Tahun 2010, Mbak Yanti baru saja lulus sekolah ketika ayahnya mengirimnya ke sebuah asrama putri di Jawa Timur. Alasannya bukan sekadar supaya Mbak Yanti belajar lebih disiplin, tapi juga karena ada amanah terakhir dari almarhumah ibunya: Mbak Yanti diminta mondok, menimba ilmu, dan bertahan setidaknya tiga tahun.
Di usia sekitar 14 tahun, jauh dari rumah, Mbak Yanti sempat tidak betah. Ia sering menangis diam-diam—rindu rumah, rindu ibunya, rindu hidup yang terasa lebih ringan. Dua senior yang kemudian dekat dengannya, Mbak Ijah dan Mbak Nur, pelan-pelan jadi tempat Mbak Yanti berpegangan supaya ia bisa menyesuaikan diri.
Hari-hari di asrama berjalan seperti rutinitas pesantren pada umumnya: kumpul di aula, belajar, mengaji, lalu istirahat. Pengajarnya, seorang Kang Mas yang dipanggil Kang Sodq, dikenal suka bercanda—tapi juga sering memberi “wejangan” yang di mata Mbak Yanti saat itu terdengar seperti nasihat untuk masa depan.
Sampai suatu pagi, Kang Sodq menawarkan sebuah amalan. Katanya amalan ini “pembukaan”—biar urusan dunia lancar, jalan rezeki terbuka, hidup lebih kepakai di masyarakat. Syaratnya tidak main-main: puasa Senin–Kamis, puasa weton, lalu wirid Al-Fatihah 111 kali dengan tasbih yang tidak boleh lepas, dilakukan rutin dan disiplin.
Mbak Yanti menganggap itu hal baik. Ia mengajak Mbak Ijah dan Mbak Nur ikut. Tapi Kang Sodq sempat melempar candaan yang terdengar seperti ancaman: ada yang kuat, ada yang tidak—dan biasanya yang tidak kuat akan “dapat ujian” malam-malam. Mbak Yanti tertawa saja waktu itu, mengira itu cara Kang Sodq menakut-nakuti supaya santri tidak sembarangan.
Di hari-hari terakhir, ujian itu datang. Mbak Nur gagal karena sedang tamu bulanan dan tidak sanggup bangun. Mbak Yanti masih lanjut. Saat wirid Mbak Yanti hampir selesai, Mbak Ijah mendadak menggeram, seperti orang menahan amarah dari dalam dada—lalu menubruk sejadah, mencakar-cakar, dan kehilangan kesadaran.
Mbak Yanti panik, tapi ia memaksa tenang. Ia baca doa seadanya, meniup ubun-ubun Mbak Ijah, sampai Mbak Ijah lemas dan pingsan. Subuhnya, Kang Sodq membenarkan: amalan itu memang pembukaan, dan kalau seseorang memang punya “bekal dari lahir”, pembukaan itu bisa membuat kepekaan makin terbuka.
Tahun-tahun berlalu, Mbak Yanti menyelesaikan masa belajar. Asrama mengadakan haul/akhir sanah—acara besar yang mirip hajatan: khataman, selawatan, pentas seni, doa bersama. Di acara itulah Mbak Yanti melihat sepasang suami istri yang sibuk sekali mengurus kebutuhan acara, mengatur ini itu, seolah mereka pemilik hajat.
Mereka dikenalkan sebagai Pak Herman dan Bu Lastri (nama samaran): donatur besar asrama. Warga sekitar menyebut mereka “sugih”, punya sawah, kebun, dan harta berlimpah. Mereka juga dikenal dermawan—kalau ada bangunan rusak, mereka bantu. Kalau kitab dan modul kurang, mereka yang mengirim. Nama mereka seperti selalu disebut dengan rasa hormat.
Pak Herman dan Bu Lastri tidak punya anak. Mereka mengangkat ponakannya—Denia, sekitar usia lima tahun—dan Denia sering dititipkan ke Mbak Yanti untuk belajar mengaji dan menulis. Denia cepat sekali akrab, memanggil Mbak Yanti “Mbak Yu”, dan terlihat seperti anak kecil ceria yang tidak punya beban apa pun.
Sampai suatu sore Denia tidak datang. Biasanya sebelum asar ia sudah muncul, tapi hari itu tidak ada. Mbak Yanti mencari dan akhirnya mendatangi rumah mereka. Bu Lastri bilang Denia sakit: muntah-muntah, panas menggigil, sempat kejang, tapi dokter bilang cuma demam biasa.
Mbak Yanti melihat sendiri panas Denia seperti tidak normal. Tubuh Denia dialasi daun pisang muda, dan daun itu tampak seperti “kebakar” karena panasnya. Saat Denia membuka mata, ia melotot ke atas, menunjuk sesuatu yang Mbak Yanti tidak lihat, lalu berkata ketakutan: ada banyak “orang rambut panjang”.
Mbak Yanti mencoba menenangkan, mengira Denia mengigau karena demam. Namun ketika Mbak Yanti ke belakang untuk wudu, ia melihat sesuatu yang membuatnya kaku: sosok nenek berambut panjang, hitam pekat, seperti lampir, muncul–menghilang–muncul lagi, sambil tersenyum mengejek. Mbak Yanti menahan takut, membaca ayat-ayat perlindungan, dan meminta sosok itu tidak mengganggu Denia.
