Di tahun 2017, Mas Ciko menyaksikan sendiri bagaimana seorang sahabat bisa berubah drastis hanya karena terjepit keadaan. Sahabatnya itu, sebut saja Benny, adalah teman seperjalanan sejak sekolah—sampai-sampai mereka sudah seperti saudara. Ketika sama-sama berkeluarga, keduanya masih tinggal di daerah yang berdekatan, membuat Mas Ciko tahu betul naik-turunnya kehidupan Benny.
Benny sebenarnya bukan orang malas. Ia pekerja keras, punya jaringan, dan berasal dari keluarga berada. Bahkan ia diberi lahan strategis di pinggir jalan raya untuk membuka toko kelontong. Awalnya usaha itu berjalan normal—cukup ramai, cukup stabil, dan terlihat menjanjikan sebagai tumpuan hidup keluarga.
Masalah mulai muncul ketika roda usaha perlahan menurun. Pembeli berkurang, putaran uang seret, sementara tanggungan di rumah makin banyak. Benny juga punya beban tambahan: adiknya akan maju dalam pencalonan kepala desa, dan biaya politik bukan barang murah. Sejak itu, Mas Ciko melihat wajah Benny berubah—gelisah, cepat panik, dan seperti dikejar sesuatu yang tak terlihat.
Benny datang berkali-kali mengeluh. Ia merasa buntu. Ketika Mas Ciko menyarankan sabar dan ikhtiar, Benny hanya mengangguk tapi matanya kosong. Seakan yang ia butuhkan bukan sekadar saran, melainkan jalan pintas—cepat, instan, dan tanpa menunggu waktu.
Beberapa hari kemudian, Benny mengaku mendapat informasi tentang “pinjaman gaib” di daerah Losari. Istilahnya seperti bank—tapi bukan bank manusia. Orang yang memberi tahu Benny mengklaim sudah pernah melihat buktinya. Dan dari kalimat itu, Mas Ciko tahu, sahabatnya sedang berdiri di bibir jurang.
Meski berat, Mas Ciko akhirnya ikut mengantar. Bukan karena setuju, tapi karena ia sulit menolak sahabat sendiri. Keduanya berangkat diam-diam naik kendaraan umum, menempuh perjalanan berjam-jam, lalu menyewa ojek menuju rumah seorang paranormal yang disebut Mbah Jarwo.
Rumah Mbah Jarwo terasa berbeda sejak pertama dilihat—seperti rumah tua yang sengaja dibiarkan angker, menyimpan aura pekat yang bikin dada sesak. Mbah Jarwo tampil dengan rambut gondrong, wajah sangar, dan sorot mata yang membuat orang otomatis menunduk.
Begitu Benny menyampaikan maksud, Mbah Jarwo tidak terkejut. Ia seolah sudah tahu. Yang pertama ia tanyakan bukan siapa Benny, melainkan: apakah Benny siap menanggung risiko. Pertanyaan itu bukan basa-basi. Itu semacam palu yang memukul sebelum perjanjian benar-benar dimulai.
Benny menjawab siap. Karena baginya, bangkrut terasa lebih menakutkan daripada konsekuensi yang belum ia pahami. Mbah Jarwo lalu menjelaskan syarat ritual: kelapa muda tiga buah, kembang tujuh rupa, wewangian, menyan, dan yang paling penting—ayam cemani. Biaya yang diminta tidak kecil, sekitar belasan juta rupiah, katanya karena ayam cemani mahal dan harus “asli”.
Setelah semua persyaratan dibelikan, Mbah Jarwo memberi arahan: ritual harus dua malam. Malam pertama adalah pembuka, malam kedua adalah penentuan. Mas Ciko sendiri diberi tugas mengawasi agar tidak ada orang lewat ke area ritual. Jika ada yang melihat, semuanya gagal dan harus diulang dari awal.
Menjelang siang, mereka dibawa ke area persawahan yang sunyi, jauh dari keramaian. Di ujung sawah, ada gundukan tanah dan pohon tua seperti penanda tempat itu bukan lokasi biasa. Benny duduk di dekat sesajen, menyalakan dupa, membaca mantra yang diberikan Mbah Jarwo. Mas Ciko berjaga dari kejauhan, mencoba tetap tenang.
Baru beberapa puluh menit, Mas Ciko merasakan hawa berubah. Bulu kuduknya berdiri, dan di sudut penglihatannya muncul sosok tinggi besar—gelap, berbulu, dan menatap tajam. Yang membuat Mas Ciko gemetar bukan wujudnya, melainkan kenyataan bahwa sosok itu tidak menatap Benny… melainkan menatap dirinya.
Gangguan tidak berhenti di situ. Dari semak-semak sawah terdengar suara gesekan yang tidak wajar. Lalu seekor ular besar muncul—ukurannya jauh melebihi ular biasa, melingkar seperti sengaja mengitari area ritual. Mas Ciko menahan napas, menahan kaki agar tidak refleks mundur. Ia ingat pesan Mbah Jarwo: jangan lari.
Malam pertama berlalu dengan teror yang datang seperti gelombang. Menjelang dini hari, muncul aroma wangi menyengat—seperti parfum perempuan. Sesosok wanita cantik terlihat melintas, tersenyum, seperti ingin mengalihkan perhatian. Mas Ciko baru sadar itu bukan manusia ketika ia menyadari kakinya tak menapak tanah. Tapi godaan itu hanya lewat… seolah mengecek nyali.
