Di sebuah kampung di Jawa Tengah, ada satu aturan tak tertulis yang dipercaya warga sejak lama: kalau tiba-tiba nemu uang gepokan di jalan, jangan buru-buru senang. Bukan karena uang itu palsu, bukan karena takut pemiliknya mencari. Tapi karena uang seperti itu sering dianggap “umpan”—dan siapa pun yang memungutnya, bisa saja sedang menandatangani nasibnya sendiri.
Kisah ini diceritakan Mbak Diana, seorang perias jenazah yang dikenal punya kepekaan lebih. Setiap kali ia merias tubuh yang sudah terbujur kaku, kadang ia seperti “ditarik” melihat potongan kejadian sebelum kematian terjadi. Bukan untuk jadi pahlawan, tapi sekadar menjadi saksi—meski sering kali saksi tak bisa berbuat apa-apa.
Awal tahun 2016, setelah pulang dari Bali dan kembali menjalani kuliah di Cirebon, Mbak Diana mendapat telepon dari ibunya. Ada kerabat meninggal di kampung halaman ibunya di Jawa Tengah. Permintaannya spesifik: merias jenazah. Mbak Diana sempat ingin menolak karena perasaannya tidak enak, tapi akhirnya ia berangkat juga. Ada rasa seperti “dipanggil” oleh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Sesampainya di rumah duka, Mbak Diana terpaku. Jenazah yang terbujur di peti itu masih muda—remaja. Wajahnya pucat, ada lebam membiru, mulutnya sedikit terbuka seolah menyimpan rahasia. Yang membuat Mbak Diana makin dingin: ia merasa kenal.
Namanya Lidya. Mbak Diana mengenali tanda di wajahnya—ciri kecil yang melekat sejak Lidya masih balita. Dan seketika, ingatan masa kecil Mbak Diana kembali ke satu tempat yang selalu dibicarakan orang kampung dengan suara pelan: pohon kepuh atau randu besar di tikungan jalan, setelah area makam.
Pohon itu sudah lama dianggap “keramat”. Bukan cuma karena besar dan tua, tapi karena sering jadi lokasi kecelakaan, dan lebih sering lagi jadi tempat anak-anak hilang secara misterius. Kadang ditemukan, kadang tidak. Warga bahkan pernah mencoba menebang, tapi konon selalu gagal, seolah ada yang menjaga agar pohon itu tetap berdiri.
Tahun 2006, Lidya yang masih berumur sekitar tiga tahun bermain di sekitar pohon itu bersama teman-temannya. Sore menjelang malam, Lidya tak kunjung pulang. Orang tuanya panik, warga dikerahkan, tetangga ditanya satu per satu. Tapi tak ada yang melihat Lidya pergi jauh. Petunjuk terakhir: Lidya terakhir terlihat di sekitar pohon kepuh itu.
Karena tak ketemu juga, keluarga meminta bantuan seorang kiai kampung. Kiai itu yakin Lidya tidak diculik manusia, melainkan “disembunyikan” sesuatu dari area pohon tersebut. Warga pun melakukan pencarian dengan cara yang mereka percaya: kentongan dipukul, panci dibunyikan, daun kelor dibawa berkeliling, doa dibacakan di sekitar pohon—membuat suasana malam berubah seperti upacara darurat.
Hari pertama nihil. Hari kedua lebih menegangkan—angin di sekitar pohon mendadak kencang, kapuk randu beterbangan hanya di radius pohon itu saja, membuat warga merinding dan memilih berhenti karena takut ada korban lain. Hari ketiga pencarian dilanjutkan sampai menjelang subuh, lebih intens, lebih nekat.
Menjelang subuh itulah terdengar rintihan dari semak dekat pohon. Bukan suara anak kecil—lebih seperti rintihan orang dewasa. Kiai mendekat, warga ikut. Dan di sanalah Lidya ditemukan: tubuhnya kotor, ketakutan, matanya kosong. Ia hidup… tapi seperti ada bagian dari dirinya yang tertinggal di tempat itu.
Sejak hari itu Lidya berubah. Ia sulit bicara, lalu menjadi gagap dan seperti tenggelam dalam dunianya sendiri. Ia tumbuh sebagai anak yang “berbeda”—lebih banyak diam, menyendiri, sering berhalusinasi, dan akhirnya sekolah di SLB. Warga menganggap itu akibat trauma. Tapi sebagian lainnya percaya: ada sesuatu yang sempat “menempel” sejak ia hilang tiga malam di dekat pohon kepuh.
Waktu berjalan, dan Lidya beranjak remaja. Sampai kemudian, ia ditemukan meninggal di usia sekitar tiga belas tahun—mendadak, tak wajar, tubuhnya kaku seperti mengering lebih cepat dari seharusnya. Di titik itulah Mbak Diana datang sebagai perias jenazah, membawa kemampuan yang kadang terasa seperti kutukan.
