Di balik hiruk-pikuk pasar tradisional yang tampak biasa, kadang tersimpan persaingan yang jauh lebih gelap daripada sekadar rebutan pembeli. Ada iri hati, ada dengki, ada niat menjatuhkan sesama dengan cara yang tak terlihat mata. Kisah yang dialami Mas Restu dan keluarganya pada tahun 2022 menjadi salah satu gambaran betapa persaingan usaha bisa berubah menjadi teror gaib yang mengancam kesehatan, usaha, dan keselamatan satu keluarga. Gangguan itu tidak datang sebagai sekadar mimpi buruk, melainkan hadir perlahan, terstruktur, dan menyerang dari berbagai arah. Dalam cerita ini, ancaman itu disebut sebagai santet buto hijau.
Semua bermula ketika Mas Restu pulang dari mendaki Gunung Bismo di Jawa Tengah. Ia kembali ke Cirebon pada malam hari, dalam kondisi lelah setelah perjalanan. Saat itu rumah orang tuanya sedang direnovasi, sehingga kamarnya belum bisa ditempati. Karena itulah ia meminta izin kepada ayah dan ibunya untuk sementara menginap di rumah Pakde dan Bude, yang letaknya berdampingan dengan rumah keluarga besarnya. Permintaan itu disetujui. Pakde dan Bude bahkan menyiapkan kamar untuknya, membersihkan tempat tidur, dan memindahkan beberapa barang agar Restu bisa beristirahat dengan nyaman.
Namun malam pertama di rumah itu justru menjadi awal dari serangkaian kejanggalan. Setelah mandi, berwudu, dan hendak beristirahat, Mas Restu merasa ada sesuatu yang berbeda di kamar tersebut. Ketika lampu sudah dimatikan dan ia mulai tertidur, tubuhnya mendadak terasa tertindih. Ia mengalami semacam rep-repan, tubuhnya sulit digerakkan, matanya susah dibuka, dan kesadarannya seperti tertahan di antara tidur dan bangun. Dalam keadaan panik, ia mencoba membaca doa sebisanya. Saat akhirnya berhasil membuka mata, ia melihat ada bayangan hitam berdiri di pojok kamar, tepat di belakang pintu. Wujudnya belum jelas, hanya berupa sosok gelap yang diam mematung. Restu mencoba menenangkan diri dengan berpikir bahwa mungkin ia terlalu lelah setelah perjalanan jauh.
Setelah berhasil melepaskan diri dari keadaan itu, ia memutuskan bangun untuk salat malam. Saat membuka pintu kamar, ia melihat Pakdenya tidur di depan kamar dalam keadaan yang juga tidak wajar. Pakde tampak seperti orang yang sedang merintih dalam tidur. Ketika dibangunkan, reaksinya kaget dan napasnya tersengal. Ia hanya bilang tidak apa-apa, meski jelas terlihat seperti baru mengalami mimpi yang buruk. Restu lalu pergi ke kamar mandi untuk berwudu lagi, tetapi di sana ia justru mencium bau aneh, seperti bau tanah kuburan. Bau itu begitu jelas, padahal malam itu tidak hujan dan tidak ada alasan logis mengapa kamar mandi bisa beraroma seperti itu.
Pagi harinya, aktivitas rumah berjalan seperti biasa. Pakde dan Bude adalah pengusaha tempe. Pakde bertugas pergi ke pasar menjajakan dagangan, sementara Bude menjaga rumah dan membantu pekerjaan lain. Namun sejak hari itu, Mas Restu mulai melihat perubahan pada diri Pakde. Biasanya, setelah pulang dari pasar, Pakde masih terlihat segar, sempat ngobrol, mengecek ternak, atau sekadar bercengkerama dengan tetangga. Kali itu tidak. Ia langsung masuk rumah, berbaring, dan tampak sangat lelah. Raut wajahnya pucat, tubuhnya seperti kehilangan tenaga, dan ia tak banyak bicara.
Malam berikutnya, kejanggalan semakin kuat. Saat hendak tidur, Restu kembali merasa suasana kamar terlalu dingin, jauh lebih dingin dari biasanya. Tengah malam, tiba-tiba ada ketukan dari luar pintu. Ketika dibuka, yang berdiri di sana adalah Bude. Wajahnya tegang. Ia bertanya apakah Restu mendengar suara tertawa. Menurut Bude, ada suara nenek-nenek tertawa dari dalam rumah, bahkan ia yakin suara itu berasal dari kamar yang sedang ditempati Restu. Restu awalnya mencoba menenangkan Bude, menganggap itu mungkin hanya perasaan atau kelelahan. Tetapi tak lama kemudian, Bude mengalami sendiri kejadian yang lebih jelas. Saat sedang membaca Al-Qur’an untuk menenangkan diri, tubuhnya merinding hebat dan suara tawa nenek-nenek itu terdengar lagi, kali ini lebih nyata. Dalam keadaan takut, ia segera menutup mushaf dan berlari mengetuk pintu kamar Restu.
