Di balik kisah tentang kekayaan instan, selalu ada harga yang jarang terlihat di awal. Tidak semua orang yang datang mencari jalan pintas benar-benar paham apa yang sedang mereka undang ke dalam hidupnya. Sebagian hanya melihat hasil akhirnya: usaha yang kembali ramai, uang yang mendadak datang, dan hidup yang seolah naik lagi setelah sempat jatuh. Namun di balik itu, ada malam-malam panjang, ketakutan yang tidak bisa dijelaskan, dan pengorbanan yang tak pernah pantas dibayar oleh siapa pun. Itulah yang disaksikan langsung oleh Mas Irfandi, seorang pria asal Depok yang pada tahun 2018 tanpa sadar terseret menjadi saksi dalam sebuah ritual pesugihan di Gunung Kawi.
Mas Irfandi, yang akrab dipanggil Irvan, awalnya tidak pernah menyangka bahwa seorang teman lamanya akan datang kembali justru untuk mengajaknya masuk ke situasi sekelam itu. Temannya, yang namanya disamarkan menjadi Adi, adalah kawan sejak masa SMP, SMA, hingga kuliah. Mereka pernah tumbuh dalam lingkaran pertemanan yang dekat, hingga akhirnya setelah lulus hubungan mereka renggang dan nyaris tak pernah lagi berkomunikasi. Sampai pada suatu hari di bulan April 2018, Adi tiba-tiba menghubunginya lewat Messenger Facebook dan mengajak bertemu.
Pertemuan itu membuka cerita lama yang sudah lama putus. Adi datang dengan keadaan hidup yang jauh dari baik-baik saja. Ia mengaku usahanya bangkrut. Selama ini ia dikenal punya usaha sembako yang cukup besar, tetapi semuanya runtuh setelah dirinya kecanduan judi slot. Awalnya ia pernah menang besar, bahkan sampai mendapat jackpot puluhan juta rupiah. Kemenangan itu rupanya justru menjadi awal kehancuran. Ia terus bermain, terus mengejar kemenangan berikutnya, sampai seluruh barang dagangannya habis dijual dan modal usaha tak tersisa. Hutang menumpuk, usaha berhenti, dan hidupnya jatuh begitu cepat.
Di tengah keputusasaan itu, Adi tidak datang untuk meminjam uang. Ia datang membawa ajakan yang lebih berbahaya. Ia meminta Mas Irfandi menemaninya pergi ke Gunung Kawi. Alasannya tidak dijelaskan secara gamblang di awal, tetapi dari cara bicara dan situasinya, Mas Irfandi sudah menangkap bahwa perjalanan itu bukan perjalanan biasa. Gunung Kawi yang disebut Adi bukan sekadar tempat ziarah biasa. Nama tempat itu sendiri sudah lama identik dengan berbagai cerita tentang pesugihan, penglarisan, dan pencarian kekayaan lewat jalur gaib. Meski hatinya tidak sepenuhnya yakin, Mas Irfandi goyah ketika Adi menjanjikan imbalan uang lima puluh juta rupiah jika ia bersedia ikut menemani.
Dengan bekal rasa percaya sebagai teman lama, ditambah iming-iming uang yang besar, Mas Irfandi akhirnya mengiyakan ajakan itu. Keesokan harinya, Adi benar-benar datang menjemputnya. Mereka berangkat menggunakan motor dari Palembang dan menempuh perjalanan yang sangat jauh. Menurut Mas Irfandi, waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Gunung Kawi sekitar sembilan belas jam perjalanan. Mereka bergantian berkendara dan hanya sesekali beristirahat. Selama perjalanan, Mas Irfandi mulai merasa ada sesuatu yang ganjil. Adi tampak sangat yakin dengan tujuan mereka, seolah sudah tahu persis apa yang akan dilakukan, sementara Mas Irfandi sendiri hanya mengikuti tanpa benar-benar memahami rencana sebenarnya.
