Kang Angga tidak lahir sebagai anak yang sejak bayi bisa melihat “yang tak terlihat”. Kemampuannya seperti meletik tiba-tiba—dan ironisnya, pemicunya justru datang dari sebuah momen kenakalan remaja yang membuat ayahnya kehabisan akal. Saat itu ia masih SMA, badung, hampir tiap hari nongkrong di luar rumah, pulang cuma buat ganti baju dan tidur.
Suatu magrib, ia pulang dan seperti biasa hendak keluar lagi setelah isya. Ayahnya sudah menunggu di ruang depan, menggulung koran seperti pentungan, lalu “mengetok” anaknya dengan cara yang—menurut Kang Angga—anehnya tidak sakit. Ia menganggap itu cuma omelan orang tua. Sampai ia membuka pintu rumah… dan hidupnya berubah.
Di depan pagar, berdiri pocong dengan kain kafan kusam seperti bekas tanah. Bukan pocong film yang dramatis, tapi sosok yang membuat tubuhnya membeku karena terasa terlalu nyata. Yang paling mengerikan: bagian wajahnya seperti bolong, dan tatapannya mengarah tepat ke dirinya. Kang Angga menutup pintu, mundur, lalu mengintip dari jendela kamar—pocong itu masih ada, bahkan seperti menatap ke atas, ke arah ia bersembunyi.
Sejak malam itu, ia mendadak “kebuka”. Ia mulai melihat sosok-sosok lain saat gelap turun. Ketakutannya membuat ia justru jadi anak rumahan—yang diam-diam membuat ayahnya merasa “berhasil” menahan kenakalan. Tapi di balik tawa ayahnya, ternyata ada rahasia: ayah dan kakeknya juga paham dunia semacam itu. Mereka lalu mengajarinya cara mengontrol, menutup jika perlu, dan yang paling penting: jangan asal menantang.
Kang Angga belajar satu ilmu yang kelak jadi ciri khasnya: negosiasi. Bagi ayah dan kakeknya, tidak semua harus “gelut”. Kalau bisa diajak bicara, ajak bicara—karena kalau lawan lebih tinggi ilmunya, yang repot justru manusia. Dari situ ia pelan-pelan dilibatkan menangani kejadian keluarga: orang sakit aneh, kesurupan, dan hal-hal yang membuat rumah bisa mendadak terasa seperti medan perang.
Ia pernah diminta mengecek seorang nenek yang sakit parah, meracau, dan sulit meninggal. Begitu ia membuka tirai kamar, yang ia lihat bukan nenek lemah di kasur—melainkan tubuh yang seperti siap menerkam, dengan suara yang menantang seolah ada “penumpang” di dalamnya. Ketika akhirnya ditangani bersama ayah dan kakeknya, mereka memakai media sederhana: telur ayam kampung yang digosokkan sambil dibacakan doa-doa, lalu telurnya diminta dibuang ke air mengalir. Setelah itu nenek tersebut lebih tenang, dan tak lama kemudian wafat.
Pengalaman lain lebih ganjil. Ada nenek sepuh yang kalau sakit parah selalu minta digotong ke toilet umum dekat sumur, menjelang magrib. Di sana ia masuk sendirian, mandi memakai air sumur, lalu keluar dengan tubuh segar seperti baru diisi ulang—padahal tadi berdiri saja sulit. Ketika kondisinya benar-benar drop dan keluarga minta bantuan kakek Kang Angga, barulah Kang Angga melihat “biang”nya: sosok perempuan berwujud manusia, tapi tubuhnya dililit ular besar. Seolah ada perjanjian yang membuat si nenek “dipulihkan” setiap kali kembali ke sumur itu.
Dari rangkaian pengalaman itu, ia sempat ingin menutup kemampuannya. Ia mencoba rukiah berkali-kali—berharap pandangannya redup. Yang terjadi malah sebaliknya: penglihatannya makin jelas, makin ramai, seperti filter yang justru dilepas. Ia juga sempat mencoba “jalan bandel” dengan harapan kemampuan itu menghilang—tetap gagal. Pada akhirnya ia pasrah: satu-satunya rem yang benar-benar terasa bekerja adalah ibadah. Saat ia menjaga salat, ia merasa gangguan yang sifatnya menakut-nakuti jadi lebih terkendali.
Di titik itulah rasa ingin tahunya berubah arah. Ia mulai bertanya pada ayahnya: soal pesugihan, penglaris, kerja sama manusia dengan jin. Dan pertanyaan paling tajam yang menghantui: kalau seseorang jadi tumbal… “perginya ke mana?” Ayahnya seperti sengaja menantang: kalau mau tahu, lihat sendiri, tapi harus didampingi.
