Mas Gilang tidak pernah menyangka, masa pacaran yang seharusnya manis justru jadi pintu pertama ia mengenal rasa takut yang tidak wajar. Tahun 2016, saat ia masih berstatus pacar dari Amel, ia sering mendengar cerita-cerita aneh tentang rumah keluarga Amel—bukan cerita setahun sekali, bukan sebulan sekali, tapi nyaris tiap hari, seperti rumah itu memang tidak pernah benar-benar “sepi”.
Gangguannya terdengar sederhana, tapi intens: jendela rumah selalu diketok kencang, bukan pintu, melainkan kaca jendela—bunyi “dak-dak-dak” yang membuat orang susah membedakan itu ulah manusia, hewan, atau sesuatu yang lain. Dari luar mungkin terlihat sepele, tapi kalau terjadi berulang-ulang, tiap malam, rasa aman di rumah akan pelan-pelan runtuh.
Yang lebih bikin Mas Gilang merinding, ayah Amel sempat jatuh sakit dengan gejala mirip TBC. Sudah bolak-balik puskesmas, cek dahak, rontgen, bahkan dirujuk—hasilnya nihil. Tidak ada penyakit yang bisa dijadikan jawaban. Akhirnya mereka memanggil perukiah dari Jawa. Ayah Amel baru bisa tidur kalau didoakan dan diberi air doa, baru tenang kalau rumahnya “dibentengi” dengan bacaan. Aneh, tapi itulah yang mereka jalani demi bertahan.
Selama 2016 sampai 2018, Mas Gilang belum terlalu akrab dengan keluarga Amel. Ia hanya mendengar cerita dari Amel, dan sebagian dari tetangga sekitar yang sudah menganggap hal itu “biasa.” Bahkan ada tetangga yang menyepelekan, seolah gangguan di rumah Amel hanyalah “ingon-ingon” atau peliharaan keluarga—padahal mereka sendiri tidak tahu asal-usulnya dari mana.
Baru tahun 2019 Mas Gilang memberanikan diri lebih dekat. Ia mulai bertanya langsung ke ibu Amel, dan mulai mengumpulkan kepingan-kepingan yang selama ini seperti kabut. Dari situ ia mendengar kisah yang sempat menggegerkan kampung: suatu malam minggu, ada rombongan remaja lewat dekat rumah Amel, sekitar dua puluh meter sebelum sampai, mereka melihat pocong—bukan pocong “tinggi orang”, tapi pocong segenteng, berdiri menghadap ke arah pintu rumah. Kata mereka, kakinya napak tanah, tapi badannya ringan, bergoyang kanan-kiri seperti kain yang tertiup angin. Mereka lari, kabur sampai pagi, dan keesokan harinya kampung ramai membicarakan hal itu.
Namun teror paling memukul datang jauh setelahnya, tahun 2020. Saat itu ibu Amel hamil anak ketiga. Usia kandungan sudah tujuh bulan—perutnya besar, jelas terlihat perkembangan tiap minggu. Lalu suatu sore, Amel menelepon Mas Gilang sambil menangis dan memintanya segera datang ke rumah.
Mas Gilang datang dalam keadaan kalang kabut, dan ia mendengar kalimat yang membuat kepalanya seperti dihantam: “Perut ibu hilang.” Yang hilang bukan rasa mual, bukan nafsu makan—tapi perutnya benar-benar kempes, seolah kehamilan tujuh bulan itu tidak pernah ada. Dan yang paling mengerikan: tidak ada darah, tidak ada rasa sakit, tidak ada bekas keguguran. Bidan bingung. Keluarga lebih bingung. Ibu Amel menolak dibawa ke rumah sakit, memilih diam dan menangis, seolah takut jika ini jadi ribut dan menyebar.
Dari cerita Amel, malam sebelumnya ibu bermimpi dengan detail yang tidak biasa. Dalam mimpi itu, ibu merasa sadar sedang bermimpi—dan itu sendiri sudah janggal. Ia memakai baju adat Jawa, dikalungi melati, latarnya masih sekitar rumah, dan orang-orang yang dilihatnya adalah tetangga yang ia kenal. Lalu ia berjalan ke arah kali, bertemu seorang ibu tua yang menawarkan teh. Karena cuaca terasa panas dan “tidak enakan,” ibu meminumnya—dan setelah itu, ia tidak ingat apa-apa lagi. Pagi-pagi ia bangun, duduk di kasur, lalu menyadari perutnya kempes.
