Malam selalu punya cara sendiri untuk mengubah jalan raya jadi lorong panjang yang terasa tidak berujung. Dan bagi Mas Syarif, sejak tahun 2011 ketika ia bekerja sebagai sopir ambulans jenazah di sebuah yayasan kemanusiaan di Kota Cirebon, gelap bukan cuma soal minimnya lampu—melainkan soal hal-hal yang kadang ikut menumpang, tanpa izin, tanpa suara.
Ia masuk ke yayasan itu bukan karena gaji besar. Justru karena jiwa sosialnya terpanggil. Menolong orang, mengantar jenazah, membantu keluarga yang sedang berkabung—baginya itu seperti bekerja sambil ibadah. Tapi yang jarang orang pahami, pekerjaan mengantar jenazah bukan hanya tentang rute, sirine, dan serah terima. Kadang, itu tentang membawa sesuatu yang “belum selesai.”
Mas Syarif sudah terbiasa dengan gangguan kecil. Bau anyir darah yang muncul tiba-tiba dari belakang mobil, aroma melati yang datang tanpa sumber, bahkan keranda yang kadang seperti membuka-menutup sendiri karena guncangan jalan. Ada pula momen ketika ia seperti mendengar tawa, atau melihat bayangan melintas di depan mobil. Tidak sering, tapi cukup untuk membuat seseorang paham: tidak semua kematian mengantar ketenangan.
Suatu malam ia mendapat tugas mengantar jenazah ke Brebes. Setelah proses serah terima di rumah duka selesai, keluarga memberi uang dan rokok sebagai bekal jalan. Mas Syarif sebenarnya menolak, tapi keluarga memaksa. Ia pun pulang pelan-pelan, karena membawa jenazah berbeda dengan membawa pasien gawat—tidak perlu ngebut, yang penting sampai.
Di perjalanan pulang, mulutnya terasa asem. Ia butuh kopi. Ia melajukan mobil pelan sambil mencari warung di pinggir jalan. Lalu di tengah area sawah yang sebelumnya ia lewati dalam kondisi kosong, tiba-tiba ada warung berdiri—ramai, terang, seperti sudah lama ada di situ. Padahal saat berangkat ke Brebes, daerah itu benar-benar plong.
Mas Syarif berhenti. Ia menatap warung itu beberapa detik, bahkan sudah berniat turun membeli kopi. Tapi saat ia membuka pintu mobil, pandangannya ke depan seperti “dihapus.” Warung itu hilang seketika, lenyap seperti tidak pernah ada. Ia menutup pintu lagi, menghela napas, dan memilih jalan. Dalam hati, ia menyebutnya tipu muslihat—warung ghaib yang hanya mampir sebentar untuk menguji kewarasan orang yang sedang lelah.
Belum sempat rasa itu benar-benar hilang, besoknya ia mendapat tugas lain: mengantar jenazah dari Tegal menuju Semarang. Karena perjalanan jauh dan takut ngantuk, ia membawa temannya—Apen—untuk menemani. Dari pihak keluarga di Tegal, ikut juga seorang perangkat desa bernama Pak Ratim.
Saat Mas Syarif melihat jenazahnya langsung, dadanya seperti ditimpa batu. Almarhumah tampak tidak wajar: lehernya hitam pekat dan bengkak seperti bekas cekikan besar, cairan merembes dari mata, kuping, hidung, bahkan darah segar menetes hingga membasahi bagian bawah. Yang paling mengganggu: matanya tidak tertutup, seperti menatap dan mengajak interaksi.
Pak Ratim kemudian bercerita pelan-pelan di perjalanan. Almarhumah dulunya juragan beras. Ia kalah saing, lalu diserang dengan cara hitam oleh pesaing yang tidak ingin keluarganya hidup tenang. Menurut beberapa orang pintar yang sempat dimintai tolong, ini bukan sakit biasa—ini “ilmu sambar nyawa,” semacam santet yang memaksa korban melepas raga sebelum waktunya.
Mereka tiba di Semarang. Saat pintu bagasi dibuka, ada yang menarik keranda terlalu kencang sampai tutupnya jatuh. Dan anehnya, setelah itu semua tanda hitam di leher almarhumah seperti menghilang. Cairan yang tadi merembes pun seolah berhenti. Seakan-akan ada sesuatu yang sedang menutup jejak, atau memperhalus tampilan kematian agar terlihat “wajar” di depan keramaian.
Jenazah dipindahkan, tapi beratnya tidak masuk akal. Kata orang-orang yang mengangkat, berenam pun terasa “nggak kuat,” seperti ada yang menahan dari dalam. Mas Syarif ikut membantu, dan ia merasakan sendiri: berat itu bukan sekadar bobot tubuh, melainkan seperti beban yang ditambah oleh sesuatu yang tak terlihat.
Setelah urusan selesai, Mas Syarif dan Apen pamit pulang ke Cirebon. Di jalan, mereka membuka amplop pemberian keluarga: dua ratus ribu rupiah, ditambah bekal cemilan dan minum. Mereka ngobrol santai, berhenti sebentar buat ngopi, lalu lanjut lagi.
Di situlah kejadian paling ganjil terjadi—bukan pada Mas Syarif, melainkan pada Apen.
Apen tertidur di kursi penumpang. Ia mulai ngorok keras, lalu keringat dingin keluar deras. Mulutnya seperti berbuih, suaranya berubah. Lalu dari mulut Apen keluar kalimat yang membuat Mas Syarif menegang: suara seperti perempuan berkata, “Dek… tolong sampaiin ke keluarga saya… sebenarnya saya belum mati.”
