Teh Ani mengikuti program KKN kampusnya dengan perasaan campur aduk—senang karena katanya KKN itu seru, tapi juga khawatir karena sahabatnya, Santi, tipe yang pemalu dan sulit akrab dengan orang baru. Untungnya, mereka satu kelompok. Totalnya dua puluh orang, dan dari awal Teh Ani sudah bertekad bakal jagain Santi supaya tetap nyaman selama di lokasi.
Perjalanan menuju desa tujuan di Jawa Timur memakan waktu panjang karena lokasinya terpencil. Semakin mendekat, jalanan makin sepi, hawa makin dingin, dan suasananya terasa “alam banget”. Mereka tiba sore hari dan disambut dengan ramah—bahkan ada tarian daerah sebagai penyambutan, membuat Teh Ani sempat berpikir semua akan berjalan normal seperti kegiatan pengabdian pada umumnya.
Tapi di tengah suasana hangat itu, muncul peringatan yang bikin kepala Teh Ani langsung siaga. Seorang sesepuh desa—disebut Mbah—mendekat dan memberi warning tegas: mahasiswa KKN dilarang mengambil atau memindahkan barang apa pun di wilayah desa, terutama di area pendopo dan Sanggartari. Wording-nya bukan sekadar larangan sopan, tapi seperti orang yang sedang mencegah bencana.
Malam pertama di posko berjalan biasa. Namun keesokan harinya, saat program bersih-bersih desa dimulai, kelompok Teh Ani kebagian area pendopo. Santi tiba-tiba memanggil Teh Ani dan bilang ia melihat tusuk konde yang bagus sekali di bawah pendopo—model yang cocok untuk penari. Anehnya, Teh Ani sama sekali tidak melihat apa pun. Teman-teman lain dipanggil untuk memastikan, tapi hasilnya sama: tidak ada tusuk konde, tidak ada benda apa pun di titik yang Santi tunjuk.
Santi ngambek karena merasa tidak dipercaya. Teh Ani mencoba menenangkan dan menganggap itu mungkin karena capek perjalanan. Tapi sore sampai malam, Teh Ani mulai sadar ada yang berubah dari Santi. Tatapannya kosong, mukanya pucat, dan ia lebih sering melamun tanpa alasan. Teh Ani sempat bertanya berkali-kali, namun Santi hanya menggeleng, seakan ada sesuatu yang ia simpan sendiri.
Malam itu, Teh Ani belum benar-benar tidur. Dalam kondisi setengah sadar, ia mendengar suara tembang Jawa yang lirih tapi merdu. Ketika Teh Ani menoleh, sumber suara itu… Santi. Ini yang membuat Teh Ani merinding: Santi bukan orang Jawa dan tidak bisa bahasa Jawa, tapi ia nembang seperti orang yang sudah terbiasa. Teh Ani mencoba menyentuh tangan Santi untuk menyadarkan, namun Santi terus menyanyi dengan mata menatap lurus ke depan, seolah bukan dirinya yang sedang “mengisi suara”.
Teman-teman dibangunkan. Kepanikan menyebar. Warga dipanggil. Dan Mbah—sesepuh yang memberi peringatan saat penyambutan—datang menangani Santi dengan cara yang bikin Teh Ani semakin bingung: Mbah ikut melantunkan tembang yang sama, seperti sedang “menjawab” atau “menetralkan” lagu yang keluar dari mulut Santi. Tidak lama, Santi sadar, tapi kondisinya tetap lemah dan pucat.
Mbah mengulang peringatannya: jangan ambil atau pindahkan barang apa pun. Kali ini nadanya lebih menekan, seperti tahu ada sesuatu yang sudah terjadi, meskipun anak-anak KKN merasa tidak ada yang mereka lakukan.
Besoknya, kelompok Teh Ani mendatangi sanggar tari desa karena jurusan Teh Ani dan Santi adalah seni tari. Ternyata yang memegang sanggar dan mengajar tari adalah Mbah itu juga. Gamelan dimainkan secara langsung, dan suasana sanggar terasa kental adat. Mereka awalnya hanya observasi, melihat anak-anak latihan gerak.
Tiba-tiba Santi berdiri dan ikut menari. Gerakannya bukan gerakan “asal ikut”, tapi rapi, memukau, seperti sudah menguasai tarian itu lama sekali. Teh Ani tertegun karena tarian tersebut belum pernah ia pelajari di kampus, dan setahunya Santi pun tidak pernah belajar tarian itu. Begitu gamelan berhenti, Santi seperti “tersentak” kembali ke dirinya, lalu bingung saat ditanya dari mana ia bisa menari.
Keesokan harinya kejadian itu terulang, tapi kali ini lebih ekstrem. Saat gamelan mulai dimainkan, Santi menari makin liar, makin energik, sampai gerakannya tidak terkontrol. Lalu ia kesurupan sambil menari—tertawa-tawa, seperti ada yang mengambil alih tubuhnya. Mbah langsung maju, menahan Santi, dan dari kontak tatap mata mereka, Teh Ani merasa seperti ada “percakapan” yang terjadi tanpa kata.
Santi pingsan setelah didoakan. Tapi Mbah malah marah, menuduh kelompok KKN melanggar larangan: mengambil atau memindahkan sesuatu. Semua membantah karena merasa tidak ada yang melakukan itu. Mereka pulang ke posko dalam keadaan takut dan kebingungan.
