Pada tahun 1998, di sebuah kampung sederhana di Cirebon, hidup seorang pemuda bernama Juri. Ia bekerja sebagai tukang becak, mengayuh setiap hari dari pagi hingga larut malam demi membantu keluarganya makan. Ia adalah anak pertama dari empat bersaudara, dan orang tuanya hanya berdagang sayur keliling. Hidup mereka keras, penghasilan seadanya, bahkan sering kali tidak cukup untuk menabung. Dalam setiap kesempatan, Juri selalu mengeluh pada temannya, Mas Evin, tentang nasibnya yang seolah tak pernah berubah.
Mas Evin sendiri bekerja sebagai pengantar rol film bioskop. Setiap ia libur, ia sering mampir ke pangkalan becak dan bercakap-cakap dengan Juri. Percakapan mereka tidak pernah jauh dari kesulitan hidup tentang pekerjaan yang sulit didapatkan, tentang beban menjadi anak pertama, dan keinginan Juri untuk membantu keluarga. Namun suatu hari, sikap Juri berubah drastis. Nada suaranya tidak lagi putus asa, melainkan sudah ditelan tekad gelap: ia ingin kaya cepat, apa pun caranya.
Beberapa hari kemudian, Juri mendatangi rumah Mas Evin membawa tas kecil, meminta Mas Evin mengantar dirinya ke tempat yang ia sebut sebagai “persegi” istilah untuk pesugihan. Mas Evin menolak, menasihati, bahkan bicara dengan nada tinggi. Tetapi Juri keras kepala. Ia sudah menjual becaknya untuk menutup biaya persyaratan ritual. Dalam hatinya hanya ada satu keinginan keluar dari kemiskinan. Karena kasihan, Mas Evin akhirnya setuju untuk mengantar, dengan syarat ia tidak dilibatkan dalam ritual.
Perjalanan mereka menuju rumah juru kunci pesugihan penuh tanda-tanda yang membuat tubuh Mas Evin merinding. Suasana desa yang awalnya biasa tiba-tiba berubah gelap dan anyep. Pohon-pohon besar menaungi jalan kecil yang mereka lewati. Setiap langkah seperti ditonton oleh sesuatu yang tak terlihat. Namun Juri tampak tenang, seolah sudah mati rasa oleh keinginannya menjadi kaya.
Di rumah juru kunci, seorang lelaki tua berusia sekitar enam puluh lima tahun menatap Juri lama, seolah menilai isi hatinya. Ia sempat berkata bahwa Juri masih muda dan seharusnya mencari cara lain untuk hidup. Namun setelah mendengar tekad Juri yang tak tergoyahkan, lelaki tua itu akhirnya menyetujui ritual. Ia meminta syarat berupa menyan, baki bambu, ayam cemani, dan bunga tujuh rupa. Malam itu juga Juri dipersiapkan untuk tirakat tiga hari.
Mas Evin hanya menjadi “pengantar” tidak ikut ritual. Namun atmosfir tempat itu tetap mengganggunya. Bangunan besar berbentuk joglo di tengah hutan adalah lokasi ritualnya. Setiap malam, Mas Evin mendengar suara langkah kecil, tawa anak-anak, dan makhluk berbulu bergelantungan di pepohonan. Kadang ada sosok tinggi besar dengan mata merah berdiri di atap bangunan, seperti penjaga alam gaib yang mengawasi setiap gerakan mereka.
Pada malam ketiga, jumlah makhluk yang muncul semakin banyak. Pintu bangunan terbuka lebar, dan Mas Evin melihat sosok-sosok pendek berbulu menyerupai monyet hidup bercampur dengan pocong kecil berlari-lari masuk ke ruang tengah. Aroma melati bercampur bau menyan memenuhi udara. Suara perempuan menangis, tawa melengking, dan suara “wuk-wuk” bergema dari berbagai arah. Kakek juru kunci sudah memperingatkan Mas Evin agar “jangan kaget,” dan malam itu Mas Evin memahami apa yang dimaksud.
Setelah tiga hari ritual, Juri keluar dari bangunan itu dengan wajah yang berbeda. Mata cekungnya terlihat seperti tidak lagi menjadi miliknya sendiri. Ia tak banyak bicara, hanya mengajak Mas Evin pulang dengan suara lirih. Di perjalanan, Juri mengaku bahwa makhluk yang ia lihat selama ritual bukan hanya makhluk biasa, melainkan sosok-sosok berbulu menyerupai monyet hitam yang meminta tumbal manusia sebagai imbalan kekayaan.
Semenjak pulang dari ritual, hidup Juri berubah drastis. Ia mendapat uang dari orang misterius yang datang ke rumah. Uang itu nyata dan banyak. Keluarganya diajak pindah ke rumah besar, dibelikan pakaian baru, bahkan dalam waktu singkat Juri memiliki mobil Starlet. Ia kemudian membuka toko sembako, dan dalam beberapa bulan memiliki toko kedua serta rumah tambahan. Tetangga heran bagaimana tukang becak bisa berubah begitu cepat.
Namun keberuntungan itu tidak murni. Uang itu datang setelah Juri menaruh foto saudara jauh milik ayahnya sebagai “wadal”, yakni tumbal pengganti. Esoknya, orang yang ada di foto itu meninggal mendadak. Dan setiap kali Juri membutuhkan uang lebih, ia masuk ke ruang khusus di rumahnya, menaruh foto, membakar menyan, lalu menutup pintu. Keesokan harinya, selalu ada kabar duka dari keluarga jauh dan selalu ada uang berserakan di lantai ruangan itu.
Empat tahun kejayaan itu berjalan. Namun perjanjian pesugihan tidak pernah diam. Saat Juri terlambat memberikan tumbal karena jatuh pingsan dan koma setelah perkelahian, makhluk pesugihan “monyet” itu mengamuk. Juri kehilangan ingatannya, bisnisnya hancur, karyawannya membawa kabur uang, dan ia harus menjual rumah serta mobil hanya untuk biaya pengobatan. Akhirnya, karena kondisinya tidak stabil dan sering tertawa sendiri, ia dibawa ke rumah sakit jiwa.
Istrinya yang tak kuat menanggung beban hidup akhirnya pergi bersama anak mereka, meninggalkan Juri sendirian dengan nasibnya. Rumahnya dijual habis, tokonya tutup, dan semua kekayaannya lenyap seperti mimpi buruk yang berakhir tragis. Juri kini menghabiskan hidupnya di rumah sakit jiwa, tidak mengenali siapa pun, bahkan dirinya sendiri. Hidupnya berakhir bukan sebagai orang kaya, melainkan sebagai korban dari keputusan terburuk yang pernah ia buat.
Mas Evin yang menjadi saksi perjalanan gelap itu selalu mengingatkan orang-orang bahwa jalan pintas menuju kekayaan selalu menuntut harga yang tidak sanggup dibayar manusia. Kesuksesan yang terlihat mudah dari luar sering kali dibangun dari tumbal, darah, dan kesepakatan yang mencabut kebahagiaan secara perlahan. Menurutnya, Juri tidak hanya kehilangan harta, tetapi juga kehilangan diri sendiri.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa kemiskinan tidak boleh mengantarkan seseorang kepada pintu gelap yang menawarkan rezeki instan. Karena setiap pesugihan, apa pun bentuknya monyet, babi, pocong, atau Nyai selalu berujung pada penyesalan. Tidak ada satu pun yang menang di hadapan makhluk gaib. Mereka hanya memberi sementara, lalu mengambil semuanya dengan cara paling kejam.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.