Mas Iwan pernah ada di titik ketika bekerja biasa terasa mustahil mengejar tumpukan utang. Setelah upaya pesugihan pertamanya di Temanggung gagal, ia tidak berani pulang ke rumah. Hari-harinya diisi numpang tidur dari teman ke teman, sambil terus mencari kabar “jalan instan” yang katanya bisa menutup semua masalah sekaligus.
Dalam pelarian itulah ia bertemu Mas Anto, orang Cirebon juga, yang mengaku tahu jalur alternatif. Mas Anto mendengar keluh kesah Mas Iwan—utangnya sudah menumpuk ratusan juta, ditambah biaya percobaan pesugihan sebelumnya yang justru membuat beban makin berat. Mas Iwan sendiri mengaku sudah tidak punya ruang untuk mundur: yang ia cari hanya satu, uang cepat.
Sore hari selepas asar, Mas Anto membonceng Mas Iwan menuju rumah seorang kuncen tua di wilayah Jawa Barat. Orangnya terlihat biasa, sehari-hari bahkan berjualan di warung kecil. Dari luar tak ada tanda “orang keramat”, tapi cara bicaranya tenang dan seperti sudah paham arah kedatangan mereka.
Kuncen itu mencatat nama, tanggal lahir, dan data diri Mas Iwan. Setelah itu ia masuk ke kamar beberapa menit—seolah “mengusulkan” nama Mas Iwan pada sesuatu yang tidak terlihat. Ketika keluar, kuncen berkata singkat: kalau Mas Iwan siap, ritual bisa dilakukan malam itu juga.
Persyaratannya disebut tidak besar—sekitar dua ratus ribu untuk perlengkapan. Mas Anto yang membiayai, berharap kalau berhasil nanti “ada bagian” untuknya juga. Menjelang malam, Mas Iwan diminta mandi bersih, lalu menunggu di musala dekat rumah kuncen yang letaknya jauh dari pemukiman, dekat persawahan dan tambak-tambak ikan.
Jam setengah sebelas malam, mereka bertiga berjalan kaki sekitar setengah jam menuju bibir pantai. Jalurnya gelap, kanan-kiri empang, udara asin bercampur lembap. Tikar digelar, dupa dinyalakan, sesajen disusun. Kuncen memberi pesan yang terus diulang: jangan lari, jangan panik, kalau tidak kuat tinggal panggil.
Mas Iwan lalu diminta duduk sendiri di depan sesajen. Kuncen dan Mas Anto menunggu agak jauh. Tidak ada bacaan rumit—Mas Iwan hanya diminta diam, menunggu “yang diusulkan” datang.
Waktu berjalan lambat. Nyamuk menggila. Dalam gelap, tiba-tiba Mas Iwan melihat semacam gulungan hitam besar melesat mendekat—seperti bola kabut pekat yang bergerak cepat. Setelah itu angin datang besar, suaranya menggeram seperti gemburuh.
Tak lama kemudian muncul sosok berbulu lebat, posturnya besar seperti “kingkong”, matanya merah menyala. Sosok itu mendekat, menatap lama, lalu berbalik pergi tanpa bicara. Mas Iwan bertahan di tempat—takut, tapi memaksa diri tetap diam.
Gangguan berikutnya lebih menekan. Ombak membesar, lalu dari arah laut muncul tiga cahaya yang mendekat dan berubah menjadi tiga sosok—seperti panglima zaman kerajaan, bertubuh besar, berbusana tradisional. Yang paling depan menatap tajam, lalu membentak Mas Iwan dan mengusirnya dari tempat itu, menganggap kehadirannya mengganggu.
Mas Iwan akhirnya mundur dan meminta dijemput. Kuncen terkejut mendengar ia “diusir”, lalu menyebut nama sosok yang datang itu—seolah memang ada “penguasa wilayah” yang tidak berkenan. Ritual pertama malam itu berakhir gagal.
Namun kuncen tidak langsung melepas Mas Iwan pulang. Subuhnya, setelah salat berjamaah, kuncen menawarkan jalur lain yang katanya lebih “aman”: bukan minta langsung di pantai, tapi “kawin gaib” dengan sosok yang disebutnya Nyi Priya—kemudian dikenal Mas Iwan sebagai Dewi Mayangsari.
