Tahun 2017, Mbak Titing ada di masa paling galau dalam hidupnya. Kerjaan belum dapat, modal buat dagang juga nggak punya. Alih-alih diam di rumah, ia memilih keliling, cari info, siapa tahu ada peluang. Dari situlah ia pulang ke rumah keluarga besarnya—dan tanpa disangka, ia ketemu lagi teman kecil yang sudah lama hilang kontak: Reni.
Dulu Reni hidup sederhana. Rumahnya biasa, serba pas-pasan. Tapi sekarang, Reni seperti orang beda dunia: rumah orang tuanya sudah mewah, rumah pribadinya lebih besar lagi, mobil berjejer, bahkan ada satpam. Reni cuma ketawa saat dipuji, seolah semua itu hal biasa.
Reni bilang ia merintis usaha kuliner bareng suaminya, Pak Joni. “Kecil-kecilan,” katanya. Tapi ketika Mbak Titing diajak lihat langsung, yang disebut kecil-kecilan itu ternyata rumah makan mie yamin bakso di pinggir jalan, lumayan besar, dan ramai dari pagi. Reni juga sedang butuh karyawan tambahan. Mbak Titing yang sedang butuh kerja akhirnya menerima tawaran itu.
Hari pertama kerja, Mbak Titing ditempatkan membantu bagian masak dan racik bumbu bareng Teh Hana. Dari awal, suasana warung terlihat normal. Tapi ada kebiasaan yang bikin Mbak Titing menahan tanya: tiap pagi Reni selalu bawa air mineral botol kecil. Air itu dibagi dua—separuh masuk baskom untuk lap meja, separuh lagi dituang ke kuah mie yamin.
Mbak Titing cuma memperhatikan, belum berani menyinggung. Tapi efeknya terasa ganjil: begitu warung buka, pembeli datang seperti nggak ada rem. Antrian nggak putus, meja nyaris nggak pernah kosong, sampai menjelang tutup pun masih ada yang datang.
Suatu hari, ada ibu-ibu datang dengan anak kecil usia sekitar lima tahunan. Si anak mendadak nangis histeris dan menolak masuk. “Mama nggak mau, takut!” teriaknya sambil mundur. Ibunya sampai malu sendiri, minta maaf karena mengganggu orang makan.
Setelah agak reda, ibunya mengaku pada Mbak Titing: anaknya bilang melihat sosok tinggi besar berbulu hitam, bermata besar, bertaring, melotot ke arah mereka. Anak itu syok—diam, gemetar, seperti habis melihat sesuatu yang seharusnya tidak ada di warung makan.
Malamnya, Mbak Titing kebagian beres-beres sendirian sampai larut. Saat ia nyuci piring di dapur, bulu kuduknya mendadak berdiri. Ada rasa seperti “ditungguin”—bukan cuma perasaan, tapi seperti ada sosok berdiri di samping, makin lama makin tinggi. Ditambah bau amis menyengat, seperti lendir ikan, yang datang tiba-tiba dan bikin mual.
Mbak Titing masih berusaha menenangkan diri. Ia coba tanya pelan-pelan ke Teh Hana. Dan jawaban Teh Hana bikin dada makin sesak: ia sudah sering lihat yang begitu, cuma lama-lama terbiasa. Teh Hana juga cerita soal seorang karyawan, sebut saja Lucy, yang mendadak syok berat dan berhenti masuk kerja karena merasa diteror terus.
Lucy sempat dibawa ke klinik. Dokter bilang cuma asam lambung dan demam biasa. Tapi kondisi Lucy makin aneh—ketakutan, mata cekung, seperti melihat sesuatu yang terus mendekat. Dua-tiga hari kemudian, saat teman-teman menjenguk lagi, kamar kos Lucy terkunci dari dalam. Setelah didobrak, Lucy ditemukan sudah meninggal.
Yang bikin merinding, kata Teh Hana, tubuh Lucy lebam seperti habis dipukuli. Matanya melotot, dan posisinya seperti memegang leher sendiri. Padahal diagnosis dokter sebelumnya tidak mengarah ke hal separah itu. Sejak cerita itu, kecurigaan Mbak Titing mulai mengeras: ada sesuatu yang tidak wajar di balik ramainya warung ini.
Hari libur, Mbak Titing mendatangi rumah Reni. Ia makin bingung saat melihat Reni bersiap pergi ibadah ke gereja. Setahu Mbak Titing, Reni dulu Islam. Tapi Reni terlihat biasa saja, seolah itu bagian dari hidup yang sudah ia putuskan.
Akhirnya, Mbak Titing memberanikan diri bicara. Ia ceritakan kejadian anak kecil yang ketakutan dan pengalaman di dapur. Reni diam lama, lalu berkata pelan, “Kamu bisa jaga rahasia aku?” Setelah Mbak Titing mengangguk, Reni mengaku: ia dan suaminya menjalani pesugihan.