Mereka tiba di Gunung Kawi pada malam hari, sekitar pukul sembilan malam. Suasana setempat sudah sepi. Hanya ada sebuah warung tempat mereka menitipkan motor. Di sana, penjaga warung sempat bertanya maksud kedatangan mereka. Ketika Adi menjawab bahwa mereka hendak berziarah, pasangan penjaga warung itu justru mengingatkan bahwa waktu yang lazim untuk ziarah bukan malam seperti itu, melainkan hari Sabtu atau Minggu. Mereka juga menyinggung soal izin dan kuncen, seolah membaca ada niat yang tidak biasa dari dua tamu yang datang larut malam. Namun Adi tetap bersikeras masuk tanpa didampingi siapa pun.
Sejak melangkah masuk kawasan itu, perasaan Mas Irfandi berubah semakin tidak enak. Mereka harus melewati jembatan yang menurut cerita warga setempat dikenal angker dan sering dikaitkan dengan tumbal. Baru sampai di area awal saja, bulu kuduknya sudah berdiri. Ia sempat ingin mundur, tetapi Adi terus menarik tangannya dan meyakinkan bahwa dirinya hanya diminta menemani, tidak akan disuruh melakukan apa-apa. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi justru itulah yang belakangan membuat Mas Irfandi sadar bahwa dirinya memang sengaja dibawa sebagai pendamping, bukan sebagai sahabat, melainkan sebagai bagian dari sesuatu yang sudah direncanakan.
Ritual pertama dilakukan di area kuburan tua. Tempat itu sunyi, tanah-tanah makam tampak kering, dan suasananya menekan. Adi meminta Mas Irfandi menunggu di bawah pohon, sementara dirinya masuk ke area makam. Dari kejauhan, Mas Irfandi melihat Adi mengeluarkan dupa dari tas, lalu melepas seluruh pakaian hingga telanjang bulat. Setelah itu Adi mengelilingi kuburan sebanyak tiga belas kali sambil membaca mantra. Sebagian bacaannya sempat terdengar oleh Mas Irfandi, tetapi tidak utuh. Setelah ritual itu selesai, Adi kembali mengenakan pakaiannya dan mengajak Mas Irfandi berjalan lagi ke lokasi berikutnya.
Di perjalanan menuju tempat kedua, Mas Irfandi mulai melihat sesuatu yang tak bisa dilihat Adi. Ia mengaku menyaksikan sosok tinggi kurus menyerupai batang bambu raksasa berdiri di sekitar area itu. Wujudnya menjulang, kaku, dan membuat darahnya seolah membeku. Ketika Mas Irfandi menunjukkan ketakutannya, Adi justru tidak melihat apa pun. Hal yang sama kembali terulang di titik berikutnya. Kali ini ritual dilakukan di dekat area lain yang juga terasa sangat angker. Adi kembali membuka pakaian, berputar sebanyak tujuh kali, menggunakan bunga tujuh warna, dan membaca mantra yang kali ini tak terdengar jelas oleh Mas Irfandi. Sementara itu, dari atas pohon di sekitar tempat tersebut, Mas Irfandi merasa ada sesuatu yang melemparinya dengan ranting-ranting kecil. Anehnya, gangguan itu hanya mengarah kepadanya, bukan kepada Adi.
Semakin larut malam, gangguan yang dilihat Mas Irfandi kian beragam. Ia melihat pocong, kuntilanak, dan gerombolan makhluk kecil menyerupai monyet mengawasi dari kejauhan. Semua itu tidak dilihat oleh Adi. Entah karena memang tak mampu melihat, atau justru karena ia sudah terlalu terlibat dalam ritual hingga tidak lagi peka pada teror di sekelilingnya. Bagi Mas Irfandi, malam itu terasa seperti dibawa masuk ke wilayah yang bukan semestinya disentuh manusia dengan niat yang kotor.
Puncak ritual terjadi di lokasi terakhir, yang menurut Mas Irfandi mirip saung atau tempat kecil di kawasan paling ujung. Di sinilah semua benda yang dibawa Adi dikeluarkan dari tas. Ada ayam hitam jenis cemani, bunga, dupa, lilin, pulpen, dan kertas. Lagi-lagi Mas Irfandi diminta menunggu dari jauh. Adi menanggalkan pakaiannya, mengitari lokasi sebanyak dua puluh tiga kali, memandikan tubuhnya dengan air mawar, lalu memakan bunga-bunga yang dibawanya. Yang paling mengerikan, ayam hitam itu digigit dan dimakan dalam keadaan mentah. Darah berceceran di mulut dan tubuhnya. Setelah itu ia menulis sesuatu di kertas, melipatnya, membungkusnya dengan kain hitam, lalu menguburkannya di area kuburan tua tersebut.
