Perjalanan seseorang memasuki dunia pengobatan spiritual tidak selalu dimulai dari ambisi besar atau cita-cita yang dirancang sejak kecil. Kadang jalan itu justru terbuka dari luka keluarga, dari rasa penasaran seorang anak muda, dan dari keinginan sederhana untuk menolong orang yang disayangi. Itulah yang tergambar dalam kisah Ustaz Muhammad Faizar, yang sejak usia remaja mulai mengenal rukiah bukan karena ingin terkenal, bukan karena mengejar gelar, tetapi karena ingin mencari jalan pengobatan yang benar untuk neneknya yang sedang sakit.
Awal kisah itu terjadi pada tahun 2005, ketika Ustaz Faizar masih berusia sekitar empat belas tahun. Saat itu neneknya sedang mengalami gangguan kesehatan serius. Kadar gula darah yang sangat rendah membuat sang nenek sering linglung, tidak sadarkan diri, dan kondisinya naik turun. Di lingkungan keluarga besar dan masyarakat desa tempat ia tinggal, keyakinan terhadap hal-hal metafisik masih cukup kuat. Ketika neneknya berkali-kali drop, muncullah saran dari keluarga jauh agar berobat ke seorang paranormal. Dari sanalah pengalaman yang mengubah hidupnya itu dimulai.
Paranormal tersebut mengatakan bahwa neneknya terkena santet. Ustaz Faizar yang saat itu masih remaja memang tidak menyaksikan langsung seluruh proses pemeriksaan, tetapi ia menemukan sesuatu yang membuat hatinya bergejolak. Di ventilasi kamar neneknya, ia melihat ada bungkusan putih. Ketika diambil, ternyata isinya bawang putih. Perawat neneknya sempat melarang dan mengatakan bahwa benda itu sudah dirituali oleh paranormal tersebut. Yang lebih mengejutkan lagi, keluarga ternyata sudah membayar mahal untuk ritual itu, sekitar tujuh juta rupiah. Bagi seorang anak SMP, menyaksikan keluarganya mengeluarkan uang sebesar itu untuk sesuatu yang baginya terasa ganjil benar-benar membakar batin. Dengan semangat yang sangat kuat, ia membawa bungkusan itu keluar dan membuangnya sambil bertakbir. Sejak saat itu, tumbuh tekad di dalam dirinya untuk mencari cara pengobatan yang benar menurut Al-Qur’an dan hadis.
Pencarian itu tidak langsung membawanya pada pemahaman yang lurus. Sebagaimana remaja pada umumnya, ia sempat tertarik pada tawaran belajar kanuragan dan membuka mata batin. Ketertarikannya bukan untuk gagah-gagahan, melainkan karena ia diberi tahu bahwa ilmu itu bisa dipakai untuk mengobati orang sakit. Bahkan ia sempat menabung uang saku untuk belajar tenaga dalam, sampai akhirnya diketahui oleh ayahnya. Sang ayah melarang keras, karena khawatir ilmu-ilmu seperti itu justru akan membawa akibat buruk. Larangan itu membuatnya kecewa, tetapi justru menjadi bagian penting dari perjalanan batinnya. Ia lalu terus mencari, menonton tayangan-tayangan televisi tentang penanganan gangguan gaib, membaca buku-buku rukiah, dan menghafal ayat-ayat yang diajarkan untuk pengobatan.
Perjalanan itu perlahan menemukan jalurnya ketika ada keluarga besar dari pihak ayah yang mengadakan rukiah bersama dan mendatangkan seorang ustaz dari daerah Melarak, Gontor. Ustaz inilah yang pertama kali membimbing Ustaz Faizar secara langsung dalam merukiah neneknya. Dengan membaca ayat-ayat yang sudah ia pelajari, ia mulai membacakan rukiah kepada neneknya sendiri. Yang terjadi bukanlah kesembuhan total, karena usia neneknya memang sudah sangat lanjut, tetapi kondisinya menjadi jauh lebih stabil. Delusi yang sempat muncul berkurang, kemarahan yang sebelumnya sering muncul mereda, dan neneknya bisa kembali mengenali anak, menantu, serta cucu-cucunya. Pengalaman itu menjadi pelajaran pertama yang sangat membekas: bahwa kedekatan batin antara orang yang merukiah dan orang yang didoakan punya pengaruh besar. Karena itulah hingga sekarang ia selalu menasihati keluarga orang sakit agar anak atau cucu yang paling dekat secara emosional ikut membacakan doa, bukan hanya menyerahkan semuanya kepada orang lain.
