Tahun 2014, Teh Dewi mendapat tawaran yang buat siapa pun terdengar menggiurkan: direkrut langsung oleh owner sebuah radio ternama di salah satu kota di Jawa Barat. Alasannya sederhana—Dewi punya nama, pernah dapat predikat penyiar terbaik, suaranya kuat, pembawaannya enak. Masalahnya, radio itu punya reputasi yang lain: angker, dan sudah jadi bahan omongan warga sekitar.
Teh Dewi bukan orang yang baru kenal dunia “begitu”. Sejak kecil ia memang sensitif. Bukan cuma mudah merinding, tapi bisa menangkap pertanda, kadang bisa melihat, bahkan bisa berinteraksi. Justru karena itu, ia merasa harus lebih hati-hati. Tapi kebutuhan hidup tak bisa ditunda, apalagi Dewi saat itu menanggung anak-anak dan harus jalan terus.
Jarak rumah Dewi jauh dari kantor radio, dan ia butuh tempat tinggal. Cari kos tidak dapat yang cocok—lingkungan tak nyaman, kamar mandi di luar, banyak yang membuatnya ragu. Akhirnya Dewi meminta izin tinggal di studio, dan owner mengizinkan. “Kamu tinggal di sini aja,” begitu katanya, seolah semuanya akan baik-baik saja.
Bangunan studionya tidak besar, tapi ruangannya bertingkat fungsi. Di depan ada ruangan luas seperti bekas kantor. Bagian tengah ruang rapat dan kantor manajer. Ada ruang mesin pemancar, lalu di belakang ada kamar-kamar kecil untuk istirahat. Tepat di belakang area itu ada sumur tua dan kamar mandi yang suasananya lembap, dingin, dan seperti selalu ada mata yang menatap.
Malam pertama saja Dewi sudah merasa ada yang janggal. Ia mendengar suara timba sumur dikerik berulang-ulang, seakan ada yang menimba air berjam-jam. Dewi mengira itu anak-anak yang biasa tidur di depan studio, atau ada orang mandi. Tapi saat ia cek sendiri, sumur dan kamar mandi kosong—kering, sunyi, tak ada siapa pun.
Malam kedua Dewi pindah ke kamar belakang yang lebih “aman” kata owner—karena akses pintunya tidak langsung ke luar. Tapi justru di kamar itulah Dewi melihat penampakan yang membuat banyak orang pasti kabur: kuntilanak muncul, menangis, kadang duduk dekat ranjangnya. Anehya, Dewi memilih cuek. Ia baca doa, memalingkan hati. Baginya, meladeni rasa takut cuma akan membuat gangguan makin menjadi.
Pagi harinya Dewi menemukan taburan bunga melati di sekitar kamarnya. Tidak ada yang mengaku menabur. Dewi menyapu saja, mencoba meyakinkan diri bahwa itu cuma ulah iseng atau hal yang tak perlu dibesarkan. Ia lalu menjalani rutinitas—menyalakan mesin, menyiapkan siaran, menunggu penyiar lain datang.
Di tempat itu ada tradisi program malam Jumat: segmen kisah misteri dan pengobatan jarak jauh lewat telepon interaktif bersama seorang ustaz. Karena Dewi yang tinggal di studio dan penyiar senior jauh rumahnya, Dewi diminta menggantikan. Ustaz itu memperhatikan Dewi dan menyebut sesuatu tentang “weton” serta pembawaan yang membuat makhluk-makhluk di sana bisa tunduk—bukan karena Dewi kuat, tapi karena ada garis leluhur dan “tanda” tertentu.
Malam Rabu Wekasan menjadi salah satu malam paling berat. Dewi didatangi sosok “cebol” bertaring, kuping lebar, bergerak cepat—mengaku sebagai penguasa wilayah itu. Ia memperkenalkan diri dengan gaya yang membuat jantung seperti jatuh: dia datang bukan untuk minta maaf, tapi untuk menegaskan kuasa. Ia bahkan menyebut persembahan tertentu yang mengandung unsur daging mentah, seolah itu hal biasa di wilayahnya.
Di depan Dewi, sosok itu sempat berubah wujud—dari kecil menjadi besar, hijau, menakutkan. Tapi di sela teror itu, ia juga berkata hal yang membuat Dewi bingung: ia tidak berniat memangsa Dewi. Ia mengaku melindungi Dewi dari manusia yang iri dan berniat jahat. Kalimat itu seperti peringatan: bahaya terbesar bukan hanya dari “yang tak terlihat”, melainkan dari orang yang terlihat setiap hari.
Tak lama setelah pertemuan itu, owner justru memanjakan Dewi. Kasur diganti baru, kulkas disiapkan, peralatan dapur dibereskan. Dari luar terlihat baik, tapi di lingkungan kerja, perhatian seperti itu sering memantik iri. Dan benar, tiga hari kemudian Dewi libur pulang, lalu ketika balik, semua barang bagus sudah diganti dengan barang jelek. Kulkas pintunya copot, kasur berubah, peralatan lenyap. Ternyata ada orang yang pegang kunci duplikat.
Dewi melapor ke owner. Keributan terjadi. Sejak itu, Dewi merasa atmosfer kantor berubah: tatapan sinis, bisik-bisik, dan perlakuan yang makin kasar. Seolah ada tangan yang mengatur orang-orang untuk memusuhi Dewi, membuatnya sendirian di tempat yang sejak awal sudah tidak ramah.
