Di Bali, profesi merias jenazah bukan pekerjaan biasa. Ia adalah tugas sakral yang hanya diberikan kepada orang-orang tertentu yang dianggap memiliki keturunan, mental kuat, dan hati yang bersih. Di sinilah perjalanan ghaib seorang perempuan bernama Mbak Diana dimulai, jauh sebelum ia terlibat kasus pesugihan yang pernah viral. Sebuah pengalaman pada tahun 2015 mengubah hidupnya selamanya, saat ia masih remaja, belum genap berusia tujuh belas tahun.
Liburan sekolah membawanya kembali ke desa ayahnya di Bali, tempat budaya Hindu dan ritual adat sangat kuat. Ia tinggal bersama Mbok Galuh, bibinya yang berprofesi sebagai perias jenazah. Menjadi perias bukan sekadar keahlian makeup; ia adalah panggilan jiwa, tugas suci yang diwariskan dari generasi ke generasi. Suatu hari, Mbok Galuh mengajaknya ikut merias jenazah seorang perempuan tua dari kasta tinggi yang dipanggil “Niang”, di daerah Klungkung.
Jenazah itu telah meninggal lima hari sebelumnya karena menunggu hari baik pengabenan. Tubuhnya kaku, wangi formalin bercampur dengan aroma dupa memenuhi kamar. Namun yang lebih mencolok adalah ruang pribadi Niang. Kamar itu penuh dengan benda-benda ritual, sesajen, dan barang ghaib yang tak umum untuk orang biasa. Di sanalah Mbak Diana mulai memahami bahwa Niang bukanlah perempuan tua sembarangan; ia adalah seseorang yang memiliki ilmu tingkat tinggi.
Saat merias rambut Niang yang panjang tergerai, Mbak Diana mulai merasa perubahan suasana. Udara di kamar menjadi dingin dan berat, seperti ada seseorang yang mengawasi dari belakang. Ketika tangannya menyentuh kulit tangan jenazah, Mbak Diana merinding keras. Dalam detik itu, ia melihat sosok laki-laki berdiri di belakang, menatapnya tanpa suara. Sosok itu adalah suami almarhum Niang bukan dengan jasad, melainkan dalam wujud halus.
Mbak Diana terkejut, namun yang muncul berikutnya lebih mengejutkan: ia bisa mendengar suara batin sosok tersebut. Tanpa membuka mulut, laki-laki itu memberinya pesan. Ia mengatakan bahwa Niang menyimpan sebuah buku mantra di lemari, buku yang ditulisnya sendiri dalam aksara kuno campuran Jawa dan Sansekerta. Buku itu tidak boleh ditemukan anak-anak Niang, karena ilmu di dalamnya berbahaya bila diwariskan sembarangan.
Dengan tubuh gemetar, Mbak Diana meminta Mbok Galuh mencari buku tersebut, dan benar saja buku itu ditemukan di balik tumpukan pakaian Niang. Saat buku itu berada di tangannya, Mbak Diana merasa seolah memegang sesuatu yang hidup. Halus, tetapi panas. Berisi kekuatan, namun juga ancaman. Ia belum sepenuhnya memahami apa buku itu, tetapi suaminya Niang memintanya menyimpannya sampai saat ritual pengabenan selesai.
Pengabenan berjalan khidmat, namun malamnya Mbak Diana melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya: ia membuka buku tersebut dan membaca mantra-mantranya secara diam-diam. Ia melafalkannya perlahan, meski ayahnya sudah memperingatkan bahwa mantra itu adalah pemanggil makhluk ghaib, bukan bacaan biasa. Saat ia tidur, mimpi buruk menyerangnya.
Dalam mimpinya, Niang datang dengan wujud seram, marah besar, menuduhnya melanggar pesan. Rambut Niang terurai panjang, kulitnya pucat, matanya menyala merah. “Kenapa kau baca? Kenapa kau ambil?” teriak sosok itu. Mbak Diana terbangun dengan tubuh berkeringat. Namun mimpi itu hanyalah permulaan dari tiga malam penuh teror yang menjeratnya.
