Teh Siti mengira kisah pesugihan yang ia antar sebelumnya sudah selesai di titik paling mengerikan: uang ghaib sudah “nampak wujud”, kardus-kardus kulkas sudah disiapkan, dan ritual tinggal selangkah lagi menuju “pencairan”. Tapi justru setelah itu, semuanya berubah jadi rangkaian bencana yang menelan korban satu per satu.
Semuanya bermula dari Andi—orang yang menjalani ritual jalur jual-beli. Setelah uang muncul, Andi kabur begitu saja tanpa pamit, tanpa jejak, tanpa tanggung jawab. Teh Siti dan Edi—si pendana—kebingungan. Mereka tidak punya nomor Andi, tidak tahu rumahnya, dan satu-satunya kontak yang pernah dipakai pun sudah tidak aktif. Bagi Edi, ini seperti ditinggal di tengah laut setelah semua asetnya dijual untuk mendanai ritual: mobil, motor, tabungan, sampai istrinya pulang kampung karena merasa dibohongi.
Dalam kondisi kalut, Teh Siti dan Edi memutuskan mendatangi Abah di Indramayu—orang yang memegang “kunci” ritual sebelumnya. Abah masuk ke kamar ritual, “bertanya” ke yang tak kasat mata, lalu keluar dengan jawaban yang membuat tengkuk dingin: Andi kabur karena ingin membuka portal sendiri, ingin ambil uang sendiri, tidak mau berbagi. Andi merasa sudah bisa “komunikasi” dan sudah pegang bacaan. Tapi Abah menegaskan, tanpa kunci dan jalur yang benar, Andi tidak akan bisa membawa apa pun—yang ada hanya membuka masalah baru.
Edi yang sudah terlanjur jatuh, bertanya apakah ritual masih bisa dilanjut. Abah bilang bisa, tapi bukan jalur jual-beli lagi. Jalurnya diganti jadi jalur yang lebih “cepat”: jalur nikah. Bukan menikah dengan manusia—melainkan pernikahan ghaib. Dan calon pengantennya… bukan perempuan biasa.
Edi nekat. Ia bilang siap. Tapi Abah memberi peringatan yang bunyinya seperti vonis: jika Edi menikah ghaib, ia tidak boleh “didua”. Jika ia masih punya istri, maka istrinya bisa “diambil”. Kalau Edi tetap ingin istrinya selamat, harus ada pengganti—seorang perempuan lain yang benar-benar cinta dan terikat emosinya pada Edi, agar “yang diambil” bukan istrinya.
Di titik itu Teh Siti hanya bisa diam. Ia merasa sudah terlalu jauh ikut masuk, padahal niat awalnya hanya mengantar. Tapi Edi sudah terobsesi: ia ingin kaya lagi, ingin istrinya pulang, ingin semua yang hilang kembali sekaligus. Maka dimulailah pencarian target.
Edi lalu menyebut satu nama: Desi, kenalan lama yang dulu pernah menyimpan rasa padanya. Kebetulan Desi sedang terlilit utang dan rumahnya terancam disita. Bagi Edi, itu “target paling gampang”—bukan karena Desi jahat, tapi karena Desi sedang rapuh. Edi mulai mendekati Desi, membangun kedekatan, menjanjikan proyek, menjanjikan uang besar, dan pelan-pelan menjerat Desi sampai benar-benar percaya.
Sebulan kemudian, Edi mengabari Teh Siti: Desi sudah “kena”. Hubungan mereka sudah sedekat pasangan. Saat itulah Edi menelpon Abah dan memberi kabar bahwa pengganti sudah ada. Abah pun memberi daftar syarat ritual: ayam cemani sepasang, tumpeng, buah-buahan, bunga, minuman ritual seperti kopi pahit-manis, teh pahit-manis, susu, air putih—dan tentu saja dupa. Satu yang paling merepotkan adalah ayam cemani: sulit dicari, mahal, dan harus benar-benar hitam.
Ritual dimulai seperti pola yang sama: selepas magrib Edi masuk kamar ritual, lalu tengah malam masuk lagi sampai menjelang subuh. Teh Siti menunggu di luar pintu, menahan takut, sambil berharap dalam hati semua ini gagal saja sebelum ada korban yang benar-benar jatuh.
Pada malam ketika “mereka” datang, Edi keluar dengan wajah campur aduk. Yang muncul bukan hanya “orang tua ghaib” yang mengaku sebagai Ki Dong dan Nyai Mar, tapi juga putrinya—sosok yang digambarkan Edi cantik, wangi, putih, dan terlihat seperti manusia sempurna. Edi bahkan bilang, putri itu hanya tersenyum—senyum yang membuat bulu kuduk berdiri karena terasa terlalu “tahu” maksud manusia.
Ki Dong memberi perintah: pernikahan harus disahkan oleh Abah sebagai semacam “lebe”—karena Abah pemegang kunci jalur. Tanpa Abah, ikatan itu dianggap main-main. Lalu sebagai bukti bahwa ini bukan khayalan, putri ghaib itu memberi “uang contoh”—dua gepok uang yang ditaksir sekitar dua ratus juta. Uangnya persis uang asli, hanya bedanya: ada bau wangi yang aneh, menusuk, dan Edi tidak berani menyimpannya lama-lama. Ia hanya memotret sebagai bukti, bahkan mengirim fotonya ke Desi untuk membuat Desi makin yakin bahwa “uang miliaran” tinggal selangkah lagi.
