Teh Upi masih ingat betul, tahun 2022 itu seharusnya jadi masa biasa—kuliah, pulang-pergi, lalu sesekali main ke rumah saudara saat ada waktu. Tapi semua berubah ketika ia pulang kuliah menjelang siang dan mendapati ponsel ibunya berdering terus-menerus. Yang menelpon bukan orang jauh: neneknya sendiri, suaranya pecah, menangis, dan menyampaikan kabar yang membuat tubuh Teh Upi seperti jatuh ke lantai.
“Ua meninggal,” kata neneknya. Ua Hamdan—paman yang selama ini terlihat sehat, masih muda, terakhir Teh Upi temui waktu Lebaran 2021. Mendadak hilang begitu saja, tanpa peringatan yang masuk akal. Dan yang lebih menyiksa, ibunya Teh Upi baru bisa pulang kampung di hari ketiga karena urusan kerja. Jadi Teh Upi menunggu dalam keadaan campur aduk: kaget, sedih, sekaligus heran—kenapa kematian itu datang secepat itu?
Saat akhirnya mereka berangkat dari Cirebon ke Ciamis dan tiba sore hari, suasana rumah duka terasa “aneh” sejak langkah pertama. Teh Upi bertanya dalam hati: kok rumah orang meninggal bisa sepi begini? Biasanya di kampung, rumah duka tak pernah dibiarkan kosong—selalu ada lantunan ngaji, selalu ada orang yang bergantian baca ayat, supaya rumah itu tidak “kareung”, tidak angker, tidak ditinggali sunyi.
Tapi rumah Ua Hamdan seperti menolak ramai. Budenya mengurung diri di kamar, tidak mau keluar. Dapur pun terasa menekan, seperti ada hawa yang membuat orang ingin cepat pergi. Teh Upi sampai berbisik ke ibunya: “Bu, kok aneh ya rumahnya?” Ibunya hanya menahan, melarang bicara sembarangan, tapi dari sorot mata ibunya Teh Upi tahu—ibunya pun merasakan hal yang sama.
Malam itu, setelah tahlilan selesai dan warga pulang, keluarga masih duduk di teras. Mereka membicarakan satu hal yang terus mengganjal: kematian yang terlalu mendadak, sakit yang katanya “serangan jantung”, tapi sebelumnya terlihat baik-baik saja. Di tengah obrolan itulah, sekitar jam sepuluh malam, sepupu Teh Upi yang masih SMP tiba-tiba menjerit sambil menunjuk ke atas.
Semua refleks menengadah.
Di langit rendah, berputar-putar di atas atap rumah warga, keranda terbang itu muncul—tertutup kain hijau, ada tulisan “Laa ilaha illallah”, dan di atasnya tampak sosok hitam bergelantungan dengan tangan panjang serta kuku yang seperti tak wajar. Angin yang tadinya tenang mendadak jadi kencang. Warga keluar rumah, menonton dengan wajah pucat. Teh Upi ingin memejam, tapi matanya seperti dipaksa terbuka—seolah teror itu bukan sekadar tontonan, melainkan “pesan”.
Keranda itu berputar hampir setengah jam, lalu meluncur ke arah masjid dan menghilang. Keluarga bergegas ke masjid bersama warga. Marbot masjid yang sedang mengaji mengaku tidak melihat apa-apa, tapi ia membuka tempat penyimpanan keranda—dan kerandanya memang ada di sana, polos, tanpa kain hijau, tanpa isi. Kelegaan itu muncul sebentar… lalu berubah jadi ketakutan baru: kalau bukan membawa jenazah, maka keranda itu sedang “mencari”.
Sejak malam itu, kampung seperti lumpuh. Selepas magrib, pintu-pintu tertutup rapat. Orang-orang tak berani nongkrong, tak berani keluar, bahkan ke masjid pun banyak yang memilih shalat di rumah. Di rumah Ua Hamdan sendiri, teror terasa menebal. Anak kecil di keluarga menangis sambil menunjuk tembok, seperti melihat sesuatu yang orang dewasa tidak bisa lihat. Menjelang subuh, selalu ada suara gedebruk keras dari luar, tapi saat pagi dicari, tidak ada barang jatuh, tidak ada pohon tumbang—seolah bunyi itu hanya dibuat untuk menekan mental.
Puncak pilu datang saat keluarga baru mulai menata langkah untuk mencari “benang merah”. Bude dan dua anaknya—yang baru saja pergi ke kota—mendadak kecelakaan dan meninggal. Seolah musibah itu bergerak cepat, menyapu satu rumah tanpa memberi waktu untuk bernapas. Rumah duka kembali ramai, tapi bukan karena tahlil—melainkan karena jenazah menyusul.
