Mas Koko adalah potret seseorang yang tersesat oleh gaya hidupnya sendiri. Sejak tahun 2016, hidupnya dipenuhi hura-hura, judi, mabuk-mabukan, dan perempuan. Bekerja serabutan tanpa arah, ia menghabiskan uang tanpa memikirkan masa depan, sementara orang tuanya hanya bisa mengelus dada melihat anaknya semakin jauh dari jalan benar.
Setiap hari Mas Koko menghabiskan waktu di klub malam dan tempat prostitusi. Uang yang ia dapat, sebagian besar berasal dari kebohongan pada orang tua. Ia mengaku melamar kerja, padahal uang itu justru habis dalam semalam. Teguran, nasihat, bahkan kemarahan keluarga tak lagi ia dengar.
Kehidupannya semakin hancur ketika utang mulai menumpuk. Pinjaman bank keliling harian, mingguan, hingga bulanan ia ambil tanpa berpikir panjang. Bahkan BPKB motor pun digadaikan. Namun semua uang itu tak pernah bertahan lama, selalu habis untuk memuaskan nafsu.
Ketika tagihan datang bertubi-tubi dan keluarga mulai mengetahui kebusukannya, Mas Koko kabur dari rumah. Teman-temannya satu per satu menjauh. Ia benar-benar berada di titik terendah: tanpa uang, tanpa arah, dan tanpa tempat pulang.
Dalam keputusasaan, Mas Koko mulai memikirkan jalan pintas. Ia teringat seorang kenalan yang paham dunia ghaib dan ritual pesugihan. Tanpa ragu, ia menghubungi orang itu dan meminta bantuan untuk mendapatkan kekayaan secara instan.
Mas Koko ditawari dua pilihan: cara lama yang penuh kesabaran atau cara cepat dengan risiko besar. Tanpa berpikir panjang, ia memilih cara cepat. Ia diperkenalkan kepada seorang kuncen bernama Abah Anom dan dibawa ke sebuah gunung di wilayah Kuningan, Jawa Barat.
Perjalanan menuju lokasi ritual penuh dengan keraguan. Jalan setapak gelap, hutan sunyi, dan suasana mencekam membuat hatinya bergetar. Namun tekadnya sudah bulat. Ia ingin kaya, apa pun risikonya.
Abah Anom memperingatkan bahwa ritual ini bukan main-main. Taruhannya nyawa. Mas Koko diminta menyiapkan sesajen dan menjalani tirakat di sebuah gua selama tiga hari tiga malam. Ia setuju, bahkan membayar semua kebutuhan ritual agar prosesnya dipercepat.
Hari pertama di gua berlalu dengan suara-suara aneh dan bisikan tak jelas. Hari kedua, Mas Koko mulai merasakan sentuhan halus dan hembusan napas di telinganya. Namun ia tetap bertahan, menahan rasa takut demi satu tujuan: kekayaan.
Pada malam ketiga, tepat tengah malam, angin kencang menerpa gua. Dari dasar batu, muncul sosok mengerikan: tubuh seperti ular dengan kepala perempuan berambut panjang, mata merah, dan taring tajam. Sosok itu menawarkan perjanjian.
Mas Koko diberi pilihan: kontrak atau pitik. Tanpa benar-benar memahami maknanya, ia memilih kontrak. Perjanjian pun disepakati—selama sepuluh tahun ia akan menikmati kekayaan, dan setelahnya nyawanya menjadi milik makhluk tersebut.
Usai ritual, Mas Koko pulang dengan tubuh gemetar. Beberapa hari kemudian, sebuah bungkusan misterius datang ke rumah orang tuanya. Di dalamnya terdapat uang jutaan rupiah yang terus bertambah meski sudah dipakai. Ia sadar, pesugihannya berhasil.
Uang itu ia gunakan untuk melunasi semua utang. Anehnya, setiap kali dihitung, uang tersebut selalu kembali bertambah. Mas Koko mulai membeli motor, mobil, hingga membuka toko sembako. Hidupnya berubah drastis dalam waktu singkat.
Namun di balik kemewahan itu, jiwanya terasa kosong. Mimpi buruk mulai menghantuinya. Ia teringat perjanjian sepuluh tahun yang telah ia buat. Ketakutan akan kematian membuatnya gelisah dan tak pernah tenang.
Pertemuannya dengan seorang ustaz menggugah hati Mas Koko. Ia mulai mendekat ke masjid dan mengikuti pengajian. Kesadaran perlahan tumbuh, dan rasa penyesalan semakin dalam. Ia ingin bertobat dan memutus perjanjian itu.
Mas Koko kembali mendatangi orang yang dulu membawanya ke ritual. Namun jawabannya menghancurkan harapan—perjanjian itu tak bisa diputus. Kuncen telah meninggal, dan kontrak ghaib itu dianggap tak bisa dibatalkan.
Tak menyerah, Mas Koko mencari bantuan seorang kiai. Ia menjalani rukiah berulang kali. Dalam proses itu, makhluk ular perempuan yang dulu mengikat perjanjian terdeteksi masih melekat dalam tubuhnya.
Setelah proses rukiah, Mas Koko memang terbebas dari ikatan ghaib, namun konsekuensinya berat. Harta bendanya habis satu per satu. Usaha bangkrut, kendaraan terjual, dan hidupnya kembali serba kekurangan.
Kini Mas Koko hidup sederhana bersama istri dan dua anaknya. Ia kesulitan mencari pekerjaan, namun berusaha bertahan dengan sisa tenaga dan iman yang ada. Ia percaya, kesulitan ini adalah harga dari dosa masa lalunya.
Dari kisah Mas Koko, tersimpan pelajaran pahit: kekayaan instan tak pernah gratis. Jalan hitam selalu menuntut bayaran mahal—jiwa, ketenangan, dan masa depan. Lebih baik hidup kekurangan tapi selamat, daripada kaya sesaat dengan penyesalan seumur hidup.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.