Di malam berikutnya, Mbak Diana kembali bermimpi, namun kali ini suami Niang mendekat dan memberi tahu rahasia terbesar: Niang tidak meninggal karena sakit. Ia dibunuh secara ghaib oleh saingannya, seorang perempuan tua dari desa lain yang juga mempraktikkan ilmu tinggi. Lelaki itu meminta Mbak Diana membantunya membalas dendam dengan mengambil sebuah keris kecil yang merupakan “jantung kekuatan” si dukun lawan.
Didorong rasa penasaran dan keyakinan bahwa ini memang tugas spiritualnya, Mbak Diana berpura-pura datang berkonsultasi ke rumah si dukun lawan. Rumah itu penuh benda mistis dan bau dupa yang menusuk. Dengan bantuan bisikan halus yang hanya bisa ia dengar, Mbak Diana menemukan peti kecil berisi keris tersebut dan diam-diam mencurinya.
Malam itu, keluarganya mengadakan ritual khusus di merajan keluarga. Sebuah upacara “lepas sukma” dilakukan agar Mbak Diana bisa masuk ke dunia ghaib tempat pertarungan terjadi. Ketika matanya membuka, raga Mbak Diana tetap di merajan, namun jiwanya berpindah ke dimensi lain yang menyerupai rumah si dukun lawan. Makhluk-makhluk menyeramkan menyerupai barong hitam, kabut hidup, dan bayangan bersayap mengelilinginya. Namun mereka tak bisa menyentuhnya.
Dengan keris ghaib itu, Mbak Diana menaklukkan para makhluk pengawal si dukun. Setelah keris itu ia tanam kembali ke tanah di halaman ghaib rumah tersebut, kekuatan si dukun runtuh. Keesokan harinya, perempuan dukun itu jatuh sakit seketika, dan praktik spiritualnya berhenti total. Keluarga Niang menganggap hal itu sebagai keadilan yang tertunda.
Setelah semuanya selesai, Mbak Diana diminta melarung buku mantra itu. Namun keinginan remaja yang penuh rasa ingin tahu membuatnya menunda. Ia membaca lagi mantranya dan itu mengundang makhluk-makhluk di dalam buku untuk datang. Mahluk-mahluk berbentuk binatang berbulu, makhluk mirip barong, hingga figur bayangan, semuanya muncul dan mendesak agar ia memakai mereka sebagai “alat bantu” membalas dendam atau menolong orang.
Mbak Diana akhirnya melarung buku tersebut, namun mantranya terlanjur melekat di ingatannya. Sejak saat itu, setiap kali ia merias jenazah, mantranya membuatnya bisa berkomunikasi dengan arwah yang belum tenang. Ia bisa tahu penyebab kematian seseorang, pesan apa yang ingin mereka tinggalkan, bahkan siapa yang mungkin menjadi penyebab wafatnya.
Kemampuan itu pernah ia gunakan untuk mengungkap penyebab kelumpuhan ayahnya sendiri, yang ternyata adalah ulah bawahannya yang iri. Kemampuan itu juga beberapa kali membantu pihak kepolisian mengklarifikasi kasus kematian yang janggal. Namun semua itu ia lakukan diam-diam, tanpa mengambil bayaran, agar tidak membuka pintu gelap yang dulu hampir menyeretnya jatuh.
Kini, setelah ia memeluk Islam, Mbak Diana memilih menahan diri. Ia tetap merias jenazah, tetap peka terhadap dunia halus, namun menolak permintaan balas dendam. Kisahnya menjadi pengingat bahwa rasa penasaran terhadap dunia ghaib bisa mengubah hidup seseorang secara permanen. Apa yang tampak seperti buku tua tanpa makna ternyata dapat menjadi jembatan antara manusia dan dunia yang seharusnya tidak pernah ia masuki.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.