Mas Irfandi sempat bertanya apa isi tulisan di kertas itu, tetapi Adi hanya menjawab singkat bahwa itu berisi izin dan permintaannya. Saat itu Mas Irfandi belum curiga sepenuhnya. Ia mengira semua itu murni ritual permintaan kekayaan. Namun setelah semua kejadian yang datang berikutnya, ia mulai menduga bahwa kertas itulah yang mungkin menjadi inti dari seluruh niat gelap temannya, termasuk kemungkinan mencantumkan nama calon tumbal.
Setelah ritual terakhir selesai, Adi sempat menyuruh Mas Irfandi memakan hati ayam mentah yang tersisa. Mas Irfandi menolak. Penolakan itu tampaknya menyelamatkan dirinya dari keterlibatan yang lebih dalam, meski ternyata tidak cukup untuk membuatnya bebas sepenuhnya dari dampak ritual tersebut. Saat mereka meninggalkan lokasi, suasana sekitar mendadak terasa seperti marah. Menurut Mas Irfandi, berbagai lemparan batu, kayu, ranting, bahkan gundukan tanah menghantamnya saat mereka berlari turun. Lagi-lagi, semua serangan itu hanya mengarah kepadanya. Ia sudah ketakutan setengah mati, kelelahan, dan merasa dirinya sedang diburu oleh sesuatu yang tak kasatmata.
Mereka akhirnya sampai kembali ke warung tempat menitipkan motor pada sekitar pukul lima pagi. Penjaga warung melihat kondisi Adi yang masih menyisakan bercak darah di mulut dan bajunya. Mereka marah dan memperingatkan bahwa siapa pun yang datang dengan niat buruk ke tempat itu pasti akan menerima akibat. Mas Irfandi hanya diam. Ia belum sepenuhnya mengerti apa yang baru saja dilalui. Yang ia tahu, ia ingin segera pulang dan menjauh dari tempat itu secepat mungkin.
Setelah kembali ke Palembang, Adi langsung kembali menjauh. Ia tidak pernah lagi membalas pesan-pesan Mas Irfandi. Semua tagihan soal janji uang lima puluh juta tidak pernah ditanggapi. Justru Mas Irfandi akhirnya diblokir dari berbagai media sosial. Namun dari unggahan Adi yang sempat ia pantau, kehidupan temannya itu memang perlahan berubah drastis. Warung sembakonya kembali penuh barang. Mobil baru terbeli. Keadaan ekonomi yang tadinya jatuh mendadak bangkit. Semua itu terjadi hanya dalam waktu sekitar sebulan setelah perjalanan ke Gunung Kawi.
Perubahan cepat itu justru menegaskan kecurigaan Mas Irfandi bahwa ritual tersebut benar-benar berhasil membawa sesuatu. Namun harga dari keberhasilan itu mulai tampak ketika kabar duka datang. Anak tunggal Adi yang masih berusia empat tahun meninggal dunia. Kematian anak itu bukan hanya membuat warga terkejut, tetapi juga menimbulkan kehebohan besar karena kondisi jenazahnya dianggap tidak wajar. Menurut pengakuan Mas Irfandi, saat ia datang melayat, ia melihat bagian wajah dan tubuh anak itu dipenuhi bulu seperti bulu monyet. Warga yang melihat pun gempar. Orang tua Adi bahkan langsung mencurigai Mas Irfandi karena tahu ia adalah teman dekat anak mereka dan kemungkinan mengetahui sesuatu.
Di tengah suasana duka, Mas Irfandi menahan diri untuk tidak membongkar semuanya. Namun dari reaksi Adi yang tampak datar dan tidak menunjukkan duka yang sewajarnya, kecurigaan Mas Irfandi semakin kuat. Ia percaya bahwa anak itu telah menjadi tumbal pertama dari pesugihan yang dilakukan ayahnya sendiri. Adi bahkan sempat berbisik agar Mas Irfandi tidak membuka apa pun kepada keluarga dan warga. Dari situ, amarah Mas Irfandi mulai berubah menjadi rasa dikhianati. Ia merasa dirinya bukan sekadar diajak menemani, melainkan sedang disiapkan untuk menjadi korban berikutnya.