Saat merias dan menyentuh tangan Lidya, Mbak Diana merasakan aura yang berbeda. Rumah duka ramai, tapi di sekelilingnya terasa sunyi. Seolah ada sesuatu berdiri tepat di belakangnya—menunggu didengar. Mbak Diana pun mencoba “membuka” pesan, menahan napas, menahan takut, dan membiarkan penglihatan itu datang.
Yang ia lihat membuat dadanya runtuh: kematian Lidya bermula dari uang segepok yang ia temukan. Bukan di pasar, bukan di jalan jauh—melainkan dekat rumah, seperti uang yang sengaja “ditaruh” untuk ditemukan. Karena Lidya tak benar-benar paham nilai uang, ia menyimpan sebagian di bawah bantal dan memakai sebagian untuk jajan.
Ibunya menemukan uang itu, kaget, lalu bertanya dari mana. Lidya hanya bisa menunjuk-nunjuk—ia “nemu”. Sang ibu, seperti kebanyakan orang yang sedang butuh, mengira itu rezeki. Uang disimpan. Dan sejak hari itu, rumah mereka mulai diganggu: lampu sering mati lama, Lidya ketakutan, tidak nafsu makan, sering menunjuk jendela seolah ada sesuatu di luar yang tak dilihat orang dewasa.
Dalam penglihatan Mbak Diana, satu malam hujan besar, Lidya merasa ada yang mengetuk-ketuk di kolong ranjang ibunya. Ia minta pindah kamar, akhirnya kembali tidur di kamar sendiri. Dan di kamar itulah ia melihat sosok yang selama ini mengintai: makhluk besar berbulu, mirip kera raksasa, cakarnya panjang, matanya menekan. Lidya ingin menjerit tapi tubuhnya terkunci.
Makhluk itu mendekat, mencekik, lalu menarik “sesuatu” dari Lidya—seperti sukma yang dicabut paksa. Lidya diseret, rambutnya dijambak, dibawa ke sebuah ruang gelap yang terasa bukan bagian dari rumahnya. Di sana ada seorang pria sedang melakukan ritual: lilin, kembang, nampan, dan sesajen. Begitu sukma Lidya dibawa masuk, uang tiba-tiba berhamburan di atas nampan itu, menutup bunga-bunga. Pria itu terlihat senang luar biasa—seolah baru saja menerima pembayaran dari sesuatu yang ia pelihara.
Keesokan paginya, dalam penglihatan itu, Lidya ditemukan sudah meninggal. Tubuhnya kaku, kering, mulutnya menganga—seperti orang yang mati bukan karena sakit, tapi karena “ditarik”. Warga pun berbisik-bisik: ini wadal… tumbal. Dan bisik-bisik itu mengarah pada satu keluarga yang sudah lama ditakuti: keluarga Seku.
Konon keluarga Seku menjalankan pesugihan monyet atau “nyupang” monyet—turun-temurun dari nenek hingga ibu. Mereka kaya luar biasa, rumahnya besar, tapi warga enggan akrab karena takut dijadikan tumbal. Ciri praktiknya sederhana tapi mematikan: uang gepokan disebar di tempat-tempat tertentu, dibiarkan ditemukan orang yang “cocok”—biasanya anak kecil, gadis muda, atau mereka yang dianggap murni—lalu setelah itu, korban pelan-pelan digiring ke akhir yang tragis.
Mbak Diana merasakan arwah Lidya tidak damai. Dalam batin, Lidya seperti meminta tolong untuk dibebaskan. Tapi Mbak Diana juga sadar batas: ia hanya bisa menyampaikan pesan, bukan menyelamatkan sesuatu yang sudah terlanjur jadi bagian perjanjian gelap. Ia hanya bisa meminta Lidya tenang… meski itu terdengar seperti kata-kata kosong di hadapan tragedi sebesar itu.
Setelah proses rias selesai, Mbak Diana memberanikan diri berbicara pada ibunya Lidya. Ia menanyakan uang yang ditemukan itu. Sang ibu menangis dan mengakui: uang itu tiba-tiba hilang setelah Lidya meninggal, padahal disimpan di lemari. Seolah uang itu hanya “dipinjamkan” sebagai umpan—lalu ditarik kembali setelah tumbal didapat.
Warga kampung percaya, setelah kematian Lidya, keluarga pelaku membeli aset lagi: sawah, tanah, barang-barang besar—seperti pola yang selalu berulang. Tumbal hilang, kekayaan bertambah. Dan pohon kepuh di tikungan itu tetap berdiri sampai sekarang, seperti saksi bisu jalur lama yang tak pernah benar-benar putus.
Pesan yang tertinggal dari kisah ini sederhana, tapi menampar: kadang bahaya tidak datang dalam wujud seram yang bisa langsung kita hindari. Kadang bahaya datang dalam bentuk uang yang tampak seperti rezeki, tergeletak manis di jalan, memancing tangan untuk memungut… lalu pelan-pelan mengubah hidup seseorang jadi cerita duka yang tidak bisa diputar ulang.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.