Mbak Nina mengenang tahun 2016–2017 sebagai periode hidup yang rasanya seperti dihajar tanpa jeda. Ia baru saja bercerai, tapi hubungan dengan mantan suaminya belum benar-benar putus. Masih ada sayang yang tertinggal—meski luka yang dibawa jauh lebih banyak.
Pernikahan mereka dulu penuh masalah: perselingkuhan, kekerasan fisik, dan pertengkaran yang selalu berakhir dengan Mbak Nina yang jadi sasaran. Bahkan saat Mbak Nina hamil tujuh bulan anak kedua, ia pernah memergoki suaminya berselingkuh—dan yang terjadi setelah itu bukan penyesalan, melainkan amukan.
Setelah melahirkan, sang mantan suami sempat minta maaf dan ingin balikan. Tapi ibu Mbak Nina menolak keras. Baginya, perpisahan itu sudah keputusan paling aman. Mbak Nina lalu merantau ke Jakarta, bekerja, mengontrak, dan entah kenapa—di tengah status yang sudah bukan suami-istri—mereka kembali tinggal bersama.
Empat bulan di Jakarta, Mbak Nina hamil lagi. Di titik itu, kepalanya seperti pecah. Anak di rumah masih bayi, status hubungan tidak jelas, keluarga menolak balikan, sementara mantan suaminya mendadak “hilang tanggung jawab”—nomornya tak aktif, kabarnya tak jelas, dan ia seperti lenyap ditelan malam.
Mereka sempat berpikir mengambil keputusan nekat untuk menggugurkan kandungan. Mbak Nina mencari jalur “obat” lewat teman. Ia datang ke kontrakan seorang kenalan, berharap urusannya selesai cepat, tanpa drama, tanpa orang lain ikut campur.
Tapi di tempat itulah ia mendengar kalimat yang mengubah arah ceritanya. Seorang perempuan lain—sebut saja Isti—menimpali dengan nada santai, “Sayang banget. Jangan digugurin… jual aja.”
Mbak Nina mengira “jual” itu maksudnya setelah lahir, diserahkan ke orang yang ingin mengadopsi. Ternyata bukan. Isti bicara tentang “jual” ke makhluk halus—ritual yang katanya bisa menukar janin dengan uang bermiliar-miliar. Mbak Nina kaget, tapi di saat yang sama ia sedang rapuh, buntu, dan takut pulang ke rumah membawa status yang tak bisa ia jelaskan.
Isti membawa Mbak Nina pulang menemui ayahnya. Pertanyaan pertama yang keluar dingin dan langsung menohok: “Hamil berapa bulan?” Mbak Nina sendiri tak tahu pasti—baru tes positif. Mereka lalu mengantar Mbak Nina untuk memastikan usia kandungan. Setelah tahu masih di bawah empat bulan, ayah Isti berkata tegas: berangkat malam itu juga.
Perjalanan dadakan menuju Wonosobo terasa seperti film yang diputar tanpa tombol pause. Jalan gelap, hawa dingin, mobil terasa berat seperti mengangkut sesuatu yang tak terlihat. Waktu tempuh yang biasanya empat jam berubah jadi enam jam lebih, dan mereka tiba menjelang dini hari.
Di lokasi, Mbak Nina bertemu seorang kuncen bernama Pak Anton. Rumahnya sederhana, lantainya masih tanah, dindingnya seadanya—dan justru itu yang membuat Mbak Nina bingung: kalau ritualnya “sekelas miliaran”, kenapa tempatnya seperti tak tersentuh uang sama sekali? Pak Anton hanya berpesan satu: tempat ini punya aturan, dan orang yang datang harus siap menanggung konsekuensi.
Pagi harinya, sesajen disiapkan. Ada biaya besar yang diminta untuk belanja perlengkapan ritual. Mbak Nina makin gamang, tapi ia sudah terlanjur masuk. Pak Anton menambahkan syarat yang membuat Mbak Nina gemetar: ia harus menyembelih ayam sendiri. Sekali tebas harus putus. Kalau tidak, kata Pak Anton, “yang kamu bawa” akan tersiksa.
Mbak Nina dimandikan air kembang di udara Wonosobo yang menggigit. Badannya menggigil, tapi ia tetap dipaksa stabil—seolah tubuhnya harus “disamakan” dengan suhu tempat yang akan ia datangi. Darah ayam ditampung dalam wadah khusus, ayamnya dibuat bekak untuk dibawa ke atas.
Siang itu Mbak Nina harus mendaki dengan beban sekitar lima kilo, dan sesajen itu tidak boleh dibawa siapa pun selain dirinya. Pak Anton menekankan, beban itu harus diperlakukan seperti menggendong bayi—tidak boleh lepas, tidak boleh ditinggal, tidak boleh sembrono.
Yang paling menguras bukan cuma tenaga, tapi mantra yang harus diulang sepanjang perjalanan. Mbak Nina diminta menyebut nama “Bunda Dewi Rengganis” dan “Bunda Dewi Sri Kembang” di setiap langkah, memohon bantuan agar kuat naik. Ada larangan keras: jangan menyelipkan seruan lain—kalau salah ucap, pertemuan bisa gagal.
Mereka sampai di basecamp berupa gubuk kecil di punggung gunung. Malam turun cepat. Angin tajam, kabut rapat. Mbak Nina belum sempat memulihkan napas, ketika Pak Anton berkata sesuatu yang membuatnya salah paham: “Jam sepuluh kita turun.” Mbak Nina kira turun pulang. Ternyata turun ke kawah kering—hamparan rumput tinggi seperti padang savana yang terasa asing dan sunyi.
