Tahun 2021, Mas Robi menjalani hidup yang, dari luar, terlihat biasa saja. Ia kerja sebagai sales mobil—kadang pulang sore, kadang pulang tengah malam, bahkan tak jarang baru sampai rumah menjelang subuh karena mengejar calon pembeli yang baru bisa ditemui jam-jam ganjil. Capek, iya. Tapi ada hasilnya: pelan-pelan Robi bisa punya kendaraan sendiri, bisa nyicil rumah, dan tetap menyambung relasi keluarga.
Di antara sekian sepupu, Robi paling dekat dengan Dini. Dulu, sejak Dini masih kecil, mereka sering main bareng. Tapi setelah Dini menikah dan punya anak, Dini berubah jadi lebih pendiam, lebih tertutup. Karena itu, ketika suatu pagi Robi melihat notifikasi di grup keluarga—foto anak kecil terbaring dengan infus dan caption minta doa—dadanya langsung turun.
Anak itu namanya Aldi, usia dua menuju tiga tahun. Robi langsung japri Dini menanyakan sakitnya apa. Jawaban Dini malah makin bikin Robi bingung: “Belum tahu. Gejalanya kejang-kejang tiap sore, habis asar sampai magrib makin parah.” Seolah jamnya sudah dijadwalkan.
Sore itu Robi menyempatkan nengok ke rumah sakit. Ia melihat sendiri Aldi demam tinggi, sesak napas, nangisnya pecah—bukan nangis manja, tapi nangis yang seperti menahan rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan anak seusia itu. Yang lebih mengganggu, setiap menjelang magrib kondisinya naik turun tidak wajar, lalu perawat memberi obat penenang agar Aldi bisa tidur.
Beberapa hari berikutnya, Dini mengabari dokter bilang Aldi tidak punya penyakit yang berarti. “Cuma panas biasa,” kata dokter. Tapi Robi menolak percaya—karena yang ia lihat bukan panas biasa. Dan ketika Aldi sempat pulang, lalu kumat lagi dengan gejala lebih brutal: gigi mengunci, air liur keluar, mata mendelik ke atas—Robi merasa ini bukan sekadar urusan medis.
Di rumah Dini, situasi tambah janggal. Seorang tetangga datang menjenguk, lalu mendadak kesurupan di depan mata mereka. Kejadian itu membuat Robi makin yakin: ada sesuatu yang “menumpang” di balik sakit Aldi. Dalam perjalanan mengantar Dini membawa Aldi ke rumah sakit kedua, Dini akhirnya membuka cerita lain yang ia simpan: beberapa malam terakhir, rumah mereka sering terdengar suara ledakan keras seperti petasan—dan anehnya, bunyinya terasa “masuk ke rumah”, bukan dari jauh.
Robi punya kenalan lama—seorang konsumen yang ia panggil Abah, orang yang paham jalur kejawen dan biasa dimintai tolong. Sore itu Robi mendatangi rumah Abah yang letaknya dekat sawah, suasananya sunyi, jauh dari keramaian. Abah mendengar cerita Robi, lalu berkata pelan, “Kayaknya ada yang enggak beres. Saya bantu doa dulu. Malam ini saya coba cari tahu.”
Robi membawa air doa dari Abah ke rumah sakit. Dan yang membuat bulu kuduknya berdiri: begitu Aldi melihat Robi datang, anak itu menjerit-jerit seperti mengenali sesuatu yang “mengancam” di tangan Robi. Saat air doa diusapkan, Aldi meronta hebat—bukan seperti kesakitan karena demam, tapi seperti ada yang terbakar dari dalam.
Malamnya, Abah meminta Robi datang membawa Tono—suami Dini—untuk mendengar hasil penerawangannya. Di ruang tamu, Abah bertanya tiba-tiba, “Mas Tono punya saudara yang lagi bangun rumah di pinggir kali?” Tono kaget. Ada. Tepatnya bibinya sendiri.
Abah lalu bercerita tentang “perjalanan” yang ia lihat: sebuah rumah besar, di dekat pintunya terpajang topeng kera yang mencolok. Di dalam rumah ada perempuan setengah baya berkebaya putih, tersenyum, ditemani laki-laki lebih muda berpakaian jas hitam. Di tengah mereka ada anak kecil perempuan umur sekitar enam tahun, sudah didandani seperti pengantin. Dan di belakangnya—anak kecil laki-laki yang baru dirias, baru disiapkan memakai jas kecil.
“Anak itu… anaknya sampean,” kata Abah kepada Tono.
Tono seperti disambar petir. Anak perempuan yang disebut Abah, katanya, memang sudah meninggal lebih dulu—anak pertama yang wafat cepat dan misterius. Abah menatap tajam: itu korban pertama. Sekarang Aldi yang sedang disiapkan jadi korban kedua. Dan semua itu, menurut Abah, terkait pesugihan siluman kera—pesugihan yang menagih “bayaran” bukan lagi uang, tapi darah keluarga.
