Di tengah riuh pasar yang tak pernah benar-benar sepi, ada kisah getir tentang seorang perempuan yang pernah merasa hidupnya buntu. Namanya disamarkan menjadi Dewi. Ia adalah seorang pedagang sembako yang semula hanya ingin bertahan hidup setelah rumah tangganya hancur. Suaminya pergi tanpa kabar, meninggalkan beban hidup, anak-anak yang masih membutuhkan biaya, serta tumpukan hutang yang terus menyesakkan dada. Dalam keadaan terdesak, Dewi tidak lagi memikirkan benar atau salah. Yang ada di benaknya hanyalah bagaimana caranya keluar dari kesulitan secepat mungkin.
Kisah ini disampaikan oleh Ibu Sri, sahabat lama Dewi yang tanpa sengaja kembali dipertemukan dengannya pada tahun 2005. Pertemuan itu terjadi di sebuah pusat perbelanjaan, saat Dewi memanggil nama Ibu Sri seperti seorang teman lama yang sangat merindukan seseorang untuk diajak bicara. Dari obrolan ringan yang awalnya hanya sekadar mengenang masa sekolah, perlahan terungkap bahwa hidup Dewi jauh dari kata baik-baik saja. Ia ditinggalkan suami, harus menghidupi anak-anak seorang diri, dan usahanya makin terpuruk karena persaingan dagang yang ketat di pasar.
Dewi mengaku bahwa ia sudah terlalu lelah menghadapi hidup. Ia bukan hanya dikejar kebutuhan sehari-hari, tetapi juga dihimpit hutang dari berbagai arah, termasuk pinjaman dari rentenir. Keluarganya tidak membantu karena sejak awal pernikahannya memang tidak direstui. Dalam keadaan seperti itu, Dewi merasa tidak punya siapa-siapa selain dirinya sendiri. Ia seperti berjalan di lorong gelap, tanpa arah dan tanpa pegangan. Dari situlah muncul niat untuk mencari jalan pintas yang menurutnya bisa menyelamatkan keadaan.
Suatu hari, Dewi datang kepada Ibu Sri dengan permintaan yang membuat sahabatnya itu terkejut. Ia meminta diantar ke sebuah tempat untuk mencari penglarisan. Ibu Sri sempat menasihati dan memperingatkan bahwa jalan seperti itu penuh risiko. Namun Dewi sudah telanjur bulat hati. Baginya, itu adalah pilihan terakhir. Ia mengaku sudah kepepet, sudah dipermalukan oleh hutang, dan merasa tidak mampu lagi bertahan dengan cara biasa.
Dengan berat hati, Ibu Sri akhirnya hanya bersedia mengantar, bukan ikut terlibat. Ia sudah meminta izin kepada suaminya dan menegaskan bahwa dirinya hanya menjadi pengantar. Pada hari yang telah ditentukan, mereka berangkat menuju sebuah tempat di sekitar wilayah Cirebon. Perjalanan itu membawa mereka ke sebuah lokasi yang sepi, rindang, dan dipenuhi pohon-pohon besar serta bambu. Suasananya terasa lembap, sunyi, dan menekan. Di sana, mereka bertemu dengan seorang kuncen yang sudah menunggu.
Kuncen itu menanyakan kesiapan Dewi, termasuk kesiapan menerima segala risiko dari keputusan yang diambilnya. Dewi menjawab bahwa ia telah siap. Mahar pun diserahkan, berupa uang sejumlah lima ratus ribu rupiah. Setelah itu, berbagai sesajen dipersiapkan, mulai dari bunga, kopi, teh, cerutu, dupa, hingga ayam. Semua benda itu menjadi bagian dari ritual yang disebut sebagai jalan pembuka menuju penglarisan. Ibu Sri hanya bisa menyaksikan dari luar, hatinya tak tenang, tetapi semuanya sudah terlanjur berjalan.