Malamnya, Mbak Yanti pulang ke asrama dalam keadaan lelah. Menjelang tengah malam, ia mendengar suara “toplak-toplak” seperti tapak kuda. Saat mengintip jendela, Mbak Yanti melihat pemandangan yang sampai kini sulit ia lupakan: kereta seperti kereta kencana melintas, ditarik kuda hitam, membawa semacam karung besar—bagian atasnya berkilauan seperti emas. Anehya, kuda itu terdengar berlari, tapi seperti tidak menapak tanah.
Subuhnya, Bu Lastri menggedor asrama panik. Denia kembali kejang, mulutnya berbusa, matanya melotot, dan situasinya sudah seperti sakaratul maut. Denia tidak tertolong. Mbak Yanti ikut dalam proses pemulasaraan, dan di tubuh Denia ia melihat lebam- lebam bulat kebiruan kemerahan—bukan lebam biasa, tapi seperti bekas pukulan yang disamarkan.
Yang membuat Mbak Yanti makin tidak tenang: setelah Denia meninggal, bukannya keluarga itu jatuh dalam duka panjang, kekayaannya justru seperti “melesat”. Pak Herman membeli kebun pisang besar, membuka jalur distribusi, menambah armada mobil untuk angkut. Rezekinya tampak semakin deras, seolah kematian Denia tidak menghentikan apa pun—malah seperti membuka pintu baru.
Di kebun itu ada orang kepercayaan bernama Pak Ijo (samaran), sekitar usia 60-an, masih gagah dan aktif. Beberapa waktu setelah Denia, Pak Ijo tiba-tiba sakit aneh: susah jalan, tubuhnya terasa seperti dicambuk, punggungnya sakit seperti dipecuti, padahal yang lumpuh justru kakinya. Tidak dibawa ke rumah sakit, hanya dirawat di rumah.
Menjelang wafat, Pak Ijo mengamuk. Ia gulang-guling di tanah, seperti melawan sesuatu yang tidak terlihat, lalu seperti hendak mencekik dirinya sendiri. Saat ia “mencekik”, terdengar bunyi aneh mirip suara kuda. Pak Ijo meninggal dengan kondisi tragis: mata melotot, lidah menjulur.
Tak lama setelah Pak Ijo meninggal, Pak Herman membeli mobil-mobil bagus dan membuka rental. Mbak Yanti yang sudah dianggap seperti anak sendiri ikut membantu—nagih setoran, antar-ambil, melewati pasar dan rel kereta malam-malam. Di perjalanan, Mbak Yanti beberapa kali melihat sosok putih seperti orang duduk di rel, atau sosok laki-laki berbaju abu-abu yang lewat lalu “nyingslep” ke deretan mobil—dan setiap kali itu terjadi, mesin motornya mendadak mati seolah ada yang mengunci.
Di puncak kelelahan, Mbak Yanti jatuh sakit: demam, tenggorokan radang, sampai hilang suara. Pak Haji dan Bu Haji pengurus asrama memberi Mbak Yanti air doa. Setelah itu Mbak Yanti membaik, tapi justru muncul celetukan yang membuat Mbak Yanti kaget: Bu Haji berkata Mbak Yanti “nggak mempan” pelet, santet, apalagi untuk tumbal pesugihan. Pak Herman dan Bu Lastri mendengar dan spontan berkata, “Pantesan…” lalu buru-buru pamit dengan gelagat aneh.
Kecurigaan Mbak Yanti makin tajam. Ia mulai merangkai ulang semua kejanggalan: Denia yang mendadak “diambil”, lebam-lebam di tubuh jenazah, kereta kencana berkuda hitam, suara cambuk, Pak Ijo yang mati seperti dipaksa, dan rezeki yang justru naik setelah tiap kematian.
Tak lama kemudian, Pak Herman terkena sakit yang oleh medis disebut stroke, tapi perilakunya tidak wajar: ngamuk, melepas infus, ingin kabur, seperti orang kesurupan. Ia menolak air doa, bahkan jika air itu disodorkan, gelasnya ditepak sampai pecah. Paranormal datang pun mundur ketakutan, tidak ada yang sanggup menanganinya.
Dalam tekanan, Bu Lastri akhirnya membuka rahasia pada Mbak Yanti. Dulu mereka miskin. Pak Herman pernah pergi ke lereng gunung untuk melakukan perjanjian pesugihan—Bu Lastri mengantar sampai luar saja. Sejak itu hidup mereka berubah: kaya, dermawan, donatur. Tapi ada harga yang mengintai: tumbal dari orang-orang dekat—kerabat, tetangga, bahkan karyawan. Dan Bu Lastri mengakui, sudah berjalan sekitar delapan tahun.
Subuh berikutnya, Pak Herman meninggal. Malam sebelum wafat, ia sempat lepas ikatan, lari-lari sambil berteriak mencari “jaran”—kudanya—dan membawa-bawa sesuatu seperti cambuk. Saat dimandikan, Mbak Yanti melihat bekas di punggungnya seperti habis dicambuk—mirip pola yang ia lihat pada Pak Ijo sebelumnya.
Mbak Yanti memilih pulang kampung. Ia pamit ke Pak Haji, Bu Haji, dan Bu Lastri. Dalam hati, Mbak Yanti hanya bisa mengulang satu kesimpulan: jalan pintas yang dibungkus amal dan donasi tetap bisa menyimpan perjanjian gelap. Kebaikan yang terlihat di permukaan kadang hanya topeng—dan ketika topeng itu retak, yang tersisa adalah daftar nyawa yang diam-diam “jatuh” satu per satu.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.