Tahun 2000, Mas Cipto kerja di pos buah di Bogor. Sistemnya “store”: buka sejak subuh dan pulang malam, lalu setor hasil jualan ke bos. Capeknya luar biasa, tapi Mas Cipto sudah biasa—yang penting ada penghasilan dan bisa pulang kampung beberapa bulan sekali.
Suatu kali pulang ke Cirebon, Mas Cipto ketemu teman lamanya, Ijal. Ijal nganggur lama, sudah capek jadi bahan omongan tetangga, apalagi kebutuhan hidup makin menghimpit. Ia minta tolong ikut kerja ke Bogor, apa pun jenis kerjanya, asal bisa makan dan punya pegangan.
Mas Cipto pun membawa Ijal ke Bogor, memperkenalkan ke bos. Bos setuju menerima, dengan syarat klasik: harus rajin, ulet, dan jujur. Ijal mengiyakan. Hari pertama sampai beberapa minggu awal, semuanya kelihatan normal—sampai satu momen, Mas Cipto kehilangan jejak Ijal.
Saat hari setor, Ijal tidak muncul. Mas Cipto cari ke kontrakan store, tidak ketemu. Ia tanya ke bos—dan jawaban bos bikin dada Mas Cipto langsung panas: Ijal sudah diusir. Alasannya, tiap hari Ijal rugi terus, bawaan banyak, setoran tidak pernah sesuai. Total kerugian disebut sampai belasan juta.
Mas Cipto kebingungan. Ijal itu temannya sendiri yang ia ajak. Ia merasa ikut bertanggung jawab. Beberapa hari kemudian, Mas Cipto pulang kampung dan langsung mendatangi rumah Ijal. Ibunya Ijal menyambut dengan tangisan: anaknya seperti “bukan orang yang sama” sejak pulang dari Bogor—pakaian kumal, jarang mandi, melamun, dan tidak banyak bicara.
Mas Cipto mencari Ijal ke kebun tempat mereka biasa nongkrong. Benar saja, Ijal duduk tertunduk lesu. Ketika dirayu pelan-pelan, Ijal akhirnya bicara: ia rugi besar, dihina bos, kepalanya penuh putus asa. Lalu kalimat yang membuat Mas Cipto merinding keluar: Ijal minta dicarikan orang pintar. Ia ingin sukses, ingin cepat kaya, ingin hidupnya berubah.
Mas Cipto menahan. Ia meminta Ijal menenangkan diri dulu, mandi bersih, pakai pakaian bersih—kalau memang mau ketemu orang pintar, jangan datang dalam kondisi “berantakan”. Malam itu juga, Mas Cipto membawa Ijal menemui seorang yang ia sebut “Babe”, sosok yang dikenal paham urusan gaib.
Di hadapan Babe, Ijal blak-blakan: ia ingin ritual supaya cepat jadi orang kaya dan sukses. Babe diam sejenak, lalu memberi satu arah yang terdengar seperti pintu gelap: “Kalau kamu benar-benar siap, pergi ke Indramayu. Di sana ada makam Dewi Lanjar. Temui juru kunci, ikuti syaratnya.” Ijal mengangguk tanpa ragu.
Masalah berikutnya muncul: ongkos. Ijal tidak punya uang. Ia pulang membawa pusing, lalu beberapa hari menghilang tanpa kabar. Mas Cipto sempat mengira rencana itu batal—sampai suatu malam selepas magrib, Ijal datang dengan wajah bahagia seperti orang baru menemukan “jalan”.
Ijal bercerita hal aneh. Saat ia melamun menjelang waktu azan, ada nenek-nenek tiba-tiba menghampiri dan memberi “bekal”. Begitu diterima, si nenek menghilang. Saat dibuka, uangnya ada dua ratus ribu. Ijal ketakutan sekaligus yakin: ini tanda. Besok mereka harus berangkat.
Keesokan harinya, Mas Cipto menemani. Mereka bertanya-tanya lokasi makam Dewi Lanjar, tetapi yang membuat mereka bingung: tempatnya besar, namun seperti tidak terlihat. Mereka bolak-balik sampai tiga kali, tetap merasa “kosong”. Barulah saat mampir ke warung, si ibu warung menyuruh mereka menoleh ke belakang—dan seketika, makam itu “muncul” di mata mereka.
Ibu warung menelpon juru kunci. Tak lama, datang seorang pria berpakaian serba hitam dengan aksesori yang membuat auranya terasa tegas. Ijal menyampaikan niat: ingin cepat kaya dan sukses karena hidupnya sudah mentok. Juru kunci mengangguk, tapi menyebut syarat ritualnya tidak ringan: minuman manis-pahit, kelapa muda, ayam putih dan hitam, kendi dengan telur, dan beberapa perlengkapan lain.
Malam itu syarat dibawa lengkap. Ijal diminta mandi tepat tengah malam di kali sambil membaca mantra yang diberikan. Setelah mandi, ia dibawa masuk ke area makam yang dipagari bata, pohonnya besar-besar, adem tapi bikin merinding. Mas Cipto dilarang masuk—hanya menunggu di luar—sementara Ijal tirakat di dalam.