Dewi kemudian dibawa ke tempat tirakat yang letaknya harus ditempuh dengan berjalan kaki sekitar lima belas menit. Di sepanjang jalan, hanya ada pepohonan besar, rumpun bambu, dan suasana yang membuat bulu kuduk meremang. Setibanya di sebuah bangunan kecil, Ibu Sri diminta menunggu di luar. Dewi masuk bersama kuncen, dan sejak saat itu Ibu Sri tidak lagi mengetahui secara langsung apa yang terjadi di dalam. Ia hanya diminta kembali tujuh hari kemudian untuk menjemput sahabatnya.
Selama tujuh hari itu, Ibu Sri mengaku pikirannya dipenuhi rasa cemas. Ia terus memikirkan Dewi, meski tak tahu pasti apa yang sedang dijalani sahabatnya di tempat tersebut. Ketika hari penjemputan tiba, ia mendapati Dewi dalam kondisi pucat, lemah, dan seperti kehilangan tenaga. Dalam perjalanan pulang, Ibu Sri menahan diri untuk tidak langsung bertanya. Baru setelah Dewi agak pulih, cerita mengerikan itu mulai terungkap satu per satu.
Menurut pengakuan Dewi, pada malam-malam awal tirakat ia belum mengalami kejadian berarti. Namun memasuki hari-hari berikutnya, suasana mulai berubah. Ia merasakan semilir angin dingin di dalam ruangan, mencium wangi yang tidak biasa, dan melihat bayangan yang bergerak cepat. Pada hari kelima, bayangan itu disebut mulai menampakkan diri lebih jelas, seolah hadir dan berkomunikasi dengannya. Sosok itu menanyakan apa yang diinginkan Dewi, dan Dewi menjawab bahwa ia ingin pesugihan, ingin kekayaan, dan ingin dagangannya laris.
Puncaknya terjadi pada malam keenam dan ketujuh. Dewi menceritakan bahwa ruangan tempat ia tirakat tiba-tiba dipenuhi cahaya sangat terang. Dari cahaya itu muncul sosok laki-laki tampan, gagah, dan berpenampilan seperti bangsawan atau pangeran kerajaan. Dalam kondisi yang sulit dijelaskan dengan nalar, Dewi mengaku kemudian melakukan hubungan layaknya suami istri dengan sosok tersebut. Anehnya, ia tidak merasa takut. Justru yang ia rasakan adalah kenikmatan yang luar biasa, seolah seluruh beban hidupnya hilang seketika. Baginya, pengalaman itu begitu kuat hingga membekas sebagai sesuatu yang membuatnya terlena.
Setelah ritual selesai, Dewi menerima petunjuk dari kuncen bahwa ia harus menyediakan satu kamar khusus di rumahnya. Kamar itu tidak boleh dimasuki siapa pun, karena akan menjadi tempat ritual lanjutan. Selain itu, ia juga diberi sebuah tanaman yang harus ditanam dan dirawat. Tanaman tersebut diyakini menjadi penanda kehadiran makhluk yang telah mengikat perjanjian dengannya. Sejak saat itulah kehidupan Dewi perlahan berubah drastis.
Dalam waktu singkat, jualan sembakonya mendadak sangat laris. Dagangannya ramai, tokonya penuh, dan keuangannya berbalik melesat naik. Ibu Sri yang penasaran sampai datang sendiri ke pasar untuk memastikan kabar itu, dan yang ia lihat benar-benar membuatnya terperangah. Dewi yang sebelumnya terpuruk kini tampak seperti orang yang sedang menikmati puncak keberuntungan. Tidak lama kemudian, Dewi bahkan mampu membeli rumah yang lebih bagus, memperbaiki taraf hidup, dan memenuhi berbagai kebutuhan anak-anaknya.