Menjelang subuh, gangguan yang dialami Pakde semakin parah. Restu kembali melihat Pakde seperti kejang dalam tidur, seolah sedang dikejar atau ditindih sesuatu yang besar. Saat dibangunkan, Pakde mengaku bermimpi dikejar sosok besar yang tidak jelas wujudnya. Restu masih mencoba berpikir rasional, tetapi kejadian demi kejadian yang menimpa dirinya, Bude, dan Pakde perlahan membentuk satu pola yang tak bisa diabaikan.
Gangguan itu juga mulai merambat ke usaha Pakde. Di pasar, dagangannya yang biasanya cepat laku justru mendadak sepi. Pelanggan seperti tidak melihat lapaknya. Tempe yang biasanya habis terjual, kali itu banyak tersisa. Padahal ia sudah memiliki langganan tetap. Situasi itu berlanjut sampai ke rumah. Saat proses membuat tempe berlangsung sore harinya, Mas Restu melihat sesuatu yang membuat darahnya seketika dingin.
Ketika Pakde sedang mengerjakan tempe, Restu melihat di pundaknya ada sosok nenek-nenek kurus berwarna hijau. Rambutnya panjang, tubuhnya kecil, dan mulutnya sedang menggerogoti kepala Pakde. Pemandangan itu terlihat jelas di depan matanya. Ia syok, masuk ke kamar untuk menenangkan diri, lalu keluar lagi untuk memastikan. Ketika ia keluar, sosok itu sudah tak terlihat. Namun Pakde tampak memegangi kepala seperti orang yang sedang menahan sakit luar biasa.
Malam itu gangguan berlanjut lebih terang-terangan. Saat Restu berada di kamar dan mencoba tidur, ia merasa ada sesuatu yang memperhatikannya. Tak lama kemudian, gantungan baju di kamar jatuh. Mula-mula ia mengira itu hanya tersenggol angin. Namun benda-benda itu perlahan bergerak dan membentuk siluet seperti manusia. Dalam hitungan detik, bentuk itu berubah menjadi sosok nenek-nenek yang sama seperti yang ia lihat di pundak Pakde. Dalam panik, Restu segera menyalakan lampu senter dari ponselnya. Seketika bentuk itu buyar, dan baju-baju jatuh kembali ke lantai. Bagi Restu, momen itu menjadi bukti bahwa semua yang terjadi bukan lagi sekadar sugesti atau kelelahan.
Pagi berikutnya, masalah semakin memburuk. Tempe-tempe yang baru dibuat mendadak membusuk. Beberapa di antaranya bahkan dipenuhi belatung. Situasi itu jelas tidak wajar. Pakde dan Bude pun akhirnya sepakat bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Mereka lalu meminta bantuan ayah Restu, yang memang dikenal sensitif terhadap hal-hal gaib. Malam harinya, sang ayah datang ke rumah dan mulai memeriksa keadaan.
Begitu masuk, ayah Restu langsung merasakan hawa yang janggal. Ia menyatakan bahwa rumah itu sedang diserang sesuatu. Menurut penuturannya, bukan hanya usaha Pakde yang ingin dihancurkan, tetapi juga kesehatan dan keutuhan keluarganya. Ketika masuk ke kamar yang ditempati Restu, ayahnya langsung tahu bahwa di kamar itu ada sesuatu yang menjadi sumber gangguan. Restu pun akhirnya menceritakan semua yang ia alami, mulai dari ketindihan, bayangan hitam, suara tawa, hingga sosok nenek hijau yang menggerogoti kepala Pakde.
Penjelasan sang ayah membuat semuanya terasa lebih jelas sekaligus lebih menyeramkan. Ia mengatakan bahwa sosok nenek-nenek kurus hijau itu bukanlah wujud asli, melainkan bentuk perantara dari sosok yang jauh lebih besar. Wujud aslinya adalah buto hijau yang berada di belakang rumah. Sosok besar itulah yang mengirim bentuk lain untuk menyerang Pakde dan orang-orang yang ada di rumah. Menurutnya, serangan tersebut bersumber dari santet. Ada buhul yang diletakkan di pasar, tepat di area tempat Pakde berjualan, dan ada juga buhul lain yang disimpan di kamar yang sekarang ditempati Restu.
Dari situ, kecurigaan mengarah pada persaingan usaha. Diduga ada orang yang iri atau tidak suka dengan usaha tempe Pakde, lalu memilih jalan santet untuk menghancurkan usahanya. Serangan itu dirancang berlapis: dagangan dibuat sepi, tempe dibuat rusak, kesehatan Pakde dihancurkan, lalu keluarganya diteror sampai rumah kehilangan ketenangan.
