Tahun 2012, Bu Dewi baru saja menutup satu bab hidupnya. Ia resign dari perusahaan retail besar di Cirebon karena ingin fokus keluarga. Tak ada pesangon besar, hanya “uang tanda terima kasih” yang ia simpan rapi—dan dari uang itulah ide usaha kecil muncul di meja makan: jualan teh manis kemasan.
Pilihannya terdengar sederhana, bahkan terlalu sederhana untuk ukuran mimpi besar. Teh manis, kata Bu Dewi, pasarnya luas: anak kecil sampai kakek-nenek minum. Modalnya relatif kecil. Dan yang paling penting, bukan bisnis musiman. Ia dan suami mulai belanja jar, cup, teh, gula batu, gula pasir, lalu mendekati manajemen mall—bekal koneksi dari pekerjaan lamanya membuatnya dapat tempat strategis.
Hari-hari awal penuh adaptasi. Bangun lebih pagi, berdiri lebih lama, senyum lebih sering. Tapi hasilnya cepat terasa. Dari omzet harian yang awalnya ratusan ribu, perlahan naik. Bu Dewi membuka outlet kedua di rumah sakit, merekrut tetangga, lalu menambah lagi dan lagi. Dalam delapan bulan, jumlah booth-nya melonjak hingga lima belas titik.
Yang paling berat justru bukan produksi, melainkan manusia. SDM keluar-masuk, ada yang bolos, ada yang curang. Bu Dewi pakai cara kantor: target, insentif, bonus, lalu membangun kedekatan emosional. Ia makan bersama keluarga karyawan tiap bulan, menciptakan rasa “kita” supaya mereka bukan sekadar pekerja, tapi keluarga.
Di antara semua karyawan, ada satu yang paling ia percaya: Rendy. Jujur, disiplin, ramah, omzetnya selalu tinggi. Bu Dewi bahkan menaikkan gajinya hanya setelah dua bulan kerja, karena merasa menemukan orang yang bisa diandalkan.
Lalu, memasuki bulan sebelas, suasana bisnis mendadak berubah. Omzet turun tanpa sebab jelas. Bu Dewi mencoba promo buy one get one—tetap tak ngaruh. Dan anehnya, keluhan pelanggan mulai terasa seperti bukan keluhan biasa.
Rendy pulang menangis. Ia mengaku disiram pelanggan karena teh yang dijualnya disebut “kayak air comberan”. Ada juga yang marah-marah bilang tehnya asem, basi, dan mengancam akan melapor ke wartawan. Tapi ketika dicoba oleh pedagang sebelah atau orang lain, rasanya normal. Seolah hanya orang tertentu yang “merasakan” kebusukan itu.
Gangguan lain ikut menyusul. Bu Dewi beberapa kali ditegur teman yang kebetulan lewat outlet: katanya booth di rumah sakit tutup dan kosong. Padahal menurut penjaga, mereka tetap buka seperti biasa. Bu Dewi mulai curiga—bukan pada karyawannya, tapi pada sesuatu yang memutar persepsi orang.
Puncaknya terjadi di pasar. Rendy tiba-tiba pingsan saat melayani pembeli. Begitu siuman, ia memeluk Bu Dewi sambil gemetar, mengulang kata yang sama: takut. Ia bersumpah barusan melihat cairan yang keluar dari jar bukan teh manis, melainkan darah. Bu Dewi menatap jar itu—yang terlihat olehnya tetap teh. Tapi ketakutan Rendy bukan sandiwara; ia sampai meminta resign karena merasa ada yang “mengincar”.
Rendy lalu menyarankan Bu Dewi menemui seorang Abah di daerah terpencil dekat hutan. Malam itu juga Bu Dewi berangkat, menembus gelap dengan dada berdebar, membawa satu pertanyaan yang sejak lama mengendap: kalau bukan kesalahan produksi, lalu siapa yang merusak semuanya?
Keesokan harinya Abah datang ke rumah Bu Dewi. Ia menelusuri setiap sudut, dari kamar anak, kamar mandi, dapur, sampai musala. Lalu tiba-tiba langkahnya cepat, seperti mengejar sesuatu yang lari. Ia berhenti di bawah jendela kamar Bu Dewi, membaca jampe lebih keras, lalu mengorek tanah.
Dari situ Abah mengeluarkan kain putih yang dibungkus rapi. Ketika dibuka, isinya membuat Bu Dewi hampir lemas: bulu kera yang dibentuk menyerupai pocong. Abah bilang tegas, ini kiriman—ada yang syirik, ada yang iri, dan tujuannya bukan sekadar bikin usaha sepi, tapi bikin rumah panas, bikin penghuni saling meledak, bikin hidup berantakan dari dalam.
Setelah “benda” itu ditemukan, rumah bukannya jadi adem—justru makin mencekam. Bu Dewi mengaku pernah mau salat tahajud, tapi suara keras mendadak muncul seperti tawa kuntilanak. Anak-anak jadi sering sakit, nangis sampai subuh, dan menyebut melihat “monyet tinggi gede item”. Bu Dewi sendiri beberapa kali melihat sosok hitam di pojok rumah sampai ia lari meninggalkan aktivitasnya.
