Kang Jeffry dikenal sebagai salah satu anggota tim Jurnal Risa yang sehari-harinya juga menangani terapi non-medis: dari ruatan, pembersihan tempat usaha, sampai jadi “backup spiritual” untuk beberapa pemilik perusahaan yang merasa bisnisnya seperti ditutup oleh sesuatu yang tak kasat mata.
Suatu waktu, sekitar tahun 2022, Kang Jeffry sedang mencari lokasi untuk kebutuhan syuting. Dari satu informasi ke informasi lain, ia mendengar kabar tentang sebuah titik yang dianggap tabu oleh warga sekitar: sebuah area hutan bambu di tengah sawah, jauh dari pemukiman, yang konon menyimpan rahasia kelam tentang “desa yang lenyap”.
Ia menemui seorang lelaki tua yang oleh warga disebut seperti kuncen—saksi hidup yang pernah melewati wilayah itu sejak kecil. Orang tua itu memberi syarat utama: niat harus bersih, jangan sombong, jangan menantang, apalagi mencoba mengambil apa pun dari tempat tersebut.
Perjalanan menuju lokasi memakan jarak sekitar dua sampai tiga kilometer lewat jalan setapak. Sawah kiri-kanan, ada aliran air kecil, lalu hamparan bambu yang semakin rapat—seperti dinding yang sengaja menutup pandangan. Menjelang sore, hawa berubah dingin dan sunyi terasa “berat”.
Pintu masuknya aneh: dua batang bambu membentuk semacam gerbang alami, melengkung seolah memberi batas antara dunia biasa dan wilayah yang tidak ingin disentuh. Di samping gerbang itu, Kang Jeffry merasakan ada “bayangan” besar kehijauan—bukan wujud jelas, tapi cukup tegas untuk membuat langkahnya sempat ragu.
Kuncen memilih menunggu di luar. Kang Jeffry masuk sendirian. Begitu melewati gerbang bambu, suasana seketika gelap—bukan karena malam, tapi karena rimbunnya bambu menutup langit, membuat cahaya seperti diperas habis.
Di dalamnya, tanah dipenuhi gundukan-gundukan seperti kuburan tanpa nisan. Banyak sekali. Kang Jeffry membaca salam dan doa sekadarnya, lalu angin mendadak kencang, bambu saling beradu, suaranya seperti ribuan batang dipukul bersamaan.
Ia berhenti di satu gundukan yang lebih besar, duduk, lalu mengirim doa untuk siapa pun yang pernah mengalami kesakitan di tempat itu. Niatnya sederhana: memastikan apakah cerita “desa hilang” itu hanya mitos, atau ada jejak yang masih tertahan di sana.
Belum selesai batin Kang Jeffry menata doa, bau amis darah menyeruak tiba-tiba. Bersamaan dengan itu, muncul sosok perempuan berpenampilan rusak—wajahnya tidak utuh, rambutnya menjuntai, dan auranya membuat dada seperti tertindih.
Sosok itu mendekat dan meminta tolong—bukan minta dibebaskan, tapi minta disampaikan permintaan maaf. Kalimat-kalimatnya terdengar pilu, seperti orang yang ingin pulang namun tidak punya pintu.
Setelah sosok itu, muncul lagi yang lain: ada yang membawa anak kecil tanpa kepala, ada yang tubuhnya seperti patah tak beraturan, ada tangis kencang di sisi lain, dan ada kakek-kakek yang seperti tidak bisa bicara, hanya memohon lewat rintihan.
Kang Jeffry menangkap satu kesan kuat: mereka seperti ingin keluar, tapi tertahan oleh sesuatu—perjanjian, batas, atau “kunci” gaib yang tidak ia pahami. Ia tak berani memaksakan diri. Ia hanya menunduk, menambah doa, lalu perlahan mundur.
Anehnya, saat ia mundur, suasana mulai terang kembali. Seolah tempat itu tidak melarang orang masuk, tapi melarang orang terlalu jauh ikut campur.