Saat keadaan semakin berat, Pakde sempat ambruk. Tubuhnya lemas, sakit tanpa sebab medis yang jelas, dan akhirnya harus dibawa berobat untuk memastikan kondisinya. Namun penyebab pastinya tetap tak ditemukan. Sementara itu, ayah Restu memutuskan untuk melakukan langkah pembersihan. Malam itu setiap ruangan rumah diazani satu per satu, kecuali kamar mandi. Tindakan itu diyakini untuk meredakan gangguan yang sedang berlangsung.
Keesokan paginya, anak Pakde yang bernama Anto diminta pergi ke pasar untuk mengambil buhul yang disebut-sebut ada di sana. Benar saja, di lokasi itu ditemukan kantong kresek hitam yang berisi buntalan kecil seperti pocongan. Di dalamnya ada tulang belulang, tanah, dan bunga-bunga yang sudah mati. Sementara buhul yang berada di kamar diambil langsung oleh ayah Restu. Proses pengambilannya dilakukan tanpa disaksikan banyak orang, karena hanya sang ayah yang benar-benar mengetahui letak dan bentuk pastinya.
Setelah kedua buhul itu berhasil diambil, semuanya lalu dibakar. Api dijadikan sarana pemutusan, sementara doa dibacakan untuk memutus keterikatan energi kiriman tersebut dengan rumah, usaha, dan tubuh Pakde. Sejak itu, kondisi Pakde berangsur pulih. Kesembuhannya memang tidak terjadi seketika, tetapi perlahan. Tubuhnya mulai lebih segar, sakit kepalanya berkurang, dan dagangannya sedikit demi sedikit kembali stabil.
Sebagai langkah perlindungan lanjutan, ayah Restu juga menyarankan agar rumah itu sering diisi pengajian dan doa bersama. Rumah kemudian dipagari secara spiritual agar tidak mudah dimasuki kiriman serupa. Bagi keluarga tersebut, kejadian itu menjadi pelajaran besar bahwa rasa iri dan dengki orang lain bisa berubah menjadi malapetaka yang sangat nyata jika dilampiaskan dengan cara gaib.
Dalam cerita ini, sosok buto hijau bukan hadir seperti dongeng semata, melainkan sebagai entitas santet yang digunakan untuk merusak. Wujud aslinya dikatakan besar dan berada di belakang rumah, sementara wujud nenek-nenek hijau yang dilihat Restu hanyalah perpanjangan bentuk untuk menyerang lebih dekat. Kehadirannya bukan hanya menebar teror, tetapi juga memukul langsung titik-titik paling sensitif dalam kehidupan korban: kesehatan, ekonomi, dan ketenangan rumah tangga.
Kisah yang dialami Mas Restu dan keluarganya menjadi pengingat bahwa persaingan usaha tidak selalu berhenti pada strategi dagang atau perebutan pelanggan. Dalam beberapa kasus, kebencian bisa tumbuh menjadi niat jahat yang menempuh jalur gelap. Dan ketika itu terjadi, yang menjadi sasaran bukan hanya dagangan, melainkan seluruh hidup seseorang.
Mas Restu sendiri mengaku belajar banyak dari kejadian itu. Awalnya ia hanya pulang dari perjalanan dan berniat menumpang istirahat beberapa hari. Namun justru dari situlah ia menjadi saksi mata atas bagaimana satu keluarga diganggu secara bertahap oleh kekuatan yang tidak kasatmata. Ia melihat sendiri bagaimana teror bermula dari mimpi, bau, suara, hingga penampakan yang akhirnya tak bisa lagi dipungkiri. Dari kejadian itu pula ia memahami bahwa tidak semua serangan datang dalam bentuk yang langsung terlihat. Ada yang bekerja diam-diam, menggerogoti dari dalam, sampai korbannya jatuh tanpa tahu penyebabnya.
Pada akhirnya, rumah itu kembali tenang bukan karena ancamannya hilang sendiri, melainkan karena keluarga tersebut memilih menghadapi, membersihkan, dan memutus sumber gangguannya. Api membakar buhul, doa dibacakan, dan perlindungan dipasang kembali. Dari sana, ketenangan mulai kembali hadir sedikit demi sedikit.
Pelajaran terbesar dari kisah ini adalah bahwa dengki yang dipelihara bisa menjelma menjadi kejahatan yang sangat kejam. Ketika seseorang tak mampu menerima kesuksesan orang lain, lalu memilih menghancurkannya dengan jalan gelap, yang lahir bukan kemenangan, melainkan malapetaka. Dan bagi yang mengalaminya, satu-satunya benteng yang tersisa adalah kewaspadaan, doa, dan keberanian untuk menghadapi kenyataan seburuk apa pun itu.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
