Mas Damar menyimpan cerita ini bukan untuk dibanggakan, melainkan sebagai peringatan yang ia sendiri baru sanggup ucapkan setelah bertahun-tahun menahan malu, bingung, juga iba. Tahun 2004, saat ia masih kuliah, ia mulai sadar ada sesuatu yang “tidak wajar” dalam keluarga—sesuatu yang selama ini ditutup rapat, tapi lambat laun tak bisa lagi disembunyikan.
Ayahnya adalah sosok yang, di mata orang luar, terlihat mapan dan berwibawa. Namun di balik itu, masa kecil ayahnya dipenuhi penolakan. Ayah Mas Damar lahir dari keluarga yang punya garis “darah biru”, tetapi juga memikul stigma karena identitas Tionghoa yang pada masa itu sering dianggap asing oleh lingkungan. Dari kecil ia terbiasa dipandang sebelah mata—bukan cuma soal pergaulan, sampai urusan cinta pun jadi medan penghinaan.
Mas Damar mendengar langsung bagaimana ayahnya pernah menyiapkan lamaran dengan niat serius—bahkan membawa simbol kemapanan pada masa itu—namun tetap ditolak secara menyakitkan. Penolakan itu bukan sekadar “maaf, tidak bisa,” melainkan hinaan yang menancap di kepala, membuat harga diri ayahnya hancur berkeping-keping.
Dalam kondisi sakit hati seperti itu, ayahnya mengadu kepada kakek—sosok tua yang menganut Kejawen versi keluarga mereka. Kakek tidak sekadar menenangkan. Ia menawarkan “jalan pintas” yang diklaim bisa membuat ayah Mas Damar tidak lagi ditolak perempuan. Tapi dari awal, peringatan sudah diberikan: ilmu itu tidak main-main, dan konsekuensinya panjang—bahkan untuk memutusnya pun ada syarat yang kelak harus dibayar.
Ayah Mas Damar akhirnya memilih tetap maju. Bukan karena ia yakin itu benar, tapi karena ia lelah dipermalukan. Dan ketika emosi sudah jadi kompas, manusia sering menganggap risiko sebagai sekadar formalitas.
Mereka pergi ke sebuah lokasi pemandian kuno yang dipercaya sakral. Di tempat itulah ayah Mas Damar menjalani tirakat berat berhari-hari. Ia bercerita, setiap malam ada “ujian” yang datang berganti-ganti—kadang menakutkan, kadang menggoda—seolah tujuan utamanya bukan hanya membuat seseorang kuat, tapi membuatnya patuh.
Pada malam puncak tirakat, ayah Mas Damar mengaku bertemu sosok gaib yang memperkenalkan diri sebagai Dewi Sembada, didampingi sosok Raden Arjuna. Di momen itu, ia diberi sebuah “bunga telon”—bunga dengan kelopak tiga—yang dipercaya sebagai inti dari ajian Arjuna Telon. Dari sini, kisah keluarga Mas Damar mulai bergerak ke arah yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Setelah membawa pulang “warisan” itu, ayah Mas Damar berubah. Bukan dalam arti wajahnya berbeda, melainkan aura percaya diri yang tiba-tiba seperti berlapis. Ia merasa punya cara untuk membuat perempuan yang biasa menolak, jadi luluh tanpa banyak alasan. Bukan lagi soal usaha mendekat, melainkan seolah ada “dorongan” yang memaksa keadaan berpihak.
Ibu kandung Mas Damar adalah istri pertama. Ayahnya mengaku pernah menggunakan ajian itu dari jarak jauh—seperti “meniupkan” pengaruh—agar ibu Mas Damar yang sebetulnya punya latar keturunan yang kuat dan bisa saja menolak, akhirnya menerima pinangan. Dari pernikahan itulah keluarga inti Mas Damar terbentuk.
Namun yang membuat Mas Damar paling terpukul adalah kenyataan bahwa pernikahan pertama bukan penutup, melainkan pembuka. Sejak 1998, ayahnya mulai menikah lagi dan lagi, dengan pola yang terasa seperti “jadwal.” Setiap dua tahun, selalu ada kabar: akan ada istri baru. Mas Damar menyebut totalnya sampai 17 istri—dan itu bukan sekadar selir, melainkan istri yang diakui dalam lingkup mereka, walau banyak yang tidak tercatat negara karena kondisi pekerjaan ayahnya sebagai ASN saat itu.