Setelah fase itu, perjalanan hidupnya membawanya ke Pondok Modern Darussalam Gontor. Pilihan untuk mondok di sana awalnya bukan hal yang sejak lama ia rencanakan. Ia merasa berat harus jauh dari orang tua. Namun setelah berdoa dan meminta petunjuk, akhirnya ia masuk ke pesantren tersebut pada tahun 2007. Justru di sanalah, menurut pengakuannya, Allah menyiapkan jalan hidup yang nantinya mengantarkannya lebih dalam pada dunia rukiah syariah dan thibbun nabawi.
Momentum penting berikutnya terjadi ketika ia duduk di kelas enam KMI. Suatu pagi di hari Selasa, ketika para santri lain sedang menjalani kegiatan rutin, ia melihat seorang santri baru pingsan di kamar mandi dan hanya disiram-siram air oleh pengurus rayon. Awalnya ia tidak terlalu peduli karena khawatir terlambat masuk pelajaran matematika. Namun karena dibujuk oleh ketua bagian takmir masjid, ia akhirnya bersedia menolong. Anak itu dibawa ke kantor takmir, lalu ia mulai membacakan ayat-ayat rukiah sambil memegang ubun-ubunnya.
Respons anak tersebut sangat mengejutkan. Dari yang sebelumnya lemas dan tidak sadar, tubuhnya mendadak menegang dan ngamuk hebat. Bahkan beberapa santri bertubuh besar kewalahan menahannya. Saat diajak bicara, makhluk yang berbicara melalui tubuh anak itu mengaku tidak ingin si anak berhasil di pesantren. Ia mengaku berasal dari daerah Majalengka dan diperintah untuk mengganggu anak tersebut agar tidak sukses, bahkan mengaku pernah menyebabkan ayah si anak meninggal. Pengalaman itu menjadi pelajaran berharga bagi Ustaz Faizar. Ia melihat sendiri bagaimana jin bisa berdusta, membangun drama, dan memancing emosi orang-orang di sekitar. Beruntung ada ustaz senior yang datang dan kemudian membimbing penanganannya sampai anak itu akhirnya sadar setelah dimandikan dengan air bidara. Dari kejadian itulah Ustaz Faizar mulai diarahkan menjadi salah satu kader perukiah di angkatannya.
Dalam perjalanannya belajar lebih jauh, ia juga sampai pada satu metode yang cukup dikenal dalam praktik rukiahnya, yaitu mengajak jin yang mengganggu untuk bersyahadat dan masuk Islam. Dasarnya adalah pemahaman dari kitab-kitab ulama bahwa jin yang mengganggu manusia harus lebih dulu disampaikan hujah. Jika ia mau masuk Islam, ia boleh keluar dengan damai. Jika tidak mau, ia tetap harus keluar. Dalam praktiknya, ternyata tidak semua jin mudah menerima. Ada satu pengalaman yang sangat membekas, ketika jin yang mengganggu seseorang bersedia mengucapkan syahadat bagian pertama, tetapi menolak mengakui Nabi Muhammad sebagai rasul Allah. Dari situ Ustaz Faizar menyaksikan sendiri betapa besar kebencian setan terhadap syariat Nabi. Jin itu akhirnya dipaksa hingga mau mengucapkan syahadat secara lengkap, dan begitu selesai, ia langsung lepas dari tubuh pasien.
Ada juga pengalaman lain yang jauh lebih mudah. Seorang anggota yang sering latihan menyelam ternyata mengalami sakit lambung berkepanjangan setelah sebelumnya pernah dirajah tubuhnya. Dalam proses rukiah, jin yang masuk ke tubuh orang itu justru cukup kooperatif. Setelah diajak bersyahadat, jin tersebut keluar dengan cukup mudah dan pasien muntah-muntah sampai keluar cairan merah. Dari situ Ustaz Faizar makin memahami bahwa gangguan jin sering kali masuk melalui celah-celah yang sengaja dibuka manusia sendiri, termasuk melalui rajah, jimat, dan praktik-praktik sejenis.