Namun keberhasilan itu ternyata datang bersama syarat yang terus mengikat. Setiap malam Jumat, Dewi harus melakukan ritual di kamar khusus yang telah ia siapkan. Dupa dibakar, ruangan dibuat harum, dan suasana diatur remang-remang. Setelah itu, sosok yang disebutnya sebagai pangeran kembali datang. Hubungan mistis itu terus berlangsung, dan setiap kali selesai, Dewi mendapati uang berserakan di tempat tidurnya, terutama lembaran pecahan seratus ribu rupiah. Uang itulah yang menjadi sumber modal, yang kemudian dipakai untuk memperbesar usahanya.
Pada titik itu, Dewi semakin tenggelam dalam keyakinan bahwa jalan gelap tersebut benar-benar memberinya pertolongan. Ia masih datang kepada kuncen setiap tahun untuk memperbarui ikatan, menyerahkan persembahan, dan menjalani ritual puasa serta tirakat ulang. Bagi Dewi, semua itu adalah harga yang pantas dibayar demi kekayaan dan keselamatan hidupnya. Ia merasa telah menemukan jalan keluar, meski sesungguhnya ia sedang masuk lebih dalam ke perangkap yang tak terlihat.
Masalah mulai muncul ketika Dewi mulai lalai memenuhi kewajiban ritual tahunan. Dalam kenyamanan hidup yang sudah membaik, ia merasa tidak perlu lagi terlalu patuh. Di saat itulah musibah datang silih berganti. Anak laki-lakinya mengalami kecelakaan parah hingga harus menjalani operasi dan pemasangan pen di kaki. Luka yang dialami begitu berat hingga membuat Dewi nyaris kehilangan akal sehat. Belum selesai cobaan itu, anak perempuannya juga jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit, padahal secara medis dokter mengatakan hasil pemeriksaannya bagus.
Rangkaian kejadian itu membuat Dewi mulai ketakutan. Ia teringat kembali pada perjanjian yang pernah dibuatnya. Ia khawatir anak-anaknya sedang dijadikan tumbal atas kelalaiannya memenuhi syarat. Pada saat yang sama, ia juga mengalami teror yang aneh. Setiap malam Jumat, terutama setelah magrib, ia merasa seperti kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Ia ingin keluar rumah, berjalan tanpa arah, lalu tersadar ketika sudah berada jauh dari tempat semula. Semua itu membuatnya yakin bahwa apa yang dulu ia anggap jalan keluar kini berubah menjadi sumber ancaman bagi keluarganya sendiri.
Dalam kepanikan itulah Dewi kembali meminta tolong kepada Ibu Sri. Kali ini bukan untuk diantar ke tempat ritual, melainkan untuk mencari jalan pembersihan. Ibu Sri kemudian berusaha mencari bantuan sampai akhirnya menemukan seorang ustaz di sebuah pesantren yang bersedia menangani Dewi. Ustaz tersebut meminta agar Dewi dibawa pada hari Jumat sore untuk menjalani proses rukiah dan pembersihan secara bertahap.
Proses itu tidak berlangsung sekali. Menurut Ibu Sri, setiap Jumat malam Dewi dimandikan menjelang tengah malam, lalu dirukiah. Saat proses berlangsung, tubuh Dewi menjerit, menggigil, muntah-muntah, dan terlihat sangat lemah. Bau menyengat yang sulit dijelaskan juga tercium kuat, sampai-sampai Ibu Sri merasa hampir tidak sanggup berada di dekatnya. Hal itu berulang selama beberapa pekan. Pada setiap pertemuan, kondisi Dewi seperti orang yang sedang bertarung melepaskan sesuatu yang telah lama menempel di tubuh dan hidupnya.
Di sela-sela proses itu, ustaz meminta semua benda yang berkaitan dengan ritual lama disingkirkan, terutama tanaman pemberian kuncen yang selama ini menjadi penanda kehadiran sosok gaib. Tanaman itu harus dibuang ke air yang mengalir. Ibu Sri lah yang akhirnya membantu membuangnya pada malam hari. Ia mengaku merasakan tanaman itu sangat berat ketika diangkat, jauh melebihi ukuran normalnya, hingga bulu kuduknya berdiri. Dengan membaca ayat-ayat perlindungan, tanaman itu akhirnya dibuang ke sungai.