Saat subuh hampir tiba, ritual malam pertama selesai. Benny merapikan sesajen, dan mereka kembali ke rumah Mbah Jarwo. Di sana, Mbah Jarwo berkata datar: malam kedua akan jauh lebih besar godaannya. Dan di malam kedua, mereka datang lagi ke tempat yang sama—kali ini dengan ayam cemani.
Mas Ciko menyaksikan ayam cemani disembelih. Bukan sekadar dipotong, tetapi dibacakan sesuatu. Yang membuatnya merinding adalah darah ayam itu—hitam pekat, seperti tinta. Darah itulah yang diambil dan dibawa untuk disiramkan pada area ritual, sementara bangkai ayam diminta dikubur di pinggir sawah.
Malam kedua dimulai. Dupa menyala, menyan menebal, dan Benny menyiramkan darah hitam itu mengelilingi titik ritual. Tidak lama, tiga pocong muncul berdiri berjejer di dekat pohon, seperti sengaja memperlihatkan diri. Wajah salah satunya rusak, yang lain bermata merah. Mas Ciko menahan lututnya yang hampir ambruk.
Di tengah jaga, Mas Ciko merasa ada yang menepuk bahunya. Suara perempuan terdengar jelas, mengajak bicara, menawarkan sesuatu yang paling berbahaya: kekayaan lebih besar, asal mau “menikah” dengannya. Mas Ciko menolak, mencoba berpikir jernih. Ketika ia menoleh lagi, sosok itu hilang—meninggalkan udara dingin dan rasa bersalah yang menggantung.
Menjelang fajar, Benny selesai. Mereka kembali ke rumah Mbah Jarwo. Dan di sanalah, “hasil” itu ditunjukkan: kardus besar seperti dus mi instan, isinya uang pecahan merah yang padat. Benny membawa beberapa dus—jumlahnya jika ditaksir bisa miliaran rupiah. Tapi Mbah Jarwo memberi peringatan keras: uang itu bukan hadiah, melainkan pinjaman. Harus dikembalikan utuh sesuai nominal yang diterima. Kurang satu rupiah saja, nyawa taruhannya.
Sejak saat itu, hidup Benny melesat. Toko kelontongnya yang sempat lesu mendadak berkembang pesat. Dagangan bertambah, bahkan merambah frozen food, kulkas besar, dan suplai barang makin lancar. Ia membeli kendaraan bagus, membantu adiknya maju dalam pilkades sampai menang, dan menjadi orang terpandang di daerahnya.
Benny bahkan menawarkan “modal” kepada Mas Ciko. Tapi Mas Ciko menolak. Ia tahu dari mana asal modal itu, dan ia memilih mundur sebelum terseret. Namun bertahun-tahun kemudian, Mas Ciko menyaksikan fase yang sama sekali berbeda: tahun ketiga, usaha Benny mulai merosot perlahan—seperti ada tangan lain yang menarik remnya.
Benny mulai panik karena ingat perjanjian tiga tahun. Jatuh tempo makin dekat, sementara uang untuk mengembalikan pinjaman masih kurang ratusan juta. Ia mencoba menagih piutang, tapi banyak yang macet. Ia mencoba menjual mobil, tapi tak laku sesuai harapan. Waktu terus bergerak seperti pisau, dan Benny makin terlihat seperti orang yang dikejar.
Dalam kepanikan, Benny kembali menemui Mbah Jarwo, berharap ada “tempo” seperti di dunia nyata. Tapi jawabannya dingin: tidak ada perpanjangan. Jika tak sanggup, ada jalan lain—tapi syaratnya membuat darah Mas Ciko membeku: tumbalnya adalah nyawa anak Benny yang masih kecil. Benny tidak sanggup, ia menolak, dan memilih berjuang mengejar kekurangan uang sampai batas terakhir.
Saat hari penagihan benar-benar tiba, suasana berubah. Mas Ciko mendengar burung-burung hitam berkumpul di atas rumah Benny, ribut seperti pertanda. Lalu beberapa hari kemudian, kabar kematian itu datang—Benny meninggal mendadak. Dan Mas Ciko tahu, ini bukan sekadar sakit biasa.
Di pemakaman, Mas Ciko melihat wajah jenazah Benny menghitam tidak wajar. Ia juga merasakan seperti ada yang mengawasi dari empat sudut, tajam dan diam. Ia pulang dengan dada sesak, membawa penyesalan yang tak bisa dibayar: ia pernah ikut mengantar Benny ke awal jalan itu.
Setelah Benny tiada, usaha keluarganya tak bertahan lama. Toko kelontong perlahan merosot, harta habis dalam hitungan bulan, sampai akhirnya aset dijual. Keluarga Benny selamat, tapi hidup mereka berubah dari “serba ada” menjadi pas-pasan—seperti bekas kebakaran yang menyisakan arang, bukan lagi api.
Kisah Benny jadi pengingat pahit: apa pun yang datang terlalu cepat, biasanya menuntut bayaran terlalu mahal. Pesugihan yang disebut bank ghaib bukan memberi solusi, melainkan memindahkan masalah—dari urusan uang menjadi urusan nyawa. Dan ketika waktunya menagih, tidak ada negosiasi, tidak ada keringanan, hanya satu kata yang selalu sama: lunas.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.