Keyakinan itu semakin menguat ketika serangkaian teror aneh mulai dialami Mas Irfandi selama satu minggu setelah kematian anak Adi. Malam pertama, pintu dan jendela rumahnya terbuka sendiri. Malam kedua, ia mengaku melihat sosok makhluk berbulu dengan wajah hancur muncul di hadapannya saat hendak mandi. Malam ketiga, ia mengalami mimisan hebat secara tiba-tiba di tengah malam, padahal sebelumnya tidak pernah punya riwayat seperti itu. Beberapa hari berikutnya, rasa sakit luar biasa menyerang kakinya. Ia tidak mampu menginjak lantai seolah ada paku menusuk dari dalam telapak kaki. Kakinya membengkak, tetapi pemeriksaan medis tidak menemukan apa-apa.
Dalam keadaan putus asa, Mas Irfandi akhirnya mendatangi seorang orang pintar bernama Mbah Bejo yang tinggal di kawasan hutan di Sumatera Selatan. Tempat itu dikenal orang sebagai lokasi pengobatan untuk gangguan-gangguan gaib. Dengan bantuan seorang teman, Mas Irfandi datang dalam kondisi kakinya sudah sangat sulit digunakan berjalan. Saat melihat Mas Irfandi, Mbah Bejo langsung mengatakan bahwa ia adalah korban pesugihan dan nyaris menjadi tumbal berikutnya. Proses pengobatan yang dijalani Mas Irfandi pun tergolong mengerikan. Tubuhnya dipijat dari leher sampai kaki. Dari bagian lehernya disebut keluar segumpal darah hitam menyerupai hati ayam. Dari telapak kakinya keluar dua benda seperti paku berkawat dan berbulu. Setelah itu ia dimandikan dan diberi peringatan bahwa jika datang lebih terlambat, bisa jadi nyawanya tidak akan tertolong.
Kata-kata Mbah Bejo menjadi pukulan telak bagi Mas Irfandi. Ia diberi tahu bahwa dirinya memang telah diarahkan menjadi tumbal kedua setelah anak Adi. Pada saat itulah amarah yang selama ini tertahan meledak. Dua hari setelah berobat, ia mendatangi rumah Adi dan melabraknya habis-habisan. Di depan orang tua dan istrinya, Mas Irfandi menuduh Adi melakukan pesugihan, menumbalkan anaknya sendiri, dan hampir menumbalkan dirinya juga. Ia menyebut kemungkinan besar nama dirinya tertulis di kertas yang dikubur saat ritual malam itu. Adi berusaha mengelak, tetapi bagi Mas Irfandi semuanya sudah terlalu jelas untuk dibantah.
Meski sempat bangkit secara ekonomi, masa jaya Adi ternyata sangat singkat. Menurut Mas Irfandi, kekayaannya hanya bertahan sekitar empat hingga lima bulan. Setelah itu hidupnya mulai runtuh. Ia jatuh sakit dengan kondisi fisik yang makin mengerikan. Tubuhnya kurus, bau badannya sangat menyengat, dan bicaranya tak lagi jelas. Ketika Mas Irfandi sempat datang menjenguknya beberapa bulan kemudian, Adi hanya bisa terbaring di kasur, menangis tanpa mampu menyampaikan apa pun dengan benar. Istrinya pun akhirnya pergi meninggalkannya, kabarnya bekerja ke Malaysia. Orang tuanya malu dengan keadaan itu. Harta habis, warung runtuh lagi, dan hidup Adi berubah menjadi sangat mengenaskan.
Bahkan pada tahun 2021, saat Mas Irfandi pulang kampung karena penasaran, ia mendapati bahwa Adi sudah tidak lagi dirawat layak di rumah. Menurut cerita keluarganya, Adi ditaruh di sebuah saung kecil di pinggir jalan. Ia tak bisa berjalan, hanya bisa duduk dan berharap belas kasihan dari para sopir truk atau orang-orang yang lewat. Orang tuanya sendiri tampak lelah, malu, dan seperti sudah menyerah menghadapi kenyataan pahit yang ditimbulkan oleh perbuatan anaknya. Bagi Mas Irfandi, keadaan itu menjadi bukti bahwa jalan pintas yang ditempuh dengan melibatkan kekuatan gelap pada akhirnya hanya membawa kehancuran, bukan hanya bagi pelakunya, tetapi juga bagi seluruh keluarga.