Pintu perjalanan dakwahnya kemudian terbuka lebih luas ketika ia dikenal media televisi. Awalnya ia dihubungi oleh seorang teman yang menyarankan agar ketika pulang dari Mesir, ia mengisi tayangan bertema khazanah dan rukiah. Pada tahun 2014 ia mulai terlibat di Bekasi, lalu secara resmi bergabung dalam tayangan di televisi nasional sekitar 2016. Dari situlah pengalaman-pengalaman rukiahnya semakin meluas, dan berbagai kasus berat mulai datang satu demi satu.
Salah satu kasus yang sangat membekas adalah penanganan seorang pria bernama Pak Yanto di daerah pegunungan Purbalingga. Pria ini mendadak lumpuh akibat serangan sihir. Tubuhnya yang dulu kekar berubah menjadi kurus dan tidak berdaya. Setelah beberapa kali dirukiah dan juga diterapi secara fisik, Ustaz Faizar merasa ada sesuatu yang belum selesai. Ia lalu menggunakan metode mirroring, yaitu mendekatkan pasien ke area-area tertentu untuk membaca apakah ada reaksi tubuh yang menunjukkan keberadaan media sihir. Benar saja, di satu titik tubuh Pak Yanto bereaksi sangat kuat. Ketika digali, ditemukan sebuah buhul berupa kain kafan lusuh yang di dalamnya berisi kaki ayam. Pada ceker ayam itu ada simpul-simpul kusut, persis seperti gambaran buhul dalam istilah Al-Qur’an. Saat benda itu dibakar, tempurung lutut Pak Yanto langsung bergetar hebat. Peristiwa itu menjadi salah satu bukti yang sangat mengesankan baginya bahwa sihir memang bisa menempel lewat media tertentu, dan ketika mediumnya ditemukan lalu dimusnahkan, pengaruhnya bisa runtuh dengan cepat. Kini Pak Yanto sudah sembuh total dan kembali bekerja.
Kasus lain yang tidak kalah mengherankan terjadi pada tahun 2019. Seorang ibu datang dalam keadaan perut rata, padahal berdasarkan rekam medis dan hasil USG yang lengkap, sebelumnya ia positif hamil dan kandungannya sudah masuk usia sembilan bulan. Tidak ada tanda-tanda keguguran, tidak ada janin yang keluar, tetapi bayi itu seperti hilang begitu saja. Awalnya Ustaz Faizar pun sulit percaya. Namun setelah memastikan semua bukti medis dan mendengar keterangan bidan dalam timnya, ia memutuskan untuk melakukan rukiah secara serius. Pada dua sesi pertama, tidak ada reaksi keras dari pasien. Ia tidak kesurupan atau muntah, hanya tampak datar. Akhirnya digunakan metode hidroterapi, yakni pasien dibawa ke kolam renang, dibasahi, lalu dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an, khususnya Surah Ali Imran pada bagian kisah Maryam. Dalam proses itu, di kamera tampak jelas ada gerakan kembali di perut sang ibu. Kaki bayi terlihat bergerak-gerak dari dalam. Momen itu membuat semua yang menyaksikan sujud syukur. Bagi Ustaz Faizar, kejadian tersebut menjadi salah satu pengalaman paling luar biasa dalam perjalanannya menangani kasus yang diduga berkaitan dengan ilmu hitam.