Di bawah, Mbak Nina ditempatkan duduk di atas batu. Sesajen disusun. Ayam bekak diletakkan tepat di depan—kata Pak Anton, itu simbol “titipan” yang tidak boleh hilang. Mbak Nina diminta menunduk, tidak banyak menoleh, terus mengulang permintaan: ia hanya ingin bertemu Dewi yang disebutkan, tidak yang lain.
Begitu Pak Anton pergi menunggu waktu penjemputan, ujian pertama datang. Dari belakang terdengar langkah berat, lalu muncul babi besar. Mbak Nina membeku. Ia terus mengulang mantra. Babi itu lari.
Tak lama kemudian, muncul monyet raksasa. Ukurannya tak masuk akal untuk sekadar satwa hutan. Mbak Nina menunduk lebih dalam, memaksa napas tetap jalan, memaksa lidah tetap mengucap nama yang sama. Monyet itu pergi.
Ujian berikutnya lebih aneh: tikus sebesar anak kecil datang, mengambil apel dari sesajen, lalu menatap seolah menunggu reaksi. Mbak Nina tetap menahan diri. Ia takut kalau salah gerak, salah tatap, salah respons—sesuatu akan “mengunci” dirinya.
Puncaknya, seekor ular besar datang menghantam sesajen. Kepalanya besar, warnanya mencolok. Mbak Nina hampir reflek berseru—tapi ia ingat larangan. Ia menahan semuanya di tenggorokan.
Lalu terdengar suara perempuan halus, dekat sekali. Saat Mbak Nina berani mendongak sedikit, ia melihat sosok yang luar biasa cantik: rambut panjang, kebaya kuning, serba kuning—auranya tegas, dingin, tapi memesona. Sosok itu bertanya apa yang Mbak Nina bawa.
Mbak Nina menjawab ia datang untuk “menyerahkan janin.” Tapi jawaban yang diterima membuat dunia seperti miring: sosok itu menolak. Yang diminta justru anak Mbak Nina yang ada di rumah—anak kecil yang saat itu masih bayi.
Mbak Nina merasa darahnya turun. Ia tahu, sekali ia mengangguk, itu berarti setuju. Mbak Nina langsung menunduk dan menggeleng. Ia menolak, sekuat tenaga.
Sosok itu kemudian seperti memutus percakapan: Mbak Nina disuruh pulang. Mbak Nina menuruti instruksi Pak Anton—meski sosoknya pergi, Mbak Nina tetap memohon agar “diantarkan pulang.” Ajaibnya, perjalanan yang tadi turun dua jam lebih, terasa hanya beberapa menit. Tiba-tiba Mbak Nina sudah sampai atas, sementara orang lain masih jauh di bawah.
Saat Pak Anton datang, ia seperti sudah tahu: “Dia minta yang di rumah, kan?” Mbak Nina hanya bisa mengangguk lemah. Di situ Mbak Nina juga mendengar cerita peserta lain: ada yang “jual umur” demi ibunya, tapi yang diminta justru ibunya itu sendiri. Seolah yang diminta bukan sekadar janji ritual—melainkan sesuatu yang paling melekat di pikiran dan hati saat manusia berada di ambang putus asa.
Mereka pulang dengan tubuh selamat, tapi batin Mbak Nina compang-camping. Anehnya, setelah kejadian itu Mbak Nina mengaku jadi lebih sensitif—seperti “terbuka.” Di jalan ia melihat sosok rusak terbang mengikuti motor. Di hari-hari berikutnya, ia makin sering melihat yang orang lain tak lihat, sampai akhirnya hidupnya dipenuhi kewaspadaan baru.
Mbak Nina sempat menolak pulang karena takut. Ia tinggal di tempat lain, menjalani hari dengan rasa cemas yang menempel. Sampai akhirnya kandungannya besar, ia memberanikan diri pulang dan melahirkan—anak perempuan.
Setelah melahirkan, kemampuan “melihat” itu perlahan hilang dari Mbak Nina. Tapi justru anaknya yang tumbuh dengan kepekaan aneh: sering bicara sendiri, menyebut ada “tante” yang ia lihat, kadang memperingatkan ibunya tentang sosok yang tidak kasat mata.
Mbak Nina menutup kisahnya dengan penyesalan yang tidak dibuat-buat. Ia menyebut ritual semacam itu bukan cuma dosa dan berat—tapi juga tidak menjamin berhasil. Yang lebih menakutkan, ketika gagal pun, jejaknya bisa tetap menempel dalam bentuk takut, trauma, dan gangguan yang panjang.
Dan tentang mantan suaminya? Mbak Nina tidak pernah tahu lagi kabarnya. Tidak ada nafkah, tidak ada kabar, tidak ada peran—seolah orang itu hanya meninggalkan bayang, lalu menghilang begitu saja, sementara Mbak Nina harus membangun hidup dari serpihan yang tersisa.
Yang bisa ia pegang sekarang hanya satu: ia memilih balik arah. Mendekatkan diri pada Tuhan, membesarkan anak-anaknya dengan cara yang lurus, dan menjadikan cerita ini sebagai peringatan—bahwa jalan pintas yang menjanjikan miliaran bisa saja meminta sesuatu yang paling kita cintai, bahkan sebelum kita sempat sadar apa yang sedang kita pertaruhkan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.