Sejak hari itu, Mas Gilang mulai berpikir ulang tentang masa depannya. Ia berencana menikah tahun 2021, tapi ia sadar: kalau ia menikah dengan Amel, besar kemungkinan ia akan tinggal di rumah itu, menghadapi semua yang selama ini hanya ia dengar dari cerita. Ia pun mengajak Amel untuk memperbaiki ibadah. Mas Gilang mengaku dulu jarang salat, tapi kejadian ini membuatnya sadar: minimal mereka harus punya ikhtiar spiritual yang konsisten.
Mereka akhirnya menikah di 2021. Mas Gilang sempat ingin menunda punya anak, tapi Amel tidak setuju terlalu lama. Kesepakatannya: menunda dua tahun. Sampai 2024, Amel akhirnya positif hamil. Di titik itu, perasaan Mas Gilang campur aduk—senang, tapi juga takut kejadian “janin hilang” kembali terulang pada istrinya.
Mereka memilih diam. Tidak mengumumkan ke tetangga, tidak banyak cerita, seolah ingin melewati fase rawan tanpa mengundang perhatian. Tapi saat usia kandungan memasuki empat bulan, mereka mengadakan syukuran. Sejak itu, gangguan di rumah kembali intens—ketukan jendela makin sering, bahkan pindah titik ke kamar Mas Gilang, seolah memberi pesan: “kami tahu.”
Suatu malam Mas Gilang pulang sekitar jam sebelas. Rumah sudah tidur. Ketukan jendela terdengar lagi, tiga kali, ia mencoba mengabaikan dengan membesarkan volume YouTube. Lalu kursi di bawah ranjangnya bergeser sendiri. Tak lama setelah itu, bubble wrap yang ditumpuk helm jatuh—padahal tidak ada yang menyentuh. Ketika ia menengok, ia mengaku melihat sosok tinggi besar, hitam, mirip manusia, berdiri jelas di hadapannya. Ketakutan itu membuatnya lari kembali ke kasur, membangunkan semua orang, dan sejak malam itu ia mengaku lebih sering salat dan mengaji sampai subuh karena sulit memejamkan mata.
Yang paling menusuk, Amel mengalami mimpi yang polanya mirip dengan mimpi ibu dulu: jalan ke arah kali, orang-orang yang dikenali, lalu sosok ibu tua menawarkan minum. Bedanya, kali ini yang diberikan bukan teh, tapi air putih—yang jika dipegang terasa keruh dan berbau lumpur. Amel merasa tidak bisa menolak karena rasa haus yang aneh. Untungnya, setiap tegukan ia muntahkan kembali sampai tiga kali, lalu gelasnya dibanting—dan Amel terbangun dalam keadaan syok.
Besoknya mereka USG, hasilnya normal. Mas Gilang sedikit lega—setidaknya bukan “kejadian” seperti 2020. Tapi ketakutannya tidak hilang, apalagi setelah sore itu ada “nasi bungkus” dikirim oleh anak kecil tetangga, disebut sebagai “nasi hajatan”, tapi isinya cuma tempe orek seperti bancakan. Ketika ditelusuri, ternyata tetangga itu tidak punya acara apa pun. Mas Gilang langsung curiga: ini bukan kiriman biasa. Ia meminta agar makanan itu dibuang dan tidak dimakan siapa pun.
Kecurigaan Mas Gilang makin menguat karena ada satu rumah tetangga yang sering “kumpul-kumpul” dengan pakaian serba hitam, nyentrik, jadwalnya random, dan setelah selesai mereka tertawa keras—sampai terdengar ke rumah Amel. Yang aneh, aroma yang menyusup ke rumah bukan bau dupa atau kemenyan, melainkan wangi yang menusuk, seperti parfum pekat yang tidak lazim muncul tengah malam.
Mas Gilang akhirnya meminta bantuan temannya, Andre, yang punya relasi perukiah. Mereka datang membawa media air (Mas Gilang menyebut air “jagabayan” dari sumur tertentu) dan daun kelor. Caranya: air dicelupkan ke daun kelor, lalu dikibas-kibaskan ke dinding dan sudut rumah. Di momen itu, Mas Gilang melihat tetangga yang dicurigai bukan hanya mengintip—tetapi berdiri memelototi, seolah merasa “terganggu” karena rumah itu sedang dibersihkan.