Dampak kisah itu ternyata tidak berhenti di sana. Mas Irfandi sendiri ikut menanggung luka sosial. Karena ia diketahui pernah pergi bersama Adi, warga dan bahkan keluarganya sempat memandangnya dengan curiga. Kakaknya mengusirnya dari rumah dan menuduhnya ikut terlibat dalam kemusyrikan. Merasa tak lagi nyaman tinggal di kampung halaman, Mas Irfandi akhirnya memilih merantau ke Jakarta pada November 2018. Ia pergi bukan karena ingin melupakan semuanya, melainkan karena kampungnya sendiri sudah tak lagi memberinya ruang untuk bernapas tenang.
Meski penuh amarah, Mas Irfandi mengaku masih menyimpan sisa keprihatinan terhadap Adi sebagai teman masa kecil. Namun rasa itu tertutup oleh kenyataan bahwa dirinya hampir kehilangan nyawa karena dikhianati oleh orang yang dulu dianggap saudara. Yang paling sulit ia terima bukan soal uang lima puluh juta yang tak pernah dibayar, melainkan niat untuk menjadikannya tumbal kedua setelah anak kandung sendiri lebih dulu dikorbankan.
Kisah ini menjadi gambaran betapa gelapnya konsekuensi dari keinginan memperoleh kekayaan secara instan. Semua bermula dari judi slot, kebangkrutan, rasa putus asa, lalu keyakinan bahwa ada jalan singkat untuk kembali kaya. Tetapi jalan pintas semacam itu ternyata tidak pernah datang tanpa harga. Ketika manusia mulai menukar akal sehat dan iman demi harta, yang dipertaruhkan bukan hanya dirinya sendiri, melainkan juga keluarga, anak-anak, dan orang-orang terdekat yang tak tahu apa-apa.
Gunung Kawi dalam kisah ini bukan sekadar lokasi, melainkan simbol dari titik ketika seseorang memutuskan berhenti berjuang secara wajar dan mulai bersekutu dengan kegelapan. Adi datang ke sana membawa harapan untuk bangkit, tetapi pulang dengan nasib yang jauh lebih buruk daripada saat ia berangkat. Ia memang sempat melihat hasil berupa kekayaan mendadak, tetapi hanya sebentar. Setelah itu, satu per satu balasan datang. Anak meninggal, keluarga hancur, tubuh rusak, martabat lenyap, dan hidupnya berakhir dalam keterasingan.
Sementara bagi Mas Irfandi, pengalaman itu menjadi pelajaran paling keras dalam hidupnya. Ia belajar bahwa tidak semua ajakan teman lahir dari niat baik, dan tidak semua pertemanan layak dipertahankan jika sudah menyeret pada kesesatan. Ia juga belajar bahwa rasa ingin cepat kaya sering kali menjadi pintu pertama menuju kehancuran yang lebih besar. Sebab pada akhirnya, kekayaan yang datang dari perjanjian kotor tidak pernah benar-benar menjadi milik manusia. Ia hanya singgah sebentar, lalu pergi sambil membawa sesuatu yang jauh lebih mahal.
Pesan yang paling kuat dari kisah ini adalah peringatan agar siapa pun tidak tergoda oleh judi, penglarisan, pesugihan, atau bentuk jalan pintas lain yang menjanjikan hasil besar tanpa proses yang sehat. Sebab ketika seseorang sudah jatuh ke dalam lubang itu, batas antara keinginan, dosa, dan pengkhianatan bisa lenyap dalam sekejap. Dan saat semuanya terlambat, penyesalan tak lagi mampu mengembalikan nyawa, keluarga, atau masa depan yang sudah hancur. Yang tersisa hanyalah kisah kelam yang menjadi pengingat bahwa kekayaan instan hampir selalu dibayar dengan cara yang tidak manusiawi.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti⦠karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
