Mas Marcel mengira hidupnya sudah mulai lurus setelah melewati masa-masa kelam yang bikin badan ambruk sampai sembilan hari. Tahun 2023, ia pelan-pelan bangkit lagi: kerja jadi tukang pijat panggilan, sambil merintis UMKM bikin batu bata dari abu sampah plastik. Hidupnya sederhana, tapi setidaknya ia merasa kembali punya arah.
Di tengah rutinitas itu, sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor asing. Ternyata dari Pak Hendy, kenalan lama dari perkumpulan spiritual. Basa-basi sebentar, Pak Hendy langsung mengajak Mas Marcel ikut ke daerah Banjar Melati untuk membantu terapi seseorang bernama Pak Rinto. Mas Marcel mengiyakan, karena itu memang pekerjaannya.
Selesai terapi, obrolan melebar ke hal yang bikin Mas Marcel sempat mengira Pak Hendy bercanda: ada pengusaha sekaligus pejabat dari Sumatera yang “dapat ilham” untuk menemui Mas Marcel di Cirebon. Mas Marcel menolak percaya—dia cuma pemuda kampung lulusan SMA, siapa juga yang sampai dicari-cari begitu?
Tapi malam itu orangnya benar-benar datang. Mobil mahal berhenti, turun seorang pria rapi, tinggi, berwibawa—mengaku bernama Syarif. Ia bicara tentang dokumen dan harta perusahaan yang “ditutupi” secara gaib, lalu menguji Mas Marcel dengan tasbih putih yang dinginnya berubah hangat saat disentuh.
Ujian itu membuat Mas Marcel makin bingung: seakan ia sedang diseret ke dunia yang tidak ia rencanakan. Ia sempat diajak berkumpul ke sebuah rumah joglo milik Pak Yudi—orang tua yang dihormati karena ilmunya dan garis keturunannya. Di sana Mas Marcel melihat cara spiritual yang “tua”: wudu dari gentong, tawasul, meditasi, semuanya terasa seperti kembali ke zaman lampau.
Namun pintu masalah yang sebenarnya terbuka bukan dari Pak Yudi, melainkan dari undangan lain. Seorang kenalan bernama Pak Risko menelpon Mas Marcel, memintanya datang ke padepokan karena ada orang yang ingin bertemu. Mas Marcel datang, dan di sana ia disambut dua orang berpenampilan tajir: Haji Bagas dan Papendi.
Mereka tidak berputar-putar. Haji Bagas blak-blakan punya hajat menarik uang gaib “R miliar” dengan media daun mangga, telur, dan beras. Syaratnya: yang menjalani ritual harus bujangan—katanya, “sukmanya harum” sampai ke lapisan makhluk gaib. Mas Marcel ditawari: semua biaya ditanggung, Mas Marcel tinggal maju, dan kalau berhasil semua masalah utangnya bisa beres, bahkan bisa beli rumah dan suatu hari naik haji.
Mas Marcel sedang terjepit. Ia punya beban utang dari kejadian “pinjam nama” untuk tetangga sampai dikejar bank. Di saat mentalnya gemetar, bisikan dalam kepala seperti mendorongnya: ambil saja, kesempatan tidak datang dua kali. Mas Marcel akhirnya setuju, walau hatinya tidak benar-benar tenang.
Tiga hari kemudian Mas Marcel dibawa ke tempat yang disebut Abah Gadok, seorang tokoh spiritual yang tegas dan langsung bicara aturan: di sini sistemnya tos-tosan—kalau manis ya manis, kalau pahit ya pahit. Mas Marcel diminta mandi ritual, lalu diberi syarat mengumpulkan daun mangga sebanyak-banyaknya, tapi tidak boleh yang jatuh ke tanah. Harus dipetik langsung dari atas. Ditambah telur dua butir, lakban cokelat, dan beras seperapat.
Mas Marcel mengumpulkan daun mangga sampai penuh kardus bekas TV. Dalam perjalanan menuju tempat ritual, gangguan mulai terasa: ada kereta menahan lama, ban meledak, jalan seperti sengaja mematahkan ritmenya. Di satu momen, Mas Marcel melihat sosok-sosok gaib seperti burung dan serangga turun dari langit dan menatapnya—seolah “uji pertama” baru dimulai.
Masuk ruangan ritual, Mas Marcel disuruh mengamalkan bacaan tertentu dan dilarang keluar dari sejadah. Tapi di tengah proses, ia merasa ruang berubah jadi kosong seperti angkasa malam—gelap, luas, tanpa dinding—dan tiba-tiba tiga sosok hadir: satu warok barong berkepala singa jambrong, satu pendekar, dan satu peri cantik yang auranya dingin seperti salju.