Belum selesai duka itu, dua korban berikutnya jatuh: mertua Ua Hamdan, juga meninggal karena kecelakaan di titik yang sama. Total korban yang Teh Upi sebutkan dalam hitungan hari menjadi tujuh orang. Dan masyarakat makin yakin: ini bukan rangkaian “kebetulan”. Ini seperti harga yang ditagih.
Paman Teh Upi yang paling vokal akhirnya memutuskan mencari sumbernya. Ia mendatangi kantor Ua Hamdan. Dari sana, muncul satu nama: Amaman—orang dekat Ua Hamdan, yang katanya tahu banyak, dan disebut-sebut ikut “bareng-bareng” dalam sesuatu yang tidak benar. Saat keluarga menemukan rumah Amaman, awalnya ia menolak ditemui. Tapi karena korban sudah terlalu banyak, Amaman akhirnya keluar dan menangis—lalu mengaku.
Dari pengakuan Amaman, semuanya bermula dua tahun sebelumnya, ketika Ua Hamdan terlilit utang dan tidak sanggup bayar. Amaman mengajak, “Ya udah, pesugihan aja.” Mereka pergi ke sebuah situ (danau kecil) dan bertemu kuncen. Syaratnya: datang malam Jumat Kliwon, bawa kambing gendit, ayam cemani, kembang tujuh rupa, dan sesajen lain. Di ritual itu, dari dalam air muncul sosok mengerikan dengan kuku panjang dan jubah hitam—lalu berubah wujud jadi perempuan, tertawa menggelegar, dan melahap sesajen satu per satu. Setelah itu, kuncen menyebut ritual berhasil, dengan pantangan yang membuat bulu kuduk berdiri: tidak boleh ibadah, dan tiap malam Jumat harus “menyirami keranda” (apa pun keranda) sebagai bagian dari perjanjian. Tanda uang datang: uang muncul di bawah kasur.
Dari situlah Ua Hamdan mendadak kaya. Ia membangun peternakan ayam petelur, membayar utang, punya mobil, membangun rumah, menjadi salah satu yang paling berada di kampung. Amaman pun ikut terdongkrak—usahanya meroket, cabangnya ada di mana-mana. Dalam dua tahun, hidup mereka naik seperti roket.
Masalahnya, manusia sering lengah saat merasa sudah “di atas”. Ua Hamdan mulai ingin balik arah: ia kembali ke masjid, bahkan berniat umroh. Dan di titik itulah, tubuhnya seperti ditagih. Ia sakit aneh—badan bentol-bentol, panas hebat setiap jam tiga pagi sampai subuh, dibawa berobat ke mana-mana tidak sembuh—sampai akhirnya meninggal dengan diagnosis dokter “serangan jantung”. Sesudah kematian Ua Hamdan, rentetan yang lebih kejam terjadi: istrinya dan anak-anaknya menyusul, lalu mertua, total tujuh korban dalam waktu singkat.
Warga kampung tidak tinggal diam. Mereka meminta keluarga mencari solusi agar desa kembali aman. Akhirnya keluarga meminta bantuan pesantren setempat. Selama tujuh hari tujuh malam, santri-santri mengaji rutin di rumah Ua Hamdan, mendoakan, membersihkan suasana, memutus “jalur” yang tersisa. Perlahan, ketakutan mereda. Orang-orang mulai berani keluar lagi. Kampung yang sempat seperti kota mati, kembali bernapas.
Namun kisah itu belum selesai. Amaman—yang ikut ritual—mengalami balasan berbeda. Ia tidak langsung meninggal, tapi linglung seperti orang gila. Dua tahun ia hidup seperti tubuh yang masih berjalan, tapi jiwa yang seperti ditarik jauh: tidak mau bekerja, lebih sering diam, mengurung diri. Ia akhirnya meninggal pada 2024 dengan sakit panas yang oleh dokter mengarah ke DBD. Bagi keluarga, itu terasa seperti penutup perjanjian yang menyisakan reruntuhan.
Teh Upi menutup kisahnya dengan satu hal yang ia ulang berkali-kali—bukan untuk menggurui, tapi karena ia merasakan sendiri akibatnya: kekayaan instan tidak pernah gratis. Sekali seseorang menukar rezeki dengan jalan gelap, yang dibayar bukan cuma uang dan pantangan—tapi bisa jadi satu rumah, satu keluarga, bahkan ketenangan satu kampung. Dan ia, sebagai keluarga yang tersisa, hanya bisa minta maaf kepada warga, sekaligus berharap semua yang telah pergi benar-benar tenang di sana.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.