Malamnya, ketua kelompok mengadakan rapat dan meminta semua jujur. Semua mengaku tidak mengambil apa pun. Setelah rapat, Santi mengajak Teh Ani keluar dan akhirnya mengaku: tusuk konde yang ia lihat dulu itu ternyata ia ambil dan sering ia pakai. Ia bahkan bilang setiap memakai tusuk konde itu, ia merasa dirinya jadi “cantik sekali” dan merasa nyaman tinggal di desa itu seperti kampung halaman sendiri—kalimat yang terdengar manis, tapi di telinga Teh Ani terasa seperti tanda bahaya.
Teh Ani mulai curiga tusuk konde itu sumber semua kejadian. Diam-diam ia menemui Mbah di sanggar untuk bertanya hal-hal umum, sampai akhirnya Mbah bercerita tentang sosok penari dulu di desa tersebut—penari yang selalu memukau, memakai “ilmu” untuk menarik perhatian penonton, lalu meninggal tragis. Yang bikin Teh Ani jantungnya jatuh: Mbah menyebut roh penari itu masih “menempel” pada tusuk konde. Saat mendengar kata tusuk konde, Teh Ani langsung teringat pengakuan Santi.
Belum sempat Teh Ani mengambil langkah lebih jauh, malam berikutnya Santi kesurupan lagi di posko—kali ini lebih menyeramkan. Tubuhnya membeku, matanya melotot, dan ia sama sekali tidak bergerak. Warga berdatangan, posko jadi ramai, dan Mbah datang dengan wajah serius.
Mbah bilang ini tidak bisa selesai dengan cara biasa. Harus ada ritual. Lampu dimatikan, penerangan hanya lilin. Orang di ruangan dibatasi. Mbah berbaring di samping Santi sambil membaca doa dan melantunkan tembang yang sama. Proses itu berlangsung lama, lebih dari satu jam, sampai Santi akhirnya sadar.
Namun setelah Santi sadar, Mbah menyebut ritual yang lebih besar harus dilakukan, tepat pada malam Jumat Kliwon. Alasannya membuat Teh Ani makin merinding: Santi punya weton dan bentuk tubuh yang mirip dengan roh penari itu, sehingga roh tersebut “suka” dan menahan Santi. Dan roh itu meminta pengganti—tumbal berupa satu ekor kambing—agar Santi dilepaskan.
Aparat desa bergerak cepat. Warga yang menanggung sebagian besar kebutuhan ritual karena, kata mereka, kalau ritual tidak dilakukan, teror “tahun-tahun lalu” bisa kembali terjadi dan desa ikut kena imbas. Teh Ani menangkap satu hal: ini bukan kejadian pertama di desa itu. Ini seperti siklus yang sudah pernah terjadi dan mereka sudah tahu cara “meredamnya”.
Beberapa hari kemudian, ritual digelar di lapangan desa. Sesajen disiapkan banyak sekali, kambing sudah ada, bancakan disusun. Warga berkumpul penuh—ramainya seperti pasar malam, tapi suasananya tidak sama: semua orang seperti tahu ini urusan serius. Lampu penerangan dimatikan, lilin berjajar menyala, dan Mbah memimpin prosesi sambil membawa kemenyan, doa-doa, dan tembang yang berulang lagi.
Di tengah ritual, Teh Ani melihat sosok penari berdiri di samping kambing. Kostumnya seperti penari tradisional, wajahnya cantik tapi pucat, riasannya tebal namun tetap tampak “dingin”. Sosok itu menatap ke arah Santi terus-menerus. Ketika Teh Ani tanpa sengaja menoleh lebih lama, sosok itu mendadak menatap balik ke Teh Ani—membuat Teh Ani ingin berteriak, tapi ia teringat pesan Mbah: jangan bicara sedikit pun.
Ritual selesai dengan khidmat. Kambing dipotong, lalu suasana berubah menjadi makan bersama seperti pesta bancakan. Semua diminta ikut makan. Setelah itu Mbah memberi nasihat yang menancap di kepala Teh Ani: tidak semua barang di dunia ini harus kita miliki—kadang cukup dikenang saja. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi Teh Ani paham betul maksudnya mengarah ke tusuk konde.
Keesokan harinya, Santi mengaku juga melihat sosok penari itu saat ritual, berdiri dekat kambing dan menatapinya terus. Tapi setelah kambing dipotong, sosok itu hilang. Anehnya, dari teman-teman lain, yang melihat sosok penari hanya Teh Ani dan Santi.
KKN tetap berjalan, tapi Santi dipulangkan lebih dulu karena kondisinya trauma dan sering melamun. Pihak kampus akhirnya sepakat memulangkan Santi agar psikologisnya tidak makin drop. Setelah Santi pulang, situasi desa kembali tenang, meski Teh Ani dan teman-teman masih sesekali mendengar suara tawa atau tangisan samar setiap gamelan dimainkan di sanggar.
Satu hal yang membuat Teh Ani makin yakin semuanya bukan kebetulan: tusuk konde yang dulu diakui Santi sering dipakai, tiba-tiba hilang tanpa jejak. Ketika ditanyakan, Mbah hanya berkata singkat: tusuk konde itu sudah kembali ke pemiliknya.
Teh Ani menutup kisahnya dengan satu perasaan yang sama sejak awal: KKN seharusnya tentang pengabdian, tapi di desa itu, mereka seperti ikut masuk ke aturan tak tertulis yang sudah hidup lama—aturan yang puncaknya selalu mengarah ke malam Jumat Kliwon, ketika “yang tak terlihat” seolah punya hak untuk meminta pengganti.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.