Peri itu justru memperingatkan Mas Marcel. Ia bilang Mas Marcel “orang bersih” dan tidak boleh berada di jalur seperti ini. Setelah itu Mas Marcel seperti dilempar, kesadarannya kembali ke ruangan, dan ia baru sadar dirinya sempat “nyebrang”.
Abah Gadok lalu menyodorkan empat pilihan angka. Katanya, di balik salah satu angka itu tersimpan uang lima miliar. Mas Marcel memilih—tapi tangannya seperti “meleset” dari angka yang ia incar. Saat dibuka, uang lima miliar ternyata ada di angka lain. Mas Marcel lemas: gagal total.
Sebagai “pengganti kekecewaan”, Mas Marcel diberi sejumlah uang jutaan rupiah—tidak sebanding dengan target lima miliar, tapi cukup untuk membuat hati makin campur aduk. Ia pulang bersama Haji Bagas yang menahan kecewa, dan Mas Marcel berharap kisah selesai sampai di situ.
Ternyata, baru mulai. Sepulang dari ritual, telinga Mas Marcel gatal parah. Dikorek habis, gatal lagi. Kotoran seperti tidak pernah selesai. Mas Marcel sampai ke dokter THT, dibersihkan dengan alat canggih, tapi tetap kambuh. Bahkan dokter pun—yang biasanya bicara medis—menyebut kemungkinan ini “gangguan non-medis”.
Teror makin jelas ketika Mas Marcel melihat gumpalan hitam seperti asap—berbunyi “bes…”—muncul di depan rumahnya. Bentuknya seperti batu karang hitam kemerahan, wajahnya mirip “bakteri jahat” tapi jauh lebih mengerikan. Sosok itu menghantui Mas Marcel berbulan-bulan, membuat telinga gatalnya seperti jalan masuk untuk menyiksa.
Setahun hampir habis dalam keadaan begitu, sampai Mas Marcel kembali ke rumah joglo Pak Yudi. Di sana ia juga membawa kakaknya, Mas Dika, yang ternyata selama ini memakai jimat untuk selamat dari “pesugihan Gunung Kawi” milik bos kapalnya—konon tumbalnya para ABK. Saat jimat dibuka, isinya bikin merinding: sabuknya menyimpan tali pocong, dompetnya menyimpan keris Semar Mesem untuk kewibawaan dan penjagaan.
Di malam meditasi, seorang tokoh dari Sumatera itu (Syarif) melihat Mas Marcel dan langsung menegaskan: kalau terus digaruk, gangguan itu bisa “nusuk” sampai otak, menyerap hidupnya pelan-pelan. Mas Marcel panik, tapi Syarif menahan: tidak perlu kembali ke Abah Gadok, cukup dibereskan di sini.
Meditasi dimulai. Mas Marcel merasakan energi dingin masuk seperti panah dari pundak sampai ujung kaki. Lalu ia melihat makhluk-makhluk hitam yang selama ini meneror—termasuk “jin batu karang” sumber kotoran telinga itu—datang membawa pasukan.
Di saat yang sama, muncul “pasukan putih” seperti prajurit bercahaya dengan tameng dan panah. Mereka menembakkan serangan sampai makhluk-makhluk hitam terpental, buyar seperti asap. Mas Marcel menyaksikan pertempuran yang membuatnya sadar: efek ritual uang itu bukan sekadar gagal—ada “tagihan” yang mengejar.
Setelah benturan itu reda, telinga Mas Marcel mendadak sembuh total. Gatal yang setahun menempel hilang seketika, seperti saklar dimatikan. Mas Dika pun merasakan tubuhnya lebih ringan, emosinya tidak lagi meledak-ledak seperti sebelumnya.
Dari kejadian itu Mas Marcel memetik satu hal yang paling menohok: pesugihan mungkin menjanjikan uang besar untuk rumah dan haji, tapi jalannya bukan jalan berkah—lebih mirip pintu yang dibuka paksa, lalu ada sesuatu yang ikut masuk dan menempel, menagih balik dengan cara kejam dan lama.
Mas Marcel menutup kesaksiannya dengan pesan yang ia ulang berkali-kali: kalau lagi putus asa, jangan cari jalan pintas narik uang gaib. Karena sekalipun uangnya tidak jadi wujud, dampaknya bisa tetap datang—bukan cuma ke dompet, tapi ke tubuh, ke rumah, dan ke hidupmu sendiri.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.