Rencana awalnya: puasa mutih sembilan hari. Tapi baru hari pertama, Ijal sudah diteror penampakan pocong “meloncat-loncat” di depan mata. Hari kedua lebih berat: kuntilanak datang mendekat. Hari ketiga, gangguannya berubah jadi sosok anak kecil berambut gondrong bermata merah, mengejar Ijal sampai ia lari-lari di dalam area. Mas Cipto yang menunggu di luar hanya bisa merinding mendengar teriakan dari dalam tanpa boleh menolong.
Hari keempat jadi puncak. Ijal tiba-tiba menabrak pintu dan lari keluar, memeluk Mas Cipto seperti orang yang baru lolos dari jurang. Tangannya menggenggam sesuatu erat-erat. Saat sudah agak tenang, Mas Cipto meminta ia membuka tangan itu—dan di dalamnya ada uang koin (Ijal menyebutnya uang “R5”), yang katanya ia dapat dari “mas kawin” dalam mimpi.
Ijal mengaku ia dibawa seorang wanita cantik ke istana megah penuh kemewahan. Wanita itu mengaku Dewi Lanjar dan berkata ingin “menikah gaib” dengannya karena ia serius dan sabar. Mas kawinnya: uang yang kini ada di tangan Ijal, nyata, bukan sekadar mimpi.
Mereka kembali menemui juru kunci. Anehnya, juru kunci tidak kaget—malah tersenyum dan mengatakan belum pernah menangani orang yang “mimpinya jadi kenyataan” seperti Ijal. Tapi ada catatan: Ijal belum membayar mahar. Karena itulah Ijal meminjam uang pada Mas Cipto untuk menutup mahar, lalu ritualnya dianggap “lulus” meski puasa mutihnya tidak tuntas.
Beberapa hari kemudian Mas Cipto kembali ke Bogor bekerja. Di sana ia melihat pemandangan yang membuatnya tercengang: Ijal sudah kembali jualan di pos buah yang sama, tapi perlakuannya berbeda. Hutang belasan juta “dicoret”. Bos bahkan bilang setoran Ijal sudah dibayarkan oleh “istrinya”—padahal Ijal belum punya istri.
Yang lebih gila, jualan Ijal tiba-tiba laris tidak wajar. Kalau dulu sampai delapan peti habis, kini bisa lebih cepat dan lebih banyak. Pembelinya mayoritas perempuan: ibu-ibu sampai gadis muda, tidak nawar, belinya seperti “mengalir”. Ijal pun mulai hidup mewah—kontrakannya berubah, ada kulkas, spring bed, TV, dan yang membuat Mas Cipto makin tidak enak hati: aroma dupa dan taburan bunga melati yang seolah jadi “tanda” di kamar.
Waktu berjalan, Ijal membeli motor, membangun rumah, membeli sawah, bahkan membeli mobil. Uang tunai ditunjukkan di lemari seperti orang yang baru merasakan menang besar. Ia mentraktir Mas Cipto makan di restoran, bukan lagi di kaki lima. Dari luar, ini tampak seperti kisah sukses yang mendadak.
Namun kebahagiaan itu punya catatan yang Ijal sendiri lupa: dalam perjanjian, ia tidak boleh menikah dengan wanita manusia. Ijal tetap menikah—karena ia merasa hidup normal ya harus menikah. Sejak itulah, semuanya mulai runtuh pelan-pelan tapi pasti.
Dagangan sepi. Ijal sakit-sakitan, keluar masuk rumah sakit. Untuk berobat, ia menjual sawah, menjual mobil, menjual apa pun yang bisa dijual. Uang yang dulu memenuhi lemari raib entah ke mana. Istrinya marah-marah, lalu kabur. Dan yang paling menampar: Ijal mimpi didatangi sosok yang dulu cantik—kini wajahnya rusak dan bertaring—mengatakan perjanjian telah dilanggar, dan semua yang sudah diberikan akan dicabut kembali.
Ijal akhirnya datang lagi meminta jalan keluar. Mas Cipto membawanya kembali ke Babe. Kali ini Babe tidak menyuruh mantra atau tirakat aneh—yang diperintahkan justru berbalik arah: mandi bersih, puasa mutih seperlunya, rajin salat, rajin zikir, fokus pada Tuhan, bukan pada “bantuan” yang menuntut syarat. Perlahan, Ijal dipulihkan—bukan jadi kaya lagi, tapi jadi lebih waras dan lebih tenang.
Beberapa bulan kemudian, Ijal kembali jualan buah—kali ini wajar. Dua sampai tiga peti habis, setor normal ke bos, tidak ada “istri tak terlihat” yang membayar. Untungnya tidak gila-gilaan, tapi rasanya lebih adem. Ijal pun akhirnya menikah lagi dengan seorang janda, hidup sederhana, dan mengaku lebih nyaman seperti itu—tanpa rasa takut kehilangan tiba-tiba.
Kisah ini jadi pelajaran pahit: kekayaan yang datang tanpa peluh bisa pergi tanpa pamit. Dan ketika jalannya lewat perjanjian gaib, sering kali yang “dibayar” bukan tumbal nyawa—melainkan ketenangan, kesehatan, dan hidup yang diperas sampai habis.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
