Hidup Mbak Nur berubah drastis sejak ia memilih menikah tanpa restu keluarga. Apa yang awalnya ia bayangkan sebagai rumah tangga bahagia, justru menjelma menjadi neraka panjang yang penuh kekerasan, penelantaran, dan luka batin.
Beberapa bulan setelah menikah, wajah asli sang suami mulai terlihat. Alkohol, judi, narkoba, dan kekerasan menjadi keseharian. Nafkah nyaris tak pernah ada, sementara Mbak Nur harus bertahan hidup dalam kondisi hamil besar.
Tanpa bantuan suami, Mbak Nur bekerja serabutan demi menyambung hidup. Hingga akhirnya, setelah melahirkan, ia diusir secara halus dan dipulangkan ke rumah orang tuanya di Solo. Dalam kondisi lemah dan terpuruk, ia memulai hidup dari nol.
Dua tahun berlalu tanpa kabar dari suami. Demi tanggung jawab status dan desakan keluarga, Mbak Nur kembali ke Cirebon. Namun harapan akan perubahan kembali pupus—suami tetap tenggelam dalam kebiasaan lamanya.
Tekanan ekonomi memaksanya menerima ajakan bekerja di dunia malam. Awalnya hanya menemani tamu minum, namun uang cepat yang ia dapat membuatnya terjebak semakin dalam. Dari situlah gaya hidup malam mulai menjadi bagian dari hidupnya.
Lingkungan keras, minuman keras, dan konflik jalanan perlahan membentuk karakter baru dalam diri Mbak Nur. Ia tak lagi hanya bertahan, tetapi mulai melawan. Dari sinilah jalan menuju dunia ilmu hitam terbuka.
Pertemuannya dengan seorang lelaki tua di kawasan Gunung Jati menjadi titik awal segalanya. Pria itu menawarkan “jalan lain”—puasa ritual, tirakat, dan laku batin demi kekuatan, perlindungan, dan daya tarik.
Mbak Nur menjalani puasa mutih dan tirakat di area makam keramat. Ia tidur di antara nisan, mandi di mata air Tukjasih, dan menghadapi pengalaman gaib yang menguji mental dan fisik, termasuk mimpi-mimpi simbolik yang terasa nyata.
Dalam salah satu laku, ia mengalami kejadian aneh: menemukan kelabang gepeng di tangannya saat terbangun dari tidur. Benda itu kemudian disimpan sebagai bagian dari ritual lanjutan, menjadi simbol awal ilmu yang masuk ke tubuhnya.
Tak lama kemudian, Mbak Nur merasakan perubahan besar. Tubuhnya terasa lebih kuat, emosinya lebih panas, dan rasa takut perlahan menghilang. Ia mulai berani menghadapi konflik fisik tanpa rasa gentar.
Puncaknya, ia menjalani ritual untalan—menelan benda ritual seperti peluru kecil. Sejak saat itu, tubuhnya menjadi kebal. Dipukul, ditendang, bahkan diserang dalam perkelahian jalanan, nyaris tak terasa sakit.
Selain kebal, Mbak Nur juga menjalani pengasihan tingkat tinggi. Dengan puasa bunga mawar dan ritual tertentu, daya tariknya meningkat drastis. Ucapannya seolah memiliki kekuatan: meminta uang, bantuan, atau perlindungan, hampir selalu dikabulkan.
Dalam waktu singkat, Mbak Nur dikenal luas di dunia malam. Ia disegani, ditakuti, dan dijadikan tameng oleh banyak orang. Aparat, preman, hingga pejabat lokal mengenalnya sebagai sosok yang “tak bisa disentuh.”
Namun kekuatan itu membawa harga mahal. Emosi Mbak Nur tak terkendali. Sedikit tersinggung bisa berujung kekerasan. Ia semakin jauh dari dirinya yang dulu—seorang ibu yang hanya ingin hidup tenang.
Kesombongan perlahan tumbuh. Merasa tak terkalahkan, ia mulai melanggar pantangan-pantangan ilmu. Minuman dicampur, batasan dilupakan. Di sinilah celah kehancuran terbuka.
Suatu malam, Mbak Nur dikeroyok oleh sekelompok orang. Kekebalannya runtuh. Tubuhnya remuk, kepalanya dihantam batu, dan ia ditinggalkan sekarat di jalanan.
Ia selamat dan dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis. Dokter menyarankan amputasi tangan. Namun dalam kondisi antara sadar dan tidak, Mbak Nur didatangi sosok ulama yang memberinya pilihan: bertobat atau melanjutkan jalan gelap.
Dengan izin Allah, luka-luka Mbak Nur pulih secara mengejutkan. Amputasi batal dilakukan. Peristiwa itu mengguncang keyakinannya dan menjadi titik balik hidupnya.
Mbak Nur memutuskan meninggalkan dunia malam dan seluruh ilmu hitam yang pernah ia jalani. Ia memilih hidup sederhana, bekerja halal, dan fokus menjadi ibu yang baik bagi anaknya.
Kisah Mbak Nur menjadi pengingat bahwa kekuatan instan, kebal, dan pengasihan bukanlah anugerah, melainkan ujian. Jalan gelap mungkin memberi kuasa sesaat, tetapi kehancuran selalu menunggu di ujungnya—dan hanya tobat yang mampu membawa manusia kembali ke cahaya.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.