Mas Ogi masih ingat jelas tahun 2018, ketika sepupu perempuannya—Dedek (nama samaran)—datang ke rumah dalam keadaan menangis. Dedek seorang janda dengan tiga anak. Sejak suaminya meninggal, tabungannya habis untuk berobat, hidupnya jatuh ke fase paling sempit: makan susah, biaya sekolah anak menghantui, dan di tempat kerja ia hampir dipecat karena target penjualan rokok tidak pernah tembus.
Dedek bekerja sebagai SPG rokok. Bosnya ultimatum: kalau bulan itu target tak tercapai, kontrak selesai. Dalam kondisi terdesak, Dedek teringat teman lamanya sesama SPG, Imah (nama samaran), yang tiba-tiba hidupnya berubah drastis—dulu susah, sekarang rumahnya mewah, mobil ada, usaha macam-macam. Perubahan itu membuat Dedek yakin: ada “resep” yang tidak semua orang tahu.
Mas Ogi yang kasihan akhirnya mengantar Dedek ke rumah Imah. Dari awal, Ogi sudah merasa tidak enak—ada wangi menyengat yang tiba-tiba berubah jadi amis, seperti dua bau yang saling menabrak. Tapi Dedek sudah terlalu putus asa untuk mundur. Di rumah itu, Imah mengaku blak-blakan: kesuksesannya berasal dari “pengasihan” yang ia beli. Imah lalu memberi alamat dan pesan singkat: kalau mau berhasil, jangan banyak tanya, siap terima risikonya, dan berangkat malam itu juga—kebetulan hari Kamis.
Malamnya mereka menyewa mobil dan berangkat. Aneh, perjalanan yang seharusnya singkat terasa seperti diputar-putar: jalan yang dikenal Ogi berulang seperti looping, sepi tanpa macet tapi tidak sampai-sampai. Bahkan ada momen jalan setapak yang menurut Ogi sempit, tapi Dedek melihatnya lebar—lalu setelah Dedek menepuknya, Ogi tiba-tiba melihat jalan itu benar-benar melebar. Seolah ada yang “membuka” jalur, lalu menutup lagi.
Mereka akhirnya tiba di sebuah pendopo sepi. Tidak ada rumah warga, tidak ada suara manusia, hanya hawa yang bikin tengkuk dingin. Setelah mengetuk lama, muncul sosok kakek bungkuk seperti petani. Ia mengajak masuk, dan Ogi makin merinding: di kanan-kiri ada kandang berisi ayam cemani, dan di depan tampak perlengkapan sesaji.
Kuncen—disebut Mbah Kiem (nama samaran)—mendengar tujuan Dedek: ingin rezeki lancar, tidak dipecat, dan sekalian urusan jodoh. Mbah Kiem menyuruh Dedek berganti pakaian khusus, lalu mengajak mereka ke “tempat ritual” di belakang pendopo: celah batu besar seperti himpitan, di bawahnya ada ruang kecil mirip bilik. Menjelang tengah malam, Mbah Kiem menyembelih ayam cemani di depan mereka dan menampung darahnya.
Karena takut pingsan dan justru membahayakan, Ogi disuruh menunggu di pendopo. Tapi rasa penasaran dan kasihan membuat Ogi diam-diam mendekat. Di sanalah ia melihat sesuatu yang tidak ia lupakan: sosok besar hitam berbulu, matanya merah, bertaring—seperti genderuwo—berdiri membelakangi Dedek. Sosok itu menjilat wadah darah, dan seolah “berkomunikasi” dengan kuncen. Dedek sendiri tidak melihat, atau seperti tidak sadar.
Kemudian prosesi dimulai. Dedek dimandikan cairan merah itu—darah ayam cemani—sampai tubuhnya penuh. Ia juga dipaksa meminum darahnya. Begitu habis, Dedek pingsan. Ogi melihat sosok besar itu masuk kembali ke rongga batu, seakan ritualnya sudah “diterima”. Yang lebih aneh, darah di wajah Dedek yang tadinya bercucuran seperti meresap masuk, menghilang, seolah kulitnya menyerapnya.
