Malam itu Kang Diki sebenarnya cuma ingin hidup tenang. Ia bekerja di sebuah klinik swasta di Bandung, hari-harinya diisi rutinitas yang rapi: berangkat, pulang, tidur, dan mengulang lagi. Tapi sejak pertama kali ia tinggal di mes lantai empat klinik itu, ia mulai paham satu hal—ada tempat-tempat yang tidak pernah benar-benar kosong, meski terlihat sepi.
Di lantai empat itu ada tiga kamar berjejer, pintu dan dindingnya banyak kaca. Kang Diki memilih kamar paling ujung karena dekat balkon. Kamar itu kotor, kumuh, dan terasa lama tak dihuni. Ia bersih-bersih seadanya, lalu merebahkan badan. Baru malam pertama, ia melihat sesuatu lewat dari sudut mata—bayangan melintas di depan pintu kaca.
Ia bangun, membuka pintu, tak ada siapa-siapa. Namun beberapa saat kemudian, tubuhnya seperti ditiup dari belakang, dipaksa bergerak tanpa ia mengerti caranya. Di pojok ruangan, dekat kamar mandi, berdiri seorang perempuan tua dengan pakaian zaman dulu: kain, sanggul, dan tatapan yang tidak berkedip.
Bukan cuma muncul untuk menakuti, perempuan itu seperti “menegur.” Kang Diki merasa seakan dibawa melihat masa lampau—tempat klinik itu berdiri dulu hanyalah kebun, sawah, dan jalan setapak. Seolah perempuan itu ingin bilang: “Aku sudah lebih dulu di sini.” Sejak malam itu, Kang Diki mulai belajar sopan pada ruang: izin saat datang, permisi saat makan, tidak sembarang bersuara di tempat sunyi.
Tahun-tahun berjalan, hidupnya tidak selalu mulus. Ia sempat menikah muda, lalu bercerai karena rumah tangga yang tidak sanggup ditahan. Stresnya membuat tubuhnya jatuh, pikirannya lepas kendali. Dalam kondisi itu, ia dibawa seseorang ke seorang sepuh di daerah Cianjur—bukan untuk berobat biasa, melainkan semacam “penguatan.”
Prosesnya aneh dan menyakitkan. Punggungnya seperti digores, lalu ada ritual yang membuatnya merasa tubuhnya bukan miliknya sendiri. Setelah pulang, ia berubah—lebih mudah panas, lebih cepat marah, seperti ada energi asing yang ikut menumpang di dalam dadanya.
Di mes klinik, perempuan sepuh yang dulu menampakkan diri kembali “menegur.” Bukan dengan suara lembut, tapi dengan kemarahan yang terasa menekan. Kang Diki sadar: ada sesuatu yang ikut terbawa pulang, sosok yang disebut-sebut seperti jawara, membuat emosinya meledak tanpa alasan.
Akhirnya ia meminta bantuan orang tuanya. Lewat doa dan cara yang sederhana—air, garam, dan pembacaan jarak jauh—energi itu berangsur reda. Ia kembali belajar menahan diri, kembali mencoba jadi manusia biasa. Ia pikir, gangguan macam itu akan berhenti sampai di situ.
Ternyata tidak. Beberapa tahun kemudian, datanglah Dodo—driver baru pimpinan klinik. Usianya tak jauh dari Kang Diki, cepat akrab, dan mudah curhat. Dodo punya masalah: pacarnya berbeda agama, keluarganya menolak, kakak pacarnya marah besar. Dari sana hidup Dodo mulai berantakan: utang, pinjol, ancaman, sampai segerombolan orang datang ke klinik mencari namanya.
Kang Diki ikut terseret. Nomornya dipakai sebagai kontak darurat pinjol tanpa izin. Ia marah, tapi Dodo memelas, bilang tak punya siapa-siapa. Dan seperti banyak orang yang sudah terlanjur dekat, Kang Diki akhirnya menelan kesal itu, berharap masalah selesai dengan sendirinya.
Namun Dodo punya luka yang lebih gelap: sakit hati. Ia merasa dihina, diludahi, dicaci. Dan orang yang sakit hati sering kali tidak butuh nasihat—yang ia cari adalah pembuktian. Suatu hari Dodo meminta diantar ke Pangandaran, katanya ada “urusan.” Kang Diki menolak, tapi Dodo memaksa sampai akhirnya ia mengalah.
Mereka berangkat malam, perjalanan panjang membuat perasaan Kang Diki tidak enak sejak awal. Dodo baru mengaku di perjalanan: ia ingin “pinjam uang gaib.” Ia percaya ada cara agar uang ditransfer langsung ke rekening, nominalnya bukan jutaan—tapi miliaran.
Di Pangandaran, mereka menemui seorang juru kunci perempuan. Dari awal suasananya sudah terasa janggal: ada pilihan “jalur,” ada biaya, ada buku tamu bermaterai, ada aturan jam-jam tertentu. Dodo memilih salah satu jalur, lalu mereka diarahkan masuk ke area keramat yang dipenuhi pepohonan besar dan hawa lembap yang seperti menempel di kulit.
