Mbak Ais berangkat ke Jawa Timur dengan satu niat sederhana: cari uang untuk anaknya. Waktu itu tahun 2019, ia single mom, hidupnya serba dituntut cepat—kalau tidak kerja, dapur tidak ngebul. Ia menemukan lowongan lewat Facebook, model kerja di kafe karaoke, dengan iming-iming bayaran besar dan biaya transport ditanggung bos.
Dua hari setelah komunikasi beres, Mbak Ais dijemput travel. Perjalanan yang harusnya lurus malah memutar: sempat sampai Pemalang, lalu dipaksa balik lagi ke Karawang untuk jemput dua perempuan lain—Dewi dan Riska. Sejak awal, langkah mereka seperti “ditahan” dan “diputer” entah untuk apa.
Di titik penjemputan itu, keanehan pertama muncul. Di dalam mobil, salah satu dari mereka mendadak ngamuk seperti kesurupan. Mulutnya cuma mengulang kata “lapar”, tapi bukan lapar biasa—ia sempat minta sesuatu yang bikin semua orang pucat: “darah.” Di saat yang sama, pemilik warung yang mereka singgahi mendadak berpesan lirih, “Hati-hati kamu kerja di situ.” Mbak Ais masih menganggapnya wejangan biasa.
Mereka sampai di lokasi karaoke—daerah terpencil, jauh dari pemukiman. Bosnya disebut-sebut juragan paling kaya di situ, bahkan katanya punya tujuh istri (terpisah-pisah, bukan tinggal satu atap). Tempatnya bukan sekadar kafe biasa; di area itu, karaoke milik bos ini paling ramai, paling “padat”, dan paling sulit dikalahkan.
Mbak Ais dan teman-teman dibreefing oleh tangan kanan bos yang disebut Pak Imin. Aturannya tegas: mereka dikontrak tiga bulan dan dibayar sistem jam. Tapi ada satu pantangan yang aneh: tidak boleh makan malam sama sekali. Kalau lapar, paling mentok cuma camilan di hall; makanan berat dilarang total setelah magrib.
Tiga minggu pertama masih terasa normal—sampai Dewi “meledak” pamornya. Malam itu Dewi dipanggil bos, diberi bonus amplop dan makanan mahal. Semua iri, tapi sekaligus senang melihat temannya dapat rezeki. Hanya saja, malam itu juga Dewi jatuh dari tangga kecil yang bahkan tidak tinggi—tapi hasilnya seperti orang dihantam: wajah sobek, lutut ngelupas, darah di mana-mana.
Dewi dibawa ke rumah sakit. Empat hari mereka bergantian jenguk. Lalu suatu saat Dewi tiba-tiba bangun sambil teriak-teriak seperti kerasukan—lagi-lagi hanya satu kata yang diulang: “lapar.” Anehnya, diberi makan ia menolak. Seolah yang meminta itu bukan perut, melainkan sesuatu di dalamnya. Tak lama kemudian Dewi dipulangkan keluarganya, dan beberapa hari setelah itu kabar datang seperti palu: Dewi meninggal.
Setelah Dewi pergi, Mbak Ais dan Riska mulai sering “kebelet” makan malam karena kelelahan. Mereka akhirnya ngendap-ngendap rebus mie, makan di pojokan dekat WC supaya tidak ketahuan. Di momen itulah Riska mengaku melihat sosok besar di dekat dapur: tinggi, hitam, mata merah, bertanduk—mirip kera raksasa. Mbak Ais tidak melihat apa-apa, jadi ia menyepelekan.
Malam yang sama, mereka melihat Pak Imin mengendap masuk ke gudang yang katanya tidak terpakai. Rasa curiga menang. Mbak Ais dan Riska mengintip, lalu masuk diam-diam. Di dalam gudang itu, ada tempat yang seperti altar: penerangan lilin, bunga, kopi, ayam cemani, dan kepala hewan berwarna pucat seperti kerbau/sapi bule. Yang membuat napas mereka putus: ada foto Riska yang dililit benang dan diletakkan di antara sesajen.
Riska sempat menenangkan diri, “Mungkin biar laris.” Tapi Mbak Ais merasakan dingin yang berbeda: ini bukan penglaris biasa—ini seperti “alamat”. Mereka keluar, pura-pura tidak tahu apa-apa, dan mencoba melupakan.
