Bu Rima adalah guru SD di Jawa Barat. Bertahun-tahun ia hidup sederhana, ngajar dari 2003 sampai 2014 tanpa masalah yang benar-benar mengguncang. Ia juga terbiasa ikut kegiatan tawasulan bareng beberapa teman dekat, sampai akhirnya tahun 2015 datang seperti badai yang merobek semua ketenangan.
Awalnya justru dari orang-orang yang sering datang ke rumahnya. Ada empat orang—semua nama samaran—yang hampir tiap hari mampir, ngobrol ramai, membawa cerita “peluang” yang katanya bisa mengubah nasib. Mereka membicarakan investasi dengan iming-iming keuntungan besar: 50% dalam waktu singkat, bahkan belum sampai sebulan.
Bu Rima menolak karena merasa tidak punya uang. Tapi tekanan hidup membuat pikiran mudah digoyang. Teman-temannya meyakinkan, “Cari pinjaman dulu, nanti juga kebayar pas untungnya cair.” Di situlah Bu Rima mulai masuk ke lorong gelap—bukan karena ia tidak tahu risiko, tapi karena ia merasa sedang tidak punya pilihan.
Karena SK sudah tergadai, solusi yang ditawarkan adalah rentenir. Bu Rima akhirnya menjaminkan sertifikat rumah demi pinjaman 50 juta. Bunganya 10% per bulan, dan kalau belum bisa bayar pokok, minimal bayar jasa dulu. Bu Rima memaksa percaya, karena ia ingin menyelamatkan rumah—dan karena ia punya tiga anak yang jadi alasan untuk bertahan.
Sebulan ia menunggu, tapi uang “keuntungan” tak kunjung datang. Dua bulan, kabarnya makin kabur. Orang yang jadi penghubung justru menghilang. Nomor tidak aktif, alamat tak jelas. Bu Rima baru sadar: ia tertipu investasi bodong, sementara rentenir sudah mulai rajin datang menagih.
Dalam kondisi terdesak, Pak Edi (samaran) datang membawa “solusi” yang terdengar seperti dongeng: pinjam uang dari bank ghaib. Katanya bukan pesugihan, cuma pinjaman, aman, dan bisa dikembalikan. Bu Rima yang sudah di ujung napas, akhirnya menelan kata “aman” itu seperti menelan air pahit—tetap diminum, karena tidak ada lagi yang bisa ia pegang.
Modal dikumpulkan seadanya. Bu Rima pulang kampung, menjual kambing, dapat 500 ribu. Sisanya patungan dengan teman-temannya. Mereka berangkat ke Subang, mencari rumah kuncen yang dipanggil “Abah”.
Sampai sana, mereka diterima asisten dulu. Abah baru keluar setelah isya. Bu Rima ditanya kesiapan untuk menjalani “syarat” dan “ritual”, dan ia mengangguk—bukan karena berani, tapi karena kalah oleh rasa takut kehilangan rumah.
Syarat-syarat disiapkan dan dibelikan: kelapa hijau, ayam bekakak, kembang, pisang, minuman warna-warni, jajanan pasar, tumpeng. Setelah itu, Bu Rima diminta mandi air kembang. Yang membuatnya makin ngilu, ia dipesan: jangan mengucap apa pun yang menyebut Asma Allah, dan jangan membaca bacaan lain selain yang diberikan Abah.
Malamnya Bu Rima diantar ke sebuah kamar sederhana di tengah hutan, cukup jauh dari perkampungan. Ada sekat kain putih, suasananya lembap, dan dekat situ ada makam. Setelah pintu ditutup dari luar, Bu Rima sendirian—hanya tasbih hitam dan bacaan yang terus diulang sampai mulutnya kering.
Malam pertama, gangguan terasa seperti ujian kecil: suara buah jatuh di atap seng berkali-kali, lalu suara ayam, lalu tawa-tawa yang membuat dada Bu Rima sesak. Ia menahan takut sambil terus mengulang bacaan, karena ia diingatkan: jangan menyebut Asma Allah apa pun yang terjadi.
Malam kedua lebih liar. Ada suara seperti buntut besar menghantam tembok, desisan seperti ular yang sangat besar, lalu lolongan anjing yang membuat bulu kuduk berdiri. Setelah itu, bunyi kuku menggaruk tembok—seperti macan atau harimau sedang “nyakar-nyakar” dari luar. Di titik itu, Bu Rima pingsan karena pikirannya cuma satu: “Kalau saya mati, anak saya gimana?”