Masalahnya, Abah tidak datang.
Hari yang dijanjikan untuk pernikahan ghaib, Abah menghilang. Telepon tidak aktif, alasan dari istrinya selalu berubah: Abah sedang ada tamu lain, Abah sedang di bukit, Abah sedang ritual lain. Bagi Teh Siti, ini tidak masuk akal—harusnya seorang kuncen yang “memegang kunci” justru paling semangat ketika ritual sudah di ujung keberhasilan. Tapi respon Abah datar, seperti orang yang sengaja menahan diri.
Malam kedua berjalan tanpa Abah, dan suasana berubah jadi tegang. Edi masuk kamar ritual, lalu keluar dengan wajah kusut: para ghaib datang lagi, tapi kali ini marah. Mereka merasa dipermainkan. Putri ghaib cemberut, wajahnya memerah, dan ancamannya terasa nyata—seolah manusia sedang bermain-main dengan sesuatu yang tidak suka dipermainkan.
Puncaknya terjadi pada malam terakhir. Teh Siti yang sudah tidak enak firasat, memanggil temannya, Wawan—orang yang lebih paham “dunia begitu”—untuk menemani. Mereka berjaga di luar pintu kamar ketika Edi masuk tengah malam. Tidak lama, terdengar suara gedebuk-gedebuk seperti barang dilempar, seperti amukan yang mengguncang kamar dari dalam. Suaranya memantul ke dinding rumah, membuat napas sesak.
Edi keluar dalam keadaan syok: keringat dingin, pucat, dan gemetar. Ia mengatakan semua ghaib itu berubah wujud menjadi siluman kodok budug—tinggi seperti atap rumah, bertanduk, bertaring, lidahnya menjulur panjang dengan lendir. Sesajen dilempar-lempar. Kardus-kardus kulkas yang dulu disiapkan berantakan. Dan yang paling membuat Edi lemas: uang yang sebelumnya “nampak” mendadak hilang, seperti ditarik kembali dalam satu tarikan napas.
Subuh itu mereka mencoba menelpon Abah—tetap tidak aktif. Keesokan harinya Edi mulai sakit. Badannya meriang, gatal, ruam merah menyebar cepat. Wawan sampai menyimpulkan ini seperti cacar, tapi menyebarnya tidak wajar: penuh, padat, dan membuat Edi lemah seperti orang kehabisan darah.
Mereka akhirnya mendatangi rumah Abah langsung. Di sana baru terbuka alasan yang selama ini seperti ditutup rapat: Abah ternyata sakit parah. Kakinya abses besar sampai sulit diluruskan, bernanah, dan katanya sudah menyentuh tulang. Istrinya mengaku ponsel Abah dijual untuk biaya berobat.
Di dalam kamar, Abah akhirnya berkata pelan kepada Teh Siti: ritual nikah itu hanya pengalihan. Ghaib jalur uang dari ritual Andi sebenarnya tidak mau dipinjamkan lagi. Dan lebih dari itu, yang ditagih oleh “jalur” tersebut bukan Edi—melainkan anak Abah sendiri. Karena itulah Abah menahan diri, ogah-ogahan, dan tidak berani datang mengesahkan pernikahan. Ia memilih menutup jalan, meski risikonya menumpuk ke semua orang yang terlanjur ada di dalam lingkaran.
Edi pulang dalam keadaan hancur. Ia stres berat, tidak mau makan berhari-hari. Dan tak lama kemudian, Abah meninggal. Tiga hari setelah kabar itu, Edi menyusul—meninggal tragis dalam kondisi tubuh penuh bintil seperti cacar yang menutup hampir seluruh badan. Semua orang menganggapnya kematian medis, karena ada gejala fisik yang tampak. Tapi Teh Siti tahu, rangkaian ini bermula dari langkah-langkah yang tidak wajar—dari uang yang “nampak”, dari pernikahan yang “gagal”, dari kemarahan sesuatu yang merasa dipermainkan.
Belum selesai sampai situ, Teh Siti mendapat kabar lain: Andi yang kabur di awal cerita ternyata berakhir gila. Katanya terlalu banyak “yang ikut masuk”, membuatnya suka tertawa sendiri, berjalan tanpa arah, dan hidupnya hancur total. Lingkaran itu menutup dengan tragis: satu menghilang dan gila, satu mati, satu kuncen mati, sementara Teh Siti sendiri pulang membawa trauma yang tidak bisa dihapus.
Di akhir kisah, yang paling mengiris bagi Teh Siti adalah kenyataan bahwa Desi—target yang hampir dijadikan tumbal—selamat bukan karena manusia berhenti, tapi karena jalan itu keburu runtuh dan memakan pelakunya sendiri. Teh Siti pun hanya bisa berpesan: rezeki instan yang dipaksa lewat pintu gelap tidak pernah berakhir bahagia. Ia mungkin terlihat “dekat berhasil”, tapi ketika gagal, yang dibayar bukan cuma uang dan waktu—melainkan nyawa, kewarasan, dan rasa aman yang tidak akan kembali seperti semula.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.