Di tengah tekanan itu, Dewi mengalami kejadian lain yang tak kalah mencekam: kuntilanak yang tadinya mengganggu ternyata punya cerita. Dewi berinteraksi dan mengenal namanya—Yusniah—sosok perempuan berseragam SMA, cantik, namun hamil. Yusniah mengaku dibunuh dan dikubur di area yang kini menjadi lapangan futsal dekat studio, dulu rumah tua peninggalan Belanda.
Yusniah hanya ingin “disempurnakan”—dititip doa, ditawasuli, agar kisahnya tidak menggantung. Dewi mengajak pemilik futsal menelusuri titik yang ditunjuk, dan akhirnya mereka sepakat: setiap malam Jumat, cukup kirim Al-Fatihah dan doa. Setelah itu Yusniah menghilang, tidak lagi mengikuti Dewi.
Namun “penguasa” yang mengaku Ki Gede itu datang lagi. Ia bercerita bahwa wilayah tersebut memang sering dimanfaatkan untuk pesugihan, karena area industri membuat perputaran uang besar—dan tumbalnya pun “berat”. Dewi mendengar kalimat yang membuatnya ingin muntah: ada orang besar yang menumbalkan anaknya sendiri. Seolah nyawa bisa jadi transaksi di meja yang tak terlihat.
Sejak saat itu, Dewi makin curiga ketika sering menemukan sajen di sekitar sumur: kelapa hijau, hio, kopi, jajanan pasar, bubur merah putih, air bunga, ikan asin panggang, sampai telur busuk—ditutup kain putih. Dewi tidak berani mengutak-atik. Ia memilih wudu dan zikir, mencoba bertahan di tengah ruangan yang terasa seperti tempat orang “menaruh sesuatu”.
Lalu datang peringatan paling tegas: malam Selasa Kliwon, Dewi jangan berada di kamar itu. Dewi terjebak jadwal siaran dan sulit tukar libur. Anehnya, tak ada satu pun rekan yang mau menggantikan—seakan semua orang “ditutup pikirannya”. Dewi akhirnya memilih tidak siaran dan menyingkir ke warung seberang, berjaga sampai pagi, karena rasa takutnya benar-benar sudah sampai di ubun-ubun.
Pagi-pagi saat ia kembali, teror itu seperti menunggu hadiah. Di kasurnya ada ular kobra. Bukan satu—tapi tujuh. Anak-anak yang biasa tidur di sekitar studio membantu menangkap, memasukkan ke kaleng biskuit besar, tapi ketika kaleng dibuka untuk dibuang, ular-ular itu seperti menghilang begitu saja, tidak wajar. Seolah yang datang itu bukan murni ular, tapi “pesan” dari orang yang ingin membunuh tanpa meninggalkan jejak.
Dewi mendapat kabar dari warga sekitar: malam itu ada sosok bapak-bapak seperti dukun terlihat masuk ke studio membawa karung, padahal pintu terkunci tinggi. Ia masuk seolah menembus, lalu menghilang. Dewi makin yakin: ini bukan lagi gangguan biasa, ini sudah upaya nyata menghabisi.
Ular juga pernah muncul di ruang siaran—melilit dekat mic, membuat Dewi menjerit dan lari. Ustaz datang, mencari, tapi ular itu tak ditemukan. Dari penyelidikan ustaz dan gurunya, kesimpulannya makin jelas: Dewi harus keluar dari tempat itu. Karena yang dendam bukan cuma orangnya, tapi “jalurnya” juga.
Di masa-masa itu tubuh Dewi drop. Kakinya sakit seperti ditusuk-tusuk, hingga harus digosok dan “keluar pasir” dari kulitnya—sesuatu yang membuat orang sekitar merinding menyaksikan. Dewi disebut kena kiriman dari orang iri, dan gangguan itu sengaja dibuat untuk merusak hidupnya pelan-pelan: uang iklan hilang, produk iklan lenyap, Dewi dituduh macam-macam, padahal ia memegang kunci dan sering sedang tidak berada di studio.
Yang paling membuat Dewi yakin soal hukum tabur tuai adalah kabar berikutnya: orang yang dicurigai mengirim gangguan itu mendadak kena stroke, jatuh dari motor, tidak bisa jalan. Banyak orang melihat itu sebagai “balik arah”—bukan karena Dewi membalas, tapi karena ada sesuatu di tempat itu yang seperti menolak ketidakadilan terjadi terlalu lama.
Akhirnya Dewi menyerah bukan karena kalah, tapi karena ingin selamat. Owner datang, meminta maaf, mengakui ada ulah saudara/kerabatnya yang keterlaluan, bahkan menawarkan Dewi dikontrakkan tempat tinggal yang lebih aman. Tapi Dewi sudah habis tenaga. Ia memilih resign. Baginya, anak-anak lebih penting daripada pekerjaan yang membuat nyawa seperti ditawar setiap malam.
Dewi menutup kisahnya dengan satu hal yang terasa pahit: tidak semua makhluk gaib itu jahat—kadang ada yang justru memberi peringatan. Tapi ketika sebuah tempat sudah dipakai jadi lahan pesugihan, dan orang-orang mulai menebar sajen serta mencari tumbal, maka yang paling bahaya bukan lagi penampakan—melainkan manusia yang bersekutu, iri, lalu merasa berhak menentukan siapa yang hidup dan siapa yang harus jatuh.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.