diri pada Tuhan. Ia berharap siapapun yang mendengar kisahnya belajar dari pengalamannya: bahwa jalan kekerasan dan kesaktian tidak pernah memberikan ketenangan, hanya membawa manusia semakin dekat pada kegelapan yang menyesatkan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.