Tahun 2000, Mas Agus baru saja lulus sekolah. Ia dan teman-temannya masih pengangguran, kumpul tiap malam di basecamp, ngopi, makan gorengan, dan muter-muter di obrolan yang sama: kerjaan susah, masa depan gelap, dan kebutuhan hidup yang makin menekan terutama bagi Asep, temannya yang sudah berkeluarga dan butuh duit cepat.
Suatu malam, mereka membeli gorengan, dan bungkusnya ternyata potongan majalah. Isinya artikel yang bikin kepala langsung “nyala”: cara cepat mencari uang dengan menjual sate gagak di kuburan kuno atau tempat angker. Kalimatnya terasa seperti iklan: satu tusuk sate gagak bisa “dibeli” makhluk gaib dengan uang nyata jumlahnya fantastis.
Mas Agus awalnya menganggap itu cuma bacaan iseng, tapi Asep menanggapinya serius. Mereka sepakat mencoba bukan karena yakin, tapi karena terdesak. Mas Agus sendiri mengaku pernah tirakat dan puasa mutih, jadi Asep merasa aman kalau Mas Agus yang memimpin. Mereka pun mencari orang yang bisa mengarahkan, karena sadar: urusan begini kalau salah langkah bisa berantakan.
Mereka akhirnya menemukan “Ki Udin” kuncen yang tinggal di daerah alas Jawa Barat. Yang bikin Mas Agus kaget, Ki Udin sempat menyamar sebagai kakek petani biasa yang mereka temui di hutan, lalu ketika masuk rumah, penampilannya berubah rapi: kopiah, sarung, batik. Di kamar yang remang dan penuh benda-benda bertema kejawen (termasuk gambar tokoh-tokoh tertentu), Ki Udin mengiyakan: cara jual sate gagak itu benar, tapi ada risiko besar kalau ritual tidak ditutup dengan benar.
Ki Udin menjelaskan ada mantra pembuka dan mantra penutup. Pembuka untuk “membuka jalur” agar alam gaib bisa masuk, penutup untuk menutup lagi. Kalau tidak ditutup, efeknya bisa berbahaya—depresi, hilang akal, atau jiwa “ketahan” di sana. Mas Agus dan Asep tetap lanjut. Tekad Asep bulat: yang penting cepat kaya.
Mereka lalu berburu persyaratan: kembang tujuh rupa, kopi manis–pahit, teh manis–pahit, makanan tujuh rupa, minyak tertentu, dan yang paling sulit burung gagak jantan. Setelah cari sana-sini, mereka dapat gagak di pasar hewan. Karena merasa “semakin banyak daging gagak, semakin banyak duit”, mereka bahkan membeli dua ekor. Modal habis sekitar lima ratus ribuan—besar untuk anak muda pengangguran saat itu.
Malam eksekusi dipilih Kamis malam Jumat. Mereka berangkat ke alas bersama Ki Udin, menuju sebuah kuburan tua yang katanya peninggalan zaman lama—sepi, jauh dari desa, hawanya singup dan menekan dada. Sebelum mulai, Mas Agus dan Asep malah minta satu hal ekstrem: mereka ingin diborgol jadi satu, supaya kalau salah satu panik dan lari, yang lain ikut—tidak ada yang tertinggal sendirian.
Panggangan disiapkan, kemenyan dibakar, sesajen ditata. Mas Agus membaca mantra kejawen yang sudah dicatat. Begitu mantra pembuka selesai, angin kencang datang tapi aneh—seperti hanya berputar di atas kepala mereka. Lalu mendadak sunyi. Mas Agus mulai “jualan” dalam hati: satu tusuk ia patok Rp15 juta.
Tak lama, “pembeli” berdatangan. Mas Agus tidak berani menatap wujud, sesuai pesan Ki Udin: jangan melihat. Yang terlihat hanya bagian tubuh dari pusar ke bawah—ada kaki berbulu, ada yang bentuknya tidak wajar—dan suasananya terasa ramai, berbaris seperti antrean. Asep bertugas menerima uang dan memasukkan ke karung. Mas Agus hanya memberi isyarat jumlah tusuk, lalu uang gepokan disodorkan. Dan ya, saat itu uangnya tampak asli.
Karung mulai setengah penuh. Tapi waktu terasa lama—sementara sate masih tersisa. Di titik itu, Asep mulai tidak sabar. Ia nekat menoleh untuk melihat “wujud” yang datang. Detik berikutnya, Asep menjerit dan lari sekencang-kencangnya. Karena mereka diborgol, Mas Agus ikut terseret—terjungkal, kegeret sampai masuk ke sendang kecil. Semuanya ditinggal: sesajen, panggangan, dan karung uang yang baru setengah terisi.
Mas Agus mencoba menenangkan Asep, tapi Asep sudah seperti kehilangan ekspresi: pucat, diam, tidak merespons. Mas Agus lari menemui Ki Udin untuk minta tolong. Ki Udin cuma berkata dingin: ritualnya gagal karena kabur sebelum penutup, dan yang paling kena dampak adalah Asep.
Mas Agus pulang dengan hati kalut. Ia harus mengantar Asep ke rumahnya dan menahan panik karena takut dimarahi keluarga Asep. Benar saja, besoknya ibu Asep datang ke rumah Mas Agus, panik: Asep memasukkan piring ke sumur, mengejar kucing seperti mengejar “cewek”, kadang diam lama, kadang nyanyi tidak jelas. Asep seperti orang yang pikirannya retak.
Keluarga membawa Asep ke orang pintar lokal, tapi orang itu mengaku tidak sanggup. Mereka lalu diarahkan ke “orang yang lebih mumpuni” di wilayah Sancang–Garut. Mas Agus ikut bertanggung jawab, mengantar Asep ke sana, menembus jalanan sulit dan sungai-sungai kecil, sampai akhirnya bertemu Abah Darwin yang bersedia membantu.
Proses pemulihan tidak instan. Asep diwirit, dimandikan kembang, dan diberi minum kelapa “nunggal” (kelapa yang konon langka). Setelah minum kelapa itu, Asep tidak sadar sekitar delapan jam. Ketika bangun, ia baru bisa berdialog lagi dan mengaku selama “kosong” ia merasa seperti dibawa jalan-jalan tanpa tahu ke mana. Perlahan, Asep pulih. -sebut “mustika”.
Mas Agus membawa mustika itu ke Ki Udin. Ki Udin mengatakan mustika itu bisa untuk pengasihan, kebal, dan lain-lain semacam “oleh-oleh” dari alam sana karena ritual tidak sempurna. Mas Agus bahkan diberi cara untuk mengaktifkan, dan ketika diuji pakai silet/pisau, ia benar-benar kebal.
Tapi ada harga lain yang diam-diam menempel. Karena mantra penutup tidak sempat dibaca, Mas Agus merasa setelah kejadian itu “alam gaib” seperti tidak jauh-jauh dari pandangannya. Ia beberapa kali mimpi didatangi sosok perempuan bersanggul memakai batik. Ia mencoba menguji mustika itu dengan api tak meleleh bahkan sempat menghitam lalu kembali bening setelah direndam air hujan sesuai petunjuk Ki Udin.
Mas Agus menutup kisahnya dengan satu kesimpulan yang pahit: jual sate gagak itu kelihatannya gampang—tinggal bakar, baca mantra, tunggu “pembeli”. Tapi begitu pintu kebuka dan tidak sempat ditutup, risikonya bukan main. Bisa depresi, bisa hilang akal, bisa “tertinggal” jiwanya di tempat yang tidak bisa dijangkau manusia biasa.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