Perukiah lalu meminta Mas Gilang menggali halaman belakang. Awalnya tidak ada apa-apa. Setelah doa dibacakan dan galian diperdalam, mereka menemukan benda-benda kecil yang bentuknya seperti “pocong-pocongan”—buhul yang ditanam. Perukiah menasihati agar keluarga memperbaiki ibadah, dan memberi peringatan pelan: hati-hati pada orang tertentu yang selama ini terasa mencurigakan.
Karena takut kejadian berulang saat kehamilan membesar, Mas Gilang mengambil keputusan cepat: pindah rumah. Mereka take over rumah di perumahan yang masih satu desa, tidak terlalu jauh, tapi cukup untuk memberi jarak dari sumber gangguan. Di rumah baru, gangguan jauh berkurang—meski mimpi aneh masih sempat muncul, tapi tidak berujung pada tragedi.
Pernah juga Amel bermimpi ada perempuan muda memasukkan tangan ke perutnya, mengeluarkan bayi, lalu mencoba memasukkan kembali sambil berkata posisi kepala “kebalik.” Mimpi itu terdengar absurd, tapi dua minggu setelahnya, saat USG, posisi bayi yang sebelumnya sungsang ternyata sudah berputar—kepala di bawah. Mas Gilang menganggapnya sebagai pertanda: ada sesuatu yang masih mencoba mengganggu, hanya saja tidak berhasil seperti dulu.
Menjelang persalinan, Amel makin sering jalan kaki karena anjuran dokter. Hingga suatu sore, ia merasa mules dan mereka memeriksakan diri. Ternyata ada lilitan tali pusar empat kali di leher bayi. Dokter menawarkan pilihan, tapi menyarankan operasi sesar demi mengurangi risiko. Mas Gilang setuju—bukan hanya karena medis, tapi karena trauma panjang membuatnya tidak mau “menunggu” hal-hal tak terduga.
Operasi berjalan lancar. Tangisan bayi terdengar, dan Mas Gilang merasa seperti baru saja keluar dari lorong gelap yang panjang. Mereka pulang dalam keadaan selamat. Yang ia rasakan bukan cuma lega, tapi juga marah yang tertahan—karena ia yakin semua ini bermula dari satu akar yang sebenarnya “duniawi”.
Akar itu, menurut Mas Gilang, adalah sengketa tanah. Dulu tanah keluarga Amel dipinjam untuk dibuat dapur tetangga. Lama-lama dapur itu melebar sampai masuk pondasi tanah keluarga, lalu akses jalan samping ditutup keluarga Amel sehingga tetangga harus memutar. Gesekan kecil yang dibiarkan menahun berubah jadi dendam. Dendam yang katanya tidak lagi berhenti di omongan—melainkan merembes jadi kiriman-kiriman, mimpi, ketukan, sampai tragedi janin tujuh bulan yang hilang tanpa jejak.
Mas Gilang juga menyebut warga punya kecurigaan serupa: tetangga itu terlihat tidak kerja, tapi anak-anaknya sekolah bagus, hidup berkecukupan, dan sering berkumpul dengan gaya yang membuat orang merasa “ini bukan kumpul biasa.” Mas Gilang sendiri tidak menyebutnya bukti, hanya rangkaian keanehan yang membuat banyak orang mengaitkan mereka dengan praktik pesugihan atau kelompok menyimpang di desa.
Di akhir kisahnya, Mas Gilang tidak memposisikan dirinya sebagai pahlawan yang menang. Ia hanya merasa beruntung karena sempat cepat mengambil langkah: minta bantuan rukiah, membersihkan rumah, lalu pindah sebelum semuanya terlambat. Ia juga menyampaikan pesan sederhana yang terdengar klise tapi baginya jadi harga mati: hindari gesekan dengan tetangga, jangan memelihara dendam, karena dendam yang dibiarkan bisa berubah jadi sesuatu yang panjang—dan korbannya sering kali bukan orang yang bertengkar langsung, melainkan keluarga yang paling tidak tahu apa-apa.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.