Tahun 2020, ia kembali menangani kasus yang sangat membekas lewat sosok bernama Pak Wartim. Pria ini dulunya dikenal sebagai orang yang suka berkelahi, pemberani, dan pernah menjalani berbagai ritual pesugihan serta amalan-amalan kesaktian. Ia bahkan memiliki catatan sendiri berisi mantra dan ritual untuk ilmu kebal, pelet, pengasihan, sampai pesugihan. Dalam kisahnya, Pak Wartim mengaku beberapa kali didatangi orang luar kota yang mengaku sebagai kiai. Mereka meminta didampingi berpuasa dan bersemedi di kuburan keramat dekat rumahnya. Sebagai imbalan, Pak Wartim diberi berbagai amalan. Dalam salah satu ritual, ia mengaku melihat sosok yang sangat besar, saking besarnya sampai yang terlihat hanya bagian sepatunya. Setelah sosok itu muncul, tampak satu koper uang ada di hadapannya. Tetapi ketika ia mencoba mengambilnya, tubuhnya seperti tersengat dan terpental. Saat itulah “kiai” yang mendampinginya mengatakan bahwa ada syarat lain yang harus dipenuhi.
Syarat itu awalnya hewan tertentu. Namun yang membuat Pak Wartim sadar adalah ketika makhluk tersebut justru menuntut anak ketiganya yang masih bayi. Uang yang semula ingin dipakai untuk membahagiakan keluarga ternyata justru menjadikan keluarga sebagai target. Saat itulah Pak Wartim marah besar, meninggalkan ritual, dan sejak itu hidupnya berubah. Tubuhnya sakit selama bertahun-tahun, dari pinggang hingga kepala, sampai akhirnya bertemu dengan Ustaz Faizar dan timnya. Proses rukiahnya cukup unik karena ia tidak langsung kesurupan hebat, tetapi muntah-muntah lalu mengalami kondisi bingung seperti orang linglung. Setelah itu dilakukan detoksifikasi dengan ramuan, rukiah, dan terapi lanjutan sampai kondisinya berangsur pulih. Dari pengalaman Pak Wartim, Ustaz Faizar selalu menekankan satu pelajaran penting: bahwa pesugihan, betapa pun tampaknya menjanjikan, sesungguhnya hanyalah tipuan setan. Kalaupun uang tampak muncul, yang akhirnya menjadi korban justru orang-orang yang paling disayangi.
Dalam penjelasannya, Ustaz Faizar juga menolak anggapan bahwa pesugihan benar-benar bisa membuat orang kaya. Menurutnya, kalaupun ada orang terlihat semakin kaya setelah melakukan ritual, itu bukan berarti setan memberi rezeki. Rezeki setiap manusia sudah ditakar oleh Allah. Yang terjadi hanyalah pergeseran bentuk nikmat: uang mungkin bertambah, tetapi ketenangan hilang, anak-anak bermasalah, rumah tangga kacau, kesehatan rusak, atau muncul kasus-kasus lain yang merusak hidup. Ia bahkan pernah menangani seseorang yang hasil usahanya memang sempat berlipat ganda setelah menjalani ritual tertentu, tetapi setiap malam ada makhluk yang datang mengambil kembali uang dari brankasnya. Pada akhirnya, secara nyata yang tersisa tetap sama. Dari situ ia berkesimpulan bahwa tidak ada pesugihan yang benar-benar membawa keberkahan.
Ia juga menjelaskan soal tumbal, yang sering dipahami secara salah oleh banyak orang. Menurutnya, roh orang yang meninggal tidak dibawa ke alam jin. Yang sering dimainkan justru adalah “sukma” atau kesadaran, yang bisa dimanipulasi sehingga seseorang menjadi linglung, blank, atau kehilangan kendali. Kalau sampai orang meninggal, ia tetap menuju alam barzakh, bukan menjadi makanan jin. Jadi esensi tumbal bukan karena jin membutuhkan nyawa manusia, melainkan karena mereka ingin menguji sejauh mana manusia rela menghamba kepada mereka.
Dari sekian banyak kasus, ada pula pasien bernama Mas Karji yang tubuhnya tinggal kulit dan tulang, sudah lemah tak berdaya, tetapi ketika dirukiah justru tiba-tiba mengamuk dan mencoba memukul. Menurut keterangan keluarga, ia diduga menjadi tumbal dalam sebuah praktik gaib. Penanganannya memakan waktu sampai tiga bulan. Selain rukiah, Ustaz Faizar juga memperbaiki nutrisi pasien dan meminta agar ia rutin mengonsumsi belut sebagai sumber protein, ditambah terapi zikir dan pembacaan Surah Ad-Dukhan. Lambat laun berat badannya naik dan ia pulih sampai bisa beraktivitas normal lagi. Kini, menurut cerita Ustaz Faizar, orang itu bahkan aktif membantu perjalanan ibadah dan menjadi bagian dari lingkaran dakwahnya.
