Pak Kamis adalah seorang aktivis budaya di Cirebon. Ia biasa jadi tempat kumpul teman-temannya—ngopi, ngobrol, curhat sampai larut. Malam itu, awal Februari 2011, suasana rumah Pak Kamis seperti biasa, ramai di teras, sampai seorang teman memberi tahu ada seseorang berdiri di seberang gang, tapi tidak berani masuk. Orang itu Pak Agus (nama samaran), seorang pedagang…
TAWURAN JADI “HOBI”: PREMAN PASAR DAN OKNUM APARAT DILIBAS—AJIAN KEBAL BRAJAMUSTI YANG MENEMPEL SAMPAI SEKARANG
Mas Yudi masih anak SMA saat semuanya bermula. Di kampungnya, pos kamling jadi tempat bapak-bapak main catur dan ngobrol sampai larut. Ia yang masih labil ikut nimbrung, ikut tertawa, ikut mendengar cerita-cerita lama yang awalnya terdengar seperti dongeng. Di tengah obrolan catur itu, ada satu kalimat yang menancap di kepala Mas Yudi: tentang seorang almarhum…
“SETAHUN TINGGAL DI RUMAH PELAKU PESUGIHAN GUNUNG KAWI”: REZEKI MAS DENIS MELEJIT, TAPI TUBUHNYA JADI TARGET MAKHLUK PENGHUNI
Mas Denis tidak pernah berniat pindah ke rumah yang kelak mengubah hidupnya. Tahun 2016 pertengahan, ia justru sedang pusing karena kontrakan lamanya tiba-tiba mau dijual. Pemilik rumah memberi kabar: kalau sudah laku, Mas Denis hanya punya waktu sekitar seminggu sampai sepuluh hari untuk angkat kaki. Mas Denis sempat stres. Ia bukan cuma cari tempat tidur,…
DONATUR ASRAMA YANG “DERMAWAN”, TAPI MENABUNG TUMBAL: KESAKSIAN MBAK YANTI MELAWAN PESUGIHAN KUDA SEMBRANI
Tahun 2010, Mbak Yanti baru saja lulus sekolah ketika ayahnya mengirimnya ke sebuah asrama putri di Jawa Timur. Alasannya bukan sekadar supaya Mbak Yanti belajar lebih disiplin, tapi juga karena ada amanah terakhir dari almarhumah ibunya: Mbak Yanti diminta mondok, menimba ilmu, dan bertahan setidaknya tiga tahun. Di usia sekitar 14 tahun, jauh dari rumah,…
AJUDAN PEJABAT, JANDA KAYA, DAN PERJANJIAN NYI BLORONG: MAS ADEL HAMPIR DIJADIKAN TUMBAL
Mas Adel menjalani hidup sederhana sebagai pemilik toko listrik. Di depan tokonya, terpampang juga plang “terapi”—bukan karena ia mengaku sakti, tapi lebih sebagai ikhtiar membantu orang yang butuh, sebisanya. Suatu sore, seorang ibu datang belanja kabel dua puluh ribuan. Di sela Mas Adel mengukur kabel, si ibu memperhatikan plang terapi itu dan bertanya apakah Mas…