Setelahnya, ustaz datang langsung ke rumah Dewi bersama beberapa murid untuk membersihkan kamar ritual dan seluruh bagian rumah yang dianggap masih menyimpan sisa-sisa ikatan lama. Semua sesajen, perlengkapan, dan jejak ritual dibersihkan. Dewi juga diminta bertaubat dengan sungguh-sungguh, menjaga salat, memperbanyak ibadah malam, dan mengisi hidupnya dengan wirid sebagai benteng diri.
Sejak proses pembersihan itu, kondisi Dewi perlahan berubah. Teror yang sebelumnya sering datang mulai mereda. Tubuhnya terasa lebih ringan, pikirannya lebih tenang, dan ia mulai kembali mendekat kepada agama. Namun bersamaan dengan itu, kekayaannya juga sedikit demi sedikit habis. Uang terkuras untuk biaya pengobatan dirinya dan anak-anaknya. Dagangannya kembali sepi, isi toko berkurang, rumah yang dulu dibeli pun akhirnya tak mampu dipertahankan karena cicilan macet. Hidup Dewi kembali sederhana, bahkan cenderung miskin. Tetapi kali ini, ia justru merasa lebih aman karena anak-anaknya tidak lagi berada dalam bayang-bayang ancaman.
Menurut Ibu Sri, terakhir kali ia bertemu Dewi adalah pada tahun 2008. Saat itu, Dewi sudah tidak lagi hidup mewah. Ia kembali berdagang seadanya untuk bertahan hidup. Anak-anaknya tetap hidup, meski tumbuh dalam keadaan serba terbatas. Dewi juga disebut tidak lagi bermain dengan hutang, riba, atau jalan-jalan pintas yang dulu pernah menyeretnya ke jurang. Ia memilih hidup apa adanya, menerima keadaan, dan berusaha menjalani semuanya dengan lebih tenang.
Kisah Dewi menjadi pengingat bahwa keputusasaan sering kali membuka pintu bagi keputusan paling berbahaya. Ketika seseorang merasa tidak lagi punya jalan, godaan untuk mengambil jalan pintas akan terlihat sangat meyakinkan. Padahal, tidak semua pertolongan membawa keselamatan. Ada yang datang dengan janji laris, kaya, dan berkuasa, tetapi diam-diam mengikat hidup dengan harga yang jauh lebih mahal.
Dari semua yang disaksikan, Ibu Sri mengaku ikut memikul rasa bersalah karena pernah mengantar sahabatnya menuju jalan gelap itu. Meski ia merasa sudah menasihati, ia tetap menyadari bahwa seharusnya ia bisa lebih tegas menolak. Penyesalan itu menjadi pelajaran penting baginya, bahwa membantu seseorang tidak selalu berarti menuruti apa yang diminta, apalagi jika permintaan itu jelas mengarah pada keburukan.
Pada akhirnya, kisah ini bukan semata tentang pesugihan atau perjanjian gaib. Ini adalah cerita tentang rapuhnya manusia ketika dihimpit masalah hidup, tentang bagaimana hutang, rasa malu, dan putus asa bisa mendorong seseorang menukar keyakinan dengan harapan semu. Dewi pernah merasakan kekayaan yang datang begitu cepat, tetapi ia juga harus melihat sendiri bagaimana semua itu nyaris merenggut anak-anaknya. Ketika semuanya runtuh, yang tersisa bukan kemewahan, melainkan penyesalan dan keinginan sederhana untuk hidup tenang tanpa gangguan.
Pelajaran paling kuat dari kisah ini adalah bahwa rezeki yang dicari dengan cara gelap tidak pernah benar-benar membawa ketenangan. Sebesar apa pun hasilnya, semuanya dapat berubah menjadi beban yang menagih balasan. Sedangkan hidup sederhana yang dijalani dengan hati tenang dan iman yang terjaga, pada akhirnya jauh lebih berharga daripada kemewahan yang dibangun di atas rasa takut.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.