Ketika kembali ke kuncen, barulah muncul potongan cerita yang makin mengerikan. Katanya, dulu ada kampung kecil sekitar 40–50 kepala keluarga yang suatu hari “hilang” dalam semalam: bukan roboh karena bencana, bukan pindah, tapi lenyap tak bersisa—pondasi pun seperti tak pernah ada. Yang tersisa hanya kisah yang disimpan rapat karena warga takut kalau rahasia itu diungkit, akibatnya merambat.
Kuncen juga menyebut ada praktik pesugihan yang dipimpin sosok perempuan—disebut Nyi/Nyai Ronggeng—yang ritualnya terkait tarian, dan banyak orang dari luar daerah datang dengan maksud tertentu. Bagi Kang Jeffry, pengalaman itu jadi peringatan: persekutuan yang keterlaluan kadang tidak berhenti pada “harta”, tapi bisa menelan jiwa dan tempat tinggal sekaligus.
Kisah Kang Jeffry tidak berhenti di sana. Ia juga pernah menangani kasus lintas negara—seorang perempuan di Inggris menghubunginya karena anaknya bertahun-tahun bertingkah aneh, sudah ditangani dokter dan profesor, bahkan operasi berkali-kali, tapi tetap tidak pulih.
Lewat video call, Kang Jeffry menjelaskan bahwa ada kemungkinan kuat gangguannya bukan murni medis. Ia menyebut kategori sihir tertentu yang ia pahami sebagai “voodoo” versi Irlandia/Irish—lebih “keras” dan cepat efeknya. Dalam proses jarak jauh itu, keluarga si pasien bahkan mengaku melihat sesuatu bergerak, lalu diarahkan untuk “dikeluarkan” dari rumah, sampai akhirnya anak tersebut membaik dan bisa kembali sekolah, meski dampak psikologis dan medis akibat bertahun-tahun sakit tetap ada.
Di kesempatan lain, Kang Jeffry pernah mendatangi sebuah tempat makan sate yang luar biasa ramai. Dari luar terlihat normal, tapi begitu ia duduk, aromanya menyengat “terlalu enak” sampai membuat kepala pusing. Rasa penasarannya menang, ia membuka kepekaan batin—dan ia melihat pocong hitam berdiri di dekatnya, matanya merah, menatap ke arah area pembakaran sate.
Kang Jeffry membaca doa yang ia yakini sebagai penetral. Tak lama, sosok itu hilang. Dan yang mengejutkan, setelah itu suasana restoran mendadak sepi—orang yang tadinya antre seperti mengurungkan niat masuk. Seolah “magnet” yang menarik pelanggan tadi memang bukan semata bumbu, tapi sesuatu yang berdiri dan menyebarkan daya pikat.
Dari pengalaman itu, Kang Jeffry menekankan satu hal: penglaris yang melibatkan makhluk gaib bukanlah “teman setia”. Ia bisa berbalik kapan saja—membuat usaha jatuh seketika jika syarat dilanggar, atau jika ada yang “memutus jalurnya”.
Dalam proses syuting dan kebutuhan pembuktian, Kang Jeffry juga mengenalkan konsep media yang ia sebut “minyak happy”—bukan untuk membuat orang bahagia, tapi karena reaksinya sering bikin penonton “terhibur” saat seseorang tiba-tiba jadi lebih sensitif (mendengar/ mencium/ melihat). Namun ia juga mengingatkan, media semacam itu bisa memicu ketakutan, mimpi buruk, dan tidak cocok untuk orang yang mentalnya belum siap.
Semua rangkaian kisah ini menyambung dalam satu benang merah: dunia yang tak terlihat punya aturan, dan manusia sering kalah karena masuk tanpa batas, tanpa ilmu, atau tanpa niat yang benar. Pesugihan, santet, penglaris—apa pun namanya—mungkin terlihat menggiurkan di awal, tapi saat “harga”-nya mulai ditagih, yang hancur sering bukan cuma usaha, melainkan jiwa, keluarga, dan ketenangan hidup.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.