Pak Kamis adalah seorang aktivis budaya di Cirebon. Ia biasa jadi tempat kumpul teman-temannya—ngopi, ngobrol, curhat sampai larut. Malam itu, awal Februari 2011, suasana rumah Pak Kamis seperti biasa, ramai di teras, sampai seorang teman memberi tahu ada seseorang berdiri di seberang gang, tapi tidak berani masuk.
Orang itu Pak Agus (nama samaran), seorang pedagang jajanan anak SD. Penghasilannya kecil sekali—kadang pulang cuma belasan ribu, bahkan pernah cuma tiga ribu. Namun yang paling membuatnya hancur bukan angka uangnya, melainkan hinaan: ia dibully keluarga istrinya, dianggap tidak layak jadi menantu, bahkan anaknya tidak diakui sebagai cucu.
Pak Kamis menghampiri Agus dan mengajak masuk. Agus menolak, meminta bicara berdua. Begitu di dalam rumah, Agus langsung to the point: ia butuh uang Rp35 juta. Pak Kamis sempat mengira mau pinjam modal usaha, sampai ia menawarkan cara sederhana—carikan gerobak, jualan apa, nanti Pak Kamis bantu beliin.
Agus justru menangis dan sujud-sujud. Ia bilang capek hidup miskin, capek dihina, capek melihat anaknya jadi korban. Dan kalimat yang bikin Pak Kamis terdiam keluar begitu saja: Agus ingin pesugihan. Bagi Agus, itu satu-satunya jalan cepat supaya ia diakui mertuanya.
Pak Kamis mencoba menahan. Ia mengingatkan pesugihan bukan mainan, bukan kontrak setahun dua tahun, tapi ikatan seumur hidup yang bisa menagih sampai mati. Agus tetap nekat, bahkan bilang tidak peduli mau jadi kodok atau ular—pokoknya ia harus kaya.
Keesokan subuh Agus datang lagi membawa istrinya. Istrinya bukan menenangkan, malah mendukung. Di situ Pak Kamis merasa ini sudah keputusan yang bulat, dan kalau tidak dibantu, Agus akan mencari jalan lain yang lebih gelap. Akhirnya Pak Kamis bersedia membantu sebatas mengantar.
Agus meminta Rp3 juta untuk membeli syarat-syarat. Mereka berdua ke pasar: beli kembang tujuh rupa, beras ketan hitam, ketan putih, beras putih, beras merah, kunyit, kain putih ukuran panjang, dan yang paling sulit: ayam jago putih yang benar-benar putih. Ayamnya mahal, sampai ratusan ribu, seolah pedagang pun paham ayam ini bukan untuk masak biasa.
Siang habis zuhur, Pak Kamis dan Agus berangkat pakai mobil sewaan ke arah pantai selatan perbatasan Jawa Barat–Jawa Tengah. Harusnya 4–5 jam, tapi karena nyasar, perjalanan jadi 11 jam. Mereka titip mobil di dekat gapura tua, lalu mendaki sekitar 8 kilometer menuju lokasi.
Sampai di dataran batu cadas, ada pohon besar seperti beringin dan celah batu sempit seperti pintu gua. Agus langsung maju mau masuk, tapi tiba-tiba ada orang tua menyapu—si kuncen—marah, melempar batu kecil sambil ngomel dalam bahasa Jawa. Agus cepat-cepat simpuh dan memohon: ia ingin sugih, ingin kaya, sudah capek dihina.
Kuncen akhirnya mengizinkan masuk. Di dalam gua, ruangnya ternyata melebar, ada penerangan dari lubang atas dan lampu petromak. Di tengah ada semacam sumur tanpa bibir—diameter 2–3 meter—airnya tenang tapi terasa “berisi”. Di salah satu sisi ada patung kepala buaya yang mulutnya menganga, seolah jadi gerbang ritual.
Syarat mereka diperiksa. Ternyata bunga kantil belum ada. Kuncen menyuruh Agus keluar, belok kiri, petik tiga bunga dari pohon kantil yang memang ada di dekat situ. Setelah lengkap, kuncen menegaskan pada Pak Kamis: rahasia yang dilihat malam itu tidak boleh diceritakan sembarangan.
Ritual dimulai di depan patung buaya. Agus disuruh memasukkan tangan ke mulut patung itu, mengambil batu putih seukuran bola tenis—sembilan biji. Lalu Agus duduk di tepi sumur dan melempar batu itu satu per satu sambil membaca mantra yang menyebut “Ratu Buaya Putih”. Setiap batu jatuh, air sumur beriak makin besar, sampai lemparan terakhir membuat permukaan air kacau seperti ada sesuatu bergerak dari bawah.
Setelah batu kesembilan, muncul seekor ikan sebesar bandeng di depan Agus. Kuncen berkata, “Makan sampai habis. Dari ekor dulu. Jangan menyebut asma Allah atau apa pun dari ajaran Nabi.” Agus memegang ikan hidup itu dan memakannya sampai habis—tanpa terlihat tulangnya, tanpa tersedak, seperti orang yang sudah “dituntun” untuk menelan sesuatu yang tak wajar.
Ritual lanjut: kembang dan beras warna-warni ditabur ke sumur. Ayam putih dilepas, bulu lehernya harus dicabut pakai mulut, lalu lehernya digigit sampai mati—tanpa pisau. Bangkai ayam dilempar ke sumur, dan seolah ada yang menyambar dari bawah begitu cepat hingga ayam lenyap dalam sekejap.
Kuncen menyatakan perjanjian diterima. Agus diwajibkan melakukan ritual rutin tiap Kamis Wage: menyiapkan ayam putih, mencabut bulu leher dengan mulut, menggigit sampai mati, lalu memakan mentah. Ada larangan buang hajat di kamar mandi; Agus harus menyiapkan ruangan khusus.