Malam itu, dalam kondisi tenang setelah ibadah, Kang Angga mencoba “masuk” melihat dimensi yang dimaksud ayahnya. Yang ia lihat membuatnya trauma berhari-hari: sebuah “bangunan” yang tersusun dari ratusan tubuh manusia, sebagian seperti tak berpakaian, menumpuk jadi dinding dan pijakan. Di ujungnya ada singgasana—kursinya pun dari tumpukan manusia—dan di atasnya duduk sosok besar kehijauan, perutnya buncit, rambutnya lebat, mahkotanya kecil, tapi auranya seperti raja. Di antara tumpukan itu, ia melihat juga anak-anak. Ia merasa mual, takut, dan untuk pertama kalinya benar-benar mengerti: ada harga yang dibayar dengan cara yang tidak bisa ditebus oleh uang.
Sejak melihat “kerajaan” itu, Kang Angga mengaku kehilangan hasrat untuk mengutak-atik jalur gelap. Ia justru jadi lebih bersyukur—seburuk apa pun hidup, jangan pernah berharap kaya lewat jalan pintas yang menindih hidup orang lain. Ia juga makin yakin pada satu hal: doa keluarga—terutama doa orang terdekat—adalah salah satu “tali” yang bisa menolong mereka yang terjebak.
Waktu berjalan. Setelah menikah, ia sempat merantau ke Ngawi, Jawa Timur, membuka usaha studio foto kecil-kecilan. Rumah kontrakan yang ia tempati di sana ternyata lama kosong dan dikenal angker: rumput tinggi, bahkan ada anak-anak ular di dalam kamar. Tetangga bilang sering melihat perempuan lari ke rumah itu, atau anak kecil mondar-mandir malam hari. Bedanya, Kang Angga sudah punya “mata” untuk bersiap, dan tahu mana yang harus diamankan demi istri dan anak.
Usahanya justru nyasar ke tempat yang lebih “ramai” dari yang dibayangkan: pasar. Ia menyewa los kecil untuk studio foto. Dan di pasar, ia menemukan kenyataan yang membuatnya geleng kepala: banyak pedagang memelihara “pegangan”. Macam-macam—dari yang berkepala babi, genderuwo, sampai sosok-sosok yang berdiri seperti pemilik wilayah. Pasar bukan cuma tempat jual beli sayur; malam hari pun ada “penghuni” yang berbeda.
Suatu hari, salah satu sosok yang diduga “pegangan” pedagang justru mendekati anaknya. Anaknya pulang menggigil, ngigo, mata mendelik ke atas—tanda yang membuat Kang Angga tahu ini bukan sekadar masuk angin. Ia marah dan melakukan perlawanan dengan cara yang ia bisa, berjam-jam seperti bertarung dalam “jalur” yang tak terlihat. Esoknya, ia mendengar kabar aneh: daging di salah satu los mendadak busuk semua. Ia tidak menganggap itu kemenangan yang patut dibanggakan—lebih seperti konsekuensi dari benturan dua dunia.
Di sisi lain, kariernya di dunia mistis-televisi bermula dari Teh Risa Saraswati—sepupunya sendiri. Ia sempat jadi tim survei dan pengamanan di program TV, membantu di belakang layar saat kru panik karena kejadian-kejadian tak terduga. Ketika Jurnal Risa lahir dan dua episode awal syuting berantakan, ia diminta ikut untuk “backup”. Lama-lama ia in-frame, dan publik mulai mengenalnya sebagai sosok yang tenang, banyak negosiasi, dan terlihat “paling siap” kalau suasana mulai chaos.
Pertanyaan publik yang paling sering ia dengar pun unik: “Kalau orang indigo datang ke rumah makan yang pakai pesugihan gimana?” Kang Angga mengaku pernah melihat yang membuat selera makan bisa runtuh seketika: ada yang pancinya seperti “ditancapi” sosok besar, ada juga pocong “ngaca” di depan cobek besar rumah makan. Tapi ia menekankan—sebagai konsumen, urusan perjanjian itu tanggung jawab pemilik. Yang bisa dilakukan orang biasa: berdoa, jaga diri, dan jangan ikut-ikutan tergoda penglaris.
Ia juga menyoroti fakta yang jarang dibahas: pesugihan tidak selalu “work”. Banyak yang sudah habis-habisan, tapi usahanya tetap biasa saja—namun ikatannya sudah terlanjur terjadi. Di situlah tipu dayanya: dijanjikan manis, tapi yang masuk bukan keberkahan, melainkan ketergantungan dan ancaman.
Pada akhirnya, perjalanan Kang Angga bukan semata kisah “bisa lihat hantu”. Ini kisah tentang seorang anak bandel yang disadarkan dengan cara yang ekstrem, lalu bertumbuh jadi orang yang belajar menahan diri, menjaga etika, dan memilih tidak mengusik kalau tidak perlu. Ia pernah melihat betapa mengerikannya konsekuensi pesugihan—bukan dari cerita orang, tapi dari pemandangan yang menempel di kepala sampai berhari-hari.
Dan kalau ada satu pesan yang ia ulang, itu sederhana: jangan pernah menggadaikan iman demi rezeki instan. Kalau jalan terang terasa lambat, tetaplah berjalan. Karena sekali kamu menoleh ke jalur gelap, yang datang bukan cuma “bantuan”, tapi juga tagihan—dan kadang, yang ditagih bukan uang, melainkan manusia.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.