Bagi Ustaz Faizar, kunci semua penanganan itu pada akhirnya bukan semata-mata teknik, melainkan hati. Ia selalu menekankan bahwa setan bekerja dengan menanamkan takut dan sedih. Takut dan sedih itu, secara psikologis, menjadi pintu besar bagi gangguan jiwa dan keputusasaan. Maka pasien harus dibangun kembali semangatnya, keyakinannya, dan hubungannya dengan Allah. Di situlah Al-Qur’an berfungsi bukan sekadar sebagai bacaan, tetapi sebagai petunjuk yang menguatkan jiwa.
Ketika ditanya bagaimana cara menolak santet, ia menjelaskan bahwa langkah pertama adalah sadar lebih dulu bahwa diri sedang tidak baik-baik saja. Setelah itu seseorang harus kembali mengingat Allah, memperkuat keyakinan, lalu membaca ayat-ayat perlindungan seperti Ayat Kursi, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas, dengan keyakinan penuh bahwa Allah mendengar dan pasti memberi pengaruh terhadap gangguan tersebut. Bagi orang yang ingin merukiah diri sendiri, ia menyarankan membaca doa-doa Nabi sambil memegang bagian tubuh yang sakit, atau menggunakan media makanan dan minuman seperti madu, kurma ajwa, sop kaki kambing, hingga sayur daun kelor yang dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an.
Yang paling kuat dari seluruh kisahnya mungkin justru bukan pada kisah-kisah seram itu sendiri, melainkan pada nasihat tegasnya tentang pesugihan. Kepada siapa pun yang sedang terlilit utang, tertekan, atau sedang dibisiki untuk mencari jalan pintas, ia berkata bahwa jangan pernah sekalipun membuka pintu itu. Menurutnya, jika gerbang syirik sudah dibuka, setan akan menghajar manusia semaunya. Kalau tumbal bukan orang lain, maka diri sendiri bisa menjadi target berikutnya. Sebab setan tidak pernah menepati janji. Ia hanya menipu dan mempermainkan manusia sampai akhirnya manusia sendiri yang hancur.
Sebagai gantinya, ia menawarkan apa yang ia sebut sebagai “pesugihan syari”, bukan dalam arti mistik, tetapi dalam arti kembali kepada Allah dengan jalan yang halal. Ia menyarankan memperbanyak istigfar, bangun sebelum subuh, mandi, tahajud, memperbanyak sedekah, bertobat dari riba dan zina, memperbanyak amal saleh, serta membangun kedekatan dengan Allah. Menurutnya, inilah jalan rezeki yang sebenarnya. Allah pasti menolong orang yang sungguh-sungguh ingin menjaga kesucian dirinya, ingin melunasi utangnya, dan ingin hidup dalam jalan yang benar.
Perjalanan Ustaz Muhammad Faizar, dari seorang anak remaja yang marah melihat neneknya ditipu paranormal hingga menjadi perukiah yang menangani berbagai kasus di dalam dan luar negeri, memperlihatkan bahwa cahaya ilmu bisa tumbuh dari kegelisahan yang tulus. Ia tidak memulai langkahnya dari panggung besar, tetapi dari ruang keluarga yang cemas, dari kitab-kitab yang ia baca sendiri, dari pengalaman-pengalaman kecil yang lalu dituntun menjadi jalan dakwah yang luas. Dari sana ia belajar bahwa ayat bukan sekadar rangkaian huruf, melainkan jalan pemulihan bagi hati, tubuh, dan kehidupan orang yang yakin kepada Allah. Dan sampai hari ini, itulah amanah yang terus ia jaga: menolong dengan cahaya, tanpa mengejar pujian, tanpa memburu gelar, hanya berharap agar orang yang datang kepadanya bisa pulang dengan jiwa yang lebih tenang dan keyakinan yang lebih kuat.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