Abah meminta Bu Dewi melakukan ikhtiar: ruatan rumah dengan ayam cemani dan kembang tujuh rupa. Kepala ayam dipotong di depan pintu lalu dikubur sebagai “penjaga”, bunga disebar mengelilingi rumah. Bu Dewi minum air doa dari Abah, lalu perlahan, ingatannya seperti dibuka: ada satu orang yang selama ini tak pernah ia curigai, padahal namanya sering disebut-sebut warga.
Pak Haji, juragan beras yang rumahnya paling mentereng di kampung. Ia punya pabrik besar, sawah luas di Jawa Tengah, dan dikenal dermawan—sering jadi sponsor acara, sering bantu warga. Tapi ada kebiasaan ganjil: ia suka mendekati Rendy di pasar, menanyai omzet Bu Dewi, jumlah booth, keuntungan harian, mobil yang dibeli, bahkan jumlah karyawan. Bu Dewi dulu menganggapnya sekadar orang kepo. Sekarang, pertanyaannya berubah jadi potongan puzzle.
Bu Dewi lalu sengaja membeli beras di tempat Pak Haji, sambil mengintip suasana rumahnya. Saat itulah penglihatannya membuat tengkuknya membeku: di teras, ia seperti melihat semuanya berwujud monyet—termasuk Pak Haji. Pembantunya melihat normal: Pak Haji, Bu Haji, anak, dan monyet peliharaan. Tapi Bu Dewi melihat “wujud” yang berbeda, seolah tabirnya dibuka hanya untuknya.
Ia kembali ke Abah, dan Abah membenarkan kecurigaan itu. Pak Haji, kata Abah, menjalankan pesugihan tumbal dengan beking “monyet”, jalurnya disebut mengarah ke Gunung Kawi. Bu Dewi baru ingat, warga sering membicarakan hal yang sama tiap tahun: selalu ada karyawan Pak Haji yang meninggal. Karena kebanyakan karyawannya orang Jawa Tengah, kematian itu dianggap “urusan kampung asal”—tak pernah benar-benar diperiksa.
Sementara itu, usaha Bu Dewi makin drop. Dari lima belas booth, ia bertahan tujuh. Karyawan satu per satu mundur karena gangguan. Biaya sewa tenan terus jalan, Bu Dewi mulai nombok, menjual perhiasan, bahkan mobil. Di rumah, pertengkaran dengan suami makin sering karena tekanan ekonomi dan suasana yang panas—seolah kiriman itu bukan hanya menyerang dagangannya, tapi juga keutuhan keluarganya.
Di tengah kehancuran Bu Dewi, desa justru diguncang kejadian yang membuat rumor pesugihan Pak Haji meledak jadi amarah massal. Seorang warga setempat bernama Arifin—satu-satunya orang kampung yang bekerja di Pak Haji—meninggal secara tidak wajar. Di tubuhnya ada bekas cakaran tiga garis, seperti bekas kuku. Orang tuanya tidak terima dan datang membawa kemarahan, juga membawa orang pintar yang menuding praktik pesugihan.
Isu itu menyambar cepat. Warga yang tadinya membela Pak Haji karena kebaikan dan sedekahnya, mulai teringat pola: “yang meninggal itu ada terus, tiap tahun.” Dan kali ini korbannya bukan orang jauh—tapi orang mereka sendiri, yang dikenal saleh dan baik.
Malam itu desa seperti mendidih. Sekampung berbondong-bondong mengepung rumah Pak Haji. Ada yang memecahkan jendela, merusak kendaraan, melempar batu, dan memaksa Pak Haji keluar hari itu juga. Pak Haji sempat marah, mengungkit kebaikannya, menolak dituduh. Tapi massa sudah telanjur kalap. Kalau tidak keluar, malam itu juga ia bisa habis.
Pak Haji akhirnya pergi tanpa membawa banyak barang. Dan yang paling membuat warga merinding: monyet-monyet yang sempat terlihat ramai di sekitar rumahnya, lenyap seketika seperti ditelan tanah. Rumah Pak Haji kemudian kosong bertahun-tahun, dan kabarnya sebagian isi rumah dijarah massa—seperti rumah yang ditinggalkan bukan karena pindah biasa, melainkan karena diusir oleh rasa takut dan marah yang menumpuk.
Bagi Bu Dewi, kejadian itu menjadi penutup yang pahit. Ia merasa semua tanda akhirnya jelas, tapi semuanya sudah terlanjur runtuh. Setelah beberapa kali rukiah dan kondisi sedikit membaik, ia memilih menutup seluruh booth—menyelamatkan rumah tangga dan kesehatan anak-anak lebih penting daripada mempertahankan usaha yang terus berdarah-darah.
Kini Bu Dewi hanya merintis kecil-kecilan dari rumah, memasok jajanan ke sekolah. Trauma masih ada, tapi ia menyimpan satu pesan yang ia ulang berkali-kali: iri dan dengki bisa lebih kejam daripada makhluk halus, karena iri membuat manusia tega menanam sesuatu di rumah orang lain, merusak rezeki orang lain, bahkan mengorbankan nyawa untuk mempertahankan “kejayaan” yang tidak pernah benar-benar suci.
Dan dari semua kejadian itu, yang paling menyesakkan bukan hanya tentang pesugihan monyet atau Gunung Kawi. Melainkan tentang fakta sederhana: kadang orang yang paling rajin berbagi di depan banyak orang, bisa menyimpan pintu gelap di belakang rumahnya—dan saat pintu itu terbuka, satu desa ikut mencium baunya.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.