Agus juga diperintah membongkar lantai satu kamar—tidak boleh ubin, tidak boleh semen—lalu menguruknya dengan pasir sungai setinggi dua jengkal. Di tengah kamar, ada sesuatu yang harus “ditanam”. Dan yang paling menegangkan: kuncen mengeluarkan sebuah telur besar seperti telur angsa dari mulut patung buaya. Telur itu harus dijaga lebih dari menjaga nyawa sendiri—tidak boleh pecah.
Sebelum pulang, Agus diperingatkan: ini pertama dan terakhir kalinya ia datang. Apa pun yang terjadi, ia dilarang kembali ke tempat itu. Pak Kamis pun ikut diingatkan: jangan cerita, kecuali pada orang yang benar-benar berniat menempuh jalan yang sama.
Perjalanan pulang terasa cepat—sekitar lima jam. Pak Kamis mengantar Agus sampai depan rumahnya. Dan di situlah, seolah baru saja turun dari ritual, tagihan pertama datang tanpa jeda: anak sulung Agus, Johan, sudah meninggal. Tubuhnya biru. Rumah ramai orang. Istri Agus histeris, memukul-mukul Agus, sementara Agus terlihat seperti orang yang mencoba berdamai dengan sesuatu yang sudah ia sepakati sendiri.
Besoknya Agus datang lagi ke Pak Kamis, minta pinjam uang untuk membongkar kamar dan membeli pasir sungai sesuai perintah. Pak Kamis menolak. Baginya, bantuan sudah cukup sampai mengantar—setelah tahu tumbal pertama langsung jatuh, ia tidak mau ikut semakin jauh.
Beberapa waktu berlalu, Agus muncul lagi dengan motor baru. Ia bahkan menggoda Pak Kamis untuk ikut pesugihan karena “enak”. Ia juga mengembalikan uang Rp3 juta plus tambahan, tapi Pak Kamis merinding—uang itu ia terima, namun ia tak berani memakainya.
Agus bercerita, saat butuh biaya bongkar kamar dan uruk pasir, ia membuka pintu kamar dan menemukan uang di tengah kamar—pas Rp1.600.000, cukup untuk tukang dan material. Dari situ Agus makin yakin jalannya benar, dan ia melaju.
Tahun-tahun berikutnya, kabar Agus makin besar. Ia jadi juragan kain, membuka toko di banyak kota, mobilnya mewah. Orang-orang hanya melihat hasilnya, tanpa tahu dari mana pintu kekayaan itu terbuka.
Sampai tahun 2022, Agus mendadak datang ke rumah Pak Kamis lagi—kali ini bukan dengan sombong, melainkan menangis. Ia bilang enam hari lagi waktunya tiba: tumbal kedua harus jatuh, dan yang diminta adalah anak bungsunya, Ari.
Agus memohon pada Pak Kamis untuk mengantar kembali ke tempat pesugihan itu, berharap ada cara “membatalkan”. Pak Kamis mengingatkan lagi larangan kuncen: Agus dilarang kembali. Namun Agus sudah gelap. Pak Kamis akhirnya hanya bisa memberi saran: cari praktisi lain yang mungkin bisa membantu, seorang bernama Ujang.
Dua hari setelah Agus pergi, istri Agus menelpon panik: Ari sakit aneh—panas-dingin ekstrem, tubuh melemah, hanya bisa mengedip. Enam hari berlalu, tragedi terjadi bertubi-tubi: Ari meninggal di rumah sakit dengan tubuh biru seperti Johan dulu. Di saat bersamaan, rumah Agus meledak dan terbakar, istrinya terperangkap dan meninggal. Rumah itu bahkan ambruk rata, seperti runtuh bukan cuma karena api, tapi karena sesuatu yang “dicabut”.
Agus menghilang. Berbulan-bulan tidak ada kabar. Empat bulan kemudian, barulah terungkap: Agus ditemukan meninggal tenggelam di sungai wilayah Cilacap. Pakaiannya compang-camping seperti orang linglung. Anaknya yang tersisa, Marni, mengenali dari foto yang beredar di media.
Pak Kamis sempat mendatangi Ujang untuk mencari jejak. Dari sana ia tahu, Agus memang sempat meminta pemutusan perjanjian, dan upaya itu justru memicu kemarahan yang lebih besar. Seolah makhluk yang memberi “kemudahan” tidak mau kontraknya diputus sebelum semua syarat selesai.
Lebih mengerikan lagi, kuncen bercerita Agus sempat kembali ke mulut gua sebelum mati—lempar batu sambil ngamuk dan menangis, meminta anak dan istrinya dikembalikan, menawarkan semua harta diambil lagi. Tapi saat pintu sudah dibuka lewat perjanjian, tidak semua bisa ditawar ulang.
Kisah ini menutup dirinya sendiri seperti lingkaran yang pahit: yang dikejar Agus adalah pengakuan dan kekayaan instan. Yang ia dapat memang toko kain dan mobil mewah. Tapi yang ia bayar adalah anak sulung, anak bungsu, istrinya, rumahnya, dan akhirnya dirinya sendiri.
Dan Pak Kamis—yang hanya jadi pengantar—mengaku sampai hari ini masih merasa berdosa dan menyesal. Ia sering berkata dalam hati: seandainya dulu ia menolak membantu, mungkin kisahnya tidak akan sejauh itu. Tapi yang sudah terjadi tetap menjadi peringatan keras—bahwa kekayaan dari jalan gelap bisa tampak nyata, namun tagihannya tidak pernah main-main, dan sering kali yang dibayar adalah keluarga sendiri.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.