Tahun 2017, Mbak Sri baru lulus SMA di Jawa Tengah. Hidupnya lagi kosong—nganggur, bingung mau mulai dari mana—sampai bibinya yang kerja di Bekasi menelpon dan menawarkan pekerjaan di perusahaan catering besar. Bukan catering rumahan, tapi catering yang melayani banyak pabrik, skala produksinya ribuan box per hari, dan katanya gajinya lumayan karena makan, sabun, sampai kebutuhan dasar ditanggung.
Mbak Sri menerima tanpa curiga. Ia pikir ini kesempatan yang jarang datang: kerja jauh, dapat pengalaman, bisa nabung. Beberapa hari setelah telepon pertama, bibinya bahkan langsung mentransfer ongkos perjalanan dan mendesak agar Mbak Sri segera berangkat, karena perusahaan sedang butuh orang.
Minggu itu juga Mbak Sri berangkat naik travel sekitar tujuh sampai delapan jam. Begitu sampai, ia bukan masuk ke kos sederhana, melainkan mes yang ukurannya seperti rumah gedong—besar, rapi, dan terlihat “serius.” Di mes itu, selain bibinya, ada satu karyawan lain bernama Mbak Ani, berasal dari desa yang sama tapi beda blok.
Malam pertama terasa hangat. Mereka makan bareng, ngobrol ringan, dan Mbak Ani bercerita sudah hampir dua tahun bekerja di sana. Ia bilang kerjanya enak, bosnya baik, dan hidup di mes aman. Mbak Sri makin yakin: ia tidak salah memilih.
Tak lama, mobil masuk ke halaman. Bibi langsung bilang itu Bapak Bos dan Ibu Bos. Mereka masuk dengan ramah, menyapa Mbak Sri, menyuruh makan lagi, dan memberi wejangan yang terdengar seperti dukungan: kerja yang benar, betah-betah, langgeng-langgeng di sini. Wajah Bapak Bos bahkan menurut Mbak Sri “sejuk,” seperti orang yang sulit dicurigai.
Keesokan paginya jam setengah lima, Mbak Sri berangkat kerja naik mobil jemputan karena lokasi mes lumayan jauh dari tempat produksi. Begitu sampai, ia baru paham skala catering itu: mobil box banyak, sopir saja beberapa, karyawan puluhan, pembagian tugas rapi—ada tim potong bumbu, masak nasi, goreng, packing, sampai cuci piring. Mbak Sri ditempatkan di bagian paling ringan dulu: bersihin cabai, tempe, tahu—level pemula.
Baru beberapa hari kerja, Mbak Sri sudah lihat daftar order harian yang bikin melongo: satu kali distribusi bisa seribu box, dan dalam sehari bisa tiga kali makan untuk shift pabrik. Artinya, ribuan box keluar tiap hari, rutin, dan seolah tidak pernah sepi. Perusahaan ini benar-benar “gede,” sampai Mbak Sri merasa wajar kalau banyak orang bilang catering begini pantas ikut program makan besar-besaran karena kapasitasnya sudah kelas pabrik.
Tiga bulan pertama berjalan normal. Mbak Sri betah. Karyawan lain baik-baik, bibinya perhatian, dan setiap malam mereka makan bareng sambil cerita hari itu. Tapi setelah Mbak Ani beberapa kali dipanggil untuk menginap membantu beres-beres rumah Bapak dan Ibu Bos, Mbak Sri mulai melihat perubahan yang sulit dijelaskan.
Mbak Ani pulang dari rumah bos dengan wajah pucat dan lesu, seperti ditekan sesuatu. Ia jadi sering mengurung diri, menolak makan bareng, dan jawabannya pendek-pendek. Di malam-malam berikutnya, Mbak Sri mulai mendengar suara yang tidak masuk akal: keran air menyala sendiri, lalu mati, lalu menyala lagi. Ada juga suara tangis dari kamar Mbak Ani—suara perempuan, tapi bukan suara Mbak Ani yang ia kenal.
Gangguan makin menjadi. Mbak Sri mendengar bunyi seperti mangga jatuh, lalu berubah jadi langkah berat di atas plafon, seperti ada orang berjalan pelan-pelan di atas atap. Ia ketakutan dan lari ke kamar bibinya, tapi bibinya selalu menepis: “Kamu kebanyakan nonton horor.”
Di titik itu, kondisi Mbak Ani malah runtuh. Ia demam tinggi, ngigau tiap malam, berkali-kali berkata, “Aku enggak mau… aku enggak mau ikut… jangan bawa aku.” Mereka sempat bawa Mbak Ani ke dokter, tapi anehnya saat di klinik suhu Mbak Ani normal dan dibilang “sehat, cuma kelelahan.” Begitu sampai rumah, demamnya naik lagi seperti disulut tombol yang tak terlihat.