Kang Diki melihat sesuatu yang membuat tengkuknya kaku: seakan banyak “penghuni” menyambut kedatangan mereka. Bukan satu-dua, tapi seperti kerumunan yang senang melihat manusia tersesat masuk. Ada yang tinggi besar, ada yang menyerupai perempuan, ada yang bentuknya sulit dijelaskan—dan semuanya terasa hidup, meski tak bersuara.
Dodo dibawa ke “keramat dua” untuk menjalani ritualnya. Kang Diki, yang hanya mengantar, ditinggal sendirian di bawah dekat warung yang akhirnya tutup. Hutan yang tadinya terasa seperti hutan berubah jadi seperti “kampung lain”—penuh suara ketawa, tangis, bisik, dan langkah yang tidak terlihat. Mobilnya bahkan sempat digoyang pelan, seperti ada yang menguji nyalinya.
Karena ketakutan dan sesak, Kang Diki memilih bertahan di musala dekat sumur keramat satu. Ia wudhu, salat, lalu wirid pelan-pelan. Di titik tertentu, suara-suara yang semula ramai mendadak hening. Dan dari kejauhan, muncul cahaya kecil yang membesar menjadi sosok perempuan cantik berkebaya, menatapnya sebentar lalu pergi.
Malam berikutnya sosok itu datang lagi, kali ini berbeda: lebih “berwibawa,” memakai mahkota, dan membawa selendang yang aneh—seperti irisan daging tipis. Kang Diki tidak berani menafsirkan, hanya menahan napas, menjaga bacaan, menjaga diri agar tidak bereaksi berlebihan. Ia merasa dirinya sedang berada di perbatasan: kalau ia tergelincir sedikit, ia bisa dibawa lebih jauh.
Setelah tiga hari, Dodo akhirnya turun dari hutan dalam keadaan lemas, seperti habis diperas. Dodo bercerita mengalami tekanan hebat: didatangi sosok-sosok yang menyuruh pulang, ditakut-takuti, bahkan merasa seperti diserang saat memaksa bertahan. Namun Dodo mengaku satu hal yang membuat Kang Diki merinding—ia sempat diperlihatkan nomor rekeningnya secara jelas, bahkan nominal sekitar 4 miliar, seolah tinggal menunggu “transfer” terjadi.
Juru kunci memberi Dodo daftar sesaji untuk dilakukan setelah pulang: bunga, buah, rujak, kopi manis dan pahit, susu, sate mentah, dan beberapa perlengkapan lain. Masalahnya, Dodo tak punya uang. Lagi-lagi Kang Diki yang membelikan, berharap cukup sekali agar temannya berhenti.
Dodo menjalankan sesaji beberapa hari, menunggu sesuai aturan sebelum cek rekening. Namun hasilnya nihil. Tidak ada uang masuk. Tidak ada transfer. Tidak ada keajaiban. Yang datang justru hal lain: tubuh Dodo makin pucat, sakit, lemah, seperti kehilangan sesuatu yang tidak terlihat.
Dodo akhirnya pulang ke Cirebon dalam keadaan tidak beres, hubungan cintanya berantakan, ibunya juga jatuh sakit. Kang Diki tidak tahu akhir hidup Dodo seperti apa karena komunikasi mereka putus, yang tersisa hanya kabar samar dan utang yang akhirnya ia ikhlaskan.
Kang Diki mengira semuanya selesai begitu Dodo pergi. Ternyata dampaknya tidak berhenti pada pelaku ritual saja. Beberapa bulan setelah kejadian itu, mobil Kang Diki mendadak rusak parah di jalan tol—turun mesin, lalu rusak lagi, sampai akhirnya ia memilih menjualnya murah hanya demi “membuang sial” yang terasa menempel.
Uang hasil jual mobil pun anehnya cepat habis, padahal ia merasa tidak membeli apa-apa. Seolah ada kebocoran tak kasat mata yang menguras pelan-pelan. Sampai akhirnya ia pulang menemui ayahnya, dan tanpa banyak tanya, ayahnya langsung memandikannya dengan daun tertentu sambil membacakan doa. Tubuh Kang Diki panas, lalu perlahan terasa ringan kembali.
Bertahun-tahun kemudian, hidup Kang Diki membaik. Ia menikah lagi, usahanya jalan, rezekinya mengalir. Tapi pengalaman itu meninggalkan bekas yang tidak hilang: pelajaran bahwa kadang yang paling berbahaya bukan ritualnya—melainkan langkah kecil “cuma mengantar” yang membuat kita ikut kecipratan, ikut terbuka, ikut jadi pintu bagi hal-hal yang seharusnya tidak kita sentuh.
Karena di tempat-tempat seperti pantai selatan, banyak orang datang membawa niat yang sama: ingin kaya cepat, ingin menang atas sakit hati, ingin membuktikan diri. Tapi tidak semua pulang membawa uang. Sebagian pulang membawa penyakit, sebagian pulang membawa kehilangan, dan sebagian—pulang membawa sesuatu yang tak kelihatan, tapi cukup untuk mengubah hidup selamanya.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.