Pagi harinya ia dibangunkan dan ditanya apakah sanggup lanjut. Bu Rima tetap memaksa. Ia menahan ketakutan karena percaya, “Kalau berhasil, semua utang lunas.” Teman-temannya memberi semangat, menyalakan harapan yang sebenarnya sudah mulai rapuh.
Malam ketiga, ia melihat sesuatu yang membuatnya dingin: pocong, lalu kepala ular berwarna emas, lalu bayangan hitam tinggi besar bermata melotot merah—seperti mengawasi dari atas. Bu Rima tidak berani “mengambil” apa pun. Ia hanya menutup mata dan berusaha bertahan sampai pagi.
Hasilnya nihil. Ia pulang dengan tubuh lemas dan hati kosong. Namun teman-temannya belum berhenti. Mereka menawarkan jalur lain: ada “uang bibit” di Jawa Tengah, dan ada tempat di Cilacap yang katanya lebih mudah—hanya pakai dupa.
Bu Rima kembali berangkat. Di tempat berikutnya, pola yang sama terulang: kamar kecil di area sunyi, larangan menyebut Asma Allah, dan rasa takut yang dipelihara dalam kesendirian. Malam pertama ia didatangi sosok tinggi besar bertaring. Malam kedua, desisan ular dan hentakan seperti ada sesuatu membentur tembok. Malam ketiga, suara ringkikan kuda dan langkahnya seperti mengitari kamar tanpa henti, seperti mengukur nyali Bu Rima sampai habis.
Tiga hari tiga malam lagi, tetap tak ada hasil. Bu Rima makin putus asa, tapi rombongan itu justru membawanya ke titik lain—sebuah pondok—katanya ada “bukti” kalau uang itu memang ada.
Di sana Bu Rima bertemu seorang perempuan dari Brebes yang nasibnya mirip: terlilit utang, tak punya suami, datang menggantungkan harapan pada hal yang sama. Mereka menunggu lama, sampai seseorang keluar membawa tas pakaian.
Tas itu dibuka. Di dalamnya uang gepokan—terlihat seperti uang bank, jumlahnya bisa miliaran hanya dari satu tas. Bu Rima membeku. Ini bukan lagi cerita, uangnya terlihat nyata.
Tapi kalimat berikutnya membuat darah Bu Rima turun ke kaki: “Siapa yang mau bawa pulang, silakan… tapi jangan kaget kalau di rumah ayam jagonya hilang.” Ketika Bu Rima bertanya, ia diberi makna yang membuatnya gemetar—ayam jago itu maksudnya anak laki-laki.
Bu Rima langsung mundur. Ia bahkan tidak berani menyentuh uang itu. Baginya, rumah boleh hancur, utang boleh memalukan, tapi anak bukan untuk ditukar.
Sebagai pengganti, Bu Rima diberi “uang bibit”: sebuah amplop dan sehelai daun yang harus disimpan tiga hari, lalu setelah dibuka uangnya diminta dibelanjakan maksimal 20 ribu di warung kecil, bukan supermarket. Katanya nanti uang itu “balik lagi” ke dompet.
Tiga hari lewat, Bu Rima membuka amplop: ada uang seratus ribu. Tapi bukannya senang, ia justru takut. Ia merasa mekanisme “uang balik lagi” itu berarti ia harus menipu pedagang kecil—seolah rezekinya harus lahir dari orang lain yang dirugikan.
Bu Rima memilih tidak memakainya. Seminggu kemudian uang itu hilang entah ke mana. Setelah itu musibah datang: ia jatuh dari motor sampai tidak bisa mengajar hampir sebulan, sementara rentenir tetap menagih dengan nada kasar dan menekan.
Pada akhirnya Bu Rima mengambil keputusan paling pahit tapi paling nyata: menjual kebun warisan untuk menutup utang. Ia melunasi semuanya, mengembalikan hidupnya ke jalur normal, dan perlahan mulai menata ulang iman serta pikirannya yang sempat terseret.
Dari pengalaman itu, Bu Rima menyimpulkan satu hal: investasi yang menjanjikan untung tak masuk akal adalah pintu awal petaka, dan jalan pintas uang gaib—kalau pun “ada wujudnya”—selalu menyimpan bayaran yang mengerikan. Ia menutup kisahnya dengan pesan sederhana: jangan tergiur, jangan cari jalan hitam, karena yang disiksa bukan cuma dompet—tapi jiwa, keluarga, dan ketenangan hidup sendiri.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.