Bibi akhirnya memanggil Pak RT dan ustaz setempat. Ustaz menyarankan Mbak Ani harus dipulangkan dan dijemput keluarganya. Bibi meminta izin ke bos, dan bos mengizinkan dengan sikap datar, seolah itu urusan kecil. Keluarga Mbak Ani datang menjemput, dan Mbak Ani justru makin panik begitu melihat ayahnya: minta pulang saat itu juga, seolah rumah itu bukan tempat kerja, tapi kandang yang sedang menunggu menutup pintu.
Sebelum pulang, Mbak Ani sempat mengigau hal yang bikin Mbak Sri merinding: meminta kamarnya dicat putih, kasurnya putih, “biar seperti kamar pengantin.” Mbak Sri mengira itu cuma ngelantur karena panas tinggi—tapi kalimat itu menempel di kepalanya seperti tanda.
Beberapa hari setelah Mbak Ani pulang, Mbak Sri bermimpi Mbak Ani memakai baju pengantin tapi menangis, seperti dipaksa menikah. Mbak Sri sempat cerita ke bibi, “Mungkin Mbak Ani udah sembuh dan nikah.” Mereka masih berusaha berpikir baik—sampai kabar yang sebenarnya datang dan memukul keras. Mbak Ani meninggal.
Pagi itu keluarga Mbak Ani menelpon bibi. Bibi lemas. Mbak Sri terpaku. Yang lebih mengganggu, reaksi Bapak dan Ibu Bos tidak seperti orang berduka. Menurut Mbak Sri, mereka terlihat saling tatap dan seperti menyimpan “senyum kemenangan”—bukan tangis, bukan kaget yang wajar ketika kehilangan karyawan yang dekat.
Beberapa waktu kemudian, bos baru mengizinkan bibi dan Mbak Sri melayat. Saat mereka sampai di rumah duka, keluarga Mbak Ani menyampaikan kalimat yang membuat Mbak Sri dingin dari ujung rambut sampai tumit: “Ani itu enggak sakit. Ani itu dibawa ke alam lain.”
Keluarga bercerita, selama hampir tiga minggu Mbak Ani diruqyah, dibawa ke kiai, ke orang pintar—dan banyak yang menyebut hal yang sama. Mbak Ani “ditumbalkan.” Bukan tumbal sembarangan: ia dinikahkan dengan makhluk tinggi besar hitam. Targetnya pun spesifik—mencari gadis perawan dari desa lain, bukan warga sekitar, supaya tidak mudah terlacak. Dan pola itu, kata mereka, sudah pernah terjadi sebelumnya—berulang—seperti jadwal yang diam-diam diputar.
Mbak Sri langsung teringat sesuatu yang pernah ia lihat sendiri. Saat ia pernah menginap di rumah bos untuk membantu bersih-bersih, ia terbangun subuh karena haus dan mendengar suara tawa aneh dari kamar depan. Pintu kamar Bapak Bos sedikit terbuka. Karena penasaran, ia mengintip—dan ia melihat sosok tinggi besar hitam tanpa wajah yang jelas, berdiri di ruang yang penuh aroma menyan dan minyak-minyak mistis. Saat itulah ia sadar, rasa “sejuk” di wajah bos hanyalah kulit paling luar.
Setelah pulang dari rumah duka, Mbak Sri dan bibinya tidak bisa lagi pura-pura. Mereka merasa berikutnya bisa saja mereka—karena Mbak Ani bekerja hampir dua tahun, dan Mbak Sri sendiri sudah mau setahun. Jika polanya “dua tahun sekali,” berarti daftar tunggu sedang bergerak.
Mereka akhirnya memutuskan resign. Alasannya dibuat rapi: anak bibi yang masih kecil sering minta pulang, keluarga ingin berkumpul, Mbak Sri pun ikut karena takut tinggal sendiri tanpa bibinya. Bos sempat menahan dengan suara manis, menawarkan kenyamanan, bahkan sempat menyuruh Mbak Sri tinggal di rumah bos saja. Tapi Mbak Sri memilih pulang—lebih baik kehilangan gaji besar daripada kehilangan nyawa.
Sebelum benar-benar keluar, mereka sempat menemui orang pintar untuk “dibentengi,” takut ada yang ikut menempel. Setelah resign dan pulang kampung, Mbak Sri mengaku tidak ada lagi gangguan yang mengikuti. Ia dan bibinya menutup rapat cerita itu, menguburnya dalam-dalam—bukan karena lupa, tapi karena takut.
Mbak Sri tidak pernah mau mencari kabar perusahaan itu masih berjalan atau tidak. Bukan karena tidak penasaran, melainkan karena ia sudah tahu: di dunia semacam itu, yang dicari bukan sekadar tenaga kerja—tapi “nama” yang bisa dipanggil tanpa suara, lalu hilang tanpa jejak, sementara order catering tetap ribuan box per hari seolah tak pernah kekurangan apa pun.
Kisah Mbak Sri menyisakan peringatan yang sederhana tapi tajam: tidak semua yang terlihat baik benar-benar baik. Ada tempat kerja yang dari luar tampak mapan dan menjanjikan, tapi di balik dapurnya tersimpan perjanjian kotor—dan ketika perjanjian itu menagih, yang diambil bukan uang, melainkan manusia.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.