Yang lebih aneh, para istri itu bisa akur dalam satu atap. Bukan akur basa-basi, tapi benar-benar hidup seperti keluarga besar yang rapi: ada yang mengurus rumah, ada yang berdagang, ada yang bekerja, dan mereka saling menopang. Mas Damar meyakini, ajian itu bukan hanya “memikat”, tapi juga menundukkan logika—membuat para istri menerima sesuatu yang bagi kebanyakan orang mustahil diterima.
Mereka bahkan punya mekanisme nafkah yang tidak masuk akal: bukan hanya ayah yang memberi, tapi antar-istri saling menambal. Ada istri yang punya pemasukan, membantu istri lain yang tidak bekerja. Ada yang punya tunjangan, dibagikan untuk kebutuhan bersama. Dari luar tampak kompak—tapi Mas Damar tumbuh dengan pertanyaan yang tidak pernah habis: “Apakah ini benar-benar rukun… atau rukun yang dipaksa?”
Di balik “keteraturan” itu, ada sisi gelap yang membuat Mas Damar merinding setiap mengingat. Ia mengaku beberapa kali mendengar ayahnya masuk “kamar peteng”—ruang ritual—pada malam-malam tertentu. Dari luar terdengar aktivitas seperti hubungan suami-istri, padahal para istri tampak berada di luar. Mas Damar meyakini ritual itu bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari “kewajiban” ajian yang terus menagih.
Ada pula efek lain yang disebut sebagai dampak turunan: kehamilan dan kelahiran di keluarga ini sering tidak normal. Mas Damar menceritakan kisah kakak-kakaknya yang prematur, sampai pengalamannya sendiri yang disebut dikandung jauh lebih lama dari umumnya. Ia tidak membingkainya sebagai “keajaiban”, justru sebagai tanda bahwa ada sesuatu yang dipaksa dari jalur yang tidak wajar.
Waktu berjalan, dan akhirnya angka 17 itu terpenuhi. Ayah Mas Damar menikah untuk terakhir kalinya—istri ke-17 yang usianya bahkan tidak jauh dari Mas Damar. Setelah itu, ajian itu disebut “terputus” dari sisi memikat perempuan baru. Tapi ironinya, konsekuensi tidak ikut putus.
Mas Damar menyebut kutukan paling sunyi dari ilmu pemikat: bukan dikejar musuh, bukan kehilangan harta—melainkan sulit meninggal. Ayahnya sudah sepuh, sering sakit, keluar-masuk rumah sakit, tapi seolah ajal menahan jarak. Secara fisik ia bahkan terlihat lebih muda dari usia sebenarnya. Di mata keluarga, itu bukan anugerah—itu penderitaan yang panjang dan melelahkan.
Di titik itulah Mas Damar mulai berubah. Ia bercerita proses hijrahnya panjang, bertahun-tahun, sampai akhirnya ia benar-benar memutus jalur kejawen yang dulu sempat melekat di hidupnya. Ia tidak memusuhi masa lalu, tapi ia memilih arah yang membuat hatinya lebih tenang.
Dan dari semua keinginan Mas Damar, yang paling tulus justru bukan tentang warisan atau masa lalu ayahnya. Ia hanya ingin ayahnya mendapat hidayah—menjadi muslim—agar kelak mereka bisa berkumpul lagi, bukan cuma di dunia, tapi juga di akhirat. Permintaan itu terdengar sederhana, tapi diucapkan dengan dada penuh luka yang tidak banyak orang mengerti.
Kisah ini pada akhirnya bukan soal sensasi “punya 17 istri.” Ini tentang manusia yang terluka oleh penolakan, lalu memilih jalan yang salah untuk membuktikan diri. Tentang kekuasaan yang tampak indah, tapi diam-diam memakan ketenangan. Dan tentang pelajaran yang Mas Damar ulang berkali-kali: seputus asa apa pun seseorang mencari pasangan, jangan pernah menempuh ilmu pemikat, pengasihan, atau “jalan pintas” apa pun—karena harga yang dibayar sering tidak terlihat di awal, tapi menjerat seumur hidup.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.