Awalnya Mas Syarif mengira Apen cuma ngigo. Tapi kalimat itu diulang berkali-kali, makin jelas, makin teratur. Mas Syarif sempat berhenti, menatap Apen, dan saat mobil diam—suara itu ikut diam. Begitu mobil jalan lagi, suara itu muncul lagi, seperti ikut bergerak bersama laju ambulans.
Mas Syarif akhirnya menanggapi, setengah menahan takut. Dan “suara” itu bercerita panjang: dua hari sebelum meninggal, almarhumah didatangi sosok hitam tinggi besar, bertaring, lidah menjulur, membawa rantai. Rantai itu melilit leher kanan-kiri dan ditarik, dipaksa, sampai rohnya “lepas” dengan terpaksa. Ia menyebut ini perbuatan pesaingnya—cara hitam untuk menyingkirkan orang yang sedang jaya.
Bagi Mas Syarif, rasanya seperti sedang menonton film horor, tapi tanpa layar. Interaksinya nyata. Dan tiba-tiba ia paham kenapa mata jenazah tadi seperti “mengajak bicara”—seolah memang ada pesan yang belum tersampaikan.
Saat mendekati Cirebon, Apen perlahan sadar seperti orang habis tidur biasa. Mas Syarif memilih tidak membahasnya saat itu. Ia mengantar Apen pulang, lalu membawa ambulans ke rumahnya sendiri dulu karena sudah subuh. Tapi gangguan belum selesai.
Di rumah, Mas Syarif mendengar suara seperti mobil distarter berkali-kali, padahal kunci mobil ada di tangannya. Ketika ia keluar mengecek, tidak ada apa-apa. Namun begitu ia masuk lagi, terdengar bunyi pintu mobil seolah baru ditutup—seperti ada yang keluar dari mobil, lalu menutupnya pelan-pelan.
Malam berikutnya, teror pindah ke mimpi. Mas Syarif didatangi sosok ibu-ibu berbaju putih, rambut menutup wajah, duduk di teras sambil “ungkang-ungkang” seperti orang menunggu. Sosok itu merintih satu kalimat yang sama, diulang tiga kali: “Dek… sempurnakan saya.” Malam kedua datang lagi. Malam ketiga datang lagi—lebih jelas, lebih nyata, seperti bukan mimpi biasa.
Barulah Mas Syarif bicara kepada orang tuanya. Ibunya menafsirkan “sempurnakan” sebagai permintaan agar almarhumah dibantu pulang—agar urusannya selesai, tidak gentayangan, tidak tersangkut di antara. Mas Syarif pun melapor ke pimpinan yayasan, lalu memutuskan kembali ke Tegal untuk menyampaikan pesan ini kepada keluarga almarhumah.
Keluarga di Tegal sempat curiga, mengira Mas Syarif datang menagih ongkos. Tapi Mas Syarif menegaskan ia hanya membawa kabar. Dan mengejutkannya, pihak keluarga ternyata sudah “tahu”—mereka pernah diberi info serupa oleh orang pintar, hanya versi yang berbeda. Mereka mengakui adanya santet dan kematian yang dipaksa, namun tetap bingung bagaimana “menyempurnakan” itu.
Akhirnya keluarga memanggil seorang ulama sepuh. Sang ulama meminta data sederhana: nama lengkap almarhumah, tanggal lahir, dan hari meninggal. Ia juga minta air mineral, lalu membacakan doa dan Al-Fatihah bersama. Tujuannya satu: memohonkan jalan pulang bagi ruh yang belum tenang.
Setelah proses itu, Mas Syarif merasa dadanya longgar. Ia pulang ke Cirebon dengan pikiran lebih terang. Dan benar saja—sejak saat itu, mimpi “Dek, sempurnakan saya” tidak pernah datang lagi. Teror berhenti seolah pintunya ditutup rapat.
Mas Syarif akhirnya bercerita juga kepada Apen tentang kejadian kerasupan di perjalanan. Apen terkejut, tapi ia mengakui sejak malam itu badannya sering tidak enak, pusing, seperti ada sisa dingin yang tertinggal. Namun mereka sepakat satu hal: apa pun yang terjadi, jangan jadikan itu alasan untuk takut berlebihan—tetap salat, tetap ngaji, dan jangan membuka celah dengan pikiran kotor.
Di akhir kesaksiannya, Mas Syarif memberi pesan yang sederhana, tapi justru paling berat dipraktikkan: kalau kalah saing, jangan iri. Jangan dengki. Karena ketika manusia memilih jalan hitam untuk menjatuhkan orang lain, yang rusak bukan cuma targetnya—tapi juga rantai nasib yang bisa menyeret banyak orang tak bersalah, termasuk sopir ambulans yang cuma menjalankan tugas kemanusiaan.
Dan sejak warung ghaib itu muncul-hilang di tengah sawah, Mas Syarif semakin percaya: ada jalan yang kelihatan lurus di mata manusia, tapi ternyata penuh belokan di mata alam lain. Kadang yang kita antar bukan hanya tubuh… tapi juga cerita, dendam, dan pesan terakhir yang minta dipulangkan dengan cara yang benar.
Tonton versi lengkap ceritanya di Youtube Malam Mencekam
Kisah nyata lain menanti… karena setiap pilihan gelap, pasti punya bayangan panjang.