Tono akhirnya mengaku: memang bibinya dulu hidup susah, dihina orang kampung, banyak yang nagih utang, rumah pun tak punya. Tapi mendadak dalam waktu singkat bibinya bangun rumah, lalu setelah itu anak perempuannya meninggal, dan sejak kejadian itu bibinya makin “melompat” kaya—seperti ada pintu rezeki yang dibukakan paksa.
Abah bilang satu kalimat yang bikin Robi merinding: “Kalau telat beberapa hari aja, anak ini sudah jauh.” Waktu mereka sempit. Abah meminta satu syarat untuk proses pemutusan: ayam cemani—yang susah dicari. Robi berkeliling, menelpon teman sana-sini, sampai akhirnya menemukan dan menebusnya mahal. Bukan soal uang lagi, ini soal nyawa.
Malam itu mereka kembali ke rumah Abah setelah magrib. Di ruang khusus yang penuh benda pusaka, Abah menyiapkan ritual: kemenyan, bunga, rokok kretek, kopi pahit-manis, teh manis-tawar—semua seperti alat “negosiasi” dengan sesuatu yang tidak bisa dilihat mata biasa. Robi dan Tono hanya duduk, menahan napas, menunggu apa yang akan terjadi.
Saat Abah mulai membaca bacaan, terdengar ledakan keras di luar. Abah menegaskan, “Jangan kaget.” Lalu suasana berubah: ada hentakan langkah berat—duk… duk… duk…—seperti makhluk besar berjalan di halaman. Abah menoleh ke satu titik lama sekali, seolah sedang berbicara dengan tamu yang tak terlihat. Keringat dingin membasahi tubuhnya.
“Berat,” gumam Abah.
Menurut Abah, siluman kera datang karena merasa “terusik”. Ia menganggap Aldi sudah jatahnya, sesuai perjanjian. “Saya harus ambil, karena ini sudah saatnya,” begitu kata yang disampaikan Abah menirukan ucapan makhluk itu. Negosiasi berlangsung tegang—bukan cuma adu kata, tapi adu kehendak.
Akhirnya Abah menawarkan pengganti: darah ayam cemani, sebagai imbalan agar Aldi dilepas. Setelah ayam disembelih dan darahnya “dibayar”, suasana mendadak lebih ringan. Abah menarik napas panjang dan berkata, “Alhamdulillah. Rantai ke anak ini sudah saya putus.”
Aldi, setelah itu, benar-benar membaik. Di rumah sakit, dokter tetap tak menemukan penyakit kronis, tapi gejala sesak dan kejangnya hilang. Seolah yang sakit bukan tubuhnya—melainkan sesuatu yang selama ini menindihnya dari arah yang tak terlihat.
Namun gangguan belum benar-benar berhenti. Dini mengabari masih ada suara letupan tengah malam—bedanya, kini bukan “masuk ke rumah”, melainkan seperti meledak di atas atap. Abah menafsirkan itu sebagai tanda: makhluknya masih ada, hanya jalurnya sudah diputus dari Aldi. Abah juga memberi pesan keras: jangan sampai keluarga punya “utang kecil” kepada pelaku. Jangan mau dibelikan jajan, jangan mau diberi apa pun—karena kadang celahnya justru dimulai dari hal receh yang membuat orang lengah.
Beberapa hari kemudian, kabar buruk datang lagi: mertua Dini mendadak sakit dan akhirnya meninggal. Dalam benak Robi, pola itu terasa kejam—seakan setelah Aldi diselamatkan, “bayaran” pindah ke korban lain dalam lingkar darah yang sama. Dan tepat setelah itu, bibi yang dicurigai justru makin menggila: rumahnya jadi gedong, mobil dibeli cash, sawah dibeli berulang-ulang, emas gelang menumpuk—dan yang paling membuat warga geregetan: ia makin sombong, seolah ingin menunjukkan pada kampung bahwa ia sudah menang.
Warga kampung geger. Semua curiga. Tapi tidak ada yang berani menindak, karena tidak ada bukti yang bisa dibawa ke jalur hukum. Yang tersisa hanya bisik-bisik, rasa waswas, dan satu pertanyaan yang menggantung di kepala banyak orang: kalau ini dibiarkan, korban berikutnya siapa?
Bagi Robi, pengalaman itu menutup satu pelajaran pahit yang sulit ditelan: kadang iblis tidak datang dari luar rumah. Kadang ia bersembunyi di keluarga sendiri—di balik senyum, di balik “sukses mendadak”, di balik rumah baru yang berdiri terlalu cepat untuk ukuran orang yang sebelumnya tak punya apa-apa. Dan ketika pesugihan sudah berjalan, yang paling rawan bukan orang jauh—melainkan anak kecil yang belum paham apa-apa, tapi bisa dipersiapkan diam-diam menjadi “pengantin” terakhir.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.