Di sebuah sudut kota Cirebon, berdiri sebuah kafe kecil dengan dekorasi lampu temaram dan musik pelan yang menenangkan. Dari luar, tak ada yang mencurigakan. Para pengunjung datang silih berganti, antrean tak pernah habis, dan aroma kopi susu selalu memenuhi udara. Namun di balik keramaian itu, tersimpan cerita gelap tentang seorang pemilik kafe bernama Mbak Indah yang terjerumus pada ritual pesugihan tumbal janin.
Semua bermula ketika rumah tangga Mbak Indah runtuh. Suaminya menjalin hubungan dengan perempuan lain tepat saat ia sedang hamil empat bulan. Chat mesum memenuhi ponsel suaminya, dan ketika ia memprotes, ia justru didorong hingga terjatuh di depan kafe yang mereka kelola bersama. Sejak hari itu, suaminya pergi tanpa kabar, meninggalkan Mbak Indah dalam kesendirian, kemarahan, dan kehamilan yang rapuh.
Kafe yang sebelumnya ramai berubah sepi dalam hitungan minggu. Para karyawan berhenti satu per satu, pelanggan berkurang drastis, dan keuangan keluarga jatuh terperosok. Dalam keadaan mental yang lemah dan hati yang retak, Mbak Indah mulai menerima bisikan teman-temannya yang menyarankan jalan pintas mencari penglaris, pergi ke dukun, dan melakukan tirakat agar kafe kembali ramai. Dalam keadaan putus asa, ia menuruti.
Di Indramayu, ia dipertemukan dengan seorang dukun yang menawarkan dua pilihan ritual. Yang pertama adalah jalan panjang, yang kedua adalah jalan instan dengan syarat tumbal. Tanpa pikir panjang, Mbak Indah memilih cara cepat. Ia ingin kafe kembali ramai, ingin uang mengalir lagi, dan ingin membuktikan pada suaminya bahwa ia bisa hidup tanpa lelaki itu. Namun ritual itu berakhir dengan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan makhluk pesugihan menolak tumbal yang ia ajukan dan justru menginginkan janin yang ia kandung.
Dalam keadaan tertekan, ketakutan, dan kehilangan arah, Mbak Indah akhirnya menyerahkan janinnya sebagai tumbal. Pagi setelah ritual, ia terbangun dengan perut yang tiba-tiba rata, seperti tidak pernah hamil. Saat ia membuka kamar kosong yang sudah disiapkan, lantai kamar dipenuhi uang dalam jumlah yang tak terbayangkan. Uang asli, utuh, tebal, dan berceceran sampai ke bawah kasur. Mbak Indah menangis, bukan karena menyesal, tetapi karena merasa seolah diberi “keajaiban”.
Sejak hari itu, hidupnya berubah drastis. Kafe kembali ramai seperti dulu. Bahkan lebih ramai. Uang mengalir deras dari berbagai arah. Ia membeli mobil baru secara tunai, membayar gaji karyawan lebih besar, dan membantu keluarganya dengan uang yang seolah tak ada habisnya. Namun kebahagiaan itu seperti bayangan tipis yang menutupi teror besar yang menunggu di belakangnya.
Para pengunjung kafe mulai mengalami kejadian aneh. Ada yang jatuh mendadak, ada yang pingsan tanpa sebab, ada yang kecelakaan sepulang makan di sana. Mbak Indah tahu benar apa penyebabnya. Pesugihan selalu haus tumbal, dan tamu kafe menjadi sasaran empuk untuk dipilih secara acak. Namun ia menutup matanya. Selama uang tetap mengalir, ia meyakinkan diri bahwa semua itu kebetulan belaka.
Setahun setelah ritual pertama, tagihan pesugihan datang kembali. Mbak Indah bermimpi makhluk gelap itu muncul dan menagih janin baru, meskipun ia tak pernah membuat janji tambahan apa pun. Dalam mimpi itu, makhluk tersebut menuntut janin hidup yang lain sebagai tumbal lanjutan. Ia terbangun dalam keadaan gemetar, tubuhnya lemas, dan ruangan terasa sesak oleh hawa dingin yang tak masuk akal.
Malam demi malam, Mbak Indah didatangi teror. Suara langkah kaki terdengar di atap rumah, bayangan melintas di kamar, dan tubuhnya rasanya seperti ditekan oleh sesuatu yang tak terlihat. Bahkan pembantunya mengalami kesurupan parah. Rumah itu berubah menjadi tempat angker yang menghisap energi semua penghuninya. Ia mulai mencari janin baru dari rumah sakit, bidan, bahkan menanyakan kepada orang yang keguguran. Ketika perang batin mencapai titik terendah, ia sadar dirinya sudah berada di batas kegilaan.
Dalam kondisi itu, Mbak Indah diselamatkan oleh temannya yang membawanya kepada seorang ustaz di Kuningan. Ustaz tersebut memintanya melepas seluruh pakaian yang masih tersisa dari uang pesugihan dan membacakan rukiah yang berlangsung berjam-jam. Saat ayat-ayat suci bergema, makhluk pesugihan itu muncul, berusaha mempertahankan ikatannya. Namun setelah pertarungan panjang, ikatan gelap itu pecah dan pesugihan tersebut berhasil diputus.
Sejak hari itu, seluruh hartanya hilang. Mobil, perabotan, tabungan, kafe, semuanya lenyap seolah tak pernah ada. Hidupnya kembali dari nol. Namun untuk pertama kalinya, ia bisa tidur tanpa mimpi buruk, tanpa jeritan gaib, tanpa perasaan dikejar makhluk hitam yang menuntut tumbal.
Kini, Mbak Indah hidup sederhana bersama suami barunya yang baik dan penuh kasih. Ia kembali bekerja dari bawah, membuka usaha online kecil-kecilan. Setelah bertahun-tahun merasa kehilangan, Allah memberikan anak baru yang sehat, seolah memberi penebusan atas masa lalu yang getir dan penuh darah.
Kisah ini adalah bayangan nyata tentang bagaimana keserakahan dan putus asa bisa membawa manusia pada jalan paling gelap. Pesugihan tidak pernah gratis. Setiap rezeki yang datang dari jalan gaib akan meminta balasan seperti harta, jiwa, atau keluarga. Dan semua itu akhirnya membawa kehancuran.
Mbak Indah menutup kisahnya dengan satu pesan yang terasa seperti jeritan dari dalam hati:
“Jangan pernah iri pada orang yang tiba-tiba kaya. Kau tidak tahu apa yang dikorbankannya. Dan jangan pernah meminta rezeki dari selain Tuhan. Sekali kau masuk, sulit sekali untuk keluar tanpa kehilangan sesuatu.”
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.