Dua hari kemudian, Riska demam. Panasnya bukan panas wajar. Ia masih sempat bilang melihat sosok besar yang sama di belakang pintu mes. Mbak Ais tetap tidak percaya—sampai saat teror itu benar-benar meledak.
Di tengah jam kerja, Riska menjerit minta tolong. Mereka semua lari ke mes. Riska sudah kejang di lantai, mata melotot tidak merem, dan darah keluar dari mata, hidung, mulut, sampai telinga. Pak Imin sempat memeriksa dan menyebutnya “meninggal.” Semuanya syok, karena sebelumnya Riska cuma demam biasa.
Bos turun, tapi bukan untuk mencari sebab. Ia membreefing keras: kejadian itu harus ditutup rapat—jangan sampai orang luar tahu. Riska dibiarkan dulu di mes, terbungkus kain, sambil menunggu keluarga. Mbak Ais mulai paham: tempat itu bukan sekadar tempat kerja; ia seperti arena yang memakan orang satu per satu.
Tak lama, datang karyawan baru dari Karawang: Mei. Mbak Ais menceritakan tragedi Dewi dan Riska. Mei—yang ternyata lebih peka—langsung berbisik, “Ini enggak beres.” Ketika Mbak Ais dipanggil bos dan diberi bonus uang amplop yang baunya wangi “aneh”, Mei malah menyuruhnya membuang. Mbak Ais menolak, menganggap itu rezeki.
Malam berikutnya, Mei mengajak Mbak Ais mengecek gudang lagi—dan benar: sekarang foto Mbak Ais yang dililit benang. Tapi altar itu berubah: kepala hewannya hitam pekat, ada mangkuk berisi darah, dan ada arak botol mahal. Mei panik, membongkar altar, mengambil foto Mbak Ais, lalu membakarnya diam-diam.
Mereka belum sempat berpikir panjang ketika gudang itu tiba-tiba gaduh—seperti ada yang ngamuk—lalu terdengar ledakan. Paginya, bagian gudang terbakar hebat tanpa sebab jelas. Dan yang paling mengerikan: Pak Imin ditemukan tewas dalam posisi yang tidak masuk akal untuk korban kebakaran—seperti orang ketakutan, mata melotot, lidah keluar. Mbak Ais yakin: ada sesuatu yang marah karena “ritualnya dirusak.”
Di sisi lain, Mei menyimpan bonus uang bos di kantong kecil bersama tasbih mini dan batu ungu-putih. Ketika mereka membuka kantong itu setelah turun kerja… uangnya berubah jadi daun kering. Saat itulah Mbak Ais sadar: “bonus” tadi bukan rezeki, melainkan umpan.
Untungnya, ada tamu bernama Dito yang ternyata memperhatikan mereka. Dito memperingatkan: kafe itu bukan tempat normal, dan Mei sedang disiapkan jadi tumbal berikutnya. Dito membantu mereka “nembak kupon” (menutup sisa kontrak) pakai patungan uang tabungan, supaya mereka bisa keluar secara administratif tanpa meninggalkan hutang jam kerja.
Hari mereka mengundurkan diri, bos masih sempat menyodorkan amplop bonus besar—wanginya menyengat. Mbak Ais dan Mei memilih membuangnya di jalan. Tapi “yang di belakang” tidak merelakan begitu saja: mobil terasa berat seperti ditarik, dan mereka melihat sosok kera bertanduk bermata merah menarik kendaraan dari belakang. Mobil bahkan hampir nyungsep ke jurang sebelum tertahan pohon. Mereka selamat—tapi trauma itu menempel sampai lama.
Beberapa hari setelah mereka pergi, kabar lain beredar: salah satu istri bos (istri ketiga yang rumahnya dekat kafe) meninggal, katanya mengeluarkan darah. Mbak Ais mendengar itu seperti penutup pahit—seolah lingkaran “bayaran” tak cuma menyasar pekerja, tapi juga merembes ke dalam keluarga pemiliknya sendiri.
Mbak Ais menutup kisahnya dengan pesan yang sederhana, tapi berat: kalau mencari kerja di tempat hiburan malam, jangan cuma lihat gaji dan fasilitas. Perhatikan aturan-aturan yang janggal, pantangan yang tidak masuk akal, dan suasana yang membuat hati tidak tenang. Karena ada tempat yang ramainya bukan karena bisnisnya hebat… melainkan karena ada sesuatu yang “diberi makan” diam-diam, dan yang jadi santapannya sering kali justru orang-orang paling menonjol di balik lampu temaram.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