Mas Iwan diberi wirid khusus dan aturan keras. Ia harus punya kamar pribadi yang tidak boleh dimasuki orang lain. Lalu ada hari-hari tertentu yang wajib dipenuhi: Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon. Kuncen menekankan, kalau sudah masuk jalur ini, jangan macam-macam dan jangan menyimpang.
Malam pertama pemanggilan hanya berisi gangguan suara: seperti lemparan di genteng dan suara seperti sayap menghantam jendela. Belum ada wujud jelas. Mas Iwan diminta sabar—ini baru pengenalan.
Malam kedua, gangguannya meningkat. Mas Iwan mengaku melihat sosok-sosok menakutkan muncul bergantian, sampai akhirnya datang figur tua berpakaian serba gelap yang bicara ramah dan menyebut Dewi Mayangsari sebagai “anaknya”. Tak lama kemudian, sosok perempuan yang disebut Dewi Mayangsari muncul—wangi, tenang, dan memberi perjanjian: ia bersedia “dinikahi”, asal Mas Iwan patuh pada jadwal dan tidak berkhianat.
Mas Iwan lalu pulang ke Cirebon dan, dengan bantuan Mas Anto, menyewa kamar kos sederhana sebagai ruang privat. Malam Selasa Kliwon pertama, Mas Iwan mengaku Dewi Mayangsari benar-benar datang. Ia menggambarkannya seperti manusia biasa—dan setelah pertemuan itu, uang muncul sebagai “upah” di tempat tidur, jumlahnya besar hingga cukup untuk menutup utang-utangnya yang paling mendesak.
Dengan uang itu, Mas Iwan bergerak cepat: ia melunasi penagih yang paling keras, menyelesaikan surat-surat pelunasan, lalu pulang menemui istrinya sambil mengarang alasan bahwa itu “hasil proyek”. Sebagian uang ditinggalkan untuk keluarga, sebagian lain ia pakai membeli rumah, dan ia pun menyisihkan bagian untuk Mas Anto sebagai ucapan terima kasih.
Di titik itu, Mas Iwan merasa seperti mendapat “surga dunia”. Masalah yang selama ini menjeratnya seolah runtuh dalam satu malam. Ia bahkan merasa tubuhnya lebih kuat, pikirannya lebih berani—seolah hidup akhirnya kembali ke tangan.
Tapi neraka dunia datang saat jadwal kedua tiba: Jumat Kliwon. Malam itu, tanpa sepengetahuannya, istrinya membuntuti karena curiga ia punya perempuan lain—apalagi ia baru membeli rumah di lokasi tertentu. Saat Mas Iwan bersiap memenuhi perjanjian, istrinya menggedor pintu keras-keras dan datang bersama warga.
Kejadiannya kacau. Dalam kepanikan, Mas Iwan melihat “istrinya yang gaib” lenyap begitu saja. Warga memeriksa rumah—tak menemukan perempuan, tapi mencium kecurigaan dari perlengkapan ritual yang tertinggal. Istri Mas Iwan menjerit marah, menganggap suaminya menyimpan sesuatu yang tidak wajar.
Malam itu juga Mas Iwan dibawa ke kiai. Di hadapan kiai, ia dianggap sudah menempuh jalan yang menyesatkan dan diminta bertobat. Pemutusan dilakukan dengan syarat-syarat tertentu, termasuk penyembelihan ayam cemani betina sebagai bagian dari proses “memutus” ikatan gaib.
Sesudah pemutusan, Mas Iwan mengaku hidupnya tidak langsung tenang. Ia mengalami sakit yang datang pergi, pikirannya sering blank, dan berkali-kali mengalami kecelakaan—seolah ada efek susulan yang “menggerogoti” sisa rezeki tadi. Uang yang sempat datang cepat, perlahan habis untuk biaya rumah sakit, perbaikan, dan pemulihan.
Di situlah Mas Iwan menyadari sesuatu yang pahit: dalam persekutuan semacam ini, tidak ada yang benar-benar gratis. Kalau bukan orang lain yang jadi korban, sering kali diri sendiri yang ditarik pelan-pelan—kesehatan, ketenangan, keselamatan, bahkan keluarga.
Kini, Mas Iwan menutup kisahnya dengan pesan yang terdengar sederhana tapi berat: jangan percaya ada jalur instan tanpa harga. Rezeki yang datang tanpa doa, tanpa berkah, biasanya punya cara sendiri untuk menagih—dan tagihannya tidak selalu berupa uang, melainkan hidup yang dibuat berantakan dari dalam.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.