Mas Reno mengira pindah rumah adalah cara paling sederhana untuk menyelamatkan keluarganya. Tahun 2023, pertengkaran kecil di rumah orang tua berubah jadi bencana: ayahnya murka, anak pertamanya sampai ditarik kakinya, dan kalimat pengusiran itu keluar seperti palu—tujuh hari, lalu pergi. Mas Reno yang emosi membalas, lalu pergi menenangkan diri dengan satu tujuan: cari kontrakan, secepatnya.
Di warung kopi, ia membuka marketplace dan menemukan kontrakan Rp700.000 per bulan. Murah, tapi tidak murahan. Pemilik bilang masih ada, kuncinya dipegang seseorang bernama Mbak Nuri. Sore harinya Mas Reno membawa istri dan tiga anaknya melihat rumah itu—dua kamar, ruang tamu, dapur, halaman luas, pagar rapi. Bangunan terlihat baru. Rasanya seperti jawaban dari doa: tempat yang cukup untuk memulai ulang hidup.
Sempat ada drama kecil—rumah yang ia incar ternyata juga dilihat orang lain. Mas Reno kecewa dan hampir batal, sampai Mbak Nuri menawarkan unit lain beberapa rumah dari situ. Dan anehnya, unit kedua justru jauh lebih bagus. Tanpa banyak pikir, malam itu juga Mas Reno bayar penuh untuk sebulan pertama. Ia pulang dengan lega, menyiapkan pindahan untuk besok.
Sore keesokan harinya mereka resmi menempati rumah kontrakan itu. Baru juga duduk santai di teras sambil ngopi, magrib datang—dan rumah baru itu mendadak terasa “ramai” oleh hal yang tidak terlihat: suara ngaji seperti berlapis-lapis, seolah ada banyak orang mengaji bersamaan. Temannya, Banu, menyebut kebetulan yang bikin dada dingin: malam itu Kamis menuju Jumat, bahkan bertepatan dengan malam Jumat Kliwon dan suasana Suro. Mas Reno sempat kaget, tapi semua barang sudah terlanjur masuk. Tidak mungkin mundur.
Mas Reno sempat mengantar Banu pulang. Sebelum pergi, ia minta istrinya mengaji di rumah, setidaknya membaca sesuatu untuk “nyalain lampu batin” rumah baru itu. Tapi ketika ia kembali, rumah justru sepi—istrinya dan anak-anak tertidur. Di detik itu, Mas Reno merasakan sesuatu yang tak bisa dijelaskan: dada panas, tenggorokan panas, kepala panas. Seolah ada amarah dari udara yang sengaja disuntikkan ke tubuhnya. Dan tanpa sebab yang masuk akal, ia sampai melampiaskan emosi pada istrinya—sesuatu yang ia sendiri akui tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
Hari kedua terlihat lebih normal, tapi bekas panas itu seperti masih menggantung. Hari ketiga malah aneh: anak-anak mendadak mudah melawan, rewel, berantem dengan tetangga, seperti karakter mereka digeser pelan-pelan. Banu yang datang lagi pun mengaku dari awal sudah merasa “diawasi”, terutama dari arah dapur. Bukan tatapan manusia—lebih seperti ada yang berdiri diam dan menunggu.
Malam mulai benar-benar berubah ketika suara cekikikan terdengar dari atas rumah. Mas Reno awalnya mengira burung, tapi suara itu terlalu “manusia”, terlalu dekat, terlalu sengaja. Lalu gangguan berganti bentuk: jetpump air bunyi berulang-ulang, piring beradu, sendok seakan dimainkan. Banu sampai merasa sesak napas di dalam rumah, tapi begitu keluar pagar beberapa meter, badannya langsung enakan—seolah rumah itu punya batas yang menekan paru-paru.
Puncaknya datang ketika Mas Reno melihat bayangan merah melintas cepat dari ujung kamar menuju dapur, berkali-kali, seperti sengaja diperlihatkan. Ia mencoba menepis dengan logika—mungkin istrinya, mungkin anak—tapi istrinya sedang di kamar mandi. Saat itulah ia sadar: yang bergerak itu bukan keluarga.
Mas Reno punya kenalan dekat, Pak Haji—juru kunci tempat keramat yang sering ia datangi, sekaligus orang yang paham rukiah. Mas Reno konsultasi, menyebut ada sosok merah. Pak Haji langsung memberi peringatan: makhluk “merah” itu bandel, susah diusir, dan kalau dipaksa pergi bisa berdampak ke istri dan anak. Mas Reno mungkin kuat karena terbiasa melek dan zikir, tapi keluarganya belum tentu sekuat itu.
Namun malam berikutnya, sosok itu tidak hanya lewat sebagai bayangan. Ia menampakkan diri tepat di depan mata: perempuan berambut panjang, tatapannya menekan, auranya membuat badan seperti terpaku. Yang paling mengerikan, ia memanggil nama Mas Reno dengan suara lembut—seolah sudah lama mengenal. Dan sejak malam itu, anak-anak mulai tidur menutup wajah dengan bantal rapat, seperti ada yang mereka lihat lebih dulu daripada orang dewasa.
Mas Reno mencoba langkah “bersih-bersih” dengan air yang dianjurkan, mengelilingi rumah, menyiram sudut-sudut. Tapi justru hawa panas makin jadi, pertengkaran di rumah makin sering, dan gangguan seperti mendapat panggung. Sampai akhirnya musibah besar datang: istrinya mengalami kecelakaan saat bekerja, kepalanya harus dijahit, tangannya patah—dan istrinya bersumpah ia merasa ada yang mengikuti dari belakang, siang bolong sekalipun.
Ketakutan Mas Reno berubah jadi amarah. Ia bahkan sempat berniat menunggu dan “menantang” gangguan itu, melek-leklekan di teras bersama Banu. Tapi suara-suara makin jelas: pintu dapur seperti dibuka paksa, geraman muncul di dekat mereka, dan anak laki-lakinya ketika dibangunkan malah menjawab dengan mata terpejam, “Enggak berani… takut… bukan lawan saya.” Kalimat itu seperti bukan suara anak kecil—lebih seperti ada yang menumpang lewat mulutnya.
Mas Reno akhirnya mengungsi ke tempat keramat tempat Pak Haji biasa berjaga. Di sana Pak Haji menenangkan, lalu memutuskan membantu bersih-bersih rumah kontrakan memakai media air, garam, dan daun bidara. Malam pembersihan itu, reaksi di rumah terasa: hawa berubah, tekanan naik turun, dan Pak Haji seperti “berkomunikasi” dengan penghuni yang mengganggu—bukan mengusir dengan marah, tapi menginterogasi, menegaskan batas, menyuruh pergi.
Di waktu yang sama, fakta lain terbuka dari pihak pemilik kontrakan sendiri. Anak pemilik bernama Anton mengakui sesuatu yang membuat Mas Reno paham kenapa rumah itu terasa seperti “pancing emosi”: rumah tersebut dulu sering dipakai praktik ilmu hitam. Bapaknya disebut orang sakti, punya banyak murid—lebih dari seratus—dan jalurnya bukan jalur putih. Dari hasil komunikasi Pak Haji, sosok merah yang mengganggu itu memang bagian dari “bekingan” lama yang ditanam di rumah untuk keperluan pesugihan. Makhluk itu tidak pergi karena lapar menakuti; ia bertahan karena rumah itu pernah jadi tempat perjanjian dan buhul-buhul yang tidak semua orang paham.
Setelah pembersihan selesai, suasana rumah berubah drastis. Malam-malam jadi lebih sunyi, amarah di dada tidak lagi tiba-tiba menyala, anak-anak kembali normal, dan bunyi-bunyian hilang seperti diputus saklarnya. Mas Reno akhirnya bisa membawa istri dan anak-anak kembali menempati rumah itu—dan sampai dua tahun berikutnya, gangguan tidak muncul lagi.
Yang tersisa hanya satu bekas: rasa getir karena menyadari betapa “rumah bagus” bisa menyimpan sejarah yang jahat. Kontrakan itu tidak murah mencurigakan, bangunannya baru, halamannya luas—tapi pernah dipakai untuk urusan yang membuat makhluk-makhluknya betah tinggal. Dan ketika keluarga baru masuk tanpa tahu apa-apa, yang diserang bukan hanya mata dan telinga, melainkan emosi—agar rumah tangga retak dari dalam.
Kisah Mas Reno jadi pengingat yang menohok: kadang teror tidak datang untuk sekadar menakuti, tapi untuk memecah—membikin suami mudah marah, istri mudah lelah, anak-anak mudah rewel, sampai keluarga hancur dengan tangan mereka sendiri. Dan ketika akhirnya kita tahu sumbernya, kita baru sadar: ada rumah-rumah yang bukan cuma butuh kunci pintu… tapi juga butuh “kunci” untuk menutup pintu yang tak kelihatan.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.