Bu Imah lahir dari keluarga sederhana, tumbuh dalam hidup yang dari kecil sampai besar rasanya tidak pernah benar-benar lapang. Ia sempat percaya, pernikahan akan jadi pintu bahagia—hidup lebih enak, kebutuhan tercukupi, dan ada sandaran. Tapi yang ia terima justru sebaliknya: penderitaan yang seperti tidak ada habisnya.
Suaminya tidak bekerja dan memaksa Bu Imah banting tulang. Bukan hanya menuntut uang rokok, tapi juga memaki dengan kata-kata kasar dan kekerasan fisik. Gelas dan piring dilempar saat marah, tubuh Bu Imah dipukul saat ia dianggap “kurang cepat” memenuhi kebutuhan rumah. Ironisnya, ketika Bu Imah mengadu, orang-orang terdekat justru menyuruhnya diam.
Lalu anak-anak lahir satu per satu. Anak pertama saja Bu Imah harus berutang untuk membayar paraji, jumlah kecil pun terasa besar karena tak ada yang menanggung. Anak kedua, anak ketiga, utang makin menumpuk—bukan berkurang. Untuk makan, ia sempat hidup dari nasi sisa yang dijemur lalu dimasak lagi, dengan lauk seadanya. Dalam kondisi terjepit, ia sampai meminjam ke rentenir untuk menutup kebutuhan harian.
Saat anak keempat lahir, Bu Imah sudah di ujung. Ia kabur ke Bandung dengan modal nyaris tidak ada, minta tolong adiknya demi biaya kelahiran. Tapi ketika pulang, bukan simpati yang ia terima—malah pukulan dan cacian, seolah perjuangannya adalah aib. Di titik itu, ia merasa benar-benar sendirian.
Dua minggu kemudian, Bu Imah memilih lari lebih jauh: ke Jakarta. Ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Depok. Di sana ia bertemu seorang pria (ia menyebutnya “Pendil”), tukang kebun asal Cirebon. Bu Imah nekat menikah siri—bukan karena ingin, tapi karena merasa terancam oleh suami pertamanya yang semakin brutal. Namun hidupnya tetap tidak mudah: keluarga pihak pria menolak keras, merendahkan statusnya, bahkan menyebut anak-anaknya sebagai beban.
Di tengah kekacauan itu, Bu Imah mendapat kesempatan lain: diajak seseorang untuk proses keberangkatan kerja ke Arab lewat sponsor seorang “Pak Haji”. Bu Imah berharap, kalau bisa berangkat, utangnya bisa dibayar dan anak-anaknya bisa hidup lebih layak. Ia dibawa ke penampungan, menunggu hasil medis dengan harapan besar.
Hasilnya menghantam keras: ia dinyatakan hamil. Keberangkatan batal. Bu Imah panik—takut pulang karena utang dan takut diburu masa lalu. Ia memohon agar tidak dipulangkan, dan Pak Haji akhirnya menampungnya di rumah. Bu Imah membantu pekerjaan rumah sekadarnya, asal bisa makan dan punya tempat tidur.
Tiga hari kemudian, Pak Haji memanggil Bu Imah dan menawarkan “jalan pintas”: ada informasi soal ritual yang disebut bisa menghasilkan Rp100 juta dengan cara yang terlarang—menyerahkan janin sebagai syarat. Bu Imah mengaku gelap mata. Ia tak melihat itu sebagai dosa, melainkan “pintu keluar” dari utang, hinaan, dan hidup yang terasa buntu. Ia bilang iya. Ia siap menanggung risiko apa pun.
Besoknya, sebuah tim datang—rombongan orang yang katanya sudah beberapa kali “berhasil”. Mereka berangkat dengan tiga mobil, membawa perlengkapan sesaji. Bu Imah dibawa menyeberang dengan perahu ke titik tertentu, diminta patuh total, tidak boleh banyak bicara, tidak boleh melawan, bahkan ada larangan melafalkan kalimat-kalimat tertentu. Bu Imah hanya menurut.
Di tengah perjalanan ritual pertama itu, laut berubah seperti mendidih. Ada bayangan besar bergerak mengitari perahu, menabrak dari sisi yang tak terlihat. Kuncen yang memimpin mendadak panik dan menyuruh balik berkali-kali. Mereka selamat, tapi ritual gagal. Setelah subuh, baru terbongkar alasan yang disebut kuncen: janin Bu Imah dianggap punya “silsilah” yang kuat—keturunan yang membuat makhluk yang diundang tidak berani muncul, bahkan marah kalau dipaksa.
