Kisah Kang Ujang bermula di tahun 2008, saat hidupnya terhempas ke titik paling rendah. Dulu ia bekerja serabutan jadi kuli, jadi supir angkot, ikut proyek bangunan, apa saja yang bisa memberi uang walau sedikit. Setelah menikah dan istrinya hamil anak pertama, hidup justru semakin berat. Pada saat-saat itu, ia berhenti dari pekerjaan lamanya dan memilih…
PESUGIHAN PUTIH DI BALIK WARUNG INDOM*E: KISAH BURUH SERABUTAN BERTEMU TUYUL, POCONG, DAN PUTRI SILUMAN ULAR
Pada akhir 1990-an, hidup Kang Faiz berada di titik paling gelap. Setelah menikah muda dan hidup sebagai buruh serabutan, ia menghabiskan hari-harinya dengan cangkul di tangan dan harapan tipis di dada. Penghasilannya tidak cukup untuk membiayai dapur, apalagi menata masa depan istri dan anaknya. Ia pernah bekerja apa sajanyangkul, merakit kayu bakar, hingga mengurus kebun…
WARUNG GHAIB DI TENGAH JALAN TOL: KESAKSIAN SOPIR TRUK YANG MASUK KE DUNIA JIN DAN HAMPIR TIDAK KEMBALI
Di dunia sopir truk, bulan Sura adalah masa yang tak pernah dianggap main-main. Banyak sopir menghindari perjalanan jauh, sebagian mengurangi tarikan, dan sisanya menjalankan ritual keselamatan turun-temurun. Tetapi bagi Mas John, seorang sopir senior yang sudah puluhan tahun melintasi Jawa, bulan Sura tahun 2010 adalah tahun terkelam, tahun ketika ia dan kernetnya, Jibul, berhadapan langsung…
BANK GHAIB BUTO IJO: KISAH PENGUSAHA TAHU TEMPE YANG BERHENTI PESUGIHAN
Pada tahun 2020, seorang ustadz di Majalengka bernama Gus Mukhtar kedatangan tamu dengan wajah yang tak biasa. Raut wajah keduanya suami istri bernama Pak Wawan dan Bu Ati pucat, lelah, dan tampak seperti orang yang sedang bersembunyi dari sesuatu yang tidak terlihat. Mereka mengetuk pintu rumah Gus Mukhtar sambil membawa beban yang jauh lebih berat…
BANK GAIB BUTO IJO: KETIKA KEMISKINAN MEMAKSA, PESUGIHAN MENAGIH DENGAN NYAWA
Pada tahun 2001, hidup keluarga Kang Firman mendadak jatuh ke titik terendah. Ayahnya yang bekerja sebagai koordinator di perusahaan farmasi tiba-tiba kehilangan pekerjaan setelah adu argumen dengan kepala cabang. Uang makan untuk karyawan bawahannya dianggap terlalu kecil, dan ketika Ayah Kang Firman mengusulkan kenaikan, ia justru dinyatakan “silakan keluar kalau tidak suka”. Dalam kondisi emosi…