Dedek sadar, membayar mahar, lalu Mbah Kiem menyuruh pulang tanpa mampir ke mana pun. Besoknya, hasilnya seperti mukjizat bagi orang yang sudah putus asa: Dedek jualan rokok, target 10 slop habis ludes dalam sekejap—hari pertama. Hari-hari berikutnya, penjualan makin lancar. Banyak lelaki mendadak terpikat, membeli rokok borongan, meminta alamat, datang terus ke rumah, bahkan bosnya yang tadinya mau memecat justru menaikkan Dedek jadi atasan SPG.
Tapi keberhasilan itu dibarengi “syarat” yang baru Dedek ceritakan belakangan: selama seminggu tidak boleh makan makanan bernyawa, dan dilarang ibadah salat. Mas Ogi yang mendengar itu langsung merasa ngeri—ini bukan pengasihan biasa, ini perjanjian yang mengikat.
Beberapa bulan pertama, uang Dedek deras. Dalam lima bulan, ia bisa beli mobil dari bonus, hadiah, dan “pemberian” para lelaki yang tergila-gila. Namun lalu malam-malam Dedek retak: ia mulai mengalami rep-arep, tubuhnya ditindih sosok berbulu, rambutnya menutupi tubuhnya, seperti dipaksa berhubungan, tapi Dedek tidak bisa bergerak. Saat dalam hati ia sempat memanggil nama Tuhan, sosok itu berubah wujud jadi laki-laki tampan—seolah tidak mau menakutinya, tapi tetap menagih.
Dedek menikah lagi, berharap hidupnya normal. Tapi malam pertama, suaminya seperti dicekik, terpental, lalu kejang-kejang sampai pingsan. Suaminya meninggal tidak lama kemudian. Pernikahan berikutnya pun mengalami pola serupa: suami dicekik dan dilempar. Bedanya, suami kedua sempat melawan dengan golok, menantang makhluk itu. Dan saat makhluk itu menampakkan diri, kalimatnya jelas: “Jangan berani-berani dekatin istri saya.” Suami ketakutan, langsung mentalak Dedek dan kabur.
Di titik itulah Dedek benar-benar paham: yang ia kira “pengasihan” ternyata pesugihan—bahkan disebut nikah batin dengan genderuwo. Dedek mulai bermimpi didatangi sosok kecil yang mengaku, “Ibu… saya anakmu.” Mas Ogi menyimpulkan hal yang lebih mengerikan: Dedek seperti sudah punya “anak” dari makhluk gaib, dan itu artinya ikatan mereka sudah jauh melampaui sekadar pelaris.
Mas Ogi lalu mengajak Dedek mencari pertolongan ke pesantren. Begitu bertemu kiai, Dedek langsung ditegur: ini bukan pengasihan, ini pesugihan ayam cemani dan nikah batin—dan efeknya akan makan korban. Obatnya, kata kiai, bukan jimat: Dedek harus minta maaf pada ibunya, mencuci kaki ibunya, lalu meminum air bilasan sebagai simbol merendahkan ego dan memutus jalur yang kotor.
Dedek pulang, menangis, memeluk ibunya, mengaku semuanya. Ia lakukan perintah itu. Dalam perjalanan kembali ke pesantren, Mas Ogi melihat Dedek seperti “mengeluarkan” sesuatu: wajahnya pucat, rambutnya awut-awutan, darah keluar dari mata, hidung, telinga—seolah racun yang menempel bertahun-tahun sedang dipaksa keluar. Kiai menegaskan Dedek sudah pulih, tapi ada syarat tegas: jangan tinggalkan salat, jujur pada orang tua, dan harta dari jalur itu harus dilepas—disedekahkan, dijual, dibersihkan.
Dedek menuruti. Mobil dan perhiasan dari hasil “pengasihan” ia lepaskan. Ia memilih hidup normal. Beberapa waktu kemudian, perlahan rezekinya datang lagi lewat jalur yang lebih bersih. Dedek akhirnya menikah dengan pria yang baik, pindah ke Malang, membuka usaha butik, dan hidupnya kembali tenang.
Mas Ogi menutup kisah itu dengan satu pelajaran yang terasa pahit: penglaris memang bisa membuat dagangan ludes dalam sekejap, tapi selalu ada harga. Kadang harganya bukan cuma rasa takut—melainkan tubuh, kehormatan, bahkan nyawa orang yang paling dekat.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