Karena tim tidak mau rugi, Bu Imah tetap dilempar ke percobaan berikutnya. Kali ini ke Gunung Cermai. Menjelang malam, Bu Imah diperlakukan seperti jenazah: dimandikan, dibalut kain putih, lalu dibopong naik ke sebuah gua. Ia ditidurkan sendirian dalam gelap, sementara rombongan menunggu di bawah. Bu Imah tak bisa bergerak; tubuhnya kaku, dingin, dan pikirannya berputar antara takut dan pasrah.
Tengah malam, ia mendengar langkah berat menggema, seperti suara gendang menghantam dinding gua. Suhu terasa jatuh—dingin yang tidak wajar. Lalu ada sentuhan dingin seperti es menempel di perutnya. Belum sempat ia memahami apa yang terjadi, terdengar suara laki-laki menggelegar, seolah menjerit kesakitan, lalu semuanya kacau. Rombongan berlarian naik, Bu Imah digotong turun. Kuncen mengamuk: kalau dipaksakan, katanya, semua bisa celaka. Ritual kembali gagal.
Beberapa hari sesudahnya, tim mencoba lagi di lokasi lain—kembali memakai perahu, kembali menunggu sesuatu muncul dari air. Yang datang hanya bayangan besar yang “menyliwer”, lalu air bergejolak dan perahu hampir terbalik. Kuncen lagi-lagi menyuruh balik. Lagi-lagi gagal, dan lagi-lagi alasan yang sama disebut: ada “yang menjaga” dari jalur keturunan janin itu.
Karena masih penasaran, tim membawa Bu Imah ke satu upaya terakhir yang paling ekstrem: pertemuan dengan seorang kuncen/mediator yang disebut bisa jadi “wadah” bagi sosok gaib, dengan syarat Bu Imah harus menuruti rangkaian ritual dan menjalani hubungan suami-istri di ruang gelap. Bu Imah, yang sudah terlanjur tenggelam dalam harapan Rp100 juta, mengiyakan—tanpa menimbang lagi harga batinnya sendiri.
Malam itu, ketika proses hendak dimulai, suasana mendadak pecah: sang mediator seperti terpental dan muntah darah. Rombongan panik, lampu dinyalakan, dan upaya itu dibatalkan. Bu Imah tidak mendapat apa-apa selain rasa malu, takut, dan tubuh yang lemas. Untuk keempat kalinya, ia gagal—dan justru orang yang memimpin ritual yang harus dibawa berobat.
Pada akhirnya, Pak Haji dan istrinya seperti lelah. Mereka menyuruh Bu Imah pulang saja, memberi ongkos dan menutup sebagian urusan yang sempat mereka tanggung. Bu Imah pulang bukan sebagai orang kaya, melainkan sebagai ibu hamil yang membawa luka panjang dan kebingungan: ia sudah terlalu jauh melangkah, tapi tak ada satu pun yang jadi.
Bu Imah menjalani hidupnya lagi dengan jalan berliku. Ia sempat menikah lagi, menemukan orang yang mau menampung, tapi masalah baru tetap datang. Namun satu hal yang paling ia syukuri: janin yang dulu hendak ia “tukar” itu tetap bertahan dan lahir selamat. Anak itu kini tumbuh besar—dan Bu Imah percaya, kegagalan berulang itu justru bentuk perlindungan.
Dari seluruh pengalaman itu, Bu Imah sampai pada satu kesimpulan yang sederhana tapi mahal: jalan gelap tidak pernah benar-benar memberi ketenangan. Bahkan ketika uang belum sempat datang, hati sudah lebih dulu hancur, rasa bersalah menumpuk, dan hidup seperti diseret dari satu lubang ke lubang lain.
Bu Imah menutup kisahnya dengan pesan yang ia ucapkan seperti orang yang sudah kapok: jangan pernah mencoba pesugihan—apa pun bentuknya—apalagi yang menyangkut nyawa dan kehormatan. Kalau ingin keluar dari hidup yang menghimpit, lebih baik pelan-pelan dengan cara yang halal. Karena ketika seseorang memilih jalan pintas, sering kali yang diambil bukan cuma uang—melainkan masa depan, jiwa, dan orang-orang yang paling kita sayangi.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