Pesugihannya, kata Reni, jalur Gunung Kawi. Ia mengaku terpaksa ikut agama suaminya, bukan karena yakin, tapi karena hidup sedang menghimpit: adiknya butuh biaya kuliah, ibunya sakit kanker dan pengobatannya mahal. “Aku kepepet,” begitu kira-kira maknanya. Di titik itu, Reni memilih jalan pintas—meski harus mengorbankan keyakinan yang dulu ia pegang.
Reni bahkan mengajak Mbak Titing ikut ke Gunung Kawi menemui seorang kuncen, Mbah Sapri. Di sana, Mbak Titing melihat sendiri sesuatu yang membuatnya dingin: Reni menyerahkan data dan rambut dalam plastik berbeda. Rambut A, rambut B—dua nama untuk “setoran” tahunan, katanya.
Mbah Sapri masuk ke dalam, lalu keluar membawa air dalam jerigen kecil dan instruksi yang membuat Mbak Titing ingin muntah: rambut itu ditanam di rumah, airnya dipakai untuk jualan dan tempat jualan. Dan ada peringatan yang tegas: “Jangan telat. Tidak ada toleransi.”
Malam Mbak Titing menginap di rumah Reni, ia mendengar hal yang membuatnya yakin semuanya nyata. Ia melihat suami Reni membawa nampan sesaji: ayam bekak yang terlihat hitam seperti gosong, buah-buahan lengkap, dan suasana rumah mendadak berubah dingin serta amis. Dari kamar khusus terdengar tawa besar, berat, seperti dari tenggorokan makhluk—bukan tawa manusia.
Keesokan harinya, Mbak Titing dikirim mengantar rekapan ke rumah Reni. Ia menunggu lama, sampai tiba-tiba salah satu ART yang baru kerja seminggu jatuh mendadak. Tidak ada air tumpah, tidak terpeleset—jatuhnya seperti direnggut. Dibawa ke klinik, dokter menyebut serangan jantung. Tapi Mbak Titing sempat melihat punggungnya: lebam biru seperti bekas pukulan.
Tak lama berselang, kejadian “anak kecil ketakutan” muncul lagi. Anak usia tiga tahunan menangis histeris, bilang “atut… atut…”—takut—dan menolak masuk. Polanya berulang, seolah makhluk yang “ada di situ” memang tidak peduli lagi untuk bersembunyi dari mata bocah.
Puncaknya terjadi saat Mbak Titing ikut Reni menghadiri acara di tempat makan mewah. Ada pelayan membawa makanan panas dan gelas. Tiba-tiba pelayan itu jatuh seperti didorong. Kuah panas tumpah, pecahan gelas menancap, dan seorang anak meninggal di UGD karena kehabisan darah. Yang membuat Mbak Titing gemetar: ia melihat lebam di tubuh anak itu—mirip lebam yang ia lihat pada Lucy, juga pada ART yang jatuh.
Reni justru terlihat tenang, terlalu tenang, seperti orang yang sudah “paham alur”. Ketika Mbak Titing menuduh ini bagian dari setoran, Reni hanya diam—dan kemudian mengakui dengan pahit: ia kehabisan orang untuk disetorkan. Kalimat itu menancap seperti paku, karena artinya jelas—yang mereka sebut rezeki itu dibayar dengan nyawa.
Mbak Titing akhirnya memilih resign. Reni bahkan memaksa memberi uang besar, sampai puluhan juta, tapi Mbak Titing tidak sanggup menyentuhnya. Ia menyimpannya terpisah, tidak dipakai, lalu pada akhirnya ia kembalikan karena takut “ketarik” ke jalur yang sama.
Bertahun-tahun setelah itu, Mbak Titing baru tahu Reni punya anak—dan kondisinya disabilitas. Anak itu disembunyikan, seolah Reni malu. Lalu kabar berikutnya lebih gelap: anak itu meninggal mendadak, tubuhnya lebam seperti orang dipukuli, padahal tidak sakit apa-apa. Tak lama kemudian, ibunya Reni pun menyusul meninggal setelah lama berobat.
Di titik itu, Mbak Titing memutus total hubungan. Ia menghapus nomor Reni, menjauh, dan memilih hidup apa adanya—capek sedikit asal berkah, katanya. Karena bagi Mbak Titing, kisah ini bukan sekadar cerita mistis: ini pelajaran tentang jalan instan yang kelihatannya manis, tapi di belakangnya ada tagihan yang lebih mahal daripada uang.
Dan yang paling menyayat, warung itu—beserta cabang-cabangnya—masih tetap ramai. Dari luar, orang cuma melihat mie yamin bakso yang “enak banget” dan “nggak pernah sepi”. Tapi bagi Mbak Titing, setiap antrian panjang punya bayangan yang tak terlihat: perjanjian kelam yang dibayar diam-diam, setahun dua nyawa—dewasa dan anak-anak—demi menjaga panci tetap